MasukSienna menghela napas panjang, bahunya merosot lega saat menyadari sosok yang memegang lilin itu hanyalah Marie.
Satu-satunya pelayan yang tersisa di mansion milik keluarganya ini. Keluarga Marie sudah melayani keluarga Borgia sejak kakek Sienna masih memegang gelar Baron.
Dan kesetiaanlah satu-satunya hal yang membuat Marie bertahan di rumah terkutuk ini, bekerja tanpa upah selama berbulan-bulan.
"Nona Sienna!" pekik Marie tertahan, matanya membelalak melihat kondisi nonanya.
"Ssshh!" Sienna meletakkan telunjuk di bibirnya dengan cepat, melarang Marie melanjutkan perkataannya atau membuat keributan yang bisa membangunkan kedua orang tuanya.
Isyarat itu berhasil membuat Marie bungkam seketika. Wanita paruh baya itu mengangguk kaku sambil menutup mulut dengan tangannya sendiri, lalu segera membawa tubuhnya untuk mengikuti Sienna yang bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.
Mereka berjalan dalam diam, hanya suara derit lantai kayu tua yang menemani langkah mereka hingga sampai di kamar Sienna. Begitu pintu tertutup, Marie langsung melemparkan pertanyaan padanya.
"Nona, dari mana saja Anda?" tanyanya dengan suara bergetar. Matanya menyapu penampilan Sienna yang berantakan, namun ia terlalu takut untuk bertanya tentang memar di leher Sienna.
"Aku..." Sienna menelan ludahnya. "Aku hanya ada sedikit urusan."
"Saya ketakutan setengah mati mengira Anda kabur. Besok Viscount Rohan akan datang kemari, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan pada Baron dan Baroness jika Anda tidak ada di kamar Anda."
"Tidak..." Sienna mendongak, menatap langit-langit kamarnya yang suram. Di sudut ruangan, jaring laba-laba terlihat menggantung tebal. Marie sudah terlalu tua dan lelah untuk membersihkan mansion sebesar ini sendirian.
Sienna tersenyum miris. Rumah ini sedang membusuk, sama seperti dirinya.
"Aku tidak akan... lari..." bisik Sienna.
Sienna menggigit bagian dalam pipinya, menahan perih di dadanya. Ia tidak lari, mungkin ia sama seperti kedua orang tuanya.
Untuk seseorang yang sudah bangkrut, Sienna punya begitu banyak harga diri.
Dalam hati, ia berdoa dengan putus asa. Semoga mulut-mulut pemabuk di pub tadi bekerja dengan cepat. Semoga berita tentang dirinya yang telah menjual diri menyebar lebih cepat daripada kereta kuda Viscount Rohan yang akan tiba besok pagi.
=
Sementara itu, di sisi lain kota, cahaya matahari pagi mulai merayap masuk ke celah jendela kamar di lantai dua pub Madam Irene.
"Tuan Duke."
Pintu kayu ek itu terbuka.
Lucian masih terdiam di posisinya, memandangi sisi kasur yang kosong dan dingin di sampingnya. Sprei itu masih berantakan, dan ada noda darah samar yang tertinggal di sana, menjadi bukti dari apa yang terjadi beberapa jam lalu.
Wanita itu... Sienna. Dia benar-benar pergi begitu saja.
Mata merah Lucian perlahan beralih dari kasur kosong itu ke arah pintu, menatap pria yang baru saja masuk dengan tatapan malas namun tajam.
"Ada apa, Damien?" tanyanya datar.
Damien, ajudan sekaligus tangan kanan kepercayaan Lucian, menunduk hormat. "Semua sudah siap, Tuan Duke. Kereta kuda telah disiapkan di belakang agar tidak menarik perhatian. Kita bisa kembali ke wilayah Duchy pagi ini sesuai rencana awal."
Lucian terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk pelan sisi tempat tidur.
Rencana awalnya adalah datang ke ibu kota secara rahasia, menyelesaikan laporan perang dengan Kaisar, dan segera pulang sebelum para bangsawan penjilat itu menyadari bahwa dirinya masih berada di ibu kota.
Namun, rasa manis dari keputusasaan wanita bernama Sienna semalam telah mengubah sesuatu dalam dirinya. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu menghilang begitu saja setelah apa yang mereka lakukan.
Lucian akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia berdiri tegak, sama sekali tidak peduli dengan ketelanjangannya di hadapan bawahannya sendiri.
Ia memungut celananya yang tergeletak di lantai dengan santai.
"Aku berubah pikiran."
"Apa?" Damien mengangkat wajahnya, ekspresinya dipenuhi kebingungan. Tuannya bukan tipe orang yang impulsif. Lucian dikenal sebagai pria yang dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah melenceng dari jadwal. "Tapi, Tuan... Rapat dengan para petinggi wilayah Duchy..."
"Batalkan, atau undur," potong Lucian sambil mengenakan celananya. Otot-otot punggungnya menegang saat ia mengancingkan celana itu. "Kita akan tinggal di mansion ibu kota untuk sementara waktu."
Lucian berbalik, mata merahnya berkilat saat ia menatap Damien. "Dan aku punya tugas khusus untukmu. Aku perlu kau mencari seseorang."
=
"SIENNA!”
Teriakan itu menarik Sienna dari alam bawah sadarnya, membuat Sienna terbangun dengan jantung yang berdebar kuat dan kepalanya yang berdenyut hebat.
BRAK!
Suara hantaman pintu kayu yang beradu dengan dinding terdengar seperti ledakan.
Sienna mengerjap panik mencoba mengenali sosok yang menjulang di hadapannya. Sosok pria paruh baya dengan wajah merah padam karena amarah yang meluap-luap.
Itu ayahnya. Baron Borgia.
"Anak tidak tahu diri!" raungannya memenuhi ruangan.
Sienna membeku, bibirnya gemetar hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tidak diberi kesempatan. Baron itu melangkah maju dengan cepat, tangannya terayun tinggi di udara.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Sienna, begitu kuat hingga wajahnya terlempar ke samping.
Sienna menarik selimut tebal itu hingga menutupi sebagian wajahnya, hanya menyisakan mata dan dahi yang terlihat. Pipinya terasa panas, dan wajahnya semerah tomat.Sienna meraasa malu setengah mati.Ini bukan pertama kalinya ia melakukannya dengan Lucian, tapi reaksi yang dikeluarkannya tadi... desahan yang terlalu keras, cakaran di punggung Lucian, dan betapa ia memohon sentuhan pria itu... itu semua terasa begitu asing dan liar.“Uhhh…” Sienna mengeratkan pegangannya pada ujung selimut, ingin menyembunyikan diri selamanya di balik kain itu.Sementara itu, di belakangnya, Lucian duduk bersandar pada kepala ranjang dengan napas yang mulai teratur. Ia menenggak habis isi botol kaca yang berisi ramuan penawar buatan Sienna. Untungnya botol itu tidak pecah saat Sienna menjatuhkannya tadi.Lucian menghela napas panjang setelah botol itu kosong, merasakan kepalanya mulai terasa jernih, meski hasrat di tubuhnya belum sepenuhnya padam."Sepertinya yang salah bukan ramuannya..." gumam Lucian
Teriakan panjang dan tinggi lolos dari bibir Sienna, menggema di seluruh ruangan saat gelombang kenikmatan itu menghantamnya tanpa ampun. Tubuhnya menegang hebat, lalu lemas seketika di atas seprai yang berantakan.Napas Sienna tersengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa malu yang luar biasa menyergapnya begitu kesadarannya perlahan kembali. Sienna buru-buru menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua telapak tangan, tidak berani menatap Lucian setelah suara memalukan yang baru saja ia keluarkan.Namun, Lucian tidak memberinya waktu untuk bernapas atau bersembunyi.Pria itu, dengan napas yang memburu kasar dan keringat yang menetes dari pelipisnya, merangkak naik. Aroma Sienna yang kini bercampur dengan aroma gairah membuatnya gila. Tanpa aba-aba, Lucian memposisikan dirinya di antara paha Sienna dan menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan."Ahhh!"Sienna, yang tubuhnya masih sangat sensitif pasca pelepasan, sontak melengkungkan punggungnya. Sensasi penyatuan itu terasa
"Cara... lain?" bisik Sienna dengan napas tercekat.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Sienna, dan mengangkat tubuh mungil itu dalam dengan gerakan cepat.“Ahh…” Sienna memekik tertahan, secara refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher Lucian erat-erat karena takut jatuh. Kepala gadis itu bersandar di bahu Lucian yang kokoh, menghirup aroma maskulin yang kini bercampur dengan aroma lain yang memabukkan.Tanpa membuang waktu, Lucian membawa Sienna menuju ranjang besar di tengah ruangan. Ia merebahkan tubuh gadis itu di atas tumpukan bantal dan seprai sutra, lalu segera menindihnya, mengunci pergerakan Sienna di bawah tubuhnya.Bibir mereka bertemu dengan cepat, Sienna, yang biasanya pemalu dan pasif, kini berubah drastis di bawah pengaruh ramuan itu. Biasanya, gadis itu hanya akan mengepalkan tangannya di seprai atau memeluk leher Lucian dengan kaku ketika ia tidak mampu menahannya lagi.Tapi kali ini berbe
"....Apa?"Air mata Sienna berhenti sepenuhnya, kesedihannya menguap begitu saja digantikan oleh kebingungan atas perkataan Lucian.Lucian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia menarik tubuh mungil Sienna ke dalam pelukan erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma alami Sienna yang kini menjadi satu-satunya pegangan kewarasannya di tengah badai hasrat yang menyerangnya saat ini."Menurutmu..." bisik Lucian dengan suara serak. "kenapa aku membawamu kemari, Sienna? Kenapa aku membawamu ke kastilku?"Sienna terdiam dalam dekapan itu. Mencoba mencerna pertanyaan itu dengan logika yang ia yakini selama ini."Maksud... maksud saya..." Sienna tergagap. "Anda membeli saya dari ayah saya dengan sekantong penuh emas. Dan sebagai Duke, Anda diperbolehkan memiliki seorang 'selir' atau budak untuk menghangatkan tempat tidur. Saya pikir..."Lucian menundukkan kepalanya, menatap Sienna dengan tatapan terluka yang bercampur dengan kabut nafsu."Apa... hhh..." Lucian
Napas Lucian tersengal. Panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi akibat sentuhan Alexandria. Obat itu berteriak padanya untuk menyerah, untuk memeluk tubuh wanita di hadapannya dan menuntaskan hasrat yang membakar dirinya dari dalam.Tapi wajah kecewa Sienna saat melihatnya tadi memenuhi kepala Lucian, mempertahankan kewarasannya."Diam..." geram Lucian rendah."Berhentilah melawannya Lucian." Alexandria mendekatkan wajahnya, hendak mencium bibir Lucian."KUBILANG DIAM!"Dengan sisa tenaga terakhir yang dikumpulkan dari amarahnya, Lucian mencengkram bahu Alexandria.BYUR!Lucian mendorong tubuh Alexandria sekuat tenaga. Wanita itu terlempar ke belakang, menghantam air dengan keras hingga kepalanya membentur sisi bak mandi marmer."Argh!" pekik Alexandria kesakitan.Lucian menyeret tubuhnya sendiri keluar dari bak mandi. Tangannya menarik jubah mandi dan menghampirkannya secara asal, pria itu berusaha mencari pegangan agar tetap berdiri..Ia harus mengejar Sienna. Sekarang.="Nona Sienn
Sementara itu, di balik pintu penghubung antara kamar tidur Lucian dan kamar Lucian, Sienna berdiri dengan gelisah. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. Itu adalah ramuan penawar standar yang baru saja ia racik ulang dengan panik.Ia begitu yakin pasti ada yang salah dengan ramuan yang diminum Lucian sebelumnya. Tidak mungkin Duke yang dingin dan berwibawa itu tiba-tiba berbicara manis dan melantur tentang kepercayaan akan nyawanya jika bukan karena efek samping ramuan yang berlebihan. Ia harus memberikan penawarnya sebelum Lucian mulai berhalusinasi lebih parah dan mengatakan hal aneh di hadapan para ksatria Duchy."Masuklah jika Anda ingin masuk, Nona." suara Marta mengejutkan Sienna.Sienna menoleh cepat dengan mata membulat. "Bagaimana kalau Tuan Duke marah padaku? Aku sudah memberinya ramuan aneh tadi...""Tidak akan." potong Marta dengan senyum yang hangat. "Tuan Duke sangat peduli pada Anda. Beliau tidak akan marah hanya karena hal ke







