แชร์

Part 60: Menekan Gengsi

ผู้เขียน: Titi Chu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-25 18:09:40

“Masalah Mba sama Mas Andrew itu sebenarnya cuma soal gengsi.”

Alisku terangkat saat mendengar komentar dari Tria ketika menceritakan duduk perkaraku dengan Nata.

Sebenarnya aku sudah tidak tahu harus membicarakan masalah ini pada siapa, sebab aku tidak memiliki saudara dan semenjak menikah, aku tidak benar- benar punya teman berbagi selain ibu mertua yang kadang penilainnya bias.

Dan Tria menjadi satu-satunya harapanku yang setidaknya bisa memberikan rasa tenang, a
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 60: Menekan Gengsi

    “Masalah Mba sama Mas Andrew itu sebenarnya cuma soal gengsi.”Alisku terangkat saat mendengar komentar dari Tria ketika menceritakan duduk perkaraku dengan Nata.Sebenarnya aku sudah tidak tahu harus membicarakan masalah ini pada siapa, sebab aku tidak memiliki saudara dan semenjak menikah, aku tidak benar- benar punya teman berbagi selain ibu mertua yang kadang penilainnya bias.Dan Tria menjadi satu-satunya harapanku yang setidaknya bisa memberikan rasa tenang, atau minimal sebuah pembelaan, tapi yang kudapatkan justru sebaliknya.“Kamu nggak denger aku, Ya?” “Mba yang harusnya denger aku.”“Enggak, kamu yang nggak denger,” balasku ngotot, lalu menyela tubuhku menjadi duduk seraya mendekap guling. Sedangkan Tria menyeruput latte dari tumblrnya dengan suara berisik. “Mba terlalu overthinking dan berasumsi, menebak-nebak, padahal Mas Andrew nggak punya maksud terselubung.”“Hah?”“Contohnya aja soal catering,

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 59: Dalam Tekanan

    “Kamu itu denger omongan aku nggak sih?” jawabku seraya berdecak remeh. “Kenapa kamu malah balik nanya?”Nata kembali terdiam, tapi aku bisa mendengar barang-barang yang digeser. Volume suara dari sebuah audio yang direndahkan, lalu kertas yang diremas.Aku mengernyit.Pria ini sedang apa sih?“Jangan becanda,” sahutnya, suaranya terdengar dingin. “Kamu biarkan Salsa menunggu sendiri di kos?”“Ada Sus Dara.”“Dia kerja sampai larut? Kamu pikir Sus Dara nggak punya kehidupan sendiri? Sementara rumahnya sangat jauh?”“Nggak usah berlebihan, kamu juga sering lembur dan pulang telat, apa bedanya dengan sekarang?”Dia mendengkus. “Aku nggak mungkin meminta Sus untuk menginap di apartemen, sangat tidak pantas Lula. Dan aku punya alasan kenapa lembur. Case kita jelas berbeda. Kamu di restoran? Kafe? Atau ... bar?”Aku memutar bola mata. “Pertanyaan aku bukan itu Nata,” geramku dari balik rahang yang mengetat.

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 58: Tidur Satu Atap

    “Saya minta maaf Lula, pekerjaan hari ini luar biasa, saya harus menghadapi klien yang sulit dan itu menguras energi.”Aku baru duduk belum ada semenit, tetapi Damian langsung memulai tanpa basa-basi. Kami berada di restoran sederhana didekat kosan, tepat setelah urusan pekerjaan hari ini selesai.“Iya, nggak pa-pa, Pak.” Dengan santai aku menjawab, pringas-pringis.Berarti, dia sadar kalau seharian ini aku bingung karena mendadak diabaikan?Damian tampak menimbang-nimbang dengan dahi mengerut. “Kamu suka bekerja di Ro Corp?” tanyanya.“Sejauh ini aman Pak.”“I'm really sorry for what happen to you. Untuk yang tadi siang.” Dia meringis. “Tapi mungkin kamu harus belajar untuk membela diri saat dipojokkan.”“Gimana Pak?”“Jangan diem aja, perusahaan kami nggak menoleransi tindakan bullying, baik secara fisik maupun verbal—”Baiklah, sudah cukup, ini jauh sekali dari konteks yang akan kami bicarakan.

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 57: Masih Ada Kesempatan

    “Siang Pak Damian.”“Iya.”Mataku sedikit membulat saat Damian hanya menoleh sekilas. Lalu melewatiku begitu saja saat berpapasan di koridor.Adisty ikut menoleh, alisnya terangkat “Tumben, biasanya kalau ada Mba, dia langsung ngajak ngobrol,” sahutnya santai sambil menyesap kopinya.Aku pun bingung, setelah masalah panggilan telepon kemarin. Damian kentara sekali mengabaikanku atau menghindariku saat berpapasan.Dan ini bukan yang pertama kali, sejak pagi saat menghadiri rapat evaluasi mingguan. Damian berusaha seminimal mungkin bersingunggan denganku.Semua ini jelas bukan tanpa sebab. Mungkin dia tersinggung karena kemarin sempat beberapa kali mengirim pesan singkat, tapi aku tidak membalas karena sibuk bersama Salsa. Tapi aku yakin Damian bukan pria yang mudah tersinggung akibat masalah sepele.Jadi, ini pasti ada kaitannya dengan apa yang dikatakan Nata kemarin.Dan sialnya, aku tidak tahu, sementara Nata m

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 56: Mendadak Centil

    “Jangan ditarik dari air. Salsa cuma boleh usap pelan-pelan pakai dua jari seperti ini.” Aku bisa mendengar suara Nata mengudara memberi instruksi. Pria itu berlutut di samping kolam dangkal, memegang punggung Salsa agar putri kami tidak terpeleset di lantai licin.“Mama, coba pegang yang ini! Halus banget!” Salsa malah memekik comel sambil memegang tangan kananku dan mengarahkannya ke seekor penyu kecil yang sedang berenang pelan.“Iya sebentar...” Aku bergegas memasukkan ponsel ke tas, tetapi Nata lebih dulu menarik sling bagku. Agar aku bisa fokus mengikuti keinginan Salsa dan berlutut di sampingnya.“Geli kan, Mama?” Salsa cekikian.“Lucu.” Aku mengangguk sepakat.Nata tampak menoleh, dia mengenakan kacamata hitam yang sama, sehingga aku tidak bisa melihat matanya. Tapi aku tahu bahwa dia memperhatikan intens. Tatapannya seperti bisa menembus langsung ke dalam diriku. Seakan aku buku yang terbuka.Aku berdeham. “Sal

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 55: Ada Yang Berdebar

    Sepertinya kacamata hitam yang kutenggerkan di pangkal hidung ini sama sekali tidak membantu. Benda itu gagal menyembunyikan fakta bahwa kedua kelopak mataku bengkak dan mataku memerah akibat tidak bisa tidur hingga fajar menyingsing.Kupikir setelah beberapa lama, dan mengenakan makeup, semua akan terlihat lebih baik, tapi ternyata tidak karena sekarang hampir pukul satu siang, dan aku sangat mengantuk!Dan penyebab dari semua keadaanku yang berantakan ini sedang berjalan santai dua langkah di depanku.Nata tampil luar biasa kasual hari ini. Pria itu hanya mengenakan kaus polos berwarna off white yang mencetak jelas bahu tegapnya, dipadukan dengan celana pendek kain warna krem dan sepatu sneakers putih. Sederhana, tapi aura kaku dan mahalnya tetap terpancar tajam. Dia menggandeng tangan mungil Salsa, sementara tangan kirinya membawa tas punggung kecil berisi bekal dan botol minum putri kami.Sedangkan aku?Yah, aku terpaksa men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status