ANMELDENWaktu sudah berlalu cepat sejak mereka terdiam dalam posisi saling memeluk. Berbaring di atas dada lebar Geza sungguh membuat Tala lupa diri. Pertemuan antar kulit tanpa sehelai benang jelas memantik banyak listrik statis yang menjalar di sepanjang sarafnya. Apalagi saat tangan besar pria itu kembali bergerak, mengusap lembut puncak dadanya."Mas, udah..." Tangan Tala bergerak menahan usapan itu, berusaha menyisakan sedikit benang kendali di antara mereka.Usapan itu berhenti. Geza menurunkan posisi tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Senyum tipis terbit di bibirnya.”Takut nerkam saya lagi?” tanya pria itu sambil terkekeh.”Kamu ya, yang nerkam aku.” balas Tala.“Kan kamu yang mancing.”Geza menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Tala sebelum mencuri kecupan singkat.Dengan posisi menyamping seperti ini, Tala bisa dengan mudah memindai setiap lekuk wajah Geza yang memesona. Tatapan mereka bertemu cukup lama sebelum tangan Geza naik mengusap rambutnya.“Mau makan sekarang?” tanyanya
Perempuan yang ia rindukan setengah gila ini—yang belakangan membuat kepala Geza hampir pecah karena saking keras kepalanya—kini berada sepenuhnya dalam dekapannya. Mengerang pasrah di bawah kuasanya, bagaimana mungkin Geza tidak makin tenggelam dalam pusaran gairah itu?“Tala, you’re mine…Tell me you are.” Suara Geza terdengar parau.Cengkeraman jemari Tala di bahunya makin kuat seiring ritme yang terus Geza pacu lebih cepat.”Iya masshh...i’m yours...”Sialan. Panggilan mas dengan desah lembut begini membuat badai gelora di kepalanya makin menggila. Geza masuk lebih dalam dan balasannya ia dapat jepitan berdenyut yang luar biasa di bawah sana. Jemari Tala bergerak naik, mencengkeram rambut Geza, seolah mencari pegangan yang lebih kuat untuk menahan gelombang badai yang diciptakan pria itu.”Mass...terush..eughht...” desahan itu serupa umpan yang memanggil badai untuk menghantam lebih cepat dan lebih intens.Geza sungguh lepas kendali.Selain gerakan ritmis yang menghentak di antara b
Apa katanya?Geza ingin mendengarnya sekali lagi. Memastikan ia tidak salah menangkap maksud perempuan itu.“Are you sure Ta? Bikin bayi?” tanyanya memastikan sambil menahan kekehan.Sial, kenapa topik bikin bayi ini jadi terdengar menggemaskan begini saat keluar dari mulutnya? Tala, yang kini berada di atasnya dengan kedua tangan bertumpu di kasur, hanya mengangguk. Matanya sayu, tapi tatapannya begitu jelas.Demi apa pun, ini pemandangan yang tak pernah Geza kira akan ia dapatkan.Tala. Perempuan keras kepala yang dicintainya dengan sama kerasnya. Kini berada di atasnya, menatapnya dengan sorot penuh damba.“Kamu nggak mau?” tanyanya lembut, mendayu. Satu tangannya menelusuri dagu Geza.Kenapa perempuan ini tiba-tiba begitu pandai menggoda?“Menurut kamu?” suara Geza keluar semakin berat.“Mau. Tapi kamu lagi nahan diri, kan?” Tala tersenyum kecil, penuh percaya diri. “Kamu mau lihat sejauh apa aku bisa bikin kamu laper.”Perempuan itu benar-benar sedang menggodanya.Gairah yang sej
Di balkon depan villa, Geza masih termenung dengan cincin di tangan. Ia memperhatikan kilauannya yang sesekali menangkap cahaya sore yang mulai turun.Cincin yang selalu ia bawa ke mana pun—yang seharusnya sudah melingkar di jari Tala malam itu, jika saja dinner yang ia rencanakan tidak berakhir berantakan karena perempuan itu tiba-tiba mengetahui soal fakta pemecatannya.Langkah kaki Tala terdengar mendekat, membuat Geza segera memasukkan kembali cincin itu ke saku celananya. Tak lama kemudian, sosoknya muncul dengan linen oversized berwarna sage. Sederhana, tetapi entah kenapa tetap berhasil membuat Geza terpaku sesaat.Sore ini mereka punya agenda catamaran sailing, berkeliling pulau dengan perahu catamaran kecil. Namun, untuk saat ini, agenda itu bukan hal yang memenuhi kepalanya. Pikirannya justru masih dipenuhi ciuman tadi siang—ciuman dari perempuan yang selama ini berkali-kali menolaknya.“Ayo, Za,” ajak Tala.Hebat sekali perempuan itu. Setelah tadi siang menciumnya begitu saj
Pada akhirnya, mereka baru benar-benar bisa tidur sekitar pukul dua pagi. Geza bahkan terpaksa pindah ke sofa di ruang depan agar keduanya bisa sama-sama beristirahat. Alhasil, mereka baru terbangun menjelang siang—termasuk Geza, padahal pria itu biasanya paling sulit diajak melewatkan pagi. Si paling morning person.Hari ini mereka punya agenda snorkeling, lalu dilanjutkan dengan Bawah Survivor Experience. Awalnya Tala sama sekali tidak berniat ikut aktivitas pertama. Jelas. Ia takut aktivitas air. Namun, saat sarapan tadi, Geza berhasil membujuknya dengan iming-iming yang entah kenapa terdengar cukup menarik untuk membuat Tala berubah pikiran.Akhirnya, ia ikut juga. Kini Tala berdiri di ujung boat, kedua kakinya masih ragu melangkah. Ia menatap permukaan laut yang membentang luas di hadapannya. Air yang jernih membuatnya bahkan bisa melihat samar warna-warni kehidupan laut jauh di bawah sana.Indah.Dan justru karena itu, rasa takutnya terasa semakin nyata.“Ayo, Ta. Di bawah sana
Jebakan itu ternyata benar-benar dipersiapkan dengan sempurna.Begitu kembali ke vila, Tala hanya terpaku di ambang pintu. Semua barang Amika sudah lenyap. Koper, toiletries, bahkan tas-tas kecilnya sudah tidak ada. Hanya satu medium bag milik Amika yang masih tertinggal di sudut kamar, seolah sengaja dilupakan.Sebagai gantinya, ada satu koper milik Geza. Tala menatapnya tak percaya.“Serius?”Belum selesai rasa kesalnya, matanya berkeliling dan menemukan hal lain yang jauh lebih mencurigakan.Vila itu sudah berubah.Lampu-lampu dibuat lebih temaram dan hangat. Beberapa lilin menyala di sudut ruangan, sementara aroma lembut memenuhi udara. Tempat tidur ditata lebih rapi dengan turn-down setup, tirai dibuka menghadap laut, dan suasananya mendadak terasa terlalu intim untuk disebut sekadar tempat menginap.Ini vila honeymoon. Bukan vila untuk girls trip.“Amika...” desis Tala.Ia buru-buru meraih ponselnya. Sial, tidak aktif. Begitupun nomor Bastian.Di atas meja, beberapa notes kecil t
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan







