홈 / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 215- Meeting Bersama

공유

215- Meeting Bersama

작가: Sora Carita
last update 게시일: 2026-10-06 09:25:22
Enam tahun lalu, Tala bertemu Geza di sebuah proyek township. Sebuah kebetulan yang jelas bukan pertemuan dengan kesan baik.

Kala itu, Geza termasuk yang paling getol mengkritisi pekerjaan Tala—bahkan sesekali merembet ke hal-hal remeh yang bersifat personal. Tala sendiri sudah bukan junior, meski belum bisa disebut senior, ketika bergabung dalam proyek tersebut setelah memenangkan kompetisi yang diadakan konsultannya.

Yang paling membuat Tala kesal, Geza selalu berhasil membuatnya merasa kemamp
Sora Carita

Nah lho, tiati Om Eja ntar gak dikasih jatah sama tata

| 8
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (5)
goodnovel comment avatar
wati
kamu main api za
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
lagi empet sama suami..giliran baca ceritanya yg bikin jengkel juga..hadeehhh
goodnovel comment avatar
Ayra Arsyifa M
Sabaar ya Ta,,,suamimu masih digilai kinan,jd hrs kuat mental krn bakal sering dibikin cemburu
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sebelum Tiga Tahun   219- Geza dan Mabuknya

    Pengaruh alkohol mulai terasa. Geza semakin limbung dan kesadarannya perlahan mengabur, meski ia masih bisa merespons Tala. Pada akhirnya, Tala memutuskan membawa suaminya pulang ke apartemen.Tala sendiri hanya minum dua gelas wine, jadi ia masih cukup mampu mengendalikan diri. Meski harus meminta bantuan security, ia akhirnya berhasil membawa Geza naik ke unit mereka.Begitu didudukkan di sofa, Geza kembali meracau. “Kamu ngajak saya bercinta di sini?”Tala menghela napas, antara geli dan kewalahan. “Udah, ya. Stop. Kamu mabuk. Mending istirahat.”Namun, alih-alih menurut, Geza justru menarik tangan Tala hingga perempuan itu terduduk di sisinya. Jemarinya kemudian bergerak menyusuri wajah Tala, dari sudut matanya, turun ke hidung, hingga berhenti di bibirnya.“Kamu cantik banget, Ta. Selalu cantik dari dulu sampai sekarang. Sampai tua nanti pun, kamu akan tetap cantik.” rentetan pujian Geza yang sedang mabuk itu ternyata masih cukup sukses membuat Tala merona.Jempol Geza mengusap l

  • Sebelum Tiga Tahun   218- Anniversary

    Tala kembali mematut dirinya di depan cermin. Gaun hitam panjang dengan potongan mengikuti lekuk tubuhnya jatuh hingga mata kaki, dengan slit yang membelah salah satu sisinya. Ia memasangkannya dengan heels hitam sederhana dan anting kecil yang berkilau samar.Rambutnya dibiarkan tergerai di satu sisi bahu ditambah polesan lipstik merah gelap di bibirnya. Tala sedikit lebih berani dari biasanya. Pas untuk malam anniversary mereka.Geza mengajaknya dinner di Étoile—tempat yang dulu pernah ia rancang untuk makan malam sekaligus menyatakan perasaannya kepada Tala. Sayangnya, rencana itu gagal total karena fakta pemecatan itu terlanjur terbongkar.Sedikit miris kalau mengingatnya sekarang.Geza masih dalam perjalanan dan seharusnya sebentar lagi sampai. Namun, lima belas menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, pria itu belum juga muncul dan pesan Tala pun belum dibalas.Tentu saja Tala mulai resah.Sejak memergoki Geza dan Kinan di gelato beberapa hari lalu, sedikit banyak ia memang sang

  • Sebelum Tiga Tahun   217- Partner Legend

    Jika dihitung-hitung kejadian penjambretan itu sudah terlewat beberapa waktu lamanya, namun Geza masih cukup posesif dan ditambah lagi beberapa hari ini ia selalu terlihat gusar. Kegusaran yang sama lagi-lagi kembali Tala dapati pagi ini, dari wajah pria yang kini tengah mengantarnya ke Janitra setelah sebelumnya mengantar Sansa. “Mas Geza, are you okay?” tanya Tala. “Yeah, of course.” “Kamu bisa cerita kalau lagi pusing,” ujar Tala lembut. “All good. Biasalah, urusan perusahaan Nadira,” Geza melirik sekilas lalu kembali fokus pada hiruk pikuk kemacetan karena lampu merah. “Dan Meridian?” tebak Tala. Geza menoleh. Ada jeda singkat sebelum ia bertanya, “You know?” “Aku tahu dari Pak Suwandi.” Geza hanya mengangguk. Kali ini ia tak mengatakan apa-apa. Tangannya justru terulur meraih jemari Tala, menggenggamnya erat, sementara tangan satunya tetap mengetuk-ngetuk setir sambil menunggu lampu merah berganti. “Mas, nanti malam kamu pulang larut?” “Belum tahu. Harusnya sih nggak.

  • Sebelum Tiga Tahun   216- Pretty Storyteller

    Dalam konsorsium ini, Geza memang harus sering bekerja sama dengan Kinan. Tala paham itu. Ia juga tahu bagaimana Geza biasanya begitu menjaga batasan—setidaknya, itulah yang selama ini sering Tala lihat. Namun belakangan, Geza seperti mulai pasrah saja ketika Kinan mengikutinya ke mana-mana atau mengajaknya pergi. Sejak kapan tepatnya? Mungkin sejak ulang tahun Sansa. Sehari setelah perayaan itu, Kinan datang ke rumah membawa kado besar untuk Sansa, berupa replika rumah barbie. Geza yang biasanya cukup menjaga jarak justru terlihat biasa saja dan seolah menerima kehadiran Kinan di sana. Memang, basa-basi mereka tetap dilakukan di depan Tala. Namun, tetap saja Tala merasa tidak nyaman. Apalagi, selalu ada saja obrolan yang menyerempet masa lalu—tentang bagaimana dulu mereka begitu solid dan saling memahami. Sungguh, Tala sudah membuang jauh-jauh pikiran negatif dan rasa cemburunya untuk menghadapi meeting pagi tadi. Tapi melihat Geza dan Kinan makan siang bersama, ditambah satu ti

  • Sebelum Tiga Tahun   215- Meeting Bersama

    Enam tahun lalu, Tala bertemu Geza di sebuah proyek township. Sebuah kebetulan yang jelas bukan pertemuan dengan kesan baik.Kala itu, Geza termasuk yang paling getol mengkritisi pekerjaan Tala—bahkan sesekali merembet ke hal-hal remeh yang bersifat personal. Tala sendiri sudah bukan junior, meski belum bisa disebut senior, ketika bergabung dalam proyek tersebut setelah memenangkan kompetisi yang diadakan konsultannya.Yang paling membuat Tala kesal, Geza selalu berhasil membuatnya merasa kemampuannya diremehkan dan dirinya terintimidasi. Kebencian itu makin kuat karena sejak awal bertemu sebagai sesama ipar, ia memang sudah kehilangan respek padanya. Selain karena Alleya, tentu juga karena mulut tajam dan arogannya.Dan pagi ini, ia kembali bertemu Geza dalam sebuah proyek—dengan status yang bukan lagi sekadar adik ipar kakaknya yang menyebalkan, melainkan suami. Ditambah sepaket dengan orang dari masa lalunya juga. Kinan.Mereka punya agenda meeting bersama.Tala meneguk air minumnya

  • Sebelum Tiga Tahun   214- Sebuah Kemewahan

    Rumah singgah itu berlokasi tak jauh dari rumah mereka. Tepatnya di sebuah rumah tua milik kenalan Tala, dengan halaman yang luas dan satu pohon beringin yang tumbuh rimbun di tengahnya. Anak-anak jalanan datang ke sana tiga kali seminggu, kadang sampai empat kali jika ada yang mengisi kegiatan. Dulu, ketika Tala masih menganggur, ia cukup sering menghabiskan waktunya di tempat itu. Semua goodie bag yang Tala siapkan bersama “antek-antek Geza” sudah diangkut lebih awal oleh driver. Dibungkus dengan plastic wrap hijau sage dan ditata begitu cantik, semuanya khas Tala yang selalu menyukai estetika. Acara berjalan lancar. Dibuka dengan sesi mendongeng, menyanyi dan tiup lilin lalu ditutup dengan penampilan badut. Jauh lebih sederhana dibandingkan tahun lalu. Di tengah acara, Bude Sinta juga sempat melakukan panggilan video. Ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena anaknya kembali masuk rumah sakit. Selebihnya, semua berjalan lancar dan aman. Sampai kedatangan Dharma dan Ratna mengac

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status