INICIAR SESIÓNbab. 131 Matahari semakin jauh tenggelam. Senyum mengembang di bibir Tante Felicia. "Kenz, akhirnya kamu datang juga. Aku sempat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan mu," ucap tante Felicia memeluk Sehan. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang lelaki itu. "Aku sudah janji pada Tante, jadi manalah mungkin aku akan mengingkari nya. Bagi seorang lelaki janji sama saja harga dirinya. Dan aku bukan tipe lelaki yang suka ingkar janji," jawab Sehan mengusap surai hitam rambut Tante Felicia dengan lembut. "Terima kasih, Kenz. Oh ya kamu sudah makan belum?" Tante Felicia mendongakkan kepalanya menatap Sehan. Sehan menggelengkan kepalanya. "Belum, Tante," jawab Sehan jujur. Sepulang dari rumah Nasya ia tidak mampir ke manapun. Pikirannya berkelana jauh memikirkan tentang bodyguard untuknya. "Baiklah, bagaimana jika sebelum kita ke konser, kita makan dulu. Waktunya masih ada tuh, palingan molor juga konsernya. Yang penting kan sudah ada tiket VIP." Tante Felicia men
Bab. Sehan menuruti perintah Nasya karena Nasya sudah membayarnya melalui Tante Zola. Meskipun Sehan ingin menolak, namun teringat akan balas dendamnya maka ia menuruti perintah Nasya. Sehan menggendong Nasya ala bridal style menuju ke kamarnya. Semua itu Sehan lakukan agar secepatnya bisa terlepas dari Nasya. Semakin cepat selesai pekerjaannya semakin dia cepat pulang. "Ssh ... Sehan!" Nasya mengerang penuh kenikmatan, ia tidak tahu jika apa yang terjadi padanya sudah direkam oleh Sehan. Dengan video rekaman itu, Sehan akan menghancurkan Nasya. "Teruslah mengerang penuh kenikmatan, semua akan menjadi senjata untuk menghancurkan dirimu sendiri. Nikmatilah, sebelum kau tidak bisa menikmatinya lagi," gumam Sehan di dalam hati. Ia mengeluarkan semua kemampuannya. Nasya merasakan tubuhnya lemas karena berulang kali bisa mencapai puncak. Sedangkan Sehan baru menggunakan jari dan mulutnya saja. "Cukup, Sehan. Aku sudah tidak kuat lagi!" rintih Nasya, ia sudah tida
Sehan tidak menyangka jika putri dari ibu tirinya lah yang mengundang dia datang. Tatapan tajam dan penuh kebencian Sehan tidak membuat Nasya takut. Diri Nasya sudah sangat senang saat anak buahnya berhasil membawa Sehan ke rumahnya. Rumah pemberian Alinda, dimana dengan tega dan kejamnya menghabisi nyawa ibu kandung Sehan. Setelah bisa membuat berita lah baru Alinda memiliki kendali penuh pada keluarga Argantara. "Katakan apa maksud semua ini?" Tanya Sehan tanpa basa basi lagi. Sehan tidak habis pikir kenapa ada wanita senekat Nasya. Usianya hanya terpaut tiga tahun lebih muda Nasya daripada Sehan. "Hahaha, maaf, Kenz ... Eh, Sehan! Aku sengaja mengatakan semua ini agar aku bisa mendapatkan dirimu tanpa harus membayar pada wanita sialan itu!" ucap Nasya Putri kandung dari Alinda. Menurut sehan wanita itu adalah gadis sana ya tidak tahu aturan dan juga sopan santun. Entah bagaimana ibunya itu mendidik dirinya sehingga menjadi wanita yang tidak benar bahkan terke
Lelaki berseragam itu mengangguk lalu berkata," Silakan ikut saya, Tuan. Nyonya Zola sudah lama menunggu kita." Tanpa ada rasa curiga, Sehan mengikuti lelaki itu. "Kita akan kemana, Pak?" tanya Sehan. Sudah beberapa menit yang lalu di dlam mobil akan tetapi tidak sampai juga. "Tidak lama lagi, Tuan. Kita sudah dekat. Anda tenang saja, nanti jika sudah sampai akan saya beri tahu!" Supir itu menjawab dengan nadda sedikir emosi. Sehan mengerutkan kedua alisnya, seharusnya sebagai seorang supir tidak begitu jawabannya. Jelas yang diucapkan supir itu tidaklah sopan. "Kenapa anda menjawab begitu, Pak? Saya adalah tamu yang harus anda hormati. Saya bisa saja turun dan memesan taksi online lalu kembali ke hotel. hal yang sangat mudah bagi saya!" Suara dengusan terdengar dari napas si supir, menunjukkan kalau supir itu tidak suka dengan sehan yang banyak bicara. Namun, supir itu tidak membalas, ia hnya diam saja karen atidak ingin membuat masalah dengan tamu dari majikannya.
Tante Felicia menatap cumi asam pedas dengan tatapan tidak suka setelah tahu siapa yang memberi makanan itu. Akan tetapi perutnya tidak bisa bohong karena lapar setelah beraktivitas berat. "tante, kalau tante lapar lebih baik makan saja. Tidak baik membuang rezeki, lumayan kan bisa membuat kenyang daripada dibuang begitu saja," ujar Sehan. Lelaki hanya menahan senyum mana kala melihat mata tante Felicia yang tidak bisa lepas dari cumi-cumi asam pedas itu. "Hmm. Emang benar sih kalau kita tidak boleh menolak rizki. Dari pada dibuang kan sayang sekali. Mending kita makan kan?" celoteh tante Felicia membenarkan apa yang dikatakan oleh Sehan. "Hmm, sudahlah. Makanlah, tante. Kasihan cacing tante sudah lama menunggu. Mereka sudahkelaparan sedari tadi." Sehan menggelengkan kepalanya melihat tingkah tante Felicia yang terlihat lucu jika salah tingkah. Tante Felicia pastinya malu karena sebagai orang kaya raya mau makan makanan pemberian dari orang yang tidak selevel dengan
Sehan duduk sembari melihat ke arah piring cumi-cumi asam pedas. Kebetulan habis mandi dia merasa lapar. Belum ada pergerakan dari Sehan. Menatap makanannya yang saat ini akan dia makan. Makanan yang dia inginkan sebenarnya adalah makanan higienis Sehan dan bukan dari pesanan orang lain yang digagalkan. "Meskipun enak rasanya aku tidak tertarik dengan lauk ini. Seperti sedang memakan sisa orang lain!" Sehan mengurungkan niatnya untuk memakan cumi-cumi asam pedas itu. Sehan mengambil ponselnya dan memilih untuk melihat pesan masuk. "Tante Zola ada apa lagi dia?" gumam Sehan menaikkan kedua alisnya saat melihat notif pesan masuk dari Tante Zola. 'Sehan, malam ini kalau kamu tidak sedang sibuk atau free maka layani lah Tante Raysa. Dia sangat ingin memakai mu. Sepertinya dia akan menjadi pelanggan tetap mu!' 'Satu lagi jika ada chat masuk dengan nomor asing, itu adalah pelanggan mu selanjutnya. Kamu bebas berkencan kapan saja sesuai mood mu.' Sehan mendelik sempurna, rup







