LOGINSementara Elizabeth berkutat dengan pertanyaan yang membingungkan, suasana di dalam rumah kaca sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang tak tertembus.Keheningan yang ditinggalkan oleh para dayang kini hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu dan gemerisik pakaian yang bergesekan.Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menjelajahi lehernya. Angin senja yang menyusup masuk melalui celah jendela kaca terasa dingin menerpa kulit kakinya yang terbuka."Buka matamu, Sienna." perintah Lucian dengan suara serak, ciumannya terhenti sejenak di perpotongan rahang istrinya.Perlahan, kelopak mata yang basah itu terbuka. Hal pertama yang Sienna lihat adalah sepasang mata merah menyala yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. "Jangan pernah lagi…" bisik Lucian parau, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat dan berat berpadu dengan napas Sienna yang tersengal. "Jangan pernah lagi mencoba menyodorkan wanita lain padaku. Jika kau melakukannya lagi... aku bersum
Mata Sienna memancarkan kilat perlawanan yang keras kepala. Di balik napasnya yang tersengal dan wajahnya yang merah padam, ia memaksakan sebuah tawa kecil yang bergetar.Dia tidak mungkin berani, batin Sienna, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lucian adalah seorang Kaisar yang menjunjung tinggi wibawa dan harga dirinya di atas segalanya. Ini hanyalah gertakan kosong untuk menakutiku.Sienna mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata merah suaminya dengan sisa-sisa keberanian palsu yang ia miliki. "Kau tidak akan melakukannya, Lucian."Kilat di mata Lucian menggelap seketika. "Kau meragukanku, Istriku?" bisiknya.Tanpa peringatan, lengan kekar Lucian bergerak. Pria itu bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh Sienna dengan mudahnya, seolah istrinya seringan bulu. Dengan satu ayunan kasar dari tangan bebasnya, Lucian menyapu bersih permukaan meja teh di hadapan mereka.Teko porselen mahal, cangkir-cangkir teh, dan piring berisi kue lemon hancur berserakan di atas lantai batu
Sindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si
Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa
Elizabeth tersentak mendengar pertanyaan tajam dan aura membunuh yang mendadak mengarah padanya. Tangannya yang terbalut sarung tangan sutra mencengkeram erat kotak mahoni yang ia pegang."Saya... Lady Elizabeth Mountford, dayang Yang Mulia Permaisuri." jawabnya, menelan ludah dan berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Yang Mulia Permaisuri meminta saya untuk mengantarkan kotak ini langsung kepada Anda, Yang Mulia."Lucian menyipitkan mata merahnya. Tatapannya menajam seperti belati, seolah menguliti gadis di hadapannya itu hidup-hidup. Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata biru yang sangat menyerupai milik istrinya, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan atau ambisi tersembunyi, mencari bukti bahwa putri Duke ini bekerja sama secara sadar dengan rencana gila Sienna.Tapi, raut wajah pucat dan kebingungan di mata Elizabeth mengatakan hal lain. Wanita ini memancarkan ketegangan yang nyata. Ia rupanya benar-benar tidak menyangka bahwa Sienna memiliki maksud te
Mendengar pertanyaan bernada dingin itu, kepanikan yang baru saja reda kembali mencekik leher Lesley. Gadis kikuk itu seketika salah tingkah, wajahnya memucat pasi seolah baru saja menyadari bahwa ia telah menggali kuburannya sendiri. Di sudut ruangan, Lady Alice ikut menahan napas, meremas ujung gaunnya dengan tangan gemetar, terlalu takut untuk campur tangan.Hanya Lady Elizabeth yang tetap mempertahankan ketenangannya.Putri Duke itu meletakkan sisir perak di tangannya ke atas meja rias dan menatap Lesley, sorot matanya menajam memberikan peringatan."Berdirilah, Lady Lesley. Rapikan perhiasan itu dan jangan mengatakan hal yang tidak penting di hadapan Yang Mulia permaisuri." tegur Elizabeth.Namun, Sienna tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Sang Permaisuri mengangkat tangannya, menghentikan usaha Elizabeth untuk mengalihkan topik. "Aku sedang bertanya." ucap Sienna pelan. "Rumor apa yang beredar tentangku di luar sana?"Ruangan itu seketika hening. Udara terasa begitu bera
Sore itu Sienna duduk dalam keheningan, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Jemarinya bergerak telaten, merajut benang emas membentuk lambang kebanggaan Duchy Lorraine di atas sehelai sapu tangan sutra putih. Sapu tangan itu rencananya akan menjadi hadiah kecil untuk Lucian, sebuah pen
Wajah Rohan berubah pucat setelah mendengar perkataan Lucian."S… saya... i… itu..." Rohan tergagap hebat, kakinya gemetar begitu kencang hingga ia nyaris tidak bisa berdiri tegak. Ia baru saja menghina anggota keluarga kekaisaran secara langsung."Tuan Duke... saya tidak tahu... sungguh saya tidak
"Tu... Tunggu..."Sienna bicara dengan suara tergagap. Ia memberanikan diri mengangkat wajahnya sedikit, menatap sosok menjulang yang siap menyeretnya pergi itu."Tolong... berikan saya satu malam lagi."Mendengar itu, Lucian mengangkat alisnya, menunjukkan ketidaksenangan. "Satu malam?""Saya..."
Sementara persiapan keberangkatan Lucian dan Sienna dilakukan secara rahasia di sayap utama, ketegangan yang berbeda tengah memuncak di sayap lain mansion.Langkah kaki yang berat dan berdentum keras terdengar memasuki kamar Tabib. Sir Roderick, ksatria senior yang menjabat sebagai Kepala Keamanan







