Share

Sebelum Kau Diraih Dia
Sebelum Kau Diraih Dia
Author: Erdin Xes

Persidangan

Author: Erdin Xes
last update publish date: 2026-06-23 11:32:44

"Dia memaksaku untuk menjilat setiap inci bagian intimnya," suara Ayu bergetar saat memberikan kesaksian di ruang persidangan.

Pengacara Ramli, kuasa hukum dari Ayu berusaha menenangkannya. Duduk disamping Ayu, ia mengelus lembut pundak Ayu. Memberikan semangat untuknya.

Air mata Reno, ayah dari Ayu tidak henti mengucur. Pernikahan mengerikan dari Ayu, tidak mungkin terjadi jika ambisinya saat itu tidak ada. Setiap tetes air mata, menjadi gambaran penyesalan mendalam yang dirasakan.

"Maafkan Ayah Nak, semua ini kesalahan Ayah."

Semua teman Ayu yang hadir didalam ruangan. Mual mendengar fantasi liar dari suami Ayu. Memaksa Ayu menjadi objek fantasi liarnya.

Dengan cucuran air mata, Ayu kembali bercerita rumah tangganya yang menyeramkan. Tentang kekerasan yang dilakukan oleh Ibrahim, sang suami padanya.

"Sekalipun aku berkata sakit. Itu tidak membuat Baim menghentikan penyiksaannya. Ia terus melakukannya. Sampai, aku tidak bisa merasa apapun lagi. Ini gila, tapi aku bertahan dalam rasa sakit ini,"

Seluruh audien didalam ruang sidang serempak meneriaki Baim bajingan.

"Huuuuuu,"

"Iblis,"

"Jelmaan Fir'aun,"

"Monster,"

Hakim Ketua mengetukkan palunya tiga kali dengan tegas, mencoba mengendalikan riuh amarah yang membakar ruang sidang. "Harap tenang! Tertib atau Anda semua diperintahkan keluar dari ruang sidang!" Perintah itu menggema, perlahan meredam teriakan pengunjung, meski hawa kemarahan di udara masih terasa pekat.

Di kursi terdakwa, Baim hanya menunduk. Tidak ada riak penyesalan di wajahnya, melainkan kepatuhan semu yang sengaja ia tunjukkan di depan Majelis Hakim untuk menarik simpati.

Ayu melanjutkan pengakuannya. Namun trauma yang dialaminya, terasa berat bagi Ayu untuk sekedar berbicara didepan majelis hakim. Tangisnya tidak terbendung, kembali mengingat bagaimana perlakuan Baim tiga tahun terakhir padanya.

Ramli menyodorkan segelas air putih kepada Ayu. "Tarik napas dalam-dalam, Ayu. Kamu aman di sini. Kamu sedang membela dirimu sendiri," bisik Ramli dengan suara bariton yang menenangkan.

Setelah meneguk air dan mengusap air matanya dengan tisu yang gemetar, Ayu mendongak. Sorot matanya yang semula layu, perlahan memancarkan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari lubuk trauma terdalamnya.

"Dua tahun, pernikahan kami berjalan indah. Semuanya nyaris sempurna. Baim bertanggung jawab sebagai suami," tutur Ayu dengan tegas.

Ayu menoleh sejenak kearah Baim. Melanjutkan pengakuan terbesarnya.

" Tapi, setelah itu. Tiga tahun, Yang Mulia," suara Ayu kini terdengar semakin jernih, meski masih ada getaran pilu di sana. "Setiap kali saya mencoba melarikan diri, dia selalu mengancam akan menghancurkan karier Ayah dan menyebarkan video intim kami yang direkamnya tanpa izin saya. Saya dijadikan budak di rumah saya sendiri."

Di barisan kursi pengunjung, Reno menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Bahunya terguncang hebat. Kalimat Ayu bagai belati yang mengoyak jantungnya. Ambisi bisnisnya dulu yang menjodohkan Ayu dengan Baim, kolega anak kolega bisnisnya. Justru membawa sang putri merasakan neraka berpindah tempat ke dunia. Ia yang mendorong Ayu merasakan neraka jahanam. Diperlakukan buruk oleh iblis, bernama Baim. Nestapa yang tidak pernah dibayangkan Reno sebelumnya.

"Apakah terdakwa juga melakukan kekerasan fisik di luar hubungan seksual, Saudari Saksi?" tanya Hakim Anggota wanita dengan nada penuh empati namun tetap formal.

Ayu mengangguk pelan. Ia perlahan menggeser kerah blazer yang dikenakannya, memperlihatkan sebuah bekas luka bakar melingkar yang samar di dekat tulang selangkangnya.

"Jika fantasinya tidak terpenuhi, dia akan menyundutkan puntung rokok ke tubuh saya. Dia bilang... itu adalah tanda kepemilikan," ungkap Ayu, memicu desas-desus ngeri di antara teman-temannya yang duduk di bangku belakang.

Ramli kemudian berdiri, membawa seberkas dokumen tebal ke hadapan meja Majelis Hakim. "Yang Mulia, kami juga menyerahkan bukti visum et repertum dari rumah sakit, laporan psikologis klinis yang menunjukkan trauma berat tingkat lanjut pada korban, serta rekaman percakapan ancaman yang dikirimkan terdakwa kepada korban."Ramli berbalik, menatap tajam ke arah Baim yang masih bergeming. "Kami memohon kepada Majelis Hakim yang terhormat, agar menjatuhkan hukuman seberat-beratnya berdasarkan pasal berlapis tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual. Ini bukan lagi sekadar retaknya rumah tangga, melainkan penghancuran kemanusiaan seorang wanita secara sistematis."

Suasana sidang mendadak hening, menunggu respons dari Majelis Hakim yang mulai memeriksa berkas-berkas mengerikan tersebut. Di tengah keheningan itu, Ayu menggenggam jemari ayahnya yang melangkah maju untuk memeluknya dari belakang. Perjalanan menuju keadilan memang masih panjang, namun hari itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Ayu merasa rantai tak kasat mata yang mengikatnya mulai terlepas.

Baim tidak bisa menyangkal, ia mengakui semua aksinya pada sang istri. Ikhlas dengan hukuman yang mungkin akan dijatuhkan padanya. Ada rasa sesal, tetapi itu tidak cukup untuk membuat semuanya berubah. Menunggu vonis yang akan dijatuhkan.

Fikri berdiri di sudut paling belakang ruang sidang, bersandar pada dinding kayu yang dingin. Setelan jas biru muda yang dikenakannya tampak kontras dengan atmosfer ruangan yang kelam dan sarat emosi. Di balik kacamata hitam besarnya, sepasang matanya menghangat oleh air mata yang mati-matian ia tahan. Kacamata itu bukan untuk bergaya, melainkan tameng agar dunia tidak melihat hancurnya pertahanan seorang pria yang menyaksikan cinta pertamanya dikuliti oleh trauma.

Setiap patah kata yang keluar dari bibir Ayu yang bergetar terasa seperti hantaman godam di dada Fikri. Bayangan Ayu yang dulu, gadis ceria dengan tawa renyah yang selalu menyemangati hari-harinya. Kini melebur, digantikan oleh sosok wanita rapuh yang duduk di kursi pesakitan, membeberkan neraka yang dialaminya selama tiga tahun terakhir.

Andai saja dulu aku tidak menyerah, batin Fikri berkecamuk. Penyesalan itu datang terlambat, mengalir deras menghentak kesadarannya.

"Jika aku lebih rajin dulu... Jika saja aku sukses lebih cepat," bisik Fikri dengan suara yang tercekat di tenggorokan, nyaris tak terdengar di antara riuh kemarahan pengunjung sidang. "Mungkin kamu tidak akan pernah merasakan semua ini, Yu. Maafkan aku... Maafkan ketidakberdayaanku dulu."

Ingatannya berputar pada masa lalu. Saat ayah Ayu, Reno, menolak mentah-mentah kehadirannya hanya karena ia seorang pemuda biasa yang belum punya apa-apa. Fikri yang terluka memilih mundur, membiarkan ambisi Reno menjodohkan Ayu dengan Baim yang kaya raya. Siapa yang mengira, pria mapan pilihan keluarga itu ternyata adalah monster berwajah manusia.

Dari kejauhan, Fikri melihat Ayu yang sedang ditenangkan oleh pengacaranya dan didekap oleh Reno yang menangis penyesalan. Ada dorongan kuat di dalam hati Fikri untuk berlari ke depan, memeluk Ayu, dan menyembunyikannya dari semua pandangan orang. Namun, ia tahu batas diri. Saat ini, ia hanyalah bagian dari masa lalu yang tak punya hak untuk berada di sampingnya.Ketika Majelis Hakim memutuskan untuk menunda persidangan hingga pekan depan, para pengunjung mulai membubarkan diri dengan kasak-kusuk yang masih panas. Fikri tetap bergeming di tempatnya.

Saat Ayu berjalan keluar didampingi tim hukumnya, langkah wanita itu mendadak melambat. Entah karena ikatan batin yang pernah ada atau sekadar kebetulan, pandangan Ayu yang sembap sedetik berpapasan dengan arah berdiri Fikri. Meski wajah Fikri tertutup kacamata hitam, detak jantung keduanya seolah berhenti di satu titik yang sama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei 2

    "Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Survei Kampus

    "Kamu ngapain di sini?" Suara itu ketus, tajam, langsung menusuk gendang telinga. Pagar besi hijau rumah Ayu berderit saat didorong dari dalam. Dan di baliknya, dia berdiri. Ayu. Fikri menahan napasnya sejenak. Bukan karena kaget dimarahi, tapi karena pemandangan di depannya. Gadis itu tampil dengan gaya kasual paling ikonik tahun 2010 yang ia ingat betul. Kaos grafis ketat warna abu-abu dengan sablon besar logo band The Beatles, celana skinny jeans warna biru dongker yang begitu ketat membungkus kaki jenjangnya, dan sepatu kanvas kotak-kotak hitam-putih. Rambutnya yang lurus sebahu dijepit ke samping dengan jepit rambut kupu-kupu warna pink. Cantik. Sangat cantik. Terlalu cantik untuk disia-siakan karena game online di warnet. Wajah cantik itu sekarang cemberut. Bibirnya mengerucut, matanya menyipit, sisa amarah dari pertengkaran mereka semalam di telepon masih menggantung jelas di sana. "Semalam katanya siapa yang bilang 'malas ah, mau push rank di warnet sama anak-anak'?" lanj

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Hari Kelulusan

    Senyum penuh kemenangan tidak bisa disembunyikan dari wajah Fikri. Tangannya mengepal pelan di samping panggung. Detak jantungnya masih kencang. Saat pembawa acara memanggil namanya lebih dulu, lalu disusul nama Ayu, rasanya semua kerja kerasnya terbayar lunas."Fikri Pratama, sebagai peraih nilai tertinggi pertama!"Suara tepuk tangan menggema. Fikri melangkah naik. Dari ujung panggung, ia melihat Ayu sudah berdiri dengan kebaya wisudanya. Mata mereka bertemu."Selanjutnya, Ayu Lestari, peraih nilai tertinggi kedua!"Ayu naik dengan senyum gugup. Mereka berdiri bersebelahan di tengah panggung. Kepala sekolah menyalami mereka satu per satu."Selamat ya, Fik. Kita berhasil," bisik Ayu pelan, hanya cukup didengar Fikri.Fikri menoleh dan membalas dengan suara yang sama pelannya, "Kita berhasil, Yu. Sesuai harapan kita kan? Akhirnya satu kampus.""Gila, aku masih gak nyangka. Kamu beneran ngejar aku sampai sini," kata Ayu sambil tertawa kecil."Ya harus lah. Janjinya kan dari kelas sebel

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Lolos

    "Kita lolos!!!"Suara Ayu pecah di tengah kerumunan papan pengumuman. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Bagi Ayu, ini bukan sekadar pengumuman kelulusan. Ini adalah mukjizat.Ayu menoleh ke samping, mencari Fikri yang berdiri hanya selangkah darinya."Fik, lihat! Nilai kamu... nilai kamu di atas 9! Ya Allah, Fik, kamu bisa! Kita bisa masuk kampus impian bareng-bareng!" ucap Ayu sambil menangis dan tertawa bersamaan.Berbeda dengan Ayu yang heboh, Fikri justru diam. Wajahnya datar. Ia menatap layar pengumuman itu dengan tatapan kosong, tidak ada senyum lebar, tidak ada teriakan bahagia. Di dalam kepalanya, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekadar angka 9 itu.Ia membayangkan wajah ayah Ayu. Lelaki yang selama ini selalu memandangnya sebelah mata, yang selalu menganggapnya tidak akan punya masa depan. Ia penasaran, seperti apa ekspresi lelaki itu nanti ketika tahu bahwa dirinya, Fikri, berhas

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Komitmen Fikri

    "Papa aku minta kita putus!"Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Fikri.Gara-garanya cuma satu, nilainya pas KKM. Padahal syarat dari Papa Ayu jelas, kalau mau satu kampus bareng Ayu di kampus impian mereka, nilainya minimal harus 9.Waktu itu Fikri benar-benar putus asa. Dia masih berharap Ayu bisa membela dia di depan papanya."Yu, tolong bujuk Papa kamu ya? Bilang aku udah usaha. Aku kira soalnya gampang kemarin," kata Fikri waktu itu, setengah memaksa.Ayu cuma diam. Matanya sembab, kayak habis nangis."Aku udah coba bujuk, Fik," jawab Ayu pelan, pasrah. "Tapi kata Papa... kita harus setara. Kalau pendidikan kita nggak setara, hubungan ini nggak akan jalan."Pahit. Semua kenangan manis sejak SMA, yang dulu mereka sebut kayak perangko, selalu nempel ke mana-mana. Hilang begitu aja.Sekarang setiap Fikri lihat Ayu, selalu ada Baim di sampingnya. Nempel terus kayak pengawal pribadi.Fikri menatap kertas ulangan susulan di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Ini kesempatanku

  • Sebelum Kau Diraih Dia    Dihadang Baim

    Dengan telaten, Fikri memasang helm di kepala Ayu. Tangannya hati-hati. Dagu Ayu diangkat pelan biar talinya pas."Sakit gak?" tanya Fikri pelan.Ayu menggeleng. Dia senyum. Lebar.Senyum yang udah lama banget gak muncul di wajahnya. Senyum yang selama lima tahun pernikahan sama Ibrahim terkubur di balik marah, dingin, dan pintu yang dibanting."Udah siap?" tanya Fikri lagi."Siap," jawab Ayu. Matanya berbinar. "Makasih ya, Fik."Fikri cuma senyum. Dia naik ke motor. Ayu langsung naik di belakang. Tangannya melingkar di pinggang Fikri.Untuk pertama kali dalam waktu lama, Ayu ngerasa aman.Fikri nyalain mesin. Vroom.Tapi belum juga jalan 3 meter.BRAAAK.Suara mesin meraung dari belakang.Sebuah mobil sport hitam melesat. Kencang. Sengaja.Ibrahim.Kaca jendelanya turun setengah. Wajahnya dingin. Matanya ngeledek.Ban mobilnya langsung menghantam genangan air di samping motor Fikri.SPLASH.Air kotor setinggi lutut nyiprat semua. Basah kuyup. Ke muka Ayu, ke baju Fikri, ke motor mere

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status