LOGINCahaya pagi yang pucat berusaha menyusup melalui celah-celah tirai tebal, namun dunia Kaisar Lucian masih gelap gulita.Sebuah erangan rendah yang serak lolos dari tenggorokan sang Kaisar. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah baru saja dihantam palu. Ia mencoba membuka matanya, namun pandangannya terhalang. Ada seutas kain yang mengikat matanya dengan cukup erat.Dengan tangan yang masih terasa sedikit kaku dan kebas, Lucian merobek kain sutra gelap itu dari wajahnya dan melemparkannya ke lantai.Mata merahnya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang. Ia menoleh ke sekeliling dengan waspada.Kosong.Lucian memijat pelipisnya. Kepingan ingatan dari malam sebelumnya mulai menghantam kepalanya secara bertubi-tubi.Ia teringat rasa panas yang tiba-tiba membakar nadinya. Ia mengingat gejolak gairah yang menyakitkan, hilangnya kendali atas tubuhnya sendiri, dan bagaimana ia nyaris menjadi binatang buas karena sebuah ramuan perangsang.Lalu... ingatannya terhenti pada si
"Kau gila?!" desis Elizabeth tertahan. Suaranya bergetar hebat oleh campuran amarah dan ketakutan yang mencekik lehernya. "Aku benar-benar akan dicurigai jika melakukan itu!"Tubuh Elizabeth merosot ke tepi ranjang. Tangannya masih mencengkeram erat wadah kaca kecil di balik punggungnya, menyembunyikannya seolah benda itu adalah bara api. Pikirannya kembali terlempar pada mimpi buruk yang baru saja menimpanya beberapa waktu lalu.Saat ia kembali ke kamarnya setelah meninggalkan aula dansa, Elizabeth menemukan sebuah kejanggalan. Laci meja riasnya sedikit terbuka. Ketika ia memeriksa isinya, jantung ELizabeth nyaris berhenti berdetak saat menemukan wadah kaca gelap tersebut tersembunyi di balik tumpukan sapu tangannya.Elizabeth sangat mengenali bubuk di dalamnya. Itu adalah obat perangsang dengan dosis luar biasa tinggi. Ayahnya, sang Duke, sempat menyodorkan barang yang sama persis kepadanya sebelum ia berangkat ke istana, menginstruksikannya untuk menggunakan segala cara demi men
Hampir satu jam berlalu dalam keheningan lorong yang menyiksa.Terdengar bunyi decit pelan saat pintu kamar utama terbuka sedikit. Kepala Lady Alice melongok keluar dari balik celah pintu. Wajah gadis itu tampak jauh lebih rileks dan tenang dibandingkan sebelumnya."Lady Lesley, kau boleh masuk sekarang." bisik Alice pelan. "Demam Yang Mulia Permaisuri sudah mulai turun dan beliau sudah tertidur pulas. Tabib bilang kondisinya sudah stabil, jadi kita tidak perlu khawatir lagi."Mendengar kabar itu, Lesley segera menghembuskan napas panjang dan memamerkan senyum kelegaan yang terlihat begitu meyakinkan. "Syukurlah... aku benar-benar takut terjadi sesuatu pada beliau.""Ya, syukurlah. Ayo masuk." ajak Alice lembut, sebelum gadis itu kembali menarik kepalanya dan membiarkan pintu sedikit terbuka untuk Lesley.Namun, begitu punggung Alice berbalik menjorok ke dalam kamar, senyum di bibir Lesley seketika lenyap tak berbekas.Di balik wajah kikuknya, darah Lesley mendidih. Ia luar biasa ke
Lucian mencengkeram dadanya semakin erat, seolah-olah ia sedang mencoba menahan jantungnya agar tidak meledak menembus tulang rusuk. Satu tangannya yang lain menekan mulutnya dengan sangat keras, berusaha meredam erangan liar yang mengancam akan menghancurkan citranya sebagai penguasa yang tak tergoyahkan.Keringat dingin membanjiri pelipisnya, mengalir turun hingga ke rahangnya yang terkatup rapat. Di dalam kepalanya, kabut gairah itu bagai badai api yang melahap logika. Namun, di balik kabut tersebut, insting predatornya yang masih tersisa meneriakkan satu peringatan besar.Berbahaya.Situasi ini bukan hanya tentang gairah yang tak terbendung. Lucian tahu betul, dalam kondisi serapuh ini, ia adalah target yang paling mudah. Jika musuh politiknya atau seorang pembunuh bayaran muncul dari balik bayangan sekarang, ia tidak akan memiliki kekuatan bahkan untuk menghunus pedangnya. Tubuhnya terasa berat, sarafnya mati rasa oleh sensasi terbakar, dan napasnya pendek-pendek. Sang Kaisar
Di lorong istana yang temaram, alunan musik dari aula dansa hanya terdengar seperti dengungan samar. Lady Lesley, yang baru saja berniat kembali ke kamarnya setelah turun sebentar ke pesta untuk mencari udara segar, tiba-tiba menghentikan langkahnya.Matanya membelalak melihat dua sosok yang berlari tergesa-gesa dari arah tangga pelayan. Itu adalah Marta, pelayan pribadi Permaisuri, yang berlari nyaris kehabisan napas mengikuti langkah lebar Tabib Kepala istana di depannya."Marta! Tuan Tabib!" seru Lesley, buru-buru mengangkat gaunnya dan berlari menghampiri mereka. Wajah kikuknya seketika berubah tegang. "A-ada apa ini? Mengapa kalian terburu-buru sekali?"Marta menghentikan langkahnya sejenak. Wajah pelayan muda itu pucat pasi dan dipenuhi kepanikan. "Lady Lesley... Yang Mulia Permaisuri. Beliau tiba-tiba terserang demam yang sangat tinggi. Tubuhnya menggigil parah.""Demam tinggi? Tapi tadi di aula beliau hanya mengeluh sakit kepala!" Lesley tersentak mundur, tangannya refleks m
Di dalam kamar utama kekaisaran yang temaram, keheningan dipecahkan oleh suara batuk yang tertahan."Uhuk!"Sienna terbatuk kecil, memegangi dadanya yang mendadak terasa luar biasa sesak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, merasakan gelombang panas yang aneh mulai merayap naik dari leher hingga ke wajahnya. Keringat dingin sebesar biji jagung bermunculan di pelipisnya. Kenapa tubuhnya tiba-tiba terasa begitu lemah? Rasa sakit di kepalanya kini berubah menjadi demam yang membakar kewarasannya. Darimana sebenarnya semua rasa sakit ini berasal?Melihat wanita yang ia layani meringkuk kesakitan, Marta yang sedang merapikan perapian segera berlari menghampiri sisi ranjang."Yang Mulia? Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Marta dengan suara bergetar panik.Wanita paruh baya itu buru-buru menempelkan punggung tangannya ke dahi sang Permaisuri. Begitu kulit mereka bersentuhan, mata Marta membelalak lebar. Suhu tubuh Sienna terasa seperti bara api."Astaga! Tubuh anda panas sekali, Yang Mulia!" ser
Sore itu Sienna duduk dalam keheningan, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Jemarinya bergerak telaten, merajut benang emas membentuk lambang kebanggaan Duchy Lorraine di atas sehelai sapu tangan sutra putih. Sapu tangan itu rencananya akan menjadi hadiah kecil untuk Lucian, sebuah pen
Kereta kuda putih berlambang matahari Kekaisaran itu akhirnya berhenti di pelataran paviliun pribadi istana yang jauh dari kastil kaisar. Lucian turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sienna. Dengan genggaman protektif yang tak pernah ia lepaskan, sang Duke memandu istrinya me
Sementara persiapan keberangkatan Lucian dan Sienna dilakukan secara rahasia di sayap utama, ketegangan yang berbeda tengah memuncak di sayap lain mansion.Langkah kaki yang berat dan berdentum keras terdengar memasuki kamar Tabib. Sir Roderick, ksatria senior yang menjabat sebagai Kepala Keamanan
Cahaya bulan purnama menyusup masuk melalui celah gorden, memberikan penerangan temaram di dalam kamar utama yang kini terasa hangat dan damai.Di atas ranjang besar yang berantakan, Lucian menatap lekat wajah istrinya. Sienna tertidur pulas dengan napas yang teratur, rona merah tipis masih menghia







