Share

BAB 7

Author: Rainina
last update publish date: 2025-12-24 17:32:08

"Angkat gaunmu."

Sienna mengangkat gaunnya dengan tangan gemetar, menuruti perintah wanita yang ia panggil ibu. Ia menyingkap kain itu hingga sebatas lutut, memperlihatkan kulit kakinya.

Baroness Borgia, berdiri dengan wajah merah padam. Di tangannya, ia memegang sebuah pecut kuda.

Ctak!

Suara cambukan kulit yang beradu dengan daging itu memenuhi ruangan. Sebuah bekas kemerahan seketika muncul di betis Sienna. Rasanya panas dan menyengat, seolah kulitnya baru saja disayat pisau tumpul. 

Tapi Sienna tidak bersuara. Ia tidak menjerit. Ia hanya sedikit bergidik, menelan rasa sakit itu tanpa mengatakan apapun, begitu takut ia hanya akan memicu kemarahan ibunya.

"Tidak berguna!" teriak wanita itu, napasnya memburu.

Ctak!

Satu cambukan lagi mendarat, kali ini sedikit lebih tinggi, menyilang di atas luka sebelumnya.

"Kau, rumah ini, ayahmu... Kalian semua sama tidak bergunanya!" Baroness Borgia melampiaskan frustrasinya. Impiannya untuk akhirnya bebas dari hutang suaminya yang bodoh hancur begitu saja.

"Hanya setengah hutang! Kau dengar itu? Viscount Rohan hanya mau mengampuni setengahnya!" 

Ctak!

"Gara-gara kau!"

Ctak!

"Kenapa aku harus terus menderita karena kalian?!"

Sienna hanya bisa menunduk, menelan setiap kata beracun yang dimuntahkan oleh ibu kandungnya sendiri.

Eleanor, Baroness Borgia, sebenarnya tidak terlahir sebagai wanita kasar. Dulu, ia adalah putri seorang Count yang terhormat. Bunga sosialita yang dipuja banyak pria.

Namun, satu kesalahan di masa muda menghancurkan segalanya. Eleanor menolak lamaran dari orang yang salah, seorang pria pendendam yang kemudian menyebarkan rumor tidak benar tentang kesuciannya.

Nama baiknya hancur. Para bangsawan tinggi menjauh. Dan satu-satunya pria yang bersedia menikahinya hanyalah Baron Borgia, bangsawan miskin yang hanya mengincar mahar dan koneksi keluarga Count.

Tapi Baron itu gagal. Ia menghabiskan mahar Eleanor di meja judi, menyeret wanita itu jatuh ke dalam lubang kemiskinan yang memalukan.

Dan kini, setiap kali Eleanor melihat wajah Sienna, ia merasa bahwa dirinya terus diingatkan pada kegagalannya sendiri.

"Keluar," desis Eleanor, nafasnya tersengal setelah lelah melampiaskan amarahnya. "Jangan biarkan aku melihat wajahmu sampai kereta kuda Viscount Rohan datang menjemputmu."

Sienna akhirnya menurunkan roknya, mencoba menahan ringisannya saat ia merasakan kain kasar gaunnya menggesek bekas luka itu.

“Baik, Ibu.” jawab Sienna sambil berjalan keluar dari ruang tamu.

“Nona…” Marie yang sejak tadi menunggu dibalik pintu menatap Sienna dengan tatapan kasihan.

“Marie, apa kau bisa membantuku?” tanya Sienna.

Wanita paruh baya itu mengangguk dan menggandeng tangan Sienna, menuntunnya ke lantai dua, tempat kamarnya berada.

Ia mendudukkan Sienna dan membuka wadah yang berisi salep luka yang telah ia siapkan sebelumnya. 

“Ah…” Marie tersentak, baru menyadari bahwa satu-satunya salep yang mereka miliki sudah hampir habis. Menyisakan hanya sedikit saja di pinggiran wadah itu.

“Ini… tidak cukup.”

Sienna memperhatikannya sesaat dan hanya menghela nafas. “Simpan saja.” ucapnya. “Mungkin nanti ayah atau ibu akan membutuhkannya.”

“Tapi Nona…”

“Marie.” Sienna memotong perkataan Marie, tidak membiarkannya kembali membantah. “Apa kau bisa memelukku?”

“Maaf?” Marie menatap Sienna dengan terkejut. “Nona, saya hanyalah pelayan rendahan. Saya tidak seharusnya menyentuh anda seperti itu setelah anda dewasa.”

"Aku butuh pelukan, Marie," potong Sienna, suaranya pecah. "Tolong... hanya sebentar saja."

Pertahanan Marie runtuh melihat tatapan hancur di mata gadis yang diasuhnya sejak bayi itu. Dengan ragu, Marie akhirnya berdiri dan merengkuh tubuh rapuh Sienna ke dalam pelukannya.

Sienna membenamkan wajahnya di bahu Marie yang hangat.

Marie mengelus rambut emas Sienna dengan lembut, persis seperti yang ia lakukan saat Sienna kecil menangis karena mimpi buruk.

"Dulu kau sering menceritakan dongeng padaku, Marie," gumam Sienna dalam dekapan itu. "Tentang pangeran berkuda putih yang jatuh cinta pada gadis biasa... dan… tentang pangeran yang datang menyelamatkan sang putri dari menara."

Sienna memejamkan matanya, dulu, Sienna pernah bermimpi. Ia berharap jika ia bersabar sedikit lagi, jika ia bisa menahan semua siksaan ini, seorang pangeran akan datang dan membawanya pergi.

Tapi realitanya, pangeran itu tidak pernah datang.

Yang akan menjemputnya justru Viscount Rohan yang akan membawa Sienna pada neraka barunya.

Sienna mengeratkan pelukannya pada Marie. Ia baru menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya keajaiban.

"Dengar, Marie..." bisik Sienna. "Jika suatu hari nanti aku bisa keluar dari sini... jika aku memiliki uang dan kuasa..."

Sienna melepaskan pelukannya, menatap mata Marie lekat-lekat.

"Kau adalah orang pertama yang akan kubawa pergi dari sini."

=

Sementara itu, di mansion milik Duke Lorraine di ibu kota, Lucian baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya, berniat memeriksa beberapa dokumen wilayah yang dibawa Damien, ketika pintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan.

Lucian tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa tamu tak diundang itu. Hanya ada satu orang di kekaisaran ini yang berani masuk ke kediamannya tanpa  izin darinya.

"Kudengar kau membatalkan kepulanganmu ke Duchy, Sepupu."

Lucian menghentikan langkahnya sejenak, lalu melanjutkan berjalan menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja. Ia duduk dengan tenang, menyandarkan punggungnya, barulah matanya yang merah menyala menatap sosok di ambang pintu.

Di sana berdiri sepupunya, sang Putra Mahkota, Pangeran Arthur. Yang menatapnya dengan penuh rasa ketidaksenangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 232

    Elizabeth tersentak keras. Tangannya refleks menyentuh dada saat ia berputar dengan cepat, menatap ke arah bayangan pilar di belakangnya.Di sana, berdiri seorang ksatria jangkung berseragam zirah yang mengenakan jubah dengan lambang keluarga Duke Mountford.Itu adalah Rowan. Pria itu sama sekali tidak memiliki darah biru di nadinya. Ia hanyalah putra dari seorang pelayan wanita di kediaman Mountford. Namun, kemampuan berpedangnya yang luar biasa dan insting bertarungnya yang tajam tidak sengaja ditemukan oleh ayah Elizabeth bertahun-tahun yang lalu. Bakat murni itu berhasil mengangkat derajat Rowan dari seorang rakyat jelata biasa menjadi ksatria tangguh yang kini ditugaskan mengawal Elizabeth ke istana.Melihat siapa yang mengagetkannya, ketegangan di bahu Elizabeth sedikit mengendur, digantikan oleh raut kesal."Jangan menggangguku, Rowan." tegur Elizabeth dengan suara berbisik tajam.Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, bersandar santai pada pilar batu seolah mer

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 231

    Tuduhan itu bagaikan tamparan keras yang mendarat telak di wajah Sienna. Kulitnya yang pucat seketika memerah karena campuran rasa malu, marah, dan keputusasaan."Itu tidak benar." bantah Sienna dengan suara bergetar. Ia memaksakan diri untuk mengangkat dagunya dan menatap mata mertuanya, menolak untuk terlihat hancur. "Aku sama sekali tidak seperti itu, Ibu Suri. Aku tahu persis apa tugasku dan apa yang dipertaruhkan. Aku membawa mereka ke istana ini murni demi masa depan takhta kekaisaran, bukan untuk mempermainkan mereka maupun Yang Mulia Kaisar."Sienna mengatakan kejujurannya, meski itu adalah kejujuran yang menorehkan luka menganga di dadanya sendiri. Ia telah mencoba mengorbankan hatinya, menahan perih membayangkan suaminya menyentuh wanita lain, tetapi Lucian yang terus merobek dan menghancurkan semua rencananya secara brutal.Namun, Beatrice sama sekali tidak tersentuh oleh pembelaan rapuh tersebut. Wanita paruh baya itu justru mendengus meremehkan. Sebuah senyuman dingin t

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 230

    Sementara Elizabeth berkutat dengan pertanyaan yang membingungkan, suasana di dalam rumah kaca sepenuhnya dikuasai oleh kabut gairah yang tak tertembus.Keheningan yang ditinggalkan oleh para dayang kini hanya diisi oleh suara napas yang saling memburu dan gemerisik pakaian yang bergesekan.Sienna memejamkan matanya erat-erat saat bibir Lucian menjelajahi lehernya. Angin senja yang menyusup masuk melalui celah jendela kaca terasa dingin menerpa kulit kakinya yang terbuka."Buka matamu, Sienna." perintah Lucian dengan suara serak, ciumannya terhenti sejenak di perpotongan rahang istrinya.Perlahan, kelopak mata yang basah itu terbuka. Hal pertama yang Sienna lihat adalah sepasang mata merah menyala yang menatapnya dari jarak yang begitu dekat. "Jangan pernah lagi…" bisik Lucian parau, menyatukan kening mereka. Napasnya yang hangat dan berat berpadu dengan napas Sienna yang tersengal. "Jangan pernah lagi mencoba menyodorkan wanita lain padaku. Jika kau melakukannya lagi... aku bersum

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 229

    Mata Sienna memancarkan kilat perlawanan yang keras kepala. Di balik napasnya yang tersengal dan wajahnya yang merah padam, ia memaksakan sebuah tawa kecil yang bergetar.Dia tidak mungkin berani, batin Sienna, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lucian adalah seorang Kaisar yang menjunjung tinggi wibawa dan harga dirinya di atas segalanya. Ini hanyalah gertakan kosong untuk menakutiku.Sienna mengangkat dagunya, menatap langsung ke dalam mata merah suaminya dengan sisa-sisa keberanian palsu yang ia miliki. "Kau tidak akan melakukannya, Lucian."Kilat di mata Lucian menggelap seketika. "Kau meragukanku, Istriku?" bisiknya.Tanpa peringatan, lengan kekar Lucian bergerak. Pria itu bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh Sienna dengan mudahnya, seolah istrinya seringan bulu. Dengan satu ayunan kasar dari tangan bebasnya, Lucian menyapu bersih permukaan meja teh di hadapan mereka.Teko porselen mahal, cangkir-cangkir teh, dan piring berisi kue lemon hancur berserakan di atas lantai batu

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 228

    Sindiran tajam yang meluncur dari bibir Lucian mengiris keheningan rumah kaca, namun Sienna sama sekali tidak membiarkan senyum di bibirnya goyah.Menghadapi tatapan permusuhan dari sang suami, Sienna justru meresponsnya dengan kelembutan. Ia mengangkat teko, menuangkan teh beraroma melati ke dalam cangkir Lucian dengan gerakan lambat dan gemulai. "Ramai?" Sienna mengulang kata itu dengan nada ringan, seolah ucapan Lucian hanyalah sebuah candaan. "Ini adalah standar istana, Lucian. Kehadiran dayang di acara seperti ini adalah hal yang sangat wajar."Sienna mencondongkan tubuhnya, mendekati suaminya. Dengan gerakan yang terlihat begitu natural dan penuh afeksi, Sienna meletakkan satu tangannya yang lentik di atas bahu kokoh sang Kaisar.Jemari Sienna mengusap pelan kain sutra kemeja Lucian, memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih sayang di hadapan para penontonnya."Seorang Permaisuri tidak pernah benar-benar sendirian. Mereka adalah tanganku, mataku, dan bayanganku." ucap Si

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 227

    Keesokan sorenya, sinar matahari keemasan menyinari rumah kaca istana yang dipenuhi oleh hamparan bunga eksotis.Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di jalur setapak. Lucian datang tepat waktu, berjalan melintasi deretan tanaman sesuai dengan permintaan istrinya.Sejujurnya, sang Kaisar sama sekali tidak sanggup menolak undangan dari Sienna. Ada letupan kecil kelegaan dan rasa senang di dadanya saat Damien menyampaikan pesan bahwa Permaisuri ingin minum teh bersama. Namun, Lucian memaksakan diri untuk menekan perasaan itu dalam-dalam. Wajahnya dipasang sedatar dan sedingin mungkin.Pria itu tidak bodoh. Ia sangat mengenal istrinya. Setelah konfrontasi panas mereka beberapa malam yang lalu dan penolakan kerasnya kemarin sore, Sienna tidak mungkin tiba-tiba mengundangnya hanya untuk menikmati aroma teh melati dan udara sore yang damai. Wanita itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang baru.Dan benar saja. Tebakan Lucian terbukti tepat sasaran begitu ujung jubah\nya melewa

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 102

    Arthur mendengarkan bisikan dari pelayan pribadinya dengan ekspresi tenang. Matanya sesekali melirik ke arah Alexandria, membuat wanita itu semakin gelisah.Setelah menyampaikan pesannya, pelayan itu membungkuk dalam da

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 94

    Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 90

    Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 97

    Langkah Axexandria di lorong menuju kamar putra mahkota terdengar begitu terburu-buru, ia berjalan dengan cepat menyusul ksatria di depannya. Tangannya memegang erat tudung jubah yang tengah ia kenakan.Putri Marquess Ashford itu telah dengan sengaja menyuruh Ksatria yang memandunya itu berjalan se

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status