LOGINTamparan yang dilayangkan oleh ayahnya itu begitu kuat, membuat Sienna hampir terjatuh dari tempat tidurnya.
Telinganya berdengung keras. Rasa asin darah merembes di sudut bibirnya, namun di balik rasa sakit yang menyengat itu, sebuah pemikiran melintas di benak Sienna.
Ah... Berita itu sudah tersebar.
Rencananya berhasil. Orang-orang di pub itu pasti sudah bergosip tentang dirinya.
Namun, harapan Sienna hancur berkeping-keping detik berikutnya.
"Kau pikir kau pintar, hah?" Baron Borgia mencengkeram rahang Sienna, memaksanya menatap wajah ayahnya yang bengis. "Kau pikir dengan menghancurkan reputasimu, kau bisa lepas dari tanggung jawabmu pada keluarga ini?!"
Napas ayahnya yang tercium seperti alkohol basi, membuat perut Sienna mual.
"Dengar baik-baik, Anak Sialan. Viscount Rohan sudah mendengar rumor memalukan itu. Tapi dia... dia pria yang sangat murah hati. Dia berbaik hati untuk tetap datang kemari pagi ini."
Mata Sienna membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Apa...?" suaranya keluar sebagai bisikan parau yang menyedihkan.
"Kubilang dia tetap akan datang!" bentak Baron Borgia, urat-urat di lehernya menonjol. "Dia ingin meminta penjelasanmu secara langsung. Dan kau..."
Pria itu menunjuk wajah Sienna dengan telunjuk yang gemetar karena amarah.
"Kau akan mengatakan bahwa itu semua bohong. Bilang seseorang memaksamu! Bilang itu hanya salah paham! Katakan kau berada di rumah seharian dan rumor itu disebar oleh orang yang iri padamu! Aku tidak peduli alasan apa yang kau karang, yang jelas pernikahan itu tetap harus terjadi!"
Baron Borgia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Sienna terbentur sandaran tempat tidur.
"Jika pernikahan ini batal... jika Viscount Rohan melangkah keluar dari pintu mansion ini tanpa kepastian tanggal pernikahan..." Ayahnya menunduk, membisikkan ancaman itu tepat di telinga Sienna.
"Aku bersumpah bahwa aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Lebih baik aku punya anak perempuan yang mati daripada anak perempuan yang tidak berguna."
Pria itu berbalik dan membanting pintu kamar, meninggalkan Sienna yang gemetar hebat di atas lantai yang dingin.
Tak lama kemudian, Marie masuk dengan tergesa-gesa. Wajah pelayan tua itu pucat pasi, matanya merah seperti seseorang yang habis menangis. Di tangannya, ia membawa baskom air hangat dan kotak berisi riasan yang merupakan milik Baroness
"Nona... oh, Nona Sienna..." isak Marie tertahan saat melihat kondisi Sienna.
Tanpa banyak bicara lagi, Marie mulai bekerja. Ia membantu Sienna duduk dan mulai menyeka wajah Sienna dengan kain hangat, membersihkan darah di sudut bibirnya. Namun, tantangan terberatnya adalah leher Sienna.
Tanda merah keunguan tercetak jelas di kulit Sienna yang seputih susu. Kontrasnya begitu mencolok, membuat Marie langsung tahu bahwa itu tidak akan bisa ditutupi sepenuhnya.
"Ini... ini terlalu banyak," bisik Marie panik.
Tangannya gemetar saat menaburkan bedak tebal ke leher Sienna, berusaha menutupi tanda-tanda yang lebih mirip tanda penyiksaan itu.
Ia memakaikan Sienna gaun dengan kerah tertinggi yang mereka miliki, lalu menata rambut emasnya sedemikian rupa untuk menutupi pipi yang bengkak akibat tamparan Baron.
Sienna hanya diam seperti boneka rusak. Matanya kosong menatap pantulan dirinya di cermin retak. Ia terlihat cantik, seperti mayat yang didandani untuk pemakaman.
"Orang tua anda, dan….” Marie menelan ludahnya sebelum kembali berbicara, “Viscount Rohan… Mereka sudah menunggu di ruang tamu, Nona," cicit Marie setelah selesai.
Sienna menyeret kakinya menuruni tangga. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Di ruang tamu yang perabotannya mulai usang, Sienna menatap tiga orang yang sudah duduk di sana..
Baron Borgia duduk di ujung kursi dengan postur membungkuk, wajahnya dipenuhi keringat dingin dan senyum penjilat yang menjijikkan. Sementara ibunya hanya menutupi wajah dengan kipasnya dengan senyum yang dipaksakan.
Dan di sofa utama, Viscount Rohan duduk seolah ia adalah pemilik tempat itu.
Pria itu berusia enam puluhan, dengan perut buncit yang menyembul dari balik rompinya yang ketat dan kulit kepala yang mulai botak. Namun yang paling membuat Sienna merinding adalah matanya yang kini menatap Sienna dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ah, Lady Sienna," sapa Viscount Rohan. Suaranya serak dan berat. Ia tidak berdiri untuk menyambut tunangannya.
Sienna menunduk dalam-dalam, menolak menatap pria itu. Ia berdiri kaku di samping ayahnya.
"Duduklah, Sayang, duduk!" perintah Baron Borgia dengan nada manis yang dibuat-buat, sambil menyikut lengan Sienna dengan kasar.
"Aku... sungguh kecewa mendengar kabar yang beredar pagi ini, Baron," ucap Viscount Rohan perlahan, matanya tidak lepas dari wajah Sienna.
"Orang-orang bilang putri Anda terlihat keluar dari pub Madam Irene dini hari tadi. Dengan penampilan yang... tidak senonoh."
"Fitnah! Itu semua fitnah keji, Tuan Viscount!" potong Baron Borgia cepat. Ia tertawa gugup. "Anda tahu bagaimana orang-orang miskin itu, mereka suka mengarang cerita untuk menjatuhkan bangsawan seperti kita. Sienna ada di rumah seharian! Dia sakit! Benar kan, Sienna?"
Baron menyikut pinggang Sienna lagi, kali ini lebih keras hingga Sienna meringis.
"Katakan pada Viscount, Sienna. Katakan kau ada di kamarmu semalam."
Sienna membisu. Lidahnya terasa kelu. Kebohongan itu tertahan di tenggorokannya. Ia ingin berteriak bahwa itu benar, bahwa ia sudah kotor, bahwa ia sudah tidur dengan pria lain agar pernikahan gila ini batal.
Namun bayangan ancaman ayahnya, membuat nyali Sienna menciut.
Keheningan yang canggung mengisi ruangan itu. Baron Borgia semakin panik, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
“Sayang.” Baron beralih pada istrinya yang masih diam sambil memeprhatikan mereka. “Katakan pada Sienna untuk menjelaskan semuanya.
Viscount Rohan mendengus pelan. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klang yang memekakkan.
"Cukup, Baron. Hentikan sandiwara menyedihkan ini."
Baron Borgia seketika bungkam, wajahnya memucat.
Rohan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke arah Sienna.
"Aku punya mata-mata di mana-mana, Baron. Aku tahu putrimu itu memang berada di sana. Aku bahkan tahu dia masuk ke kamar 'khusus' di lantai dua."
Akhirnya, pikir Sienna. Akhirnya dia akan membatalkannya. Dia jijik padanya.
Sienna mengangkat wajahnya sedikit, menunggu kata-kata penolakan itu keluar. Menunggu Viscount Rohan meludahi wajahnya.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat darah Sienna membeku.
Viscount Rohan justru tersenyum pada dirinya.
"Sayang sekali," gumam pria itu sambil menggelengkan kepalanya. "Padahal aku sangat menantikan untuk menjadi yang pertama."
"T-tapi... Tuanku..." Baron Borgia tergagap.
"Nilai jualnya sudah jatuh, Baron," lanjut Rohan dingin, beralih menatap ayah Sienna seolah sedang menawar harga kuda di pasar ternak.
"Seorang gadis yang tidak suci tidak pantas dihargai mahal. Kesepakatan awal kita adalah aku akan menganggap lunas seluruh hutang judimu sebagai ganti Sienna."
Rohan bersandar kembali ke sofa, menyilangkan kakinya dengan santai.
"Tapi sekarang? Barang cacat tidak layak dihargai setinggi itu."
Ruangan itu hening sejenak, Sienna bahkan tidak berani bernafas.
"Aku akan tetap akan menikahi Sienna," putus Viscount Rohan.
Sienna tersentak, matanya membelalak lebar. "A... apa?" ucapnya tanpa sadar.
Viscount Rohan menatapnya dengan senyuman yang semakin lebar. "Kau pikir aku akan melepaskanmu hanya karena kau sudah ditiduri pria lain? Tidak, Sienna. Kau adalah wanita tercantik di kerajaan ini. Bekas pakai atau tidak, aku tetap menginginkan wajah cantik itu di tempat tidurku."
Ia kembali menatap Baron Borgia yang tampak lega.
"Pernikahan akan tetap dilaksanakan bulan depan, aku bisa mengurus utusan kuil. Tapi, aku tidak akan menganggap lunas seluruh hutangmu. Aku hanya akan mengampuni setengahnya. Sisanya... itu urusanmu sendiri, Baron. Anggap saja itu denda karena kau gagal menjaga barang daganganmu."
Elizabeth tersentak keras. Tangannya refleks menyentuh dada saat ia berputar dengan cepat, menatap ke arah bayangan pilar di belakangnya.Di sana, berdiri seorang ksatria jangkung berseragam zirah yang mengenakan jubah dengan lambang keluarga Duke Mountford.Itu adalah Rowan. Pria itu sama sekali tidak memiliki darah biru di nadinya. Ia hanyalah putra dari seorang pelayan wanita di kediaman Mountford. Namun, kemampuan berpedangnya yang luar biasa dan insting bertarungnya yang tajam tidak sengaja ditemukan oleh ayah Elizabeth bertahun-tahun yang lalu. Bakat murni itu berhasil mengangkat derajat Rowan dari seorang rakyat jelata biasa menjadi ksatria tangguh yang kini ditugaskan mengawal Elizabeth ke istana.Melihat siapa yang mengagetkannya, ketegangan di bahu Elizabeth sedikit mengendur, digantikan oleh raut kesal."Jangan menggangguku, Rowan." tegur Elizabeth dengan suara berbisik tajam.Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, bersandar santai pada pilar batu seolah mer
Tuduhan itu bagaikan tamparan keras yang mendarat telak di wajah Sienna. Kulitnya yang pucat seketika memerah karena campuran rasa malu, marah, dan keputusasaan."Itu tidak benar." bantah Sienna dengan suara bergetar. Ia memaksakan diri untuk mengangkat dagunya dan menatap mata mertuanya, menolak untuk terlihat hancur. "Aku sama sekali tidak seperti itu, Ibu Suri. Aku tahu persis apa tugasku dan apa yang dipertaruhkan. Aku membawa mereka ke istana ini murni demi masa depan takhta kekaisaran, bukan untuk mempermainkan mereka maupun Yang Mulia Kaisar."Sienna mengatakan kejujurannya, meski itu adalah kejujuran yang menorehkan luka menganga di dadanya sendiri. Ia telah mencoba mengorbankan hatinya, menahan perih membayangkan suaminya menyentuh wanita lain, tetapi Lucian yang terus merobek dan menghancurkan semua rencananya secara brutal.Namun, Beatrice sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan rapuh tersebut. Wanita paruh baya itu justru mendengus meremehkan. Sebuah senyuman dingin t
Sementara Elizabeth berkutat dengan pertanyaan yang membingungkan, suasana di dalam rumah kaca sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang tak tertembus.Keheningan yang ditinggalkan oleh para dayang kini hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu dan gemerisik pakaian yang bergesekan.Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menjelajahi lehernya. Angin senja yang menyusup masuk melalui celah jendela kaca terasa dingin menerpa kulit kakinya yang terbuka."Buka matamu, Sienna." perintah Lucian dengan suara serak, ciumannya terhenti sejenak di perpotongan rahang istrinya.Perlahan, kelopak mata yang basah itu terbuka. Hal pertama yang Sienna lihat adalah sepasang mata merah menyala yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. "Jangan pernah lagi…" bisik Lucian parau, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat dan berat berpadu dengan napas Sienna yang tersengal. "Jangan pernah lagi mencoba menyodorkan wanita lain padaku. Jika kau melakukannya lagi... aku bersum
Mata Sienna memancarkan kilat perlawanan yang keras kepala. Di balik napasnya yang tersengal dan wajahnya yang merah padam, ia memaksakan sebuah tawa kecil yang bergetar.Dia tidak mungkin berani, batin Sienna, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lucian adalah seorang Kaisar yang menjunjung tinggi wibawa dan harga dirinya di atas segalanya. Ini hanyalah gertakan kosong untuk menakutiku.Sienna mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata merah suaminya dengan sisa-sisa keberanian palsu yang ia miliki. "Kau tidak akan melakukannya, Lucian."Kilat di mata Lucian menggelap seketika. "Kau meragukanku, Istriku?" bisiknya.Tanpa peringatan, lengan kekar Lucian bergerak. Pria itu bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh Sienna dengan mudahnya, seolah istrinya seringan bulu. Dengan satu ayunan kasar dari tangan bebasnya, Lucian menyapu bersih permukaan meja teh di hadapan mereka.Teko porselen mahal, cangkir-cangkir teh, dan piring berisi kue lemon hancur berserakan di atas lantai batu
Sindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si
Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa
Sementara kesibukan dan persiapan pernikahan di kediaman Borgia, berita pernikahan itu mulai tersebar di dalam dinding-dinding Istana Kekaisaran.Di dalam ruang kerja pribadi Kaisar yang megah, sang penguasa Kekaisaran
Setelah mengantarkan Sienna dan memastikan gadis itu berada di dalam kediaman Borgia yang lebih aman, Lucian tidak membuang waktu sedetik pun. Tanpa beristirahat, sang Duke memacu kudanya menembus pekatnya malam, kembali ke Mansion Lorraine dengan aura yang gelap.Pria itu langsung menuju penjara
Sementara kepanikan melanda kamar utama, kesunyian yang mencekam menyelimuti kamar Tabib.Damien berdiri diam di tengah ruangan tersebut. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut kamar yang terlihat rapi. Tidak ada botol ramuan yang tersisa, tidak ada pakaian di dalam lemari kayu itu. Membuatnya te
Di dalam kemegahan kamar pribadi Putra Mahkota di Istana Kekaisaran, suasana remang diterangi oleh cahaya lilin yang temaram.Arthur tengah menyudutkan seorang pelayan muda berwajah merona ke dinding. Jari-jarinya menyusuri rahang pelayan itu, mengangkat dagunya dengan lembut."Mata coklatmu itu...







