Compartir

Bab 24

Autor: QueenShe
last update Fecha de publicación: 2026-04-13 13:18:53

“Mbok Yah?” panggil Prana rendah. “Mbok sakit?”

Wanita tua itu hampir melompat dari kursinya karena terkejut. Wajahnya terlihat sangat pias tersorot lampu taman. Napasnya memburu dan ia tampak kesulitan untuk sekadar berdiri tegak.

“Dokter Prana...” bisik Mbok Yah dengan nada bergetar yang nyaris hilang. “Itu… mbak Shanum…”

Prana menyipitkan mata. Ia heran melihat Mbok Yah masih berada di sana, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya, asisten rumah tangga itu sudah pulang se
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 361

    "Gimana sekarang, masih mual?"Suara Ralin memecah keheningan meja makan. Shanum spontan mengangkat wajah dari piringnya, baru saja menyuap beberapa suap nasi."Masih dikit, Tante," jawab Shanum pelan.Ralin mengangguk. "Pusing?""Udah agak mendingan.""Perutnya sakit?"Shanum menggeleng. "Enggak."Tanpa diduga, Ralin mengulurkan tangan, mengambil sepotong lauk dari mangkuk tengah meja, memindahkannya ke piring Shanum. Gerakan itu membuat Shanum terbelalak, begitu pula Prana yang langsung berhenti mengunyah."Kalau nanti mual lagi, jangan dipaksain makan," lanjut Ralin datar tapi peduli. "Istirahat dulu, cari makanan yang enak di perut kamu.""Iya, Tante," balas Shanum lirih.Prana yang duduk di sampingnya mengulum senyum tipis. Sejak tadi ia diam-diam mengamati perubahan drastis sikap ibunya. Meski Ralin tetap bicara singkat dan tegas, sudah tak ada lagi sindiran tajam atau tatapan sinis untuk Shanum.Rali

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 360

    “Pran, jelasin,” Ralin berhenti sebentar. “Mama mau tahu, apa Ani memang selalu begitu sama anaknya?”Di sofa ruang tengah, Ralin menatap lurus ke Prana yang duduk di seberang. Prana tak langsung menjawab, mengembuskan napas berat.“Pran,” panggil Ralin, matanya menyipit tajam.“Iya, Ma,” sahut Prana akhirnya.Jawaban singkat itu membuat raut Ralin kaku. “Sering kayak gitu?”“Kurang lebih begitu.”Ralin bersandar ke sofa, mencerna jawaban putranya yang tenang tapi menyiratkan kepahitan pekat.“Separah apa?” tanya Ralin, penasarannya mendesak untuk tahu apa saja yang sudah ditelan menantunya bertahun-tahun. “Mama tahu kelakuan Ani dari dulu. Dia bakal menekan siapa pun yang ngehalangin dia. Kirain sama anaknya gak begitu.”“Sama Shanum lebih parah.”“Contohnya?”Prana mengangkat wajah, menatap lan

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 359

    “Ma, kita pulang, Ma. Gak ada untungnya berdebat sama mereka di sini.”Prana menghalangi tubuh Ralin yang berniat maju menghadapi Ani lebih dekat, menahan pundak ibunya dengan kedua tangan.Ralin mendengus keras, dadanya masih naik turun menahan emosi. “Dia itu udah kelewatan ngatain anaknya sendiri sembarangan, Prana! Kasar banget mulutnya!”“Iya, tapi tempat ini bukan arena buat adu mulut,” balas Prana tegas, meredam situasi agar tak makin runyam di hadapan umum.Bersamaan dengan itu, Bobby melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ani, menatap istrinya dengan kejengkelan.“Bu, sudah cukup, kamu keterlaluan!” tegas Bobby.Ani menoleh cepat, matanya membelalak. “Kamu malah marahin aku, Yah? Kamu gak lihat Shanum ngelawan Ibu?”“Ibu yang bikin malu keluarga dari tadi!” potong Bobby tanpa ampun. “Udah tua masih suka bikin keributan!”Mendengar per

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 358

    “Ayahmu masih belum sembuh sepenuhnya, kamu malah bersenang-senang sama orang lain!” cecar Ani penuh amarah.“Bu—”“Kalau ngomong jangan sembarangan, ya!” potong Ralin, memotong ucapan Shanum.Wanita paruh baya itu tak tinggal diam. Dilewatinya Prana yang berdiri tepat di samping Shanum. Ralin memajukan tubuh menghadapi Ani langsung.Prana bergerak cepat, mencengkeram lengan ibunya, menariknya mundur perlahan.“Ma, sudah. Gak usah dilayanin,” bisik Prana mendesak.Ia tahu persis watak keras ibunya kalau sudah tersulut emosi. Tapi Ralin tak terima, mendelik tajam ke Ani, menepis tatapan Prana.“Mbak Ralin, gak usah ikut campur urusan saya dengan anak saya!” maki Ani, menunjuk wajah Shanum. “Dia anak kandung saya, Mbak orang luar gak usah ikut-ikutan!”Dada Ralin naik turun. Ucapan itu menembus batas kesabarannya yang tipis.“Siapa bilang saya orang luar?” bentak Ralin balik, menepis tangan Prana dari lengannya kasar.“Anak yang kamu maki-maki di depan orang banyak ini sekarang menantu

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 357

    “Semua sudah siap.”Suara Ralin terdengar dari ambang pintu kamar. Shanum yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas langsung menoleh.“Udah, Tante.”Ralin mengangguk singkat. “Ayo. Prana sudah pesan agar kita datang sebelum jam praktiknya selesai.”Pagi tadi, Prana sempat mengajak Shanum berangkat bersama ke rumah sakit. Namun, Ralin justru menawarkan diri untuk menemani menantunya itu. Awalnya Shanum merasa canggung.Akan tetapi, sejak malam kemarin, ia mulai menyadari bahwa sikap dingin Ralin bukanlah bentuk keterpaksaan lagi. Wanita paruh baya itu memang masih ketus dan menjaga jarak, tetapi perhatian-perhatian kecilnya semakin sulit disembunyikan.Sementara Prana sudah berada di rumah sakit sejak pagi karena jadwal praktiknya yang padat, Shanum dan Ralin baru berangkat menjelang siang. Prana sengaja meminta mereka datang di akhir jam kerjanya.“Biar sekalian aku yang periksa,” pesan Prana lewat ponselnya pagi tadi. “Setelah itu kita pulang bareng.”Shanum sempat tersenyum send

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 356

    “Mas! Lepasin aku dulu, aku udah gak kuat!” rintih Shanum, mencengkeram lengan Prana yang melingkar erat di pinggangnya.Bukannya melepas, pelukan Prana malah makin erat—seperti takut kalau ia meregangkan dekapan sedetik saja, keajaiban yang baru ia saksikan di kamar mandi akan menguap jadi mimpi.“Mas, lepas!” bentak Shanum dengan sisa tenaganya.Melihat suaminya masih bergeming, Shanum mendorong dada Prana sekuat tenaga hingga membuatnya terhuyung mundur setengah langkah, tak menyangka istrinya akan melepaskan diri sekeras itu di tengah momen haru.“Kenap—”Belum sempat Prana merampungkan pertanyaan, Shanum sudah berbalik, berlari kencang kembali ke kamar mandi.Hoeeekkk!Suara muntah menggema dari balik wastafel. Wajah Prana yang sedetik lalu berseri seketika pucat. Ia berlari menyusul, berlutut di samping Shanum yang membungkuk lemas, bahunya naik turun.“Shanum

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 33

    “Shanum... bagaimana kalau kita mencoba seperti yang mereka lakukan?” bisiknya tepat dari belakang telinganya, diikuti dengan gigitan-gigitan kecil di daun telinganya. Membuat seluruh tubuh Shanum menegang kaku.“Kita belum pernah mencoba gaya seperti itu, bukan?” Prana ikut naik ke atas sofa, berb

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status