LOGIN"Kamu ke mana saja, Satrio? Sudah lama sekali tidak datang ke kosan," suara Tante Inet terdengar riang dari seberang telepon siang itu.Satrio yang sedang bersandar di kursi kerjanya langsung tersenyum tipis mendengar teguran ramah dari sang pemilik kos. "Maaf, Tante, belakangan ini pekerjaan di kantor sedang sangat padat dan menyita waktuiku," jawab Satrio dengan nada lembut."Kamar kosmu masih utuh, tidak pernah Tante sewakan ke orang lain karena Tante tahu kamu pasti merindukannya," lanjut Tante Inet penuh perhatian. Memang benar, meskipun kini status sosialnya sudah berubah menjadi pria terpandang, Satrio sengaja tidak pernah keluar dari kamar kos penuh kenangan itu.Di kamar sederhana itulah tersimpan seluruh memori indahnya yang paling berharga, terutama saat-saat kebersamaannya yang magis dengan Putih. Satrio selalu memendam harapan yang sangat besar bahwa suatu hari nanti, sosok jelita itu akan datang kembali ke sana menemui dirinya.Sore harinya, tepat setelah jam kantor u
Di ruangan kerjanya, Adirah berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin terus bercucuran di pelipisnya sejak ia menerima laporan dari mata-matanya. Ia tidak menyangka rencana adu domba yang disusunnya begitu rapi justru menjadi bumerang.Alih-alih berpisah, hubungan Satrio dan Debby justru dikabarkan menjadi jauh lebih erat setelah makan malam romantis itu. Semua foto mesra yang dikirimkannya dengan susah payah seolah menguap tanpa arti di hadapan janji setia Satrio. Adirah menggertak gigi, meremas ponsel di tangannya dengan rasa frustrasi yang memuncak hingga ke ubun-ubun."Sialan! Bagaimana bisa Debby sebodoh itu?" umpat Adirah dengan suara tertahan di dalam ruangannya.Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar nyaring, mengejutkan Adirah yang sedang dilanda kepanikan luar biasa. Layar ponsel menampilkan sebuah nama yang membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Nama Clara Mahardika terpampang jelas, menambah daftar kerumitan yang harus ia
Setelah badai kesalahpahaman mereda, ketegangan yang semula membekukan ruangan privat itu perlahan mencair. Satrio mengulas senyum tipis, lalu meraih jemari tangan Debby yang masih terasa dingin di atas meja makan. Ia mengusap punggung tangan wanita itu dengan sangat lembut, berusaha menyalurkan kehangatan dan rasa aman."Aku minta maaf jika caraku bekerja membuatmu harus melewati hari yang seberat ini, Debby," ucap Satrio, suaranya kini melunak, meninggalkan nada bariton tegas khas seorang pebisnis. Debby mendongak, menatap mata Satrio yang kini memancarkan ketulusan yang begitu dalam, membuat sisa-sisa kecurigaan di hatinya menguap tanpa bekas.Pelayan restoran kemudian datang mengantarkan hidangan utama berupa steak premium dan dua gelas minuman segar beraroma buah. Suasana berubah drastis menjadi sangat hangat, didukung oleh cahaya temaram lilin di tengah meja dan alunan musik biola yang mengalun lirih di kejauhan. Satrio memastikan Debby merasa nyaman dengan memotongkan daging
"Di restoran lantai atas Hotel Sultan, pukul tujuh malam. Jangan terlambat satu menit pun, Satrio," ketik Debby dalam pesan singkat yang akhirnya masuk ke ponsel Satrio setelah menunggun berjam-jam ketegangan menyelimuti ruang kerja sang Presdir.Pesan itu terasa seperti embusan angin segar sekaligus dentang lonceng peringatan bagi Satrio. Debby tidak memilih waktu makan siang seperti yang ia tawarkan, melainkan mengundurnya hingga makan malam. Hal itu memberi Satrio lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri, namun di sisi lain, itu juga berarti Debby sengaja mengulur waktu untuk meredam emosinya sendiri agar bisa menghadapi Satrio dengan kepala dingin—sesuatu yang justru jauh lebih sulit untuk dihadapi daripada amarah yang meledak-ledak.Waktu bergulir lambat hingga jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Suasana di dalam restoran privat Hotel Mulia terasa sangat sunyi dan mencekam, kontras dengan alunan musik instrumental klasik yang mengalun lembut di latar belakang. Debby suda
"Satrio, kontrak ini sudah resmi menjadi milikmu. Perusahaanku kini sepenuhnya berada di bawah kendalimu," bisik Clara Mahardika dengan suara yang sarat akan sisa gairah semalam, sembari menyodorkan map dokumen kulit berwarna hitam yang baru saja ia tanda tangani di atas meja rapat.Begitu pena disematkan kembali ke saku, Clara bangkit dari kursinya. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua lengan lentiknya di sekeliling leher Satrio. Wanita itu memajukan tubuhnya, menempelkan dada indahnya ke dada bidang Satrio, menunjukkan keintiman yang begitu mendalam seolah dunia hanya milik mereka berdua. Mata Clara yang biasanya menyorot tajam sebagai seorang direktur sukses, kini sayu dan penuh damba, menuntut perhatian lebih dari sang pria.Satrio tidak menolak. Ia membalas pelukan itu dan mendaratkan sebuah ciuman dalam di bibir ranum Clara selama beberapa detik. Namun, ciuman itu terasa berbeda dari intensitas panas yang mereka bagi di atas ranjang beberapa jam lalu. Pikir
"Semua sudah beres? Pastikan tidak ada satu pun sudut yang terlewat," bisik Adirah dengan nada mendesak, menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga di lorong sepi kantor Shine Group pagi-pagi sekali.Di ujung telepon, suara sang fotografer sewaan terdengar penuh percaya diri. "Aman, Mbak Adirah. Foto-foto di lobi Hotel Grand Hilton semalam sangat tajam. Sudut pengambilannya pas sekali, mereka terlihat sangat intim saat masuk ke dalam mobil mewah Nona Clara. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu mereka punya hubungan spesial."Adirah menyunggingkan senyum penuh kelicikan. "Bagus. Kirimkan semua foto itu ke nomor yang sudah saya berikan kemarin. Lakukan sekarang juga, jangan ditunda lagi."Setelah panggilan terputus, Adirah menarik napas panjang dengan perasaan puas yang membuncah. Nomor yang ia maksud tidak lain adalah nomor pribadi Debby. Adirah sengaja memilih waktu pagi buta agar foto-foto panas itu menjadi hal pertama yang merusak hari Debby. Ia ingin menciptakan keretakan yang tid
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me
Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka







