LOGINSatrio dengan cepat menguasai keadaan. Ia menarik senyuman manisnya yang paling hangat, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping keyboard dengan gerakan alami. "Maaf banget, Mbak Adirah. Aku tidak ada niat mengabaikanmu," ucap Satrio dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin untuk meredam kekesalan gadis itu. Ia membalikkan ponselnya yang memang sengaja dalam mode senyap. "Ponselku dari tadi pagi sedang lowbet dan harus ku-charger di bawah meja. Aku baru saja menyalakannya beberapa menit yang lalu dan belum sempat membuka pesan yang masuk." Adirah menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar mendengar alasan Satrio. Sifat tulus dan kepolosan Adirah memang selalu membuatnya mudah untuk memaafkan pria di depannya ini. Ia melirik ke arah layar ponsel Satrio yang kini menyala, menampilkan isi pesan singkat yang dikirimkannya tadi pagi. Sebagai sekretaris utama Pak Aizar, Adirah sebenarnya mengemban tugas yang cukup padat hari ini. Namun, ia sengaj
Setelah keluar dari ruangan Pak Aizar, Satrio tidak membiarkan peringatan keras dari bos besarnya itu merusak fokusnya. Ia melangkah kembali ke kubikel kerjanya di divisi IT dengan ekspresi yang sangat tenang. Di bawah kemeja putihnya, liontin giok pemikat terasa berdenyut stabil, menyalurkan energi yang menjaga keteguhan mentalnya. Bagi Satrio, tekanan dari Aizar bukanlah sebuah hambatan, melainkan sekadar riak kecil dalam genangan air yang siap ia seberangi.Ia segera menghadap komputer dan mulai membuka lembar kerja digital. Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan tugas proyek sistem jaringan terintegrasi baru yang sedang dijalani divisinya. Proyek ini berskala besar dan menjadi salah satu perhatian utama dewan direksi Shine Group.Namun, tidak banyak orang di kantor yang tahu bahwa posisi Satrio sebagai staf magang di proyek ini sebenarnya sudah berada di tingkat yang sangat aman. Ia bahkan bisa dikatakan tidak tersentuh oleh intrik politik kantor atau ancaman pemecatan dari
Keesokan pagi, seperti hari-hari biasanya, kehadiran Satrio di koridor utama kantor selalu berhasil mencuri perhatian. Langkah kakinya yang tegap, dipadukan dengan kemeja kerja yang melekat pas di tubuh atletisnya, membuat pandangan hampir setiap staf wanita tertuju padanya. Bisik-bisik kagum dan curi-curi pandang dari para staf menjadi pemandangan yang tak asing lagi bagi Satrio.Sambil membalas sapaan beberapa rekan kerja dengan senyuman tipis, Satrio melirik jam tangannya. Pikirannya mendadak melayang pada janjinya nanti malam. Ia sudah membuat janji untuk pergi keluar makan malam bersama Adirah.Mengingat rentetan kejadian penuh intrik bersama Debby, Rafael, dan Ayunda di pesta semalam, Satrio menghela napas panjang dalam hati. Ia benar-benar berharap malam ini berjalan tenang tanpa ada gangguan dari lingkaran sosial kalangan elit yang mulai menjeratnya. Ia hanya ingin menikmati waktu santai yang normal bersama Adirah.Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Baru saja Sat
Suara deru mesin mobil sport mewah yang halus membelah keheningan malam kota yang kian larut. Di dalam kabin yang senyap, cahaya lampu jalanan yang temaram bergantian menerangi wajah Debby yang tampak begitu letih. Ketegangan adu mulut dengan Ayunda serta kemunculan Rafael yang tiba-tiba benar-benar menguras energinya malam ini.Dengan desahan pelan, Debby menggeser duduknya mendekat, lalu menyandarkan kepala dan tubuhnya yang lelah ke dada bidang Satrio. Lengan tegap Satrio yang terbungkus jas mewah melingkar di bahunya, memberikan rasa aman yang instan. Namun, kenyamanan itu terusik ketika hidung Debby yang sensitif tanpa sengaja menghirup aroma yang asing di permukaan kain jas pria itu.Debby mendongak sedikit, mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Rio..." bisiknya sembari mengendus lebih dekat ke arah kerah jas Satrio. "Kok ada wangi lain di jas kamu? Ini bukan wangi parfum kamu yang biasanya."Satrio tetap bersikap tenang, meskipun ia tahu persis bahwa itu adalah sisa kehangatan da
Satrio melangkah kembali ke dalam aula pesta yang masih meriah dengan alunan musik dan gelak tawa kalangan elit. Langkah kakinya begitu tenang, seolah tidak baru saja terjadi kepungan gairah yang membakar di kamar suite bawah. Ia merapikan sedikit kerah jas hitamnya, memastikan kartu nama emas milik Ayunda tersimpan dengan aman tanpa meninggalkan bekas kerutan yang mencurigakan.Baru saja ia melewati pilar besar di dekat pintu masuk utama, sosok Debby langsung muncul menembus kerumunan. Wajah cantiknya tampak tegang, dipenuhi perpaduan antara rasa cemas yang mendalam dan kecurigaan yang tertahan. Matanya langsung menyapu seluruh tubuh Satrio dari ujung kepala hingga ujung kaki."Kamu dari mana saja, Rio?!" tanya Debby dengan nada setengah berbisik namun menuntut, napasnya sedikit memburu. "Aku mencarimu ke mana-mana setelah urusanku dengan Rafael selesai. Kamu menghilang terlalu lama!"Satrio menyunggingkan senyuman teduh andalannya. Ia sengaja memajukan tubuhnya sedikit agar energiny
Suara pintu kamar suite mewah itu tertutup dengan bunyi klik yang rapat, seketika meredam seluruh sisa-sisa kebisingan dari koridor hotel. Suasana di dalam ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan aroma lilin terapi beraroma lavender yang menenangkan.Ayunda berbalik, menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh. Sepasang mata bulatnya menatap Satrio dengan binar yang tidak lagi disembunyikan. Senyuman tipis yang matang terukir di bibirnya yang dilapisi gincu merah merona."Nah, kita sudah sampai. Kamar mandinya ada di sebelah kiri itu, Satrio. Masuk saja, tidak perlu sungkan," ucap Ayunda dengan nada suara yang rendah dan mengayun, seolah sedang menuntun mangsanya masuk lebih dalam ke dalam sarang.Satrio mengangguk sopan. "Terima kasih, Nona Ayunda."Ia melangkah menuju pintu kaca buram yang ditunjuk Ayunda. Namun, begitu mendorong pintu tersebut dan melangkah masuk, Satrio seketika tertegun di tempatnya berdiri. Matanya sedikit melebar men
"Kenapa melamun, Satrio? Pak Aizar paling tidak suka orang yang lambat. Sebaiknya kamu segera naik ke lantai atas sekarang," sindir Selina. Suaranya terdengar sangat renyah, dipenuhi kepuasan karena berhasil menjebak pemuda magang yang selama ini selalu tampak tenang itu.Satrio tidak menjawab. Den
Pintu mobil sedan mewah milik Pak Aizar tertutup dengan dentuman rapat yang berat. Satrio segera menyalakan mesin kendaraan, membiarkan deru halus pendingin ruangan mulai menyejukkan dalam mobil yang sempat terasa hangat. Di kursi penumpang sebelah kemudi, Adirah langsung melipat kedua tangannya d
"Bagian mana yang perlu saya periksa terlebih dahulu, Mbak Sisilia?" tanya Satrio dengan nada suara rendah, sengaja memberikan penekanan yang menggoda pada panggilannya.Sisilia terkekeh manja, lalu meraih kerah kemeja seragam Satrio dan menariknya hingga jarak mereka terkikis habis. "Jangan panggi
Perjalanan menuju pabrik utama terasa begitu lancar di bawah kendali Satrio. Di sampingnya, Adirah sesekali mencuri pandang ke arah samping wajah Satrio yang tampak maskulin dan tenang. Sisa-sisa kekesalan Adirah akibat insiden di pantry tadi menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa bangga karena b