Compartir

BAB 312

Autor: Rainina
last update Fecha de publicación: 2026-04-22 16:28:23

Angin di perbatasan utara berhembus membawa bau yang memuakkan, campuran antara debu tanah yang kering, keringat, dan aroma besi dari darah segar yang tumpah.

Medan perang itu terasa seperti neraka yang bocor ke dunia manusia. Denting logam yang beradu, teriakan parau para prajurit, dan ringkikan kuda yang terluka menciptakan suara yang terdengar menyesakkan.

Meski begitu, moral pasukan kekaisaran sedang berada di puncaknya. Setelah berhari-hari saling menekan, garis pertahanan musuh akhirnya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
mega silvia
takutnya,,,,,klu mereka yg diutus untuk membunuh Rowan atas suruhan ayah Elizabeth
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 343

    Keputusan itu meluncur dari bibir Elizabeth dengan suara yang begitu lirih, namun ketegasannya seakan membekukan udara di sekeliling mereka."Tidak, Lady Alice." Elizabeth menggeleng pelan, meremas gaun sutranya dengan jemari yang masih bergetar. Ia menundukkan pandangannya, menolak menatap mata utusan Permaisuri itu. "Aku akan tinggal dan menikah."Alice terkesiap. Hatinya mencelos mendengar nada pasrah yang begitu pekat dari Elizabeth. Ia bisa melihat dengan jelas dinding ketakutan yang dibangun sang Duke di sekeliling pikiran Elizabeth. "Lady Elizabeth, sadarlah!" Alice melangkah maju, kembali meraih tangan Elizabeth dan menggenggamnya erat-erat, menyalurkan seluruh sisa kehangatan dan keberanian yang ia miliki. "Setidaknya temui dia dulu! Tidakkah kau mendengar perkataanku? Sir Rowan melakukan semua kegilaan di medan perang itu murni demi sebuah permintaan pada Yang Mulia Kaisar. Siapa yang tahu apa isi permintaan itu?""Aku..." Elizabeth menelan ludah dengan susah payah. Matany

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 342

    Dengan disebutkannya nama Permaisuri dan Kaisar, bahkan seorang penguasa sekuat Duke Mountford sekalipun tidak memiliki pilihan lain selain menundukkan kepalanya dan membuka pintu kastilnya lebar-lebar. Menolak utusan langsung paviliun dalam sama saja dengan mengibarkan bendera pemberontakan, dan sang Duke belum siap untuk menghadapi murka sang Kaisar secara terang-terangan.Dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah karena menahan amarah, Duke Mountford terpaksa membiarkan Elizabeth keluar untuk menyambut rombongan yang memaksa bertemu dengannya tersebut.Alice melangkah masuk dengan mantel perjalanan yang basah dan kotor oleh lumpur, namun dagunya terangkat tinggi, memancarkan otoritas penuh dari junjungannya. Saat pandangan dayang bersurai coklat terang itu akhirnya menemukan sosok Elizabeth, langkah Alice seketika terhenti.Hatinya mencelos. Gadis yang berdiri di depannya ini... ini sama sekali bukan Lady Elizabeth yang ia kenal.Di hadapannya, berdiri seorang gadis yang tamp

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 341

    Langit di atas Duchy Mountford tampak muram, seolah-olah awan kelabu yang menggantung rendah sengaja datang untuk menyaksikan upacara penyerahan jiwa seorang putri bangsawan. kastil utama yang megah itu kini dipenuhi oleh aroma lilin wangi dan bunga-bunga yang dipetik segar, namun bagi Elizabeth, segala kemewahan itu tak lebih dari sekadar dekorasi pemakaman bagi masa depannya.Di foyer utama, seluruh pelayan senior berdiri berjejer dengan kepala menunduk. Duke Mountford berdiri di barisan paling depan, sosoknya menjulang dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Di sampingnya, Caesar berdiri dengan wajah kaku, matanya sesekali melirik ke arah adiknya.Elizabeth berdiri di antara mereka, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang senada dengan warna matanya yang kini redup. Ia tidak lagi bersuara. Wanita itu hanya berdiri di sana, menyerupai patung yang indah namun hampa. Di dalam benaknya, hanya ada satu pikiran yang berulang seperti kutukan, Rowan sudah mati. Segalanya sudah be

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 340

    Pagi itu, cahaya fajar perlahan menyapu sisa-sisa awan badai yang kelabu di atas langit ibu kota kekaisaran. Namun, kehangatan pagi yang sesungguhnya bukan berasal dari sinar matahari, melainkan dari seekor elang pembawa pesan yang menukik tajam melewati jendela ruang kerja Kaisar.Di dalam ruangan itu, Permaisuri Sienna berdiri di samping meja kerja suaminya. Tangannya memegang sebuah gulungan perkamen. Matanya birunya memindai deretan kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas.Semakin jauh ia membaca, ujung-ujung bibir sang Permaisuri perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang luar biasa lega."Dewa kematian rupanya menolak mencabut nyawa pria keras kepala itu." gumam Sienna pelan. Sebuah tawa kecil yang penuh kelegaan meluncur dari bibirnya.Lucian, yang duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya sambil menatap istrinya dengan senyuman tipis. Sienna membaca ulang baris yang menyebutkan nama ksatria itu. Sir Rowan, pahlawan penentu kemenangan. D

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 339

    Di dalam ruang kerja Duke Mountford yang temaram, sang penguasa wilayah selatan itu duduk dengan tenang di balik meja mahoninya. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Elizabeth di ibu kota kertas yang secara instan merenggut seluruh cahaya dari mata putrinya dan membuatnya pingsan seketika.Duke Mountford menatap deretan tulisan di atas kertas itu dengan senyuman miring yang luar biasa dingin.Kenyataannya, perkamen itu sama sekali bukan berisi berita kematian dari garis depan medan perang. Tidak ada nama Rowan di sana, tidak ada laporan eksekusi, bahkan tidak ada stempel militer yang sah. Itu hanyalah laporan logistik biasa mengenai pengiriman gandum ke wilayah pelosok di Duchy.Bagi sang Duke, kebenaran tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang Elizabeth percayai. Dan dengan satu kebohongan kejam itu, ia telah berhasil mematahkan sayap putrinya, membawanya pulang, dan menjauhkannya dari pengaruh Permaisuri Sienna.Tok! Tok! Tok!Pintu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 338

    Di tengah sorak-sorai ribuan prajurit kekaisaran yang bersimbah darah dan kelelahan, seekor elang pembawa pesan dilepaskan ke udara. Burung pemangsa itu mengepakkan sayapnya dengan kuat, menembus awan kelabu utara, membawa gulungan perkamen yang berisi berita kemenangan menuju istana kekaisaran di ibu kota.Perang perbatasan yang menguras darah dan air mata itu akhirnya usai.Di perkemahan utama, perayaan kemenangan telah dimulai. Tong-tong bir gandum yang sebelumnya dijaga ketat kini dibuka. Daging hasil buruan dipanggang di atas api unggun raksasa. Para ksatria saling merangkul, menyanyikan lagu-lagu kemenangan, dan meneteskan air mata haru karena akhirnya mereka bisa kembali melihat keluarga mereka di rumah.Di tengah lautan manusia yang tengah dimabuk euforia itu, Rowan duduk di atas sebuah batang kayu tumbang.Zirah peraknya penyok di sana-sini dan jubahnya robek oleh tebasan pedang, namun pria itu masih bernapas. Beberapa ksatria dari batalyon lain terus berdatangan, menepuk

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 81

    Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucia

    last updateÚltima actualización : 2026-03-24
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 77

    "Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a

    last updateÚltima actualización : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 74

    Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan

    last updateÚltima actualización : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 76

    "Tuan Duke, Dewan Bangsawan mengirimkan surat protes resmi."Damien meletakkan gulungan perkamen berstempel lilin merah di atas meja kerja Lucian. Wajah ajudan itu tampak keruh, tanda bahwa kabar yang dibawanya bukanlah kabar baik."Mereka menuntut Anda segera mencabut hukuman pengurungan terhadap

    last updateÚltima actualización : 2026-03-23
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status