登入Alunan musik orkestra yang tadinya mengalun megah kini berganti menjadi nada-nada romantis yang lebih tenang. Debby menggandeng erat lengan tegap Satrio, menuntun langkah pria itu kembali membelah kerumunan tamu undangan yang masih memadati aula. Dengan senyuman yang merekah di bibir manisnya, Debby membawa Satrio masuk kembali ke dalam area VIP yang dikhususkan bagi lingkaran inti keluarga besar Prambudi dan keluarga besar Furi. Di area eksklusif ini, suasananya jauh lebih tenang, dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan hotel agar para petinggi bisa menikmati malam tanpa gangguan.Satrio melangkah dengan wibawa yang terjaga, meskipun pikirannya baru saja terbagi oleh konfrontasi dingin dengan Sisilia. Saat pandangannya terlempar ke arah panggung pelaminan, sepasang mata tajam Satrio mendadak terpaku. Ia menatap lurus ke arah Furi, sang pengantin wanita yang malam itu duduk dengan anggun di samping Pak Aizar.Di bawah siraman lampu kristal yang lembut, Furi terlihat sangat jelita
Keringat dingin mulai menetes di balik riasan tebal Sisilia, merusak keanggunan gaun hitam mewah yang semula ia banggakan. Seluruh persendiannya mendadak terasa lumpuh. Ancaman dari Satrio bukan sekadar gertakan kosong; nama-nama perusahaan cangkang dan transparansi aliran dana yang disebut pria itu adalah rahasia terdalam yang hanya diketahui oleh dirinya dan teman sosialitanya, Tanya."Satrio... aku mohon," bisik Sisilia dengan suara yang bergetar hebat, nyaris tidak terdengar di antara denting gelas tamu undangan yang lalu lalang. Sepasang matanya yang semula memancarkan obsesi gila kini dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat. "Jangan lakukan ini padaku. Jika Aizar tahu, hidupku benar-benar akan hancur."Satrio tidak segera menjawab. Ia perlahan mengangkat gelas minumannya, menyesapnya sedikit dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, seolah menikmati kepanikan yang sedang menyiksa wanita sosialita di hadapannya. Setiap detik keheningan yang sengaja diciptakan Satrio teras
Hati Sisilia terasa sangat panas terbakar api cemburu yang teramat sangat. Pengaruh mistis liontin giok telah merusak seluruh akal sehatnya, memicu obsesi gila yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Ia menatap tajam ke arah kerumunan wanita yang mengelilingi Satrio dengan pandangan penuh kebencian.Sisilia melirik suaminya, Darma, yang masih sibuk tertawa bersama kerabatnya yang lain di atas pelaminan untuk persiapan foto. Waktunya sangat sempit. Sebelum sesi foto keluarga selesai dan sebelum Debby kembali ke sisi Satrio, Sisilia harus bergerak.Jemari Sisilia meremas tas tangan kecilnya dengan kuat. Pikirannya berputar hebat, menyusun taktik kilat. "Aku tidak peduli dengan apa pun lagi," bisik Sisilia di dalam hatinya dengan napas yang memburu. "Aku harus memisahkan Satrio dari wanita-wanita murahan itu. Aku harus membuat Satrio bersamaku dan memuji kecantikanku malam ini. Walaupun hanya untuk satu menit di pesta ini, aku harus mendapatkannya!"Dengan tekad yang sudah bulat dan mata yan
Ketegangan yang tak kasat mata kini mulai merayap di sela-sela denting gelas kristal dan obrolan formal para tamu VIP. Satrio, yang masih berjalan dengan langkah tegap di samping Debby, dapat merasakan puluhan pasang mata wanita sedang menguliti punggungnya. Pusaran asmara yang diciptakan oleh kekuatan mistis liontin giok di dadanya benar-benar telah membuat atmosfer ballroom mewah itu menjadi medan pertempuran emosi yang sunyi namun membara.Di sudut lain area VIP, tepat di barisan meja bundar khusus keluarga besar Prambudi, sosok Sisilia duduk dengan tubuh yang kaku. Wanita sosialita bertubuh sintal itu mengenakan dress malam terbaiknya malam ini—sebuah gaun mahakarya desainer papan atas berwarna hitam legam dengan taburan payet berkilau yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna. Potongan leher gaunnya yang rendah sengaja dirancang untuk memamerkan kulit leher dan dadanya yang seputih pualam, sebuah penampilan yang sudah ia persiapkan sejak jauh-jauh hari khusus demi memika
Satrio mengulas senyuman yang sangat hangat dan teduh, senyuman palsu yang dikemas dengan begitu rapi hingga tampak seperti ketulusan yang nyata. Ia mengulurkan kedua tangan kokohnya, menangkup kedua pipi lembut Debby dengan gerakan yang sangat protektif, lalu menghapus sisa air mata yang sempat menetes di pipi mulus gadis itu menggunakan ibu jarinya."Debby, dengarkan aku," ucap Satrio dengan suara rendah, berat, dan tenang yang seketika memberikan efek menenangkan pada jiwa Debby yang sedang bergejolak. "Aku sangat menghargai dan memahami setiap jengkal perasaanmu. Kamu adalah wanita yang sangat luar biasa dan berharga bagi jas yang kupakai malam ini."Debby menahan napas, matanya berbinar penuh harap menanti kalimat selanjutnya."Pesta malam ini adalah malam milik Kak Aizar dan Mbak Furi, kita tidak boleh mencuri panggung kebahagiaan mereka dengan pengumuman hubungan kita sekarang," lanjut Satrio dengan alasan yang sangat masuk akal, menolak secara halus tanpa sedikit pun menyakiti
Kemegahan Grand Ballroom Hotel Ritz-Carlton malam itu benar-benar merepresentasikan kelas sosial tertinggi di ibu kota. Ribuan lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula besar memancarkan cahaya keemasan yang berkilau, memantul sempurna pada gaun-gaun malam mewah dan setelan tuksedo para tamu undangan. Alunan musik orkestra simfoni mengalun lambat, memenuhi setiap sudut ruangan dengan atmosfer yang sangat elegan dan berkelas.Satrio berdiri di dekat pilar marmer besar di area VIP, memegang sebuah gelas berkilau berisi minuman soda dingin. Penampilannya malam ini benar-benar mencuri perhatian banyak orang. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam pekat yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang rapi. Pakaian itu adalah setelan jas mewah yang dikirimkan oleh Debby secara khusus ke unit apartemennya beberapa hari lalu.Sebagai eksekutif muda yang baru saja menerima bonus saham fantastis setelah meruntuhkan Trust Corp, Satr
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







