Share

Bab 66

Penulis: Langit Berawan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 19:36:56

Di sudut ruang VIP yang agak jauh dari lantai dansa, Ayunda berdiri sambil melirik sinis ke arah pasangan yang baru saja turun dari lantai dansa. Otaknya yang cerdik terus berputar mencari cara untuk memisahkan Satrio dari Debby. Tepat saat itu, matanya menangkap sosok seorang pria tampan dengan setelan jas abu-abu mahal yang baru saja memasuki aula.

Pria itu adalah Rafael, anak tunggal dari konglomerat real estate raksasa yang juga merupakan mantan kekasih Debby. Ayunda tersenyum licik. Senjat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 166

    Mengapa seorang Sisilia menelepon seorang Satrio di larut malam seperti ini jika hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan? Pertanyaan Darma di lobi tadi mengenai adanya 'sesuatu' di antara mereka berdua seketika terngiang kembali di telinga Selina dengan begitu nyata.Rasa penasaran yang teramat sangat bergolak hebat di dalam dada Selina, mengalahkan rasa takutnya. Jari telunjuknya yang bergetar kini melayang di atas layar, sangat ingin menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut dan mendengarkan suara dari wanita yang telah dibuat bertekuk lutut oleh pria yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya.Selina masih mematung di atas ranjang dengan napas yang tertahan, menatap nama Sisilia yang berkedip di layar. Rasa penasaran yang membakar dada mengalahkan akal sehatnya. Akhirnya, dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, sembari melirik Satrio yang masih mendengkur halus akibat kelelahan, jemari Selina yang bergetar akhirnya menjawab panggilan Sisilia. Ia mendekatk

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 165

    Di dalam sebuah kafe premium bernuansa remang, alunan musik jaz mengalir lembut, mencoba membasuh ketegangan yang tersisa dari hiruk-pikuk siang tadi. Kafe ini adalah tempat pelarian favorit Satrio kala penat melanda, sebuah sudut sunyi di mana aroma kopi hitam pekat berpadu sempurna dengan interior kayu yang hangat, menjanjikan ketenangan dari segala intrik yang melelahkan.Di salah satu sudut sofa yang paling privat, Satrio duduk menyandarkan punggungnya yang tegap. Pikirannya benar-benar sedang berkecamuk hebat, berputar-putar di antara dua kutub yang menguras energinya. Di satu sisi, konfrontasi menegangkan dengan Darma Prambudi di lobi utama tadi masih menyisakan sisa-sisa amarah di dadanya. Namun, di sisi lain, yang jauh lebih menyiksa batinnya adalah perubahan sikap Malika. Kegundahan hati Satrio begitu mendalam saat mengingat bagaimana gadis itu menolak pergi dengannya dengan tatapan penuh keraguan dan cemburu, lalu memilih pulang sendiri menggunakan taksi. Rasa tidak perca

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 164

    "Jaga ucapan Anda, Pak Darma! Menuduh tanpa bukti di depan umum seperti ini hanya menunjukkan seberapa jauh Anda telah kehilangan akal sehat Anda karena frustasi," suara Satrio memecah keheningan lobi utama Shine Group.Satrio melangkah maju, melepaskan tatapan mata yang begitu tajam dan menusuk langsung ke arah Darma Prambudi. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. Sebaliknya, ia menampilkan ekspresi penuh penghinaan dan rasa kasihan yang dibuat-buat, membalikkan keadaan dalam sekelip mata."Semua orang di gedung ini tahu bagaimana Nikko menyerahkan jabatannya secara sah di dalam rapat pleno karena ketidakmampuannya sendiri. Sekarang, Anda datang ke sini, membuat keributan, dan melemparkan tuduhan tidak berdasar kepada saya dan istri Anda sendiri? Sungguh menggelikan. Apakah ini cara seorang senior dari keluarga Prambudi menghadapi kekalahan?" Satrio mendengus meremehkan, suaranya yang tegas bergaung dengan penuh wibawa, membuat argumen Darma seketika runtuh dan terdengar

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 163

    Jarum jam dinding di lantai lima kantor pusat Shine Group tepat menunjuk ke angka pukul lima sore lewat lima menit. Suasana kerja yang semula formal dan kaku seketika mencair saat jam pulang kantor tiba. Namun, ketenangan di Divisi HRD pecah ketika pintu kaca otomatis terbuka, dan sosok Satrio melangkah masuk dengan penuh percaya diri.Pria itu kini tidak lagi mengenakan seragam lapangan operasional yang lusuh. Satrio tampil sangat berwibawa dengan kemeja putih premium yang pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain hitam potongan slim-fit yang elegan. Aura kepemimpinan seorang Presiden Direktur Baru begitu kuat menyelimuti dirinya, diperkuat oleh pancaran energi giok pemikat yang tersembunyi di balik kemejanya yang membuat siapa saja enggan menentang tatapannya.Langkah kaki Satrio berhenti tepat di depan meja kerja Malika. Ia mengulas senyum hangat yang sangat kontras dengan reputasi dinginnya di ruang rapat pleno pagi tadi."Sudah selesai bersiap-siapnya, Malika? Ayo, ak

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 162

    Aroma kopi dan hidangan kelas atas menguar di udara Kantin Eksekutif Shine Group yang terletak di lantai 7. Tempat ini bukanlah kantin karyawan biasa, melainkan sebuah ruang makan eksklusif dengan dinding kaca transparan yang menyuguhkan pemandangan megah gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Hanya jajaran manajer senior, kepala divisi, dan direksi yang memiliki akses untuk menikmati fasilitas di lantai ini. Siang itu, atmosfer di salah satu sudut meja bundar dekat jendela besar tampak begitu hidup dan dipenuhi tawa kemenangan.Empat wanita paling berpengaruh dan memikat di kantor pusat Shine Group—Adirah, Maya, Selina, dan Ranty—sedang berkumpul mengelilingi meja yang penuh dengan camilan mewah dan jus segar. Pengangkatan resmi Satrio sebagai Presiden Direktur Sementara menggantikan posisi Pak Aizar telah menjadi bahan obrolan utama yang membuat mata mereka berbinar penuh kegembiraan. Keberhasilan Satrio membalikkan keadaan dalam waktu satu malam tidak hanya menyelamatkan p

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 161

    Suasana di lantai tertinggi kantor pusat Shine Group benar-benar berubah total sejak pengumuman pagi tadi. Papan nama di depan pintu ruang kerja utama kini telah berganti dengan tulisan nama yang tegas: Satrio - Presiden Direktur Sementara.Seluruh staf sekretariat berjalan dengan langkah cepat dan setengah menunduk, tidak berani memicu kemarahan sang pimpinan baru yang terkenal dingin dan tak kenal kompromi saat mengeksekusi nasib Nikko Prambudi.Tepat pukul satu siang, setelah jam istirahat berakhir, pintu lift eksekutif berdenting terbuka di lantai utama. Malika melangkah keluar sambil mendekap sebuah map berwarna biru tua di dadanya. Sebagai perwakilan dari Divisi HRD, ia ditugaskan secara mendadak oleh kepala divisinya untuk mengantarkan dokumen penyesuaian struktur organisasi serta berkas mutasi posisi Nikko Prambudi yang kini resmi menjadi bawahan operasional.Jantung Malika berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Setiap derap langkah sepatunya di atas lantai granit mengiki

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 3

    Satrio terduduk di tepi ranjang dengan napas yang mulai tidak beraturan. Kamar itu terasa semakin panas, seolah oksigen di dalamnya telah habis terbakar oleh aura mistis yang memancar dari liontin di lehernya. Selina berlutut di depannya dengan gerakan yang sangat berani dan terlatih.Perlahan, jem

  • Satrio Sang Penguasa Wanita    Bab 2

    Sinar matahari sore menembus kaca jendela besar di lantai 9 gedung perkantoran elit itu, menyinari sosok Aizar Surya Prambudi yang berdiri membelakangi meja kerjanya. Sebagai Presdir yang baru saja dilantik, ia memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan pesona yang sulit ditolak. Namun, di balik

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 1

    Debu jalanan desa yang kering menempel di kulit Satrio saat ia membantu ayahnya mengangkut hasil tani yang tak seberapa ke pinggir jalan. Di bawah terik matahari yang menyengat, pemuda itu hanya mengenakan kaos lusuh yang sudah tipis warnanya. Meski tubuhnya terlihat lelah, matanya tetap jernih, me

  • Satrio Sang Penguasa Wanita   Bab 5

    Satrio mematung. Napasnya memburu, namun bukan karena gairah, melainkan karena syok. Miliknya yang tadi menegang hebat kini terasa ngilu karena interupsi yang mendadak. Ia menatap pintu dengan ngeri, seolah-olah Tante Inet bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan melalui serat-serat kayu pintu ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status