LOGINTiga tahun setelah perceraiannya, Kirana muncul kembali… sebagai karyawan baru di perusahaan milik mantan suaminya, Dirga. Mereka tak sengaja bertemu kembali—bukan karena rindu, tapi karena Kirana melamar pekerjaan tanpa tahu siapa CEO-nya. Kini, keduanya dipaksa berada dalam satu atap profesional, dengan masa lalu yang belum selesai dan anak yang terpisah sejak perpisahan mereka. Ketika sebuah acara Hari Ibu di sekolah sang anak mempertemukan mereka kembali bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai "mantan pasangan yang terlihat seperti keluarga utuh", batas antara masa lalu dan masa kini mulai kabur. Apalagi saat Kirana harus menghabiskan satu hari penuh di rumah Dirga… bersama kenangan, kebekuan yang perlahan mencair, dan perasaan yang seharusnya sudah mati. Apakah cinta bisa tumbuh kembali… setelah dikhianati waktu dan keadaan?
View MoreSiang itu, Dirga membuka laptop di meja kerjanya. Deretan email sudah menunggu, sebagian besar berisi dokumen tender dan jadwal rapat. Tapi satu email dari sekolah Arka mencuri perhatiannya—subjeknya berbunyi: “Event Hari Ibu – Kelas TK B”Alis Dirga naik sebelah. Ia mengklik email itu, membacanya sambil menyeruput kopi. Isinya adalah undangan resmi dari sekolah Arka, memberitahukan soal acara Hari Ibu yang akan digelar Sabtu malam.Namun yang membuatnya terdiam justru satu paragraf kecil di bagian akhir, yang ditulis langsung oleh wali kelas Arka:“Dear Ayah Arka, Saat kami bertanya siapa yang ingin Arka ajak untuk Hari Ibu, dia langsung menyebut nama 'Tante Kirana'. Dia terlihat sangat berharap dan sudah beberapa kali bertanya apakah Tante Kirana bisa datang. Selama masa preschool hingga sekarang, Arka belum pernah ikut Hari Ibu. Kami pikir mungkin tahun ini bisa jadi pengalaman pertamanya.”Dirga mendesah pelan. Ada sesuatu di dada kirinya yang terasa menghangat—dan sedikit menyesak
Kirana duduk di lantai kamar Arka, mengamati betapa cerianya anak itu saat menyusun balok-balok warna-warni menjadi menara tinggi. Sesekali, Arka tertawa riang, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Tangannya yang mungil dengan lincah menyusun satu demi satu balok, lalu menoleh ke Kirana dengan senyum lebarnya."Tante Kirana lihat! Tinggi banget, kan?" Arka berseru bangga.Kirana menelan ludah, berusaha menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. Matanya mulai basah, tapi ia tersenyum lebar, mengusap kepala Arka dengan lembut. "Iya, tinggi sekali! Arka pintar banget. Hati-hati, jangan sampai roboh, ya."Arka mengangguk antusias, lalu buru-buru mengambil balok lain untuk menambah ketinggian menaranya. Tawa kecilnya menggema di ruangan, mengisi setiap sudut dengan kehangatan yang begitu sederhana namun mendalam.Tanpa mereka sadari, di ambang pintu, Dirga berdiri diam. Matanya mengamati setiap gerakan Kirana dan Arka. Wajahnya tetap datar, tapi ada sesuatu di sorot matanya yang sulit dijela
Kirana menelan ludah saat berdiri di samping mobil hitam yang mengilap itu. Mercedes-Benz GLC. Bukan sekadar mobil, ini adalah kendaraan mewah yang rasanya lebih cocok buat pejabat atau orang-orang elit di drama Korea yang biasa ia tonton.Tangannya sedikit gemetar saat meraih handle pintu. Begitu pintu terbuka, aroma khas interior kulit langsung menyapa penciumannya, disusul dengan tampilan dashboard yang penuh layar digital. Astaga, ini mobil atau kokpit pesawat?Dengan hati-hati, Kirana duduk di balik kemudi. Joknya empuk, terlalu nyaman dibandingkan mobil mungilnya yang biasa ia bawa ke mana-mana. Ia mencoba menyesuaikan posisi duduk, tapi malah salah pencet tombol di sisi kursi, membuatnya tiba-tiba terdorong maju hingga hampir menempel ke setir."Astagaaa..." Kirana buru-buru menekan tombol lain dan mundur sedikit. Jantungnya sudah berdetak cepat sebelum ini, tapi sekarang makin menggila.Deg-degan. Antara mau ketemu Arka dan harus nyetir mobil yang harganya bisa buat beli rumah
Dirga melirik jam tangannya begitu mobilnya berhenti di depan sekolah Arka. Panggilan dari pihak sekolah pagi tadi membuatnya terpaksa menyelipkan waktu di antara jadwal meetingnya yang padat.Begitu dia masuk ke ruang guru, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah menyambutnya. “Selamat siang, Pak Dirga. Saya Bu Lita, wali kelas Arka. Silakan duduk.”Dirga mengangguk singkat dan menarik kursi di hadapan sang guru. “Ada apa dengan Arka, Bu?”Bu Lita tampak ragu sejenak, lalu menghela napas. “Begini, Pak. Kami memperhatikan ada perubahan dalam sikap Arka belakangan ini. Biasanya dia aktif dan ceria, tapi sekarang dia sering menyendiri. Dia jarang bermain dengan teman-temannya, lebih banyak melamun saat pelajaran, dan terkadang terlihat gelisah.”Dirga menegakkan punggungnya, ekspresinya tetap dingin meski pikirannya mulai dipenuhi tanda tanya. “Maksud Ibu, dia mengalami kesulitan belajar?”“Bukan hanya itu.” Bu Lita mengusap kedua tangannya. “Beberapa kali, dia terlihat seperti an












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.