Mag-log in“Shanum?! Kamu ngapain di sini?”Senyum lebar Shanum langsung mengembang begitu melihat Ralin muncul dari balik pintu otomatis kedatangan bandara sambil menarik koper. Wajah mertuanya itu justru terlihat panik bukan kepalang.“Jemput Mama,” jawab Shanum riang.Langkah kaki Ralin seketika terhenti. Matanya langsung turun meneliti perut Shanum yang sudah sangat membuncit, lalu beralih menatap mobil sedan yang terparkir di area penjemputan tak jauh dari sana.“Kamu datang sendiri? Bukannya Prana bilang akhir-akhir ini kamu harus banyak istirahat di rumah?” tegur Ralin dengan nada cemas.Shanum mengangguk santai. “Iya, Ma.”“Jangan bilang kamu nyetir sendiri ke sini?”Shanum tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ehm... iya, Ma.”“Ya ampun, Shanum!” Ralin langsung menghampiri menantunya dengan langkah tergesa. “Kandungan kamu sudah mau masuk sembilan bulan! Kenapa nekat nyetir sendirian sampai bandara gini?”“Aku baik-baik aja, Ma. Sumpah,” bela Shanum cepat.“Bukan soal b
Tatapan Prana terpaku lekat pada layar monitor. Ia menggeser transduser beberapa sentimeter ke sisi perut Shanum, lalu berhenti. Keningnya berkerut dalam.“Mas?” Shanum mulai gelisah, merasakan perubahan raut wajah suaminya. “Ada apa?”Prana menarik napas pendek. “Posisi kepala bayi berubah lagi.”Shanum langsung mendongak ke arah layar. “Berubah gimana?”“Sekarang kepalanya kembali di atas.”Shanum mengerjap cepat. “Sunsang?”Prana menggerakkan transduser perlahan untuk memastikan hasilnya. Setelah beberapa detik mengamati angka dan citra di monitor, ia mengangguk kecil. “Iya, bayinya sungsang.”Wajah Shanum langsung menegang.Prana masih memeriksa layar dengan teliti, tak menunjukkan kepanikan yang berlebihan. Tangannya tetap bergerak teratur, memeriksa bagian kepala, punggung, hingga kaki bayi.“Bukannya kemarin posisi kepalanya sudah bagus di bawah?” tanya Shanum cemas.“Memang.”“Terus kenapa sekarang bisa berubah?”“Bayi masih bisa bergerak aktif selama ruang di dalam rahim masi
Prana mengerjap-nerjap beberapa kali, menatap istrinya lekat-lekat dari ujung rambut sampai kaki. Pandangan pria itu turun ke arah perut Shanum yang sudah sangat membuncit, lalu kembali naik menatap manik mata sang istri dengan ekspresi tak percaya.“Kamu... kamu ngapain di sini, Sayang?”Sebagai jawaban, Shanum dengan bangga mengangkat selembar kertas nomor antrean kecil di antara jari-jarinya.“Daftar jadi pasien, Dok.”Prana mengerutkan keningnya semakin dalam, masih mencerna situasi yang sama sekali di luar nalar logikanya. “Pasien? Maksud kamu apa?”“Ya… daftar buat periksa kehamilanlah. Memangnya pasien ngapain lagi ke ruang dokter?” jawab Shanum santai.“Kenapa gak bilang-bilang aku dulu kalau mau ke klinik? Kenapa gak bareng dari rumah?” cecar Prana mulai panik, refleks berdiri dari kursi kerjanya. “Kamu datang ke sini sendirian naik apa? Nyetir sendiri? Perut kamu kan udah sebesar ini!”“Soalnya aku kangen sama suamiku. Jadi aku mau kasih kejutan buat suamiku tersayang,” jawa
“Bu Shanum? Lho, kok tumben datang sendiri ke klinik? Dokter Prana kan masih ada jadwal praktik sampai malam.”Mira—suster pribadi Prana di klinik—spontan bangkit dari kursi kerjanya. Keningnya berkerut dalam begitu melihat Shanum berdiri tepat di depannya sambil menenteng sebuah tas bekal berwarna pastel.“Iya, aku tahu, Mbak Mira”“Bawa bekal?” Mata Mira langsung melirik ke arah tas kain yang dibawa Shanum. “Mau nganter makan malam buat Dokter?”“Bukan.”“Mau jemput Dokter Prana pulang?” tanya Mira lagi menduga-duga.Shanum menggelengkan kepalanya pelan.“Terus kalau bukan mau jemput atau nganter makan, ada perlu apa, Bu? Jangan bikin saya penasaran.”Shanum melangkah lebih dekat ke meja resepsionis, kemudian menurunkan volume suaranya hingga nyaris berupa bisikan. “Aku mau daftar jadi pasien.”Mira langsung membeku di tempatnya. Otaknya mendadak macet mencerna kalimat yang baru saja dilontarkan wanita hamil di hadapannya itu.“Pasien?” ulang Mira dengan mata mengerjap lebar.Shanum
“Kita pulang sekarang, Mas,” pinta Shanum dengan suara rendah begitu matanya mengenali rombongan orang yang baru saja melangkah masuk ke dalam restoran.Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, Prana sudah tahu siapa saja orang-orang yang berdiri tak jauh dari meja mereka.Adik-adik kandung mantan suaminya—Gandi dan Topan—datang bersama para istri mereka, Mega dan Putri.Namun, hal yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran Alea, wanita yang dulu sempat menjadi salah satu selingkuhan Fadil, kini berdiri tepat di tengah-tengah mereka tanpa rasa bersalah.“Mbak Shanum?” panggil Mega sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, sengaja mengeraskan suara agar menarik perhatian pengunjung restoran lain.Topan tampak tak peduli, melangkah santai menuju salah satu meja kosong yang berada tak jauh dari posisi Shanum dan Prana duduk sebelumnya.Di sisi lain, Gandi berdiri sambil menatap tajam ke arah perut Shanum yang sudah jelas membuncit di balik balutan pakaian hamilnya. Alea hanya ber
“Kenapa harus bohong kalau mau ketemu ibu kamu?”Prana mengajukan pertanyaan itu di sela-sela jam makan malam mereka. Restoran elit yang tadinya terasa tenang mendadak diisi oleh ketegangan kecil di meja sudut ruangan.Shanum menunduk, memainkan jemarinya di atas piring dessert yang sudah kosong.“Maaf, Mas. Tapi aku beneran pengen nyelesaiin ini semua biar baik-baik aja. Aku pengen hubungan keluarga kita berjalan tanpa halangan. Tapi sepertinya urusan sama Ibu memang udah gak bakalan bisa diperbaiki.”Prana menghela napas pelan melihat ekspresi bersalah di wajah istrinya. Pria itu meraih tangan Shanum di atas meja, mengusap punggung tangan itu lembut untuk meredakan ketegangan.“Apa pun yang ibumu lakukan, jangan diambil hati,” ucap Prana lembut. “Kamu fokus aja buat kesehatan kamu dan anak kita.”Shanum mengangguk kecil, merasakan kehangatan menjalar dari genggaman tangan suaminya. “Iya, Mas.”“Sekarang, ada satu hal lagi yang harus kita bahas,” lanjut Prana dengan nada berubah tega
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua
“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S







