LOGIN“Kenapa kau membatalkan kepulangan ke wilayahmu?” Arthur bertanya tanpa basa basi, wajahnya masih tersenyum walau matanya terlihat berkilat penuh kebencian.
Berbeda dengan mata merah Lucian, mata Arthur berwarna biru cerah, persis seperti warna mata ibunya, sang permaisuri yang telah lama meninggal. Di mata orang awam, mata itu mungkin terlihat indah, tapi bagi Arthur, mata itu mengingatkan pada kecacatannya sendiri. Seluruh Kaisar terdahlu, termasuk ayahnya sendiri, memiliki mata merah. Begitu pula ayah Lucian yang merupakan kembaran sang kaisar, dan Lucian sendiri. Setelah kelahiran Lucian yang hanya beberapa hari setelah kelahirannya, beberapa bangsawan mulai pecah karena perbedaan pendapat. Beberapa menganggap bahwa Arthur tidak pantas, tapi beberapa menganggap bahwa garis keturunan jauh lebih penting. Hal itu mendorong ayah Lucian yang menyayangi kakaknya untuk menjauh dari ibu kota. Tapi Arthur, tidak pernah bisa menghapus rasa inferior dalam hatinya setiap kali ia berdiri di ruangan yang sama dengan Lucian. Lucian, di sisi lain, tampak sama sekali tidak terganggu dengan ketegangan yang menguar dari tubuh sepupunya. Ia hanya bersandar di kursinya, menatap Arthur dengan ekspresi datar yang menyiratkan kebosanan. "Aku tidak tahu kalau jadwal kepulanganku menjadi urusan negara yang begitu penting, hingga Putra Mahkota harus datang sendiri kemari," jawab Lucian. Arthur tertawa kecil. "Tentu saja penting," balas Arthur. "Kau tidak pernah betah di sini. Kau selalu bilang udara ibu kota membuatmu muak." "Jadi, apa yang berubah, Sepupu? Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin berlama-lama di ibu kota?" desak Arthur. "Apa kau sedang merencanakan sesuatu? Menggalang dukungan para bangsawan?" Lucian mendengus pelan. "Jangan proyeksikan ketakutanmu padaku, Arthur. Tidak semua orang menginginkan kursi emas yang kau duduki itu. Berhenti menuduhku hanya karena kau merasa inferior." Mata Arthur membelalak, menahan rasa kesal dalam hatinya mendengar perkataan tajam sepupunya itu, tangannya mengepal dengan kuat, manahan emosinya. “Kau…” Suara ketukan di pintu memotong perkataan Arthur, Lucian menatap pintu di belakang sepupunya itu sebelum bersuara memberikan perintah. “Masuk.” Damien masuk dengan berkas di tangannya, langkahnya sempat terhenti saat ia menyadari siapa yang sedang berada di ruangan itu dengan tuannya. Pria itu meletakkan tangan di dadanya menundukkan tubuhnya. “Hormat saya untuk yang mulai Putra Mahkota.” ucap Damien dengan kepala tertunduk "Maafkan kelancangan saya yang mengganggu pembicaraan Anda." Arthur mendengus kasar, ia melirik sekilas ke arah Damien dengan tatapan merendahkan, seolah kehadiran ajudan itu hanyalah serangga pengganggu. Tanpa membalas sapaan itu, Arthur kembali menatap Lucian. "Kita belum selesai, Lucian," desis Arthur sebelum memutar tubuhnya dan melangkah lebar melewati Damien, menabrak bahu ajudan itu dengan sengaja hingga Damien terhuyung sedikit. Suara langkah kaki Arthur menjauh hingga akhirnya menghilang. Damien menghela napas panjang, menegakkan tubuhnya kembali dan menatap pintu yang kini kosong. "Sepertinya saya datang di saat yang tidak tepat, Tuan." "Tidak," jawab Lucian sambil memijat pelipisnya. "Kau datang di saat yang tepat. Bagaimana?” “Saya sudah menemukannya. Wanita itu dengan sengaja menunjukkan siapa dirinya, sepertinya ia ingin rumor tentang dirinya tersebar.” Lucian kembali membayangkan wajah ketakutan Sienna yang terus memohon padanya. Untuk seseorang yang terlihat tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, Sienna cukup nekat. “Dia Putri Baron Borgia.” "Borgia..." Lucian mengulanginya. Nama itu tidak asing, gelar itu didapatkan salah satu pahlawan perang, tapi penerusnya hanyalah pria tidak berguna. "Baron penjudi itu," gumam Lucian. "Benar, Tuan," sambung Damien, membuka lembaran berkas di tangannya. "Baron Borgia terlilit hutang besar pada banyak pihak, namun Pemberi hutang terbesarnya adalah Viscount Rohan. Dan pagi ini, Viscount Rohan terlihat mendatangi kediaman Borgia." Mata merah Lucian menyipit tajam mendengar nama itu. "Rohan?" suaranya sarat akan ketidaksenangan. Damien mengangguk. "Tampaknya Baron Borgia berniat menyerahkan putrinya sebagai pelunas hutang. Sepertinya Nona Sienna datang ke tempat Madam Irene semalam sebagai usaha menggagalkan pernikahannya. "Gadis bodoh," desis Lucian pelan. "Dia pikir Viscount Rohan akan melepaskannya hanya karena itu?" Lucian mendengus sinis. "Ia hanya akan membuat dirinya sendiri semakin diinjak." Lucian bangkit dari kursinya, dam menyambar jubahnya dengan cepat. "Kita pergi sekarang." Damien menutup berkasnya dengan sigap. "Ke mana tujuan kita, Tuan?" Lucian berjalan menuju pintu, langkahnya panjang dan tegas. "Ke kediaman Borgia.” = “Bagaimana?” Sienna bertanya pada Marie yang terlihat berjalan masuk ke kamarnya dengan takut-takut. Ia sudah mendengarnya, surat dari Viscount Rohan baru saja datang. Ia tahu itu akan ada hubungannya dengan persiapan pernikahan itu. Sienna yang masih mencoba untuk menutupi luka di kakinya dengan kain untuk mengurangi rasa sakitnya, meminta Marie turun dan mendengarkan isi surat itu. “Viscount Rohan…” Marie menelan ludahnya sebelum melanjutkan perkataannya dengan penuh rasa berat di dadanya. “Ia ingin anda segera pindah ke kediamannya dalam dua hari untuk persiapan upacara pernikahan dan… pembelajaran mengenai Viscounty Rohan.”Udara di dalam penjara bawah tanah Rivendia selalu membawa aroma kematian. Namun bagi Alexander, pria yang dulunya duduk gagah di atas takhta kekuasaan, aroma itu telah menjadi satu-satunya teman yang tersisa. Ia terbaring tak berdaya di sudut selnya yang sangat gelap dan lembap. Tubuhnya melemah dari hari ke hari dengan kecepatan yang tak wajar. Bukan karena siksaan fisik atau racun yang sengaja diberikan, melainkan karena pikirannya telah lama menyerah pada dunia ini.Tanpa kehadiran Lottie, hidupnya hanyalah sebuah ruang hampa yang menyiksanya setiap detik. Jiwanya telah hancur lebur, membusuk bersama tumpukan penyesalan dan rasa bersalah yang terus menggerogoti kewarasannya dari dalam. Ia tahu dengan pasti bahwa ia pantas mendapatkan akhir yang menyedihkan ini. Dalam diam, ia hanya sedang menunggu sang dewa kematian untuk segera menjemputnya.Kesadaran Alexander perlahan mulai menipis, tersedot perlahan ke dalam pusaran kekosongan yang pekat. Tubuhnya kini terasa seringan kapas.
Malam harinya, suasana di dalam kamar utama kekaisaran terasa jauh lebih hening dan intim. Cahaya keemasan dari perapian dan lilin-lilin aromaterapi menari-nari memantul di dinding ruangan, menciptakan bayangan yang menenangkan.Sienna duduk bersandar di kepala ranjang dengan jubah tidur sutranya, sementara Lucian duduk di tepi ranjang, baru saja selesai melepaskan atribut kekaisarannya. Kesempatan berdua ini langsung digunakan Sienna untuk menumpahkan seluruh rasa kesalnya atas kejadian sore tadi di taman."Dia benar-benar tidak bisa dikendalikan, Lucian," omel Sienna sambil memijat pelipisnya pelan. "Kau tahu apa yang putrimu katakan pada Maximilian setelah menjatuhkannya ke tanah dengan pedang kayu? Dia memanggil anak itu lemah. Benar-benar secara terang-terangan di depan wajahnya!"Alih-alih merasa khawatir atau marah, sebuah tawa bariton yang berat dan dalam justru meluncur dari dada Lucian. Pria itu terkekeh geli membayangkan putri kecilnya bertingkah pongah seperti penguasa k
Sepuluh Tahun Kemudian...Angin musim semi berhembus sejuk menyapu taman utama Istana Kekaisaran. Selama satu dekade terakhir, kekaisaran berada di puncak masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Kaisar Lucian dan Permaisuri Sienna.Namun, kebanggaan sejati istana kini terletak pada dua permata kembar mereka yang telah tumbuh besar.Putra Mahkota Cedric tumbuh menjadi sosok pemuda kecil yang luar biasa brilian. Di usianya yang baru menginjak sepuluh tahun, ia memiliki ketenangan, kecerdasan analitis, dan kemampuan beradaptasi yang membuat para mentor istana berdecak kagum.Di sisi lain, sang adik kembar, Grand Duchess Leyla, tumbuh menjadi kebalikan yang sempurna.Jika Cedric ibarat danau tenang yang dalam, Leyla adalah api liar yang tak bisa diam. Gadis kecil itu mewarisi wajah ibunya, namun mata merah yang persis Cedric, semangat tempur dan sifat keras kepala yang seratus persen menurun dari ayahnya.Suara benturan kayu terdengar nyaring memecah keheningan taman sore itu.Trak! Trak!
Malam musim panas yang seharusnya tenang itu seketika berubah menjadi keributan di dalam sayap utama kekaisaran. Menjelang waktu subuh, ketuban Sienna pecah lebih awal dari perkiraan tabib, memicu kepanikan yang membuat seluruh penghuni istana terbangun."Panggil tabib dan pelayan! Sekarang!"Suara bariton Lucian yang biasanya sangat terkontrol kini menggelegar membelah lorong istana, sarat akan kepanikan yang luar biasa. Sang Kaisar, yang tak pernah gentar menghadapi puluhan ribu pasukan musuh di medan perang, kini terlihat pucat pasi saat melihat istrinya meringkuk menahan rasa sakit di atas ranjang.Marta yang sudah bersiaga segera mengambil alih kendali. Gadis itu berlari memberikan instruksi tegas kepada para pelayan untuk merebus air, membawa handuk bersih, dan memastikan tabib utama segera tiba di kamar.Dalam hitungan menit, kamar utama kekaisaran telah diubah menjadi ruang bersalin. Sesuai dengan hukum dan tradisi istana, seorang Kaisar seharusnya menunggu di luar ruangan hi
Ruang kerja yang dipenuhi tumpukan perkamen itu mendadak diliputi keheningan. Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan. Sepasang manik matanya menatap Rowan dengan sorot ketidakpercayaan yang luar biasa pekat. "...Apa?" bisik Elizabeth pelan, nyaris tak terdengar.Rowan menundukkan pandangannya, tidak sanggup menatap mata tunangannya itu lebih lama. Rahangnya mengeras, menahan beban rasa bersalah yang telah lama bersarang di dadanya semenjak ia menyadari betapa kerasnya gadis itu bekerja untuk wilayahnya."Maafkan aku, Elizabeth," ucap Rowan dengan suara bariton yang parau dan berat. "Aku tahu aku memaksamu masuk ke dalam pernikahan ini. Aku menyeretmu dari kehidupan nyamanmu di istana dan membebanimu dengan segala kekuranganku, walau aku tahu persis... kau sama sekali tidak mencintaiku."Mendengar rentetan asumsi itu, napas Elizabeth tertahan. Rasa terkejutnya perlahan menguap, digantikan oleh gelombang kemarahan dan kekesalan yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Elizabeth mendengus
Satu bulan menjelang hari perkiraan persalinan Permaisuri Sienna, ibu kota kekaisaran berubah menjadi lautan perayaan yang tak pernah tidur. Rakyat bersuka cita menyambut kelahiran penerus yang telah lama dinanti-nantikan oleh seluruh pelosok negeri. Jalanan utama kota mulai dihiasi dengan berbagai macam ornamen megah; panji-panji berlambang kekaisaran berkibar gagah berdampingan dengan untaian bunga musim panas yang memancarkan aroma harum di setiap sudut bangunan.Sementara itu, kemurahan hati istana seolah tiada batasnya. Kereta-kereta kuda kekaisaran terus mengalir keluar dari gerbang utama, mendistribusikan begitu banyak santunan. Gandum kualitas terbaik, kain sutra, hingga koin-koin perak dibagikan secara cuma-cuma di jalanan. Rakyat berpesta, bernyanyi, dan mengucapkan doa keselamatan siang dan malam, membuat riuh tawa menggema setiap saat.Namun, di dalam dinding istana yang sibuk, suasana jauh lebih terorganisir dan padat. Alice, yang kini memegang kendali penuh sebagai da
Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-
Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki
Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.
"Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b







