Mag-log inGreta mengangkat wajahnya, mendengarkan perintah kepala pelayan itu dengan saksama.
"Ceritakan bagaimana pria rendahan itu berteriak mabuk menuntut makanan. Ceritakan bagaimana dia memeras Tuan Duke. Sebarkan pada para pedagang itu, biarkan rumornya merayap keluar dari tembok ini dan menjadi bahan tertawaan di seluruh pesta teh para bangsawan Ibu Kota." lanjut Alfred.
Keesokan paginya, rombongan kekaisaran bergerak kembali menuju istana. Perjalanan pulang itu dilakukan dengan menggunakan kereta kuda khusus yang jalannya diperlambat dan telah dilapisi bantalan tebal untuk meredam guncangan. Di dalam kereta, Lucian tidak melepaskan pelukannya sedikit pun dari Sienna, memastikan istrinya merasa hangat dan nyaman sepanjang perjalanan.Setibanya mereka di istana, suasana masih dipenuhi oleh sisa-sisa ketegangan pasca ledakan. Pasukan penjaga berjejer rapat di setiap lorong. Lucian langsung membawa Sienna ke kamar utama yang telah dijaga ketat oleh Ksatria Bayangan.Begitu Sienna dibaringkan di atas ranjang, pintu kamar terbuka dengan kasar. Alice dan Elizabeth langsung berlari masuk. Wajah kedua wanita itu tampak berantakan, dihiasi mata yang membengkak karena terlalu banyak menangis sejak semalam."Yang Mulia!" Alice menjatuhkan dirinya berlutut di tepi ranjang dan menggenggam tangan Sienna dengan gemetar. "Maafkan saya... hiks... maafkan saya karena
"Keadaan janin Permaisuri... untungnya masih bertahan dengan sangat kuat."Udara yang sejak tadi membeku di dalam ruangan medis itu seolah mencair seketika.Tabib itu buru-buru melanjutkan penjelasannya saat melihat rahang sang Kaisar masih mengeras kaku. "Pendarahan ini dipicu oleh guncangan fisik yang keras dan tingkat stres yang terlampau ekstrem. “Namun, nyawa di dalam kandungan Permaisuri sama sekali tidak tersentuh bahaya fatal. Dengan ramuan khusus untuk menghentikan pendarahannya dan istirahat total, kondisi beliau akan kembali stabil."Mendengar vonis tersebut, seluruh tenaga di tubuh Lucian seolah menguap begitu saja. Kelegaan telah melumpuhkan tubuhnya.Sang Dewa Perang, pria yang tidak pernah goyah di hadapan ribuan pasukan musuh, kini terhuyung mundur selangkah. Ia menarik napas panjang dengan gemetar, melepaskan beban tak kasat mata yang sejak tadi nyaris meremukkan tulang rusuknya. Lucian langsung menjatuhkan dirinya, terduduk lemas di atas kursi kayu di sebelah ranja
Meninggalkan area tebing yang dingin dan berangin, Lucian menyadari kereta medis akan berjalan terlalu lambat di medan berbatu.Waktu adalah nyawa. Dan Lucian tidak akan pernah bermain dengan nyawa istrinya. Tanpa berpikir dua kali, Lucian langsung mengangkut tubuh Sienna dan melompat ke atas punggung kuda perang raksasanya."Buka jalan! Menuju pemukiman perbatasan, sekarang!" perintah Lucian tegas.Kuda hitam itu langsung melesat membelah malam, dipacu dengan kecepatan maksimal oleh sang Kaisar. Pasukan Ksatria Bayangan berkuda mengelilingi mereka, membentuk barikade pelindung berlapis.Di atas pelana, Lucian merengkuh tubuh istrinya dengan kehati-hatian yang luar biasa. Namun di balik sikapnya yang kokoh, kepanikan yang sesungguhnya tengah menggerogoti akal sehat pria itu. Sejak tadi, telapak tangannya yang menopang punggung dan paha Sienna merasakan sesuatu yang hangat dan basah. Darah itu terus merembes, menembus kain sutra gaun istrinya dan menodai sarung tangannya.Pikiran Luci
Waktu seakan berhenti berdetak. Ujung jari Lucian menyentuh kain sutra gaun Sienna tepat sebelum tubuh rapuh itu menghantam bebatuan tajam di dasar tebing.Dengan sebuah gerakan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri, Lucian menarik tubuh Sienna ke dalam pelukannya. Sang Kaisar menjadikan punggung dan bahunya yang kokoh sebagai perisai, membiarkan tubuhnya sendiri menghantam tanah berbatu dengan keras untuk meredam benturan.Brukkk!Debu dan kerikil terpelanting ke udara saat mereka berdua berguling di atas tanah yang keras. Lucian mendekap tubuh istrinya sangat erat, menyembunyikan kepala Sienna di dadanya, memastikan tidak ada satu batu pun yang melukai wanita itu.Ketika pergerakan mereka akhirnya berhenti, napas Lucian memburu. Ia segera melonggarkan pelukannya, matanya yang memerah menyapu seluruh wajah dan tubuh Sienna dengan kepanikan yang luar biasa."Sienna... Sienna, tatap aku," panggil Lucian dengan suara parau.Sienna membuka matanya perlahan. Aroma darah, debu, dan wangi k
Perkataan itu membuat bahkan Lucian terkejut. Sang Kaisar menegang di tempatnya. Matanya membelalak kecil menatap ke depan. Ia sama sekali tidak menyangka istrinya akan mengambil langkah senekat itu. Menggunakan persona wanita masa lalu Alexander di tengah situasi yang mengancam nyawa ini sangatlah berisiko. Jika Alexander marah, pria itu bisa langsung membawa kudanya ke jurang. Namun, Lucian segera mengerti. Sienna sedang berjuang keras untuk menyelamatkan diri.Sienna menggertakkan giginya. Perutnya kembali berdenyut nyeri dengan hebat, tapi ia memaksakan diri untuk menahannya. Ia juga mengabaikan rasa perih dan tetesan darah akibat goresan belati di lehernya. Ia berniat melanjutkan kepura-puraan ini hingga akhir. Ia menatap Alexander dengan sorot mata tajam yang sengaja dipenuhi oleh kemarahan."Aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi!" seru Sienna. Suaranya bergetar karena menahan sakit, namun terdengar sangat tegas mengalahkan suara hembusan angin tebing. "Bahkan walau aku sel
Jalan keluar mereka tertutup rapat. Lucian memblokir jalur sempit itu, dibantu oleh puluhan Ksatria Bayangan yang muncul dari balik pepohonan. Pasukan utara mengepung mereka dengan formasi yang sangat rapat, menutup semua rute pelarian."Turunkan istriku," ucap Lucian dengan nada dingin.Alexander mengencangkan pelukannya pada Sienna. Ia menatap Lucian dengan raut wajah keras kepala dan penuh kebencian. "Dia bukan istrimu. Kau yang menculiknya dariku."Lucian tidak membuang waktu meladeni omong kosong itu. Ia memberi isyarat dengan tangannya.Dalam sekejap, barisan Ksatria Bayangan menyerbu sisa pengawal Eldoria yang mencoba menjadi barikade. Pertarungan itu berlangsung sangat singkat. Pasukan Alexander yang kelelahan dan kalah jumlah dengan mudah dilumpuhkan dan dijatuhkan ke tanah berdebu.Kini, Alexander benar-benar sendirian di tengah kepungan.Melihat pasukannya tumbang satu per satu, Alexander mulai kalap. Pria itu menyadari tidak ada lagi jalan untuk menerobos. Jalan di depanny
Suara langkah kaki berat menggema di lorong kastil, membelah keheningan mencekam yang memenuhi seluruh bangunan sejak tadi. Lucian telah kembali.Ia memacu kudanya tanpa henti begitu mendengar kabar kekacauan di pesta teh itu melalui surat yang dibawa oleh merpati. Ia juga memberikan sebuah perinta
"LUCIAN!"Bentakan Beatrice memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu yang dingin. Wajah Duchess yang biasanya anggun kini merah padam menahan amarah. Dadanya naik turun dengan cepat."Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" desis Beatrice, suaranya bergetar antara murka dan rasa ma
Suasana di meja itu terasa semakin mencekik seiring berjalannya waktu. Sienna mencoba menyentuh cangkirnya tehnya setenang mungkin, namun tangannya sedikit gemetar. Sienna sudah pernah hadir di acara minum teh wanita bangsawan sebelumnya.Tapi kali ini, tekanan yang ia rasakan begitu memebani dadan
Anna membalikkan badannya dengan kaku, jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sakit.Di ambang pintu, Marta berdiri dengan tatapan tajam. Pelayan itu tidak langsung masuk, hanya mematung di sana dengan satu alis terangkat."Apa yang sedang kau lakukan di meja itu?" tanya Marta, suar







