Teilen

Bab 269

last update Veröffentlichungsdatum: 08.07.2026 11:12:54

Shanum hanya bisa membiarkan tubuhnya kembali terdesak ke kasur, terperangkap di antara dua lengan tegap Prana. Rasa bersalah karena sempat menuduh pria itu sembarangan kini berganti menjadi debaran yang luar biasa kencang di dalam dadanya.

Cincin di jari manisnya terasa dingin bergesekan dengan kulit, kontras dengan hawa hangat yang mulai menguar dari tubuh sang dokter.

“Mas... tapi masalah Tante Ralin...” cicit Shanum, mencoba menahan dada Prana saat jemari pria itu berhasil meloloskan kancin
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 276

    “Mas, apa maksud Tante Ralin?” tanya Shanum, matanya menatap punggung tegap Prana, menuntut penjelasan yang selama tiga tahun ini tak pernah ia ketahui. “Siapa yang menghancurkan kalian? Mereka siapa?”Prana tak langsung berbalik, bahunya menegang kaku. Ketika akhirnya memutar tubuh, tatapannya menyiratkan kepanikan pekat.“Gak ada apa-apa, Num. Jangan didengerin,” potong Prana cepat, memegang kedua lengan Shanum erat, mencoba mengalihkan perhatiannya. “Ini cuma salah paham. Kita pulang sekarang, ya?”“Salah paham, kamu bilang, Pran?!” Ralin menyambar menyakitkan. Wanita paruh baya itu melangkah maju, berdiri tepat di samping putranya, menghadap Shanum sepenuhnya. “Kamu sebut seluruh air mata Mama selama ini cuma salah paham?”“Sebenarnya ada apa, Tan?” tanya Shanum, berusaha tenang meski hatinya bergemuruh.Dilepaskannya cengkeraman Prana di lengannya. Kepalanya mulai berdenyut. Tatapan benci Ralin jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang ibu yang anaknya didekati seorang jand

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 275

    “Mama gak akan kasih restu sampai kapanpun,” ucap Ralin tegas. “Kamu bakal tetap menikah?”Prana terdiam beberapa saat. Genggaman tangannya pada jemari Shanum semakin mengunci kuat, seolah memberikan tanda bahwa ia tak akan pernah melepaskan wanita itu apa pun yang terjadi.“Aku bakal tetap menikahi Shanum, Ma. Dengan atau tanpa restu dari siapa pun,” jawab Prana, mutlak tanpa keraguan sedikit pun.Shanum tersentak mendengar kalimat nekat kekasihnya. Ia menarik tangannya dari kuncian Prana dengan sekali sentakan kuat. “Mas, jangan bicara begitu sama Tante Ralin! Gak boleh!”Mata Shanum menatap Ralin dengan pandangan penuh rasa hormat sekaligus penyesalan yang mendalam. “Tante, maafkan atas semua kesalahan aku di masa lalu yang sudah membuat Tante dan Mas Prana sedih. Aku gak ada niat sedikit pun untuk mengganggu Tante dengan Mas Prana.”Ralin sama sekali tak bergeming. Ia mengabaikan posisi berdiri Shanum, bahkan tak melirik wanita itu sedikit pun. Fokusnya tetap terkunci pada Prana,

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 274

    “Apa yang mau dibicarakan sama Mama, Pran?” tanya Ralin datar.Sudah sepuluh menit mereka duduk bersama bertiga di meja sudut kafe yang agak terpisah dari meja Hania dan Lastri.Tak sedikit pun Ralin menganggap kehadiran Shanum di sana. Tatapannya tertuju lurus pada Prana, mengabaikan keberadaan wanita di sebelah putranya yang kini meremas ujung kardigan di bawah meja.Prana memajukan posisi duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia melirik Shanum sekilas, memberikan ketenangan lewat sorot matanya sebelum kembali menatap sang ibu.“Aku sudah melamar Shanum, Ma. Rencananya kami mau menikah dalam waktu dekat,” ucap Prana tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu tenang, kokoh, dan terdengar sangat bulat.Ralin tidak langsung merespons. Ia meraih cangkir teh kamomil hangat yang baru saja disajikan pelayan, menyesapnya sedikit dengan gerakan teratur. Setelah menaruh kembali cangkir itu ke tatakan piring kecil, barulah ia menatap Prana dengan sepasang mata yang menyipit.“Menikah?”

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 273

    “Jadi ini urusan yang kamu bilang ke Mama di telepon tadi?” tanya Ralin.Prana menarik napas dalam. Ia melangkah maju mendekati ibunya. Dengan gerakan tenang, Prana melingkarkan lengan di pundak wanita paruh baya itu, memeluknya hangat mencoba meredam amarah sang ibu.“Jangan marah dulu,” bisik Prana lembut. Ia menunduk sedikit, mendaratkan satu ciuman penenang di pelipis ibunya.Ralin tak menolak pelukan itu, tapi tubuhnya tetap kaku. Matanya masih melirik tajam ke arah Shanum yang berdiri membeku beberapa langkah di belakang Prana.Prana mengurai pelukannya, mundur satu langkah besar ke posisi semula. Tanpa ragu, ia kembali meraih tangan Shanum yang tadi sempat terlepas, menggenggamnya begitu erat di depan mata ketiga wanita itu. Tindakan Prana membuat Lastri langsung mendengus tak suka.Shanum sendiri berusaha melepaskan tangannya tapi Prana menggenggamnya lebih erat.“Kebetulan kita ketemu di sini. Gimana kalau kita ngobrol di kafenya? Di dalam ada banyak makanan minuman hangat,”

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 272

    “Iya, kita datangi Mama untuk minta restu. Buat jadwalnya nanti aku atur lagi ya,” ujar Prana, terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan yang ia pamerkan beberapa menit lalu.Shanum hanya mengangguk setuju.“Kenapa kita gak nikah aja dulu, baru nanti minta restu?” tanya Prana meraih cangkir jus stroberinya yang tinggal setengah. Ia meminumnya sedikit, memberikan jeda waktu yang cukup lama hanya untuk menelan cairan manis itu.“Gak bisa gitu, Mas,” tegur Shanum “Kita punya orang tua. Aku mau pernikahan kita langgeng selamanya.”“Iya, sayang.” Prana mencium pelipis Shanum sambil tersenyum.Ketenangann mereka teralihkan oleh, ponsel Prana yang bergetar beberapa kali. Beberapa pesan masuk berturut-turut. Prana mengambilnya di tas meja. Ibu jarinya bergerak menyapu layar untuk membuka baris pesan yang baru saja masuk.Visual riang di wajah dokter itu seketika lenyap tanpa sisa. Alisnya bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. Sepasang matanya menatap lurus pada deretan ka

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 271

    "Aku baru cerai, sekarang mau nikah sama kamu, kecepetan gak sih, Mas?" tanya Shanum sambil menyimpan teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis di meja.Mereka sekarang berada di café daerah puncak bogor. Tadi pagi, Prana tiba-tiba saja membangunkannya, dan mengajaknya berkendara jauh ke atas sini. Katanya, lumayan masih ada waktu sisa cuti sebelum ia kembali sibuk masuk rumah sakit besok lusa.Prana yang sedang duduk di kursi rotan mendongak. "Nggak ada yang cepat, Num. Aku udah nunggu momen ini sejak lama.”Shanum memandangi cincin berlian yang melingkar di jarinya. "Orang-orang pasti bakal ngomongin kita, Mas.""Gak usah di dengar. Yang menjalani hidup ini aku dan kamu, bukan mereka. Urusan Mama juga biar jadi bagianku untuk meluruskan semuanya," balas Prana.Shanum mengangguk pelan. Entah kenapa, ia merasa senyum Prana kali ini sedikit dipaksakan. Tapi, Shanum memilih untuk bungkam dan menyimpan pertanyaannya rapat-rapat.“Hari ini kita kemana?” tanya Shanum berusaha mengubah s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 210

    “Iya, Han. Aku masih di rumah sakit. Kalau di sini selesai nanti aku susul. Kalian makan aja dulu,” jawab Prana pada sambungan telepon Hania.Suaranya sengaja direndahkan, nyaris berbisik. Sesekali matanya melirik ke arah Shanum yang sudah kembali tertidur di ranjangnya. Wajah wanita itu tampak beg

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 206

    “Pendarahan lagi?” Kening Prana mengernyit dalam. “Dari kapan pendarahannya? Bukannya semalam udah gak pendarahan?”“Tadi pagi pas bangun, Pak dokter,” jawab lagi Mbok Yah.Prana mengalihkan pandangannya pada Shanum. “Perutmu sakit?”“Bangun tidur berasa kencang.”“Suster, tolong cek flek pendarah

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 204

    “Bukannya tadi kubilang jangan datang?” ucap Prana datar penuh peringatan.Kalid menatap Prana beberapa detik tanpa menghapus ekspresi tenangnya. Meski sorot matanya jelas menangkap ketaksukaan yang menguar kuat dari wajah dokter kandungan itu.“Hanya menjenguk sebagai teman,” ucap Kalid, nada bica

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 196

    “BUGH!!!”Sebuah pukulan mentah langsung mendarat telak di pipi kanan Fadil, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang hingga jatuh di lantai kamar. Rasa panas dan linu seketika menjalar di rahangnya.Pelakunya adalah adik keduanya, Gandi. Pria itu berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam me

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status