LOGINLucian yang berada di atas Sienna tiba-tiba menghentikan gerakannya. Keheningan yang mendadak itu membuat kepanikan Sienna memuncak. Napasnya tercekat, ia tidak tahu harus berbuat apa selain terus menutup mulutnya.Habis sudah, batin Sienna. Dia marah. Dia jijik karena Sienna bersuara seperti wanita murahan.Sienna memejamkan matanya lebih erat, menunggu bentakan atau makian.Tapi yang ia rasakan justru adalah jari-jari Lucian yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu tidak melepaskan diri, melainkan menarik paksa tangan Sienna yang sedang membekap mulutnya sendiri.Sienna mencoba menahan tangannya, menggelengkan kepalanya panik. "Ja... jangan..."Lucian tidak peduli. Dengan tenaga yang tidak bisa dilawan oleh Sienna, ia menarik kedua tangan Sienna ke atas kepala, menekan pergelangan tangan gadis itu ke bantal, menjepitnya di sana dengan satu tangan besar miliknya.Kini, wajah dan bibir Sienna terpampang jelas tanpa penghalang.Sienna membuka matanya dengan takut, dan mendapat
Korset itu jatuh menumpuk di lantai kayu dengan bunyi pelan, meninggalkan Sienna hanya dalam balutan gaun dalam berbahan katun tipis.Udara malam yang dingin langsung menerpa kulitnya yang lembab oleh keringat dingin, namun bukan itu yang membuat Sienna gemetar.Ia menunduk, menyadari betapa transparan kain putih itu di bawah terpaan cahaya lilin yang menyala terang. Potongan lehernya yang rendah nyaris tidak menyembunyikan apapun."Ah..."Dengan panik, Sienna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi dirinya sendiri. Wajahnya memerah padam, rasa malu membakar hingga ke ujung jari kakinya. Ia merasa begitu terekspos di hadapan pria yang kini menatapnya dengan begitu intens"Sienna..."Suara berat Lucian terdengar tepat di belakang telinganya, diikuti oleh sentuhan tangan besar yang mendarat di bahunya yang telanjang.Tubuh Sienna tersentak hebat. Jemari Lucian tidak diam, melainkan mengusap pelan kulit bahunya, turun menuju lengannya, menciptakan jejak sentuhan yan
"Ba... baik."Anna akhirnya menjawab, suaranya terdengar kaku. Tubuhnya bangkit dari posisi membungkuk, namun kakinya tidak segera melangkah.Mata pelayan itu bergerak liar, melirik Sienna yang duduk di kursi dan Lucian yang berdiri menjulang di dekatnya. Ada keraguan di matanya, seolah meninggalkan mereka berdua sendirian di kamar tertutup adalah bencana.Namun, tatapan tajam Lucian yang semakin menukik tajam mematikan nyali Anna.Dengan langkah berat, Anna akhirnya berjalan mundur dan keluar dari ruangan.Klik.Suara kunci pintu yang berputar terdengar begitu nyaring di kamar itu.Lucian menghela napas kasar, seolah udara di ruangan itu baru saja bersih dari racun setelah kepergian Anna."Aku tidak menyukainya," ucap Lucian tiba-tiba.Sienna tersentak kecil dan menoleh ke arah Lucian dengan bingung. "Ma... maaf?""Pelayan itu. Anna," jelas Lucian datar, matanya menatap pintu dengan sorot dingin. "Dia adalah putri pelayan pribadi ibuku. Ibuku yang memaksanya ikut dalam rombongan ke i
Damien membuka mulutnya, hendak menjawab pertanyaan itu. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apapun, suara roda kereta dan derap langkah kuda yang berat tiba-tiba memecah keheningan malam, menarik perhatian semua orang di perkemahan itu.Rombongan kedua telah tiba. Itu adalah kereta logistik yang membawa para pelayan dan barang-barang kebutuhan perjalanan yang sempat tertinggal di belakang karena muatannya yang lebih berat.Belum sempat kereta itu berhenti sempurna, pintu salah satu kereta pelayan sudah terbuka lebar.Sesosok wanita muda melompat turun dengan tergesa-gesa, dan langsung berlari menerobos area perkemahan. Seragam pelayannya berkibar saat ia berlari lurus ke arah batang kayu tempat Sienna dan Damien duduk.Itu adalah Anna."Nona! Nona Sienna!" teriak Anna, suaranya terdengar panik dan penuh kekhawatiran yang berlebihan.Damien yang melihat kedatangan Anna segera menutup mulutnya rapat-rapat, menyimpan jawaban tentang tunangan Duke kembali ke dalam tenggorokannya. Anna sampa
Napas Sienna tercekat di tenggorokan saat merasakan hawa panas tubuh Lucian semakin merapat, menghilangkan jarak di antara mereka.Tangan besar pria itu, yang tadi sibuk dengan tali-tali rumit, kini tidak langsung menjauh. Telapak tangannya yang kasar dan hangat justru mendarat di bahu telanjang Sienna.Kulit Sienna meremang. Sentuhan itu terasa berat begitu berat di bahunya.Sienna mematung, ia memejamkan matanya rapat-rapat karena rasa takut.Apa yang harus kulakukan? batinnya panik.Otaknya berputar liar. Lucian telah membelinya dengan harga selangit. Pria ini berhak atas dirinya. Menolak Lucian, atau bahkan sekadar menunjukkan keraguan, bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri seorang Duke.Rasa takut mulai merayap naik hingga ke tengkuknya.Bagaimana jika penolakan Sienna memicu kemarahan pria itu? Sienna teringat tamparan ayahnya yang menyengat, teringat sabetan pecut ibunya. Jika orang tuanya sendiri bisa menyiksanya, apa yang bisa dilakukan oleh orang asing yang b
Sienna memekik tertahan saat kakinya tiba-tiba menjauh dari tanah. Dalam satu gerakan cepat, Lucian telah mengangkatnya ke dalam gendongan, seolah berat badan Sienna tidak berarti apa-apa."T… Tuan Duke! Apa yang Anda..." Sienna yang panik, melingkarkan tangannya ke leher Lucian secara refleks.Wajah mereka begitu dekat sekarang. Sienna bisa mencium aroma tubuh pria itu yang bercampur dengan aroma besi darah yang baru saja tumpah."Diamlah," potong Lucian. Ia tidak menatap Sienna, pandangannya lurus ke depan menuju kereta kuda. "Kau berjalan terlalu lambat. Kita akan sampai malam jika aku menunggumu merangkak."Lucian membawanya kembali ke arah kereta kuda. Namun kali ini, alih-alih meletakkan Sienna di dalam dan kembali ke kudanya, Lucian justru ikut masuk ke dalam."Jalan!" teriak Lucian dari dalam kereta.Roda kereta kembali berputar perlahan.Di dalam ruang sempit berlapis beludru itu, suasana terasa jauh lebih menyesakkan dari sebelumnya.Sienna duduk di pojok, memeluk dirinya se







