Share

Bab 93

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-11 16:39:07

“Tiara belum bicara sama Fadil apa belum ya?” bisik Shanum cemas, duduk di ruang tengah sendiri.

Ponsel di dalam tas Shanum menjerit tanpa henti. Getarannya terasa hingga ke permukaan sofa, menciptakan bunyi dengung yang sangat mengganggu keheningan apartemen. Nama Fadil berkedip di sana, bagai teror yang menolak mati.

Prana tengah mandi, jadi Shanum tak memiliki panik seorang diri. Keringat dingin mengucur deras di punggung Shanum. Ia meremas jemarinya sendiri, membayangkan kemarahan Fadil jik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 235

    “Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 233

    “Num, ada sesuatu yang selama ini gak pernah aku ceritakan ke siapa pun. Tolong kasih aku waktu sebentar besok, kali ini aku gak akan memaksa.”Di dalam kamar, sambil duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa penuh. Beberapa kali ia membaca pesan yang dikirimkan Gandi. Menimbang apa yang sebenarnya ingin dikatakan Gandi. Ada penasaran yang mendadak muncul.Di satu sisi, ia sangat mencurigai motif Gandi. Di sisi lain, kalimat 'ada sesuatu yang gak pernah aku ceritakan' membuat rasa penasarannya terusik. Apakah ini ada hubungannya dengan Fadil? Atau justru tentang foto yang diambil Mega?Shanum meletakkan ponselnya di atas nakas, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu demi mengusir penat yang menumpuk.Dua jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ponsel di atas nakas berdering nyaring. Shanum segera menyambar ponselnya. Nama Prana tertera di layar. Baru saja tombol hijau digeser.“Kenapa tadi gak telepon aku? Kamu dimana sekarang? Udah di apartemen?” Pra

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 232

    "Lihat saja, aku akan melaporkannya ke Mama!" teriak Mega sambil mengangkat ponsel tingginya. Jarinya bergerak lincah mengetik. "Biar Mama tahu kelakuan perempuan yang sok suci ini!"Sebelum Mega sempat mengirim, Gandi mengulurkan tangan dan merebut ponsel itu dengan cepat."Mas! Apa-apaan sih?" protes Mega, melengking. Ia berusaha meraih kembali. "Kenapa dilarang? Biar Mama tahu kalau Mas Fadil itu gak salah sepenuhnya!"“Cukup, Mega. Hentikan,” kata Gandi berat dan tegas. Ia mengunci layar ponsel, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, mengabaikan tatapan protes dari Mega. “Jangan bikin keributan lagi di sini. Malu dilihat orang.”Shanum yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu diam-diam merasakan embusan kelegaan yang amat besar di dalam dadanya. Ketegangan yang sempat memuncak perlahan mulai mengendur.Sejujurnya, ia belum siap jika harus menghadapi konfrontasi baru malam ini, apalagi jika hal itu sampai menyeret nama Prana dan membahayakan posisi pria itu s

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 231

    “Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang tertera di sana.“Aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, Gandi. Tolong minggir, ini sudah malam. Aku harus pulang,” jawab Shanum terdengar tegas meski detak jantungnya kian berkejaran.Gandi maju satu langkah, kembali mempersempit jarak di antara mereka. “Pulang ke mana? Ke rumah ayahmu? Jawab, Shanum! Dimana kamu tinggal sekarang?”“Mau pulang kemana saja juga bukan urusan kamu, Gan!” jawab Shanum mulai terpancing emosinya.Gandi tak goyah, tatapannya tetap menuntut Shanum untuk mejjaw

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 230

    "Shanum."Tubuh Shanum langsung menegang. Suara ini sudah lama tak didengarnya, dan ia enggan berurusan dengan orang yang memilikinya. Walaupun sebenarnya dia bukan salah satu orang yang membuat Shanum tertekan.Perlahan Shanum menoleh ke samping. Darah di wajahnya seakan surut seketika begitu melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenal berada dekat dari dirinya. Gandi—adik kandung Fadil, sekaligus teman sekolah Shanum sejak mereka masih kecil—dengan istrinya, Mega.Mata Mega menelusuri wajah Shanum dari atas sampai bawah dengan penuh penilaian. Sementara Gandi berdiri dengan kedua tangan di saku celana, memperhatikan Shanum tanpa berkedip. Sorot mata Gandi tampak kecewa, tak ada kehangatan seperti dulu kalau pria itu selalu membelanya dari amukan Fadil."Kebetulan sekali ya," suara Mega terdengar sinis.Jantung Shanum mulai berdebar cepat. "Kalian ngapain di sini?""Tentu kami makan malam juga disini." Mega melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. Tatapan Mega beral

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 46

    “Kamu udah ketemu dia?” tanya Bobby lagi, matanya menyelidik. “Ayah minta, apa pun alasan kehadiran pria itu di sini, jangan biarkan dia kembali masuk ke dalam hidupmu lagi. Ingat statusmu.”Suaranya tenang, tapi mengandung intimidasi yang membuat Shanum merasa seperti terdakwa di ruang sidang.“Ja

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 45

    Depan pintu ruang VIP, Shanum berhenti sejenak merapikan kerah turtle necknya sekali lagi, Memastikan concealer menutupi bekas kemerahan di lehernya, lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, berharap sisa rasa dari ciuman Prana benar-benar telah pudar.Ia menarik napas panjang, mencoba menata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 44

    “Mas, seharusnya tadi aku bawa mobil sendiri saja,” gerutu Shanum sambil terus meremas jemarinya yang dingin. “Kalau Mas Fadil lihat kita datang bersama, gimana?”Setelah perjuangan singkat melawan kantuk dan guncangan hebat mendengar kabar ayahnya, Shanum akhirnya menyerah duduk di kursi penumpang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 43

    “Mas, turunin! Aku harus pulang, aku tidak bisa di sini lebih lama lagi,” desak Shanum saat Prana mengangkat tubuhnya dengan begitu mudah. Handuk kering yang membungkus tubuhnya terasa kasar di kulitnya yang masih basah, kontras dengan sentuhan lengan Prana yang kokoh.“Tidak ada yang pergi ke mana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status