Share

BAB 8

Author: Rainina
last update publish date: 2025-12-25 12:25:24

“Kenapa kau membatalkan kepulangan ke wilayahmu?” Arthur bertanya tanpa basa basi, wajahnya masih tersenyum walau matanya terlihat berkilat penuh kebencian.

Berbeda dengan mata merah Lucian, mata Arthur berwarna biru cerah, persis seperti warna mata ibunya, sang permaisuri yang telah lama meninggal.

Di mata orang awam, mata itu mungkin terlihat indah, tapi bagi Arthur, mata itu mengingatkan pada kecacatannya sendiri.

Seluruh Kaisar terdahlu, termasuk ayahnya sendiri, memiliki mata merah. Begitu pula ayah Lucian yang merupakan kembaran sang kaisar, dan Lucian sendiri.

Setelah kelahiran Lucian yang hanya beberapa hari setelah kelahirannya, beberapa bangsawan mulai pecah karena perbedaan pendapat.

Beberapa menganggap bahwa Arthur tidak pantas, tapi beberapa menganggap bahwa garis keturunan jauh lebih penting.

Hal itu mendorong ayah Lucian yang menyayangi kakaknya untuk menjauh dari ibu kota. Tapi Arthur, tidak pernah bisa menghapus rasa inferior dalam hatinya setiap kali ia berdiri di ruangan yang sama dengan Lucian.

Lucian, di sisi lain, tampak sama sekali tidak terganggu dengan ketegangan yang menguar dari tubuh sepupunya. Ia hanya bersandar di kursinya, menatap Arthur dengan ekspresi datar yang menyiratkan kebosanan.

"Aku tidak tahu kalau jadwal kepulanganku menjadi urusan negara yang begitu penting, hingga Putra Mahkota harus datang sendiri kemari," jawab Lucian.

Arthur tertawa kecil.

"Tentu saja penting," balas Arthur. "Kau tidak pernah betah di sini. Kau selalu bilang udara ibu kota membuatmu muak."

"Jadi, apa yang berubah, Sepupu? Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin berlama-lama di ibu kota?" desak Arthur. "Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Menggalang dukungan para bangsawan?"

Lucian mendengus pelan. "Jangan proyeksikan ketakutanmu padaku, Arthur. Tidak semua orang menginginkan kursi emas yang kau duduki itu. Berhenti menuduhku hanya karena kau merasa inferior."

Mata Arthur membelalak, menahan rasa kesal dalam hatinya mendengar perkataan tajam sepupunya itu, tangannya mengepal dengan kuat, manahan emosinya.

“Kau…”

Suara ketukan di pintu memotong perkataan Arthur, Lucian menatap pintu di belakang sepupunya itu sebelum bersuara memberikan perintah. “Masuk.”

Damien masuk dengan berkas di tangannya, langkahnya sempat terhenti saat ia menyadari siapa yang sedang berada di ruangan itu dengan tuannya.

Pria itu meletakkan tangan di dadanya menundukkan tubuhnya. “Hormat saya untuk yang mulai Putra Mahkota.” ucap Damien dengan kepala tertunduk "Maafkan kelancangan saya yang mengganggu pembicaraan Anda."

Arthur mendengus kasar, ia melirik sekilas ke arah Damien dengan tatapan merendahkan, seolah kehadiran ajudan itu hanyalah serangga pengganggu. Tanpa membalas sapaan itu, Arthur kembali menatap Lucian.

"Kita belum selesai, Lucian," desis Arthur sebelum memutar tubuhnya dan melangkah lebar melewati Damien, menabrak bahu ajudan itu dengan sengaja hingga Damien terhuyung sedikit.

Suara langkah kaki Arthur menjauh hingga akhirnya menghilang.

Damien menghela napas panjang, menegakkan tubuhnya kembali dan menatap pintu yang kini kosong. "Sepertinya saya datang di saat yang tidak tepat, Tuan."

"Tidak," jawab Lucian sambil memijat pelipisnya. "Kau datang di saat yang tepat. Bagaimana?”

“Saya sudah menemukannya. Wanita itu dengan sengaja menunjukkan siapa dirinya, sepertinya ia ingin rumor tentang dirinya tersebar.”

Lucian kembali membayangkan wajah ketakutan Sienna yang terus memohon padanya. Untuk seseorang yang terlihat tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, Sienna cukup nekat.

“Dia Putri Baron Borgia.”

"Borgia..." Lucian mengulanginya. Nama itu tidak asing, gelar itu didapatkan salah satu pahlawan perang, tapi penerusnya hanyalah pria tidak berguna.

"Baron penjudi itu," gumam Lucian.

"Benar, Tuan," sambung Damien, membuka lembaran berkas di tangannya. "Baron Borgia terlilit hutang besar pada banyak pihak, namun Pemberi hutang terbesarnya adalah Viscount Rohan. Dan pagi ini, Viscount Rohan terlihat mendatangi kediaman Borgia."

Mata merah Lucian menyipit tajam mendengar nama itu.

"Rohan?" suaranya sarat akan ketidaksenangan.

Damien mengangguk. "Tampaknya Baron Borgia berniat menyerahkan putrinya sebagai pelunas hutang. Sepertinya Nona Sienna datang ke tempat Madam Irene semalam sebagai usaha menggagalkan pernikahannya.

"Gadis bodoh," desis Lucian pelan. "Dia pikir Viscount Rohan akan melepaskannya hanya karena itu?" Lucian mendengus sinis. "Ia hanya akan membuat dirinya sendiri semakin diinjak."

Lucian bangkit dari kursinya, dam menyambar jubahnya dengan cepat.

"Kita pergi sekarang."

Damien menutup berkasnya dengan sigap. "Ke mana tujuan kita, Tuan?"

Lucian berjalan menuju pintu, langkahnya panjang dan tegas.

"Ke kediaman Borgia.”

=

“Bagaimana?” Sienna bertanya pada Marie yang terlihat berjalan masuk ke kamarnya dengan takut-takut. Ia sudah mendengarnya, surat dari Viscount Rohan baru saja datang. Ia tahu itu akan ada hubungannya dengan persiapan pernikahan itu.

Sienna yang masih mencoba untuk menutupi luka di kakinya dengan kain untuk mengurangi rasa sakitnya, meminta Marie turun dan mendengarkan isi surat itu.

“Viscount Rohan…” Marie menelan ludahnya sebelum melanjutkan perkataannya dengan penuh rasa berat di dadanya. “Ia ingin anda segera pindah ke kediamannya dalam dua hari untuk persiapan upacara pernikahan dan… pembelajaran mengenai Viscounty Rohan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 223

    Keesokan paginya, Sienna duduk dengan sehelai jubah tebal menutupi tubuhnya yang lelah. Sisi ranjang di sebelahnya telah kosong dan dingin. Lucian pasti sudah bangun lebih dulu, dan melangkah pergi untuk melaksanakan tugas kenegaraannya, meninggalkan Sienna di kamarnya.Suara ketukan halus terdengar di pintu, sebelum perlahan terbuka setelah Sienna mengizinkan.Marta memimpin rombongan untuk masuk ke dalam kamar utama kekaisaran. Di belakang pelayan muda itu, berbaris tiga gadis muda yang baru saja diangkat menjadi dayang resmi Permaisuri, Lady Elizabeth, Lady Alice, dan Lady Lesley. Diikuti oleh beberapa pelayan istana tingkat rendah di barisan paling belakang.Sienna bangkit dari ranjang dengan langkah pelan yang sengaja menyembunyikan rasa pegal di sekujur tubuhnya, lalu berjalan menuju meja rias. Tanpa perlu diberi perintah dua kali, tugas segera dibagi dengan rapi. Para pelayan tingkat rendah langsung bergerak cepat melakukan pekerjaan berat, mengganti seprai yang kusut, membe

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 222

    Lucian tidak menunggu jawaban lagi. Bibirnya yang panas langsung menempel pada kulit paha bagian dalam Sienna yang sudah gemetar hebat, menelusuri ke atas dengan lambat, dengan gerakan yang sengaja dibuat menyiksa. Setiap kecupan meninggalkan jejak basah yang membakar, hingga akhirnya lidahnya menyentuh titik paling sensitif di antara kedua kaki istrinya yang terbuka lebar.“Ah!” jerit kecil lolos dari bibir Sienna tanpa bisa ditahan. Tubuhnya mengejang hebat, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias. Pandangannya yang kabur terpaksa terpaku pada cermin di depannya, pada wajahnya sendiri yang sudah memerah hebat, serta bibirnya yang terbuka dan mengeluarkan napas tersengal.“Lihat.” geram Lucian diantara sapuan lidahnya pada tubuh Sienna. Suaranya bergetar karena amarah yang masih membara, tapi sentuhannya justru semakin lembut. Seolah tubuhnya tetap ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. “Lihat wajahmu, Sienna. Ini yang kau inginkan, bukan? Pewari takhta. Maka lihat bagai

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 221

    Tali sutra gaun tidur Sienna terlepas, membuat bagian bahu gaun yang ia kenakan melonggar dan merosot turun hingga sebatas dadanya.Permukaan kaca yang terasa dingin di pipinya terasa sangat kontras dengan panasnya dada bidang suaminya yang menekan punggung Sienna. Lucian mengurungnya sepenuhnya, tidak menyisakan satupun celah bagi Sienna untuk melarikan diri dari konfrontasi ini.Sienna memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memalingkan wajah ke samping, bersikeras menatap sudut gelap ruangan dari balik bulu matanya yang bergetar. Ia menolak menatap ke depan. Ia tidak ingin melihat wajah seperti apa yang ia buat setiap kali suaminya menyentuhnya."Buka matamu, Sienna." bisik Lucian dengan suara serak. Hembusan napasnya yang beraroma anggur pekat menerpa tengkuk Sienna, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat perut sang Permaisuri terasa aneh."Tidak..." Sienna menggeleng pelan, suaranya terdengar seperti rintihan tertahan. Ia meremas tepian meja rias dengan kuat, mati-matian memper

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 220

    Belum sempat Sienna bereaksi pada dorongan itu, Lucian menjatuhkan tubuh besarnya ke atas tubuh Sienna, mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungannya.Berat tubuh suaminya menekan tubuhnya, sementara kedua tangan Lucian bertumpu di sisi kepala Sienna, mengunci segala celah baginya untuk melarikan diri atau membuang muka.Sienna menahan napas. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Mata merah Lucian yang biasanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini menatap lurus ke dalam mata biru Sienna dengan keputusasaan dan kemarahan yang tertahan.."Bagaimana kau bisa terus berpura-pura tidak tahu siapa yang kubicarakan?" geram Lucian tepat di depan bibir Sienna, napasnya yang panas menerpa kulit wajah istrinya.Tangan Lucian yang menumpu di kasur terkepal kuat hingga meremas seprai sutra di bawah mereka. Sorot matanya menelanjangi setiap kebohongan yang terus Sienna bangun.."Apa racun yang diberikan Arthur juga telah merusak hati nuranimu?" desis Lucian, suar

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 219

    Malam itu, berbeda dengan hari-hari lainnya, Lucian telah kembali ke kamar lebih dulu dibanding istrinya.Ketika Sienna melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat langkahnya terhenti.Lucian duduk di sofa tunggal di dekat perapian yang menyala redup. Pria yang biasanya memancarkan aura penguasa yang tak tertembus itu kini tampak berantakan.Kemejanya dibiarkan terbuka di bagian kerah, dan raut wajahnya terlihat sangat kusut. Di tangannya terdapat sebuah gelas kristal berisi anggur merah, sementara sebotol anggur yang isinya sudah setengah kosong tergeletak di atas meja di sebelahnya.Hati Sienna berdenyut nyeri melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Ia tahu Lucian sedang disiksa oleh beban pik

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 218

    Trak! Trak!Suara ketukan pangkal tombak yang beradu keras dengan lantai marmer tiba-tiba menggema dari balik pintu, menghentikan detak jantung setiap orang di ruangan itu seketika.Pintu ganda berlapis emas Aula Anggrek yang menjulang tinggi didorong terbuka lebar secara bersamaan oleh dua ksatria bersenjata lengkap.Hawa dingin seketika berhembus masuk, menyapu ruangan dan menghilangkan keangkuhan yang sedari tadi dipupuk oleh ketiga gadis tersebut.Seorang kepala pelayan istana melangkah masuk dengan wajah tegas, berdiri tegak di sisi pintu, dan menarik napas panjang."Yang Mulia Permaisuri Kekaisaran, telah tiba!" seru pria itu dengan suara

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 73

    Damien kembali ke ruang kerja Lucian dengan wajah yang jauh lebih suram daripada sebelumnya. "Katakan." perintah Lucian tanpa basa-basi."Pelayan pribadi Lady Alexandria... dia mati, Tuan Duke" lapor Damien dengan suara berat. "Dan Anna kritis. Tabib sedang berusaha memompa sisa racun keluar dari

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 74

    Lorong Sayap Barat dijaga ketat. Dua ksatria berarmor hitam dengan lambang Duchy Lorraine berdiri mematung di depan pintu kamar Alexandria, tangan mereka bersiaga di tombak panjang.Langkah kaki Arthur menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian koridor.Arthur berdiri dengan santai di depan

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 77

    "Apa yang kau lakukan?"Suara bariton yang berat itu mengejutkan Sienna, membuatnya nyaris menjatuhkan pipet kaca di tangannya.Sienna menoleh cepat. Di ambang pintu yang menghubungkan kamar tidur utama dengan kamar Sienna, Lucian berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pria itu menatapnya dengan a

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 76

    "Tuan Duke, Dewan Bangsawan mengirimkan surat protes resmi."Damien meletakkan gulungan perkamen berstempel lilin merah di atas meja kerja Lucian. Wajah ajudan itu tampak keruh, tanda bahwa kabar yang dibawanya bukanlah kabar baik."Mereka menuntut Anda segera mencabut hukuman pengurungan terhadap

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status