LOGIN"Mas, gimana ini?" tanya Shanum panik. "Mertuaku bisa membunuhku jika tahu kita di sini."Prana segera melepaskan dekapannya, lalu menangkup kedua pipi Shanum dengan telapak tangan yang hangat. Ia memaksa wanita itu untuk menatap matanya secara langsung."Shanum, lihat aku. Tenang," bisiknya rendah, mencoba mengalirkan ketenangan.Shanum menggeleng lemah dengan bibir bergetar hebat. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja. Membayangkan wajah mertuanya yang kaku dan penuh penghakiman sudah berdiri tepat di depan pintu gudang ini."Mas, aku nggak bisa... aku takut. Kalau dia tahu…"Melihat Shanum yang nyaris hancur karena serangan panik, Prana menarik napas panjang. Ia mendaratkan kecupan lembut yang cukup lama di kening Shanum, kemudian mendekap kepala wanita itu ke dadanya. Ia ingin menyalurkan seluruh kekuatannya agar Shanum tak ambruk saat itu juga."Dengarkan aku, Shanum. Tarik napas. Selama pintu ini terkunci, dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di
“Mba Shanum di mana? Ini ada telepon dari Nyonya besar!” Suara langkah Mbok Yah terdengar semakin mendekat ke arah taman samping.Terlihat bayangan tubuh Mbok Yah sudah memanjang mencapai area taman samping. Hanya butuh dua atau tiga langkah lagi sebelum akan melihat apa yang di lakukan Shanum dan Prana.Dalam kepanikan yang memuncak, Shanum menggunakan satu-satunya senjata yang ia punya: ia menggigit bibir Prana cukup keras hingga rasa asin darah samar-samar terasa. Prana sedikit mengendurkan pagutannya.“Aw…” desis Prana pelan.Tapi usaha Shanum itu sia-sia. Karena bukannya menjauh, pria itu justru menyambar pergelangan tangan Shanum dan menariknya dengan sentakan kuat masuk ke dalam gudang.Pintu ditutup rapat tepat saat ujung sandal Mbok Yah muncul di tikungan taman. Prana segera mengaktifkan selot kunci dari dalam. Deru napas mereka memburu saling bersahutan, memenuhi gudang yang hanya diterangi matahari dari celah ventilasi.“Mas, lepas!” Shanum mendesis tajam.Suaranya ditekan
“Oh… ini istrinya Pak Fadil. Sebentar ya, Bu. Tadi ponselnya di titip ke saya, Pak Fadil lagi presentasi,” jawab wanita yang tadi pagi mengangkat telepon FadilShanum terpaku, tangannya yang memegang gunting untuk memotong daun kering terhenti di udara. Kata-kata wanita itu terus terngiang. Suaranya manja, tenang, dan terdengar profesional.Hanya saja Shanum tidak bisa membohongi pendengarannya sendiri. Suara wanita yang mengangkat telepon Fadil tadi pagi memiliki intonasi yang sama persis dengan wanita yang diakui Fadil sebagai pacarnya Hendra.“Presentasi? Jam tujuh pagi di hari sabtu? Pagi sekali mereka bekerja?” batinnya skeptis.Mengingat ia menelepon jam enam pagi—berarti di Bali jam tujuh pagi—untuk menanyakan apakah suaminya itu jadi pulang hari ini atau tidak.“Siapa sebenarnya wanita itu?” gumam Shanum lirih.Kemarin suaminya bilang itu pacar Hendra. Tapi kenapa sekarang ponsel Fadil justru dititipkan pada wanita yang sama?“Apa Hendra juga ikut presentasi, jadi pacarnya mem
Rasa penasaran mendorongnya menekan tombol daya ponselnya. Ia menunggu beberapa detik yang terasa sangat lama, berharap ada logo merek atau sekadar cahaya yang muncul dari kegelapan layar.Namun, layar itu tetap hitam pekat. Shanum mencoba menekannya berkali-kali, namun nihil. Ponsel itu mati total. Mungkin kehabisan daya, atau sengaja dinonaktifkan.“Mati,” rutuknya. Ada rasa kecewa dan kesal yang menyengat ulu hatinya. “Kayaknya emang abis baterai.”Shanum menarik napas panjang, mencoba menguasai diri. Ia meletakkan kembali ponsel itu ke pojok brankas, tepat di posisi semula agar tidak memancing kecurigaan. Fokusnya kembali pada proposal.Saat ia menarik proposal tender tersebut, sebuah amplop putih tebal yang terselip di bawahnya ikut terseret dan jatuh ke lantai bersama selembar kertas kecil.Tangannya terulur mengambilnya keduanya. Matanya membelalak menatap kertas kecil yang ternyata adalah sebuah struk belanja.“Satu Set Perhiasan Berlian “The Eternal Queen”,” baca Shanum pelan
“Shanum! Kamu di mana?!” teriak Fadil menyambar di seberang telepon, bahkan sebelum Shanum sempat mengucap salam.Baru empat jam Shanum mencicipi oksigen kebebasan di rumahnya sendiri sejak Fadil berangkat ke Bali. Sekarang nada tinggi suaminya seketika merampas ketenangan itu, memaksa Shanum menjauhkan ponsel dari telinganya.“Ada apa, Mas? Sudah sampai di Bali?” tanya Shanum, berusaha membalut suaranya dengan kelembutan yang tersisa.“Ada apa, Mas? Udah sampai di Bali?” jawab Shanum berusaha tetap lembut.“Berkas proposal untuk tender besok nggak ada di koper! Itu yang paling penting malah ketinggalan! Kamu gimana sih beres-beresnya? Tadi diperiksa lagi gak sebelum aku berangkat?” cecar Fadil tanpa memberi celah.Shanum mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat.“Proposal? Bukannya Mas bilang semua berkas penting sudah Mas masukkan sendiri ke tas kerja? Aku cuma bantu susun pakaian dan perlengkapan mandi kamu, Mas.”“Malah nyalahin aku. Coba kalau tadi kamu gak telat pulang dari r
Tubuh Shanum terasa remuk. Saat kakinya menginjak teras rumah sekitar pukul sebelas siang, matanya sudah terasa sangat berat. Kurang tidur membuat ingin segera menyentuh bantal tapi keinginannya itu hanyalah fatamorgana.“Kenapa baru pulang jam segini?!”Bentakan itu menyambutnya tepat di ruang keluarga. Fadil berdiri di sana dengan wajah merah padam. Di sudut ruangan, Mbo Yah menatap Shanum prihatin, namun tak berdaya untuk membela majikannya.“Maaf, Mas. Tadi dokter datangnya telat. Aku harus nunggu dulu untuk tahu kondisi Ayah,” jawab Shanum pelan.“Banyak alasan kamu!” potong Fadil kasar. “Lihat jam berapa ini! Aku sudah bilang dari kemarin kalau hari ini aku mau ke Bali. Kamu tahu kan bajuku belum di masukan koper?!”Shanum menghela napas panjang, menelan bulat-bulat rasa jengkel yang mulai mendidih. Ia terlalu lelah untuk berdebat atau menjelaskan betapa kritisnya kondisi sang ayah di ICU. Baginya, meladeni amarah Fadil hanya akan menguras sisa energinya yang tinggal sedikit.Ta
“Shanum!” Suara berat Fadil menggelegar dari ruang makan. “Kopinya mana? Sudah ditunggu dari tadi!”“Iya, Mas. Ini sudah siap,” jawab Shanum lirih.Ia segera menghampiri suaminya, meletakkan cangkir kopi hitam mengepul di sisi kanan Fadil dengan gerakan yang sangat hati-hati.“Dasar gak sabaran,” g
“Gimana hasil pemeriksaannya? Mandul?” tanya Fadil bertubi-tubi.Ia langsung menghempaskan tubuh di kursi tepat di sisi Shanum, tanpa menyapa apalagi menanyakan kabar istrinya terlebih dahulu.Prana tidak segera menjawab. Dokter spesialis kandungan itu sengaja merapikan beberapa lembar kertas rekam
Jari Prana menekan titik paling sensitif Shanum dengan ritme yang mematikan, sebuah stimulasi yang begitu teratur hingga memaksa wanita itu mengakui kebutuhan biologisnya yang selama ini terabaikan.“Inilah yang seharusnya dilakukan suamimu sebelum menyentuhmu,” bisik Prana parau.Setiap gerakan ja
“Buka kakimu sedikit lagi, Shanum.”Tangan Prana memisahkan paha Shanum yang refleks hendak merapat, menahannya agar tetap terbuka.Shanum bisa merasakan deru napas hangat Prana menerpa kulit pahanya yang terekspos, mengirimkan kejutan listrik yang menyengat setiap saraf tubuhnya.“Apa setiap kali







