LOGINSepanjang siang, Geza terus menghubungi Tala, menanyakan apa saja yang dilakukan Raga dan memastikan pria itu tidak berbuat macam-macam. Tala selalu merespons tenang. Raga memang marah dan banyak bicara, tetapi tidak mengancamnya secara fisik ataupun melakukan hal lain.Geza baru tiba di Janitra sekitar pukul delapan malam untuk menjemput Tala. Dari sana, mereka berencana mampir ke warung tenda Jepang kesukaan Tala untuk makan malam.Begitu Tala masuk ke mobil, pertanyaan yang sejak siang terus diulang Geza kembali terdengar.“Raga nggak kasar sama kamu, kan?” tanyanya lagi.Persis seperti di telepon.Tala meliriknya. “Nggak, Mas. Dia nggak akan berani kayak gitu di kantor.”Pria itu mengangguk.“Jadi, Mas mau cerita soal ini nggak?” tanya Tala.Geza terdiam sejenak sebelum akhirnya mengembuskan napas.“Maaf, Ta. Saya kira Raga nggak akan secepat ini tahu kalau saya yang ada di balik pembelian saham perusahaan itu”Tala langsung menoleh. “Berarti bener semua yang dibilang Raga?”Ia me
Sesungguhnya, tak banyak yang berubah dari rutinitas Tala dan Geza setelah mereka resmi menjadi suami-istri sungguhan.Hanya saja, kini keduanya tak lagi saling gengsi atau sibuk menahan diri. Kemesraan yang dulu masih mereka sembunyikan—meski sering tertangkap basah juga—sekarang justru kerap kebablasan, bahkan di area umum.Memalukan memang, tapi sudahlah.Entah berapa kali mereka dipergok Bi Yuni saling mengecup di dapur, pernah juga tertangkap saling raba karena iseng. Dan pagi ini, baru saja Bude Sinta dan Hanum kembali memergoki keduanya.“Ckckck. Pulang honeymoon malah makin gragas. Nggak tahu malu, deh, Lo, Om.”Hanum menggeleng-gelengkan kepala, memandang keduanya dengan tatapan geli.“Curiga di sana kejedot batu karang,” imbuh Hanum.Jelas Geza yang jadi sasaran. Barusan dialah yang memulai dan paling dominan, menyerang Tala yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.Masih pagi—bahkan belum pukul enam. Namun Bude Sinta dan Hanum sudah turun ke bawah. Hanya Bi Yuni yang sedang perg
Hari pertama kembali bekerja, Geza baru tiba di rumah pukul sepuluh malam, padahal ia sudah berusaha mengefisienkan pekerjaannya. Begitu masuk kamar, kosong. Ia justru mendapati Tala sudah lelap di kamar Sansa.Geza mendekat, lalu menggendong istrinya untuk dipindahkan ke kamar utama mereka.“Kok dipindahin, sih, Mas?” Suara Tala terdengar serak dengan mata yang masih mengerjap saat tubuhnya diletakkan di atas kasur.“Nanti Sansa nyariin.” imbuhnya.Tala masih setengah sadar ketika Geza melepas jam tangan, kemudian mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Gerakan itu perlahan membuat kantuknya menguap.“Sansa juga ngerti, kok, kalau Om Tantenya masih fase honeymoon,” ujar Geza santai.Tala langsung menatapnya. “Pak Geza yang makin gagah, udah makan malam?”“Udah.”Tala mengangguk kecil, lalu kembali merebahkan tubuhnya. “Pantes makin bersinar dari kejauhan.”Ck, sialan. Tala masih terpengaruh racauan kliennya tadi.“Cemburu, hm?” Geza duduk di sebelah Tala, menatap mata istrinya
Menjelang makan siang, Geza dikejutkan oleh kedatangan Tala yang sedang menunggunya di area tamu dengan sekantung kotak bekal di sampingnya.Tentu saja ia terkejut. Tala sama sekali tidak mengabari akan datang ke kantornya hari ini.Istrinya itu mengenakan pakaian yang cukup tertutup, tentu saja untuk menutupi lehernya. Geza sendiri tak terlalu peduli kalau sesekali bekas kemerahan masih menyembul dari balik kerah. Bukankah itu wajar untuk pasangan yang baru pulang honeymoon?Melihat Tala melambai, wajah Geza yang masih berdiri di ambang pintu ruang meeting seketika sumringah.Begitu pula beberapa karyawan di lantai itu yang sudah beberapa kali berpapasan dengan Tala. Mereka ikut lega melihat bosnya kembali cerah setelah berminggu-minggu terakhir nyaris seperti manusia tanpa hati. Datang paling pagi, pulang paling malam, dan membagikan setumpuk pekerjaan yang sebenarnya masih bisa dikerjakan besok, seolah-olah kenaikan jabatan sudah menunggu di depan pintu setiap pagi.Setidaknya, sete
Selama bekerja, Geza jarang sekali mengajukan cuti tahunan, kecuali untuk menghadiri acara keluarga besar dari pihak ibunya atau mengurus Sansa selama dua tahun terakhir.Cuti tiga hari kemarin bahkan menjadi cuti terpanjang yang ia ambil selama itu. Seharusnya hari ini Geza masih bisa menikmati waktu liburnya, mungkin mengajukan tambahan cuti dan memperpanjang sedikit waktu bersama Tala.Sayangnya, trouble lagi-lagi datang mengusik kehidupan pribadinya tepat ketika semuanya mulai terasa membahagiakan.Mau tak mau, ia harus kembali bekerja.Tala sendiri masih bisa menikmati waktu di rumah hingga seminggu ke depan. Tidak ada agenda mendesak di Janitra dalam waktu dekat, kecuali nanti saat Geza mulai bermanuver terhadap Raga—sesuatu yang sudah pasti akan mengusik Tala juga Janitra.Begitu duduk di meja kerja, tumpukan pekerjaan Geza seolah tak memberinya kesempatan untuk bernapas.Ada laporan perkembangan proyek yang harus ditinjau, cost projection yang perlu dicermati, beberapa isu site
Mereka tiba di Bandara Hang Nadim, Batam, pukul 14.30, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta pukul 16.00.Dari arah lounge, dua sejoli yang menjebak mereka akhirnya muncul dengan tentengan yang sama—koper-koper bawaan masing-masing. Lucu juga. Mereka berada di kepulauan yang sama selama beberapa hari, tetapi nyaris tanpa komunikasi apa pun. Benar-benar menikmati couple trip versi pisah tempat.“Halooo, pengantin lama rasa pengantin baru. Cukup menikmati trip-nya?” sambut Bastian.“Banget, sih, kayaknya. Sampai gempor gitu jalannya,” provokasi Amika sambil terkekeh.Geza mengangkat sudut bibirnya. “Nice trap.”Tala mengembuskan napas kecil. Alih-alih kesal, kali ini senyum justru ikut muncul di wajahnya.“Rencana kalian mulus banget.” Ia menatap Amika, lalu sekilas beralih kepada Geza. “Makasih, lho, ya.”“Nah, nggak nyesel, kan, Ta?” balas Amika.Amika mengangkat dagu, penuh percaya diri. “Gue rasa habis ini gue bisa buka jasa rukunin pasutri di ambang cerai.”Tala hanya memutar b
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat







