Início / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 217- Partner Legend

Compartilhar

217- Partner Legend

Autor: Sora Carita
last update Data de publicação: 2026-10-08 08:39:17
Jika dihitung-hitung kejadian penjambretan itu sudah terlewat beberapa waktu lamanya, namun Geza masih cukup posesif dan ditambah lagi beberapa hari ini ia selalu terlihat gusar.

Kegusaran yang sama lagi-lagi kembali Tala dapati pagi ini, dari wajah pria yang kini tengah mengantarnya ke Janitra setelah sebelumnya mengantar Sansa.

“Mas Geza, are you okay?” tanya Tala.

“Yeah, of course.”

“Kamu bisa cerita kalau lagi pusing,” ujar Tala lembut.

“All good. Biasalah, urusan perusahaan Nadira,” Ge
Sora Carita

Om Eja mikirin apa kamu? sini curhat

| 5
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (6)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
Ahahah trabas aja trabas jangan di tabung2 besok ada lagi kok ...
goodnovel comment avatar
wd_shinoda
Dahlah.. gak tau nih mo bela geza atau menenangkan Tala..
goodnovel comment avatar
Adfazha
Hayo geza mo tlp Tala yaa hm Reza yg ketar ketir deh liat wajah tala yg getir
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Sebelum Tiga Tahun   218- Anniversary

    Tala kembali mematut dirinya di depan cermin. Gaun hitam panjang dengan potongan mengikuti lekuk tubuhnya jatuh hingga mata kaki, dengan slit yang membelah salah satu sisinya. Ia memasangkannya dengan heels hitam sederhana dan anting kecil yang berkilau samar.Rambutnya dibiarkan tergerai di satu sisi bahu ditambah polesan lipstik merah gelap di bibirnya. Tala sedikit lebih berani dari biasanya. Pas untuk malam anniversary mereka.Geza mengajaknya dinner di Étoile—tempat yang dulu pernah ia rancang untuk makan malam sekaligus menyatakan perasaannya kepada Tala. Sayangnya, rencana itu gagal total karena fakta pemecatan itu terlanjur terbongkar.Sedikit miris kalau mengingatnya sekarang.Geza masih dalam perjalanan dan seharusnya sebentar lagi sampai. Namun, lima belas menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, pria itu belum juga muncul dan pesan Tala pun belum dibalas.Tentu saja Tala mulai resah.Sejak memergoki Geza dan Kinan di gelato beberapa hari lalu, sedikit banyak ia memang sang

  • Sebelum Tiga Tahun   217- Partner Legend

    Jika dihitung-hitung kejadian penjambretan itu sudah terlewat beberapa waktu lamanya, namun Geza masih cukup posesif dan ditambah lagi beberapa hari ini ia selalu terlihat gusar. Kegusaran yang sama lagi-lagi kembali Tala dapati pagi ini, dari wajah pria yang kini tengah mengantarnya ke Janitra setelah sebelumnya mengantar Sansa. “Mas Geza, are you okay?” tanya Tala. “Yeah, of course.” “Kamu bisa cerita kalau lagi pusing,” ujar Tala lembut. “All good. Biasalah, urusan perusahaan Nadira,” Geza melirik sekilas lalu kembali fokus pada hiruk pikuk kemacetan karena lampu merah. “Dan Meridian?” tebak Tala. Geza menoleh. Ada jeda singkat sebelum ia bertanya, “You know?” “Aku tahu dari Pak Suwandi.” Geza hanya mengangguk. Kali ini ia tak mengatakan apa-apa. Tangannya justru terulur meraih jemari Tala, menggenggamnya erat, sementara tangan satunya tetap mengetuk-ngetuk setir sambil menunggu lampu merah berganti. “Mas, nanti malam kamu pulang larut?” “Belum tahu. Harusnya sih nggak.

  • Sebelum Tiga Tahun   216- Pretty Storyteller

    Dalam konsorsium ini, Geza memang harus sering bekerja sama dengan Kinan. Tala paham itu. Ia juga tahu bagaimana Geza biasanya begitu menjaga batasan—setidaknya, itulah yang selama ini sering Tala lihat. Namun belakangan, Geza seperti mulai pasrah saja ketika Kinan mengikutinya ke mana-mana atau mengajaknya pergi. Sejak kapan tepatnya? Mungkin sejak ulang tahun Sansa. Sehari setelah perayaan itu, Kinan datang ke rumah membawa kado besar untuk Sansa, berupa replika rumah barbie. Geza yang biasanya cukup menjaga jarak justru terlihat biasa saja dan seolah menerima kehadiran Kinan di sana. Memang, basa-basi mereka tetap dilakukan di depan Tala. Namun, tetap saja Tala merasa tidak nyaman. Apalagi, selalu ada saja obrolan yang menyerempet masa lalu—tentang bagaimana dulu mereka begitu solid dan saling memahami. Sungguh, Tala sudah membuang jauh-jauh pikiran negatif dan rasa cemburunya untuk menghadapi meeting pagi tadi. Tapi melihat Geza dan Kinan makan siang bersama, ditambah satu ti

  • Sebelum Tiga Tahun   215- Meeting Bersama

    Enam tahun lalu, Tala bertemu Geza di sebuah proyek township. Sebuah kebetulan yang jelas bukan pertemuan dengan kesan baik.Kala itu, Geza termasuk yang paling getol mengkritisi pekerjaan Tala—bahkan sesekali merembet ke hal-hal remeh yang bersifat personal. Tala sendiri sudah bukan junior, meski belum bisa disebut senior, ketika bergabung dalam proyek tersebut setelah memenangkan kompetisi yang diadakan konsultannya.Yang paling membuat Tala kesal, Geza selalu berhasil membuatnya merasa kemampuannya diremehkan dan dirinya terintimidasi. Kebencian itu makin kuat karena sejak awal bertemu sebagai sesama ipar, ia memang sudah kehilangan respek padanya. Selain karena Alleya, tentu juga karena mulut tajam dan arogannya.Dan pagi ini, ia kembali bertemu Geza dalam sebuah proyek—dengan status yang bukan lagi sekadar adik ipar kakaknya yang menyebalkan, melainkan suami. Ditambah sepaket dengan orang dari masa lalunya juga. Kinan.Mereka punya agenda meeting bersama.Tala meneguk air minumnya

  • Sebelum Tiga Tahun   214- Sebuah Kemewahan

    Rumah singgah itu berlokasi tak jauh dari rumah mereka. Tepatnya di sebuah rumah tua milik kenalan Tala, dengan halaman yang luas dan satu pohon beringin yang tumbuh rimbun di tengahnya. Anak-anak jalanan datang ke sana tiga kali seminggu, kadang sampai empat kali jika ada yang mengisi kegiatan. Dulu, ketika Tala masih menganggur, ia cukup sering menghabiskan waktunya di tempat itu. Semua goodie bag yang Tala siapkan bersama “antek-antek Geza” sudah diangkut lebih awal oleh driver. Dibungkus dengan plastic wrap hijau sage dan ditata begitu cantik, semuanya khas Tala yang selalu menyukai estetika. Acara berjalan lancar. Dibuka dengan sesi mendongeng, menyanyi dan tiup lilin lalu ditutup dengan penampilan badut. Jauh lebih sederhana dibandingkan tahun lalu. Di tengah acara, Bude Sinta juga sempat melakukan panggilan video. Ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena anaknya kembali masuk rumah sakit. Selebihnya, semua berjalan lancar dan aman. Sampai kedatangan Dharma dan Ratna mengac

  • Sebelum Tiga Tahun   213- Kekhawatiran Geza

    Semua omongan Bastian kemarin masih bercokol di kepala Geza. Haruskah ia berhenti dari permainan ini? Tidak. Sejak kecil, Geza diajarkan satu prinsip sederhana : kalau sudah memilih untuk bermain, permainan itu harus diselesaikan sampai akhir. Menang atau kalah. Sebab berhenti di tengah permainan bukan berarti masalahnya selesai. Ia tidak akan pernah benar-benar bebas sebelum menang di papan catur yang ia susun itu. Kalau begitu, untuk apa mundur? Tapi dengan Tala yang ditempatkan jadi kelemahannya jelas ia banyak berpikir ulang. Dalam catur ada pilihan lain sebetulnya. Remis. Permainan berakhir, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun masalahnya bisakah lawannya menerima akhir yang seperti itu? “Mas Ejaaa...” Tala mengibaskan tangan di depan wajah Geza. Keningnya berkerut, jelas bingung melihat suaminya yang sejak tadi tampak melamun. “Kenapa sih kamu? Ada masalah?” tanyanya. “Nggak, kok. Saya cuma lagi mikir kalau misal bingkisannya ditambah gimana,” kilah Geza asal. “Dit

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status