Mag-log inSatrio duduk termenung di balik meja kerja utamanya. Ia memikirkan sikap aneh para wanita di lantai delapan. Adirah dan Selina tetap menatapnya dengan penuh damba. Pandangan mata mereka sama sekali tidak berubah seperti dulu. Padahal kontrak gaib batu giok hijau telah resmi diputus.Sebaliknya, sikap Nikko Prambudi justru menjadi sangat berubah. Nikko kini kembali berani mengusik dan mencibir dirinya. Pemuda sombong itu memandangnya sebagai lelaki yang loyo. Padahal sebelum ini Nikko sangat patuh di bawah kakinya. Satrio merasa ada kejanggalan besar yang sedang terjadi.Satrio bangkit berdiri dari kursi kulit kebesaran miliknya. Ia melangkah keluar ruangan kerja menuju ke lantai sembilan. Langkah kakinya membawa tubuh tegap itu menemui Pak Aizar. Satrio ingin menanyakan perihal keanehan sikap mereka hari ini. Pintu ruang kerja utama Sang Presdir diketuk perlahan."Masuk, Rio, ada hal apa yang ingin dibicarakan?" tanya Pak Aizar menyambut hangat kedatangan manajer mudanya. Satrio menga
Mobil sedan hitam mewah itu memasuki pelataran parkir kantor. Jakarta menyambut kepulangan Satrio dan Pak Aizar siang ini. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu tenang sekarang. Sisa penat perjalanan dari hutan ulin menguap perlahan.Satrio merapikan kemeja kasualnya sebelum membuka pintu mobil sedan. Ia melangkah keluar bersama Pak Aizar menuju lift utama. Langkah kaki mereka terdengar sangat mantap menapaki lantai marmer. "Siapkan dirimu menghadapi hari baru di kantor, Rio," pesan Aizar."Saya sudah sangat siap untuk semua urusan ini, Pak." Satrio tersenyum tipis menatap pintu lift eksekutif yang terbuka. Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan lift yang ber-AC sejuk. Lift meluncur cepat membawa tubuh tegap mereka ke atas.Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai kerja administrasi. Langkah kaki Satrio langsung dicegat oleh kehadiran sosok Adirah. Sekretaris utama itu berdiri tegap menanti kedatangan sang manajer baru. Wajah cantiknya tampak begitu segar berseri-seri pe
Kakek tua itu segera bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia membawa mangkuk kuningan kuno berisi air suci murni. Langkah kakinya bergerak tenang mendekati arah pintu gubug bambu. "Jangan biarkan kemarahan menguasai jiwamu, Putih!" seru kakek tua.Putih menjerit semakin histeris mendengar suara dari kakek tua. Gelombang angin gaib yang teramat dahsyat menghantam dinding gubug. Dinding bambu reot itu berderit keras laksana mau roboh. Pak Aizar menahan tubuh Satrio agar tidak jatuh."Rio, tetap kuatkan batin nuranimu sekarang!" teriak Pak Aizar. Satrio mencengkeram erat jimat batu giok di dadanya. Rasa sakit luar biasa laksana disayat pisau panas menjalar. "Aku tidak akan menyerah pada kegelapan ini, Pak!" rintihnya.Pendaran cahaya merah di leher Satrio kian membara pekat. Putih melayang masuk menerobos celah jendela gubug yang terbuka. Wajah jelitanya tampak sangat mengerikan dipenuhi berkas kilat merah."Kembalikan kekuatan jimatku sekarang juga, Satrio!" ancam Putih."Kekuatan in
Satrio dan Aizar melangkah masuk ke dalam sedan. Mereka duduk di kabin sedan hitam mewah basemen parkir. Perjalanan jauh membelah malam menuju luar kota dimulai segera. Mobil melesat cepat meninggalkan area gedung pusat Shine Group.Di sepanjang jalan tol yang sepi, suasana mencekam. Hawa di dalam mobil terasa semakin panas membelenggu batin. Udara pengap itu terasa sangat menyesakkan dada tegap Satrio. Entitas di dalam liontin giok mulai meronta sangat hebat.Putih mengeluarkan seluruh energi penolakan spiritualnya yang kuat. Pendaran cahaya merah kembali memancar membakar kulit bidang dada Satrio. Satrio mencengkeram dadanya yang terasa sangat perih membara. Pak Aizar fokus mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.Mobil sedan hitam itu melaju membelah kegelapan malam. Mereka meninggalkan gemerlap lampu Jakarta menuju ke arah pedalaman. Jalan tol berganti menjadi jalur provinsi yang kian sunyi. Pak Aizar fokus menatap jalanan yang kian menyempit.Hawa dingin mulai merayap masu
Beberapa hari kemudian, kantor pusat Shine Group kembali gempar. Maya tiba-tiba jatuh pingsan tak sadarkan diri di ruang kerjanya. Gejalanya sama persis seperti yang dialami Selina dahulu. Wajah cantiknya tampak sangat pucat sekali seperti tanpa darah. Seluruh staf keuangan di lantai administrasi menjadi sangat panik.Di lantai atas, Pak Aizar juga mendapat kabar mengejutkan. Petinggi Shine mengabarkan pimpinan Trust Corp tiba-tiba jatuh sakit. Tanya dikabarkan kritis dan terbaring lemah di rumah sakit. Kondisi Tanya sama tragisnya dengan kondisi lemas Maya sekarang. Pak Aizar langsung menyadari apa yang telah terjadi malam itu.Pak Aizar segera memanggil Satrio ke ruang kerja eksekutifnya. Suasana di dalam ruangan mewah itu terasa sangat mencekam. Pak Aizar menatap tajam langsung ke sepasang mata Satrio. "Duduk, Satrio, ada hal mendesak yang harus kita bicarakan," perintahnya. Satrio menduduki kursi kulit dengan ekspresi wajah yang tenang."Apakah kamu tahu kondisi Maya dan Tanya saa
Kembali ke kantor Shine Group, suasana terasa sangat dingin. Pak Aizar mencegat Satrio tepat di area lobi utama. Wajah Sang Presdir tampak dipenuhi kemarahan bercampur rasa ngeri. Ia melihat aura kegelapan yang kini menyelimuti anak buahnya."Ikut aku ke ruanganku sekarang juga, Satrio!" Pak Aizar memberikan perintah dengan nada suara berat menahan emosi. Satrio hanya mengangguk tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun. Mereka berjalan beriringan melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Pintu lift tertutup rapat lalu bergerak meluncur naik ke atas.Suasana keheningan di dalam lift terasa sangat mencekam sekali. Pak Aizar tidak mengalihkan pandangan tajamnya dari sosok Satrio. Satrio tetap berdiri tegak dengan melipat tangan di dada. Pintu lift berdenting terbuka setelah tiba di lantai paling atas. Mereka melangkah keluar menuju lorong sepi lantai sembilan kantor.Pak Aizar langsung membalikkan tubuh tegapnya menghadap ke arah Satrio. "Adirah dan Selina sudah sembuh secara tiba-
Satrio turun dari mobil dengan langkah ragu. Namun, saat ia melangkah mendekati teras, sesuatu yang aneh terjadi. Liontin giok di balik kemejanya mulai terasa hangat, seolah bereaksi terhadap kehadiran lawan jenis. Hawa panas itu menjalar, memberikan rasa percaya diri yang tiba-tiba meluap di dada
Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem
Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik
Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me







