LOGINMatahari terbit dengan enggan di ufuk timur, cahayanya samar-samar menembus kabut tebal yang menggantung rendah di atas permukaan air. Mereka telah meninggalkan gua tempat mereka bermalam. Si Elang, yang kini disebut sebagai "Burhan" (nama aslinya yang jarang ia gunakan), berjalan di belakang barisan dengan tangan masih terikat longgar di depan dada. Wira mengawasinya dengan ketat, namun tatapan Burhan tidak lagi licik, melainkan kosong dan penuh kontemplasi.
Di hadapan mereka terbenSelama dua hari dua malam, kamar di Warung Angin Laut berubah menjadi bengkel kerja yang sunyi namun sibuk. Tidak ada suara denting besi pandai, hanya suara gesekan pisau ukir, tumbukan alu batu, dan goresan ujung pengutik di atas daun kering.Di sudut ruangan, Dewi sedang meracik penawar. Ia menggerus daun sambiloto, akar jintan hitam, dan sedikit kapur barus hingga menjadi pasta yang sangat pahit. "Asap Dupa Senja itu masuk melalui paru-paru dan mengikat darah," jelasnya sambil membagi pasta itu ke dalam bungkusan daun kecil. "Kita tidak bisa menahan napas sepanjang malam. Sebelum masuk ke kapal, letakkan pasta ini di bawah lidah. Rasa pahitnya akan menjaga pikiran tetap jernih dan menetralkan racun manis itu sebelum mencapai otak."Di dekat jendela, Wira sedang memahat topeng. Ia memilih kayu pule, kayu yang dipercaya para leluhur memiliki daya tolak terhadap roh jahat. Untuk dirinya sendiri, ia memahat topeng Buto berwajah garang untuk menutupi parut di pipinya
Angin timur berhembus kencang, membawa aroma perpaduan antara cengkih, pala, ikan asin, dan lumpur muara. Di ufuk timur, garis pantai Ujung Galuh perlahan menampakkan wujudnya. Pelabuhan itu sungguh menakjubkan, sebuah hutan tiang kapal yang menjulang ke langit. Puluhan jung besar dari negeri utara, perahu pinisi dari selatan, dan ribuan sampan kecil hilir-mudik membelah air yang berwarna keruh kehijauan. Di atas geladak kapal dagang milik Ki Gede Suro, Arga berdiri sambil membetulkan letak selendang lusuhnya. Kini, ia bukan lagi Senopati Agung yang memimpin ribuan laskar. Ia adalah Resi Pengelana, seorang pencari naskah kuno yang hidup dari belas kasihan dan upah mendoakan arwah leluhur. Di sampingnya, Dewi mengenakan kain batik sederhana dengan keranjang anyaman berisi akar-akaran dan daun kering di punggungnya—seorang tabib keliling. Wira, dengan parut di pipi dan tatapan tajam, berperan sebagai pendekar sewaan yang menjaga barang dagangan. Sementara Burhan, mengenakan
Tiga hari telah berlalu sejak runtuhnya kekuasaan Adipati Wirasaba. Keraton Jenggala yang sebelumnya suram dan mencekam, kini kembali bernapas. Para abdi dalem sibuk membersihkan lorong-lorong dari noda darah dan abu, sementara di alun-alun, rakyat dan laskar berbaur dalam pesta panen raya, mensyukuri lumbung-lumbung istana yang akhirnya dibuka untuk umum.Di dalam Pendopo Agung, suasana jauh lebih khidmat. Sang Prabu Jenggala, raja yang sah yang telah lama diracun dan disekap, kini duduk di atas singgasana. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya kurus, namun matanya memancarkan wibawa yang kembali pulih. Di hadapannya, Arga berlutut, melakukan sembah sujud dengan takzim, diikuti oleh Dewi, Wira, Burhan, Panglima Terta, serta para pemimpin sekutu seperti Ki Gede Suro dan Adipati Kadiri."Bangkitlah, wahai sang Penyelamat," titah Sang Prabu dengan suara yang serak namun bergema. "Kerajaan ini berutang budi padamu. Rakyat menyebutmu Dharmapala, dan hari ini, aku sebagai r
Fajar menyingsing, membawa cahaya keemasan yang menembus kabut pagi di Jenggala. Di depan gerbang utara yang terbuat dari kayu jati setinggi tiga tombak, keheningan pecah oleh derit engsel besi yang berkarat dan bunyi beradunya palang kayu raksasa yang ditarik dari dalam. Di atas baluarti, laskar pejalan kaki Kediri telah melucuti para pengawal inti Garuda Putih yang mencoba menghentikan mereka. Lembu, prajurit tua yang dikembalikan oleh Arga semalam, berdiri dengan napas memburu, tombaknya masih meneteskan darah dari bahu seorang perwira Garuda yang memberontak. Di sampingnya, para prajurit jelata lainnya bekerja bahu-membahu mendorong daun gerbang yang berat.Gerbang terbuka. Arga melangkah masuk ke dalam kota. Ia tidak menunggang kuda perang, tidak pula mengenakan baju zirah emas yang menyilaukan. Ia berjalan kaki, mengenakan kain tenun sederhana, dengan Seruling Giok terselip di pinggangnya. Di belakangnya, Panglima Terta, Ki Gede Suro, Adipati Kadir
Malam ketujuh sejak karamnya armada sungai, Jenggala terkurung dalam keheningan yang mencekik. Tidak ada genderang perang yang ditabuh. Tidak ada teriakan tantangan yang menggema di depan gerbang. Alih-alih, bukit-bukit di sekeliling kota dan tepian sungai dipenuhi oleh ribuan titik api unggun yang menyala tenang, membentuk lingkaran cahaya yang mengurung kota bagaikan jeruji dari bara api. Pasukan gabungan dari pegunungan, orang-orang sungai, dan milisi desa telah menutup setiap celah. Tidak ada beras yang masuk, tidak ada utusan yang keluar. Jenggala kini terisolasi dari dunia luar.Di dalam tembok bata yang tebal, suasana jauh lebih kelam. Kehilangan armada perbekalan membuat lumbung-lumbung kota mulai menipis. Adipati Wirasaba, yang dikuasai oleh paranoia dan amarah, mengeluarkan titah yang memicu kebencian tersembunyi: ia memerintahkan penjatahan makanan yang ketat bagi prajurit infanteri biasa, sementara pasukan elit Garuda Putih dan para pejabat istana teta
Malam di Bengawan Solo terasa pekat dan berat. Air sungai mengalir lambat, membawa aroma lumpur dan getah damar yang menyengat. Arga berdiri di haluan jukung Ki Gede Suro, matanya menatap ke hulu. Di kejauhan, cahaya ratusan obor memantul di permukaan air hitam, menyerupai ular api raksasa yang sedang meliuk-liuk. Suara tabuhan genderang dan teriakan komando dari nakhoda Kediri menggema, memecah keheningan malam.Armada itu sungguh mengerikan. Puluhan tongkang besar dan jung perang berlayar dalam susunan barisan yang rapat. Di atas geladak mereka, menara kepung dari kayu jati menjulang tinggi, dan pelontar batu raksasa telah disiapkan dengan batu-batu seukuran tubuh manusia. Jika armada ini mencapai tebing kapur, perkemahan perlawanan akan hancur lebur sebelum fajar menyingsing."Mereka datang," gumam Ki Gede Suro, tangan kasarnya mencengkeram kemudi kayu. "Barisan mereka rapat. Nakhoda Kediri itu sombong, ia berlayar melawan arus malam hari hanya karena mengandalk







