LOGINRuang pertemuan internasional di lantai atas Hotel Grand Hyatt siang itu didesain dengan tingkat kemewahan yang sangat luar biasa. Meja oval panjang berbahan marmer putih mengilat dikelilingi oleh jajaran kursi kulit yang terlihat sangat estetik. Di sekeliling ruangan, dinding kaca raksasa menyajikan panorama megah pencakar langit Jakarta yang bermandikan terik matahari siang.Di dalam ruangan tertutup itu, delegasi investor wanita asing dari kalangan jetset mancanegara sudah duduk berkumpul. Mereka adalah para sosialita borjuis yang memegang saham besar di industri mode dunia. Penampilan mereka sangat glamor, mengenakan pakaian desainer ternama Eropa dan perhiasan berlian yang berkilau mewah.Pintu ganda ruang rapat dibuka oleh petugas keamanan, dan Satrio melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penuh karisma. Begitu langkah kakinya menapak di lantai, suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat tenang. Satrio berjalan menuju podium depan, membiarkan energi intinya
Hari ini adalah hari pertama Satri memimpin anak perusahaan internasional, Shine International Fashion & Luxury (SIFL), dan kekuatan pemikat jiwa universal dari Putih semalaman akan menjadi modal utamanya meraih sukses besar di kancah dunia mode global tanpa ada yang bisa menghalangi pergerakannya lagi.Satu jam kemudian, Satrio memacu mobil sport merah mewahnya membelah jalanan pagi menuju kantor pusat Shine Group. Aura penguasa begitu kental menyelimuti langkah kakinya saat ia melewati pintu kaca lobi utama. Keganjilan luar biasa mulai terasa nyata di sepanjang lorong koridor.Satrio berjalan tegap menuju lift khusus eksekutif. Ketika ia berpapasan dengan dua orang staf keamanan pria berbadan kekar di dekat lobi, kedua sekuriti itu langsung menghentikan langkah mereka. Satrio menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap langsung ke dalam sepasang mata kedua sekuriti pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Deg…! Seketika itu juga, tatapan mata Satrio yang memancarkan kilat hija
"Putih, aku sudah tidak bisa menahannya lagi! Rasakan seluruh kekuatanku!" geram Satrio dengan suara rendah yang serak dan berat, tepat di dekat daun telinga sang dewi gaib. Bersamaan dengan erangan jantan itu, tubuh tegap Satrio menegang hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jantungnya berdegup kencang, melepaskan seluruh sumbat bendungan berahi yang telah membakar saraf-saraf tubuhnya sepanjang malam.Dari ujung miliknya yang tertanam di dalam rahim Putih, Satrio menyemburkan cairan kental sari pati tubuhnya dalam jumlah yang sangat berlimpah ruah. Lahar hangat dan pekat itu menyembur deras tanpa ampun, membanjiri dan memenuhi seluruh rongga keintiman Putih hingga seolah meluap keluar menembus batas dimensi nyata."Ahhh... Satrio! Besar dan nikmat sekali... rahimku terasa sangat penuh... mmmhh..." rintih Putih pasrah dengan suara yang terengah-engah memburu pendek.Putih melengkungkan tubuh indahnya yang seputih pualam di atas hamparan seprai sutra, mencengkeram erat otot bise
“Selamat malam, Pak Satrio... Sekadar mengingatkan jadwal penting Bapak untuk esok hari,” tulis Cindy di dalam pesan singkatnya, kalimatnya sengaja dirangkai dengan nada suara yang terdengar sangat manja dan penuh perhatian. “Besok pagi ada acara pertunjukan fashion internasional besar yang harus dihadiri oleh divisi kita. Kalau Pak Satrio ingin didampingi sepanjang acara, saya selaku asisten pribadi Bapak sudah siap sedia menemani Bapak besok. Jangan lupa istirahat yang cukup ya, Pak... Sampai ketemu esok pagi.”Satrio menatap deretan teks di layar ponselnya dengan pandangan mata yang datar dan dingin. Pikiran dan batinnya sedang mempertaruhkan keinginan serta keliaran hasrat dari sang ratu kampus seksi tersebut. Ia mengingat kembali bagaimana kesempurnaan bentuk tubuh Cindy saat mereka bermesraan di parkiran belakang kafe semalam. Namun, sisa rasa hampa akibat ketiadaan Putih membuat Satrio memilih untuk tidak merespons pesan tersebut. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja
Satrio terkesiap, sepasang matanya melotot sempurna menyaksikan kemolekan bentuk tubuh Cindy yang terpampang nyata tanpa busana di depan matanya. Dua bulatan dadanya yang berukuran besar, kencang, dan putih mulus tampak menonjol menantang di bawah keremangan dalam mobil. Satrio kehilangan seluruh sisa kendali dirinya; ia langsung memajukan tubuhnya, menundukkan kepala, lalu melumat dan menghisap kedua bulatan kembar di dada Cindy dengan pagutan yang teramat sangat panas dan penuh gairah yang meledak-ledak."Ahhh... Satrio... nikmat sekali..." lenguh Cindy parau, mencengkeram erat rambut Satrio. Tiiittt…! Tiiittt…! Suara lengkingan klakson mobil yang cukup keras tiba-tiba memecah keheningan dalam mobil Satrio yang penuh keintiman itu. Satrio dan Cindy seketika tersentak hebat dengan jantung berdenyut kencang karena rasa terkejut. Satrio buru-buru menarik kepalanya mundur, sementara Cindy dengan panik menarik kembali kain kemejanya untuk menutupi dadanya yang polos.Melalui kaca s
"Jangan berani-berani menyentuh fisik saya, Bu Adirah... Mbak Selina," perintah Cindy dengan nada suara yang beralih menjadi teramat rendah, dingin, dan tidak menerima bantahan apa pun.Ia mengangkat gawainya di udara, mengarahkan mikrofonnya tepat di depan wajah Adirah dan Selina yang seketika membeku kaku di tempat mereka berdiri. "Asal kalian berdua tahu ya, sejak awal pintu ini dikunci oleh tangan Mbak Selina, seluruh kalimat makian kasar, tuduhan murahan, hingga ancaman intimidasi yang keluar dari mulut kalian berdua... semuanya sudah terekam dengan sangat jelas di dalam ponsel saya ini." Cindy menyunggingkan seringai kemenangan seorang staf baru yang tidak bisa diinjak begitu saja. "Kalian pikir aku ini gadis bodoh yang bisa kalian kucilkan dengan sanksi sosial? Jika kalian berani melangkah satu tapak lagi atau mempersulit ruang gerak kerjaku di lantai tujuh, aku tidak akan segan-segan membawa rekaman audio otentik ini langsung menyerahkannya ke atas meja kerja Pak Aizar dan
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka







