LOGINKurang baking powder kali Ta, makanya bantet wkwkw Tuh tinggal bahagianya aja katanya Ta
Masih pukul tiga atau empat pagi, kalau Tala tak salah membaca angka pada jam di dinding, ketika tangan besar Geza mengusap-usap rambutnya. Sesekali, pria itu bahkan mengecup puncak kepalanya. “Tidur!” Hanya satu kata itu yang meluncur dari mulut Tala untuk merespon. Demi apa pun, Tala malas menanggapi lebih banyak. Seingatnya, ia baru bisa terlelap sekitar pukul satu atau dua dini hari. Mungkin. “Hmm,” gumam pria itu pendek. Aroma sabun yang bersih menyusup samar dari lengan Geza yang menjadi bantalan bagi lehernya. Usapan itu tak kunjung berhenti. Biasanya, Tala akan semakin terbuai, merasa seperti sedang dininabobokan. Tapi kali ini tidak, ia justru ingin berbalik agar bisa menatap Geza. Pria itu sedikit terkejut oleh gerakan spontan istrinya. “Rambut kamu wangi, Ta.” Wajah Geza tampak segar. Rupanya benar, ia baru selesai mandi. Kini Geza melipat satu lengannya, menjadikannya bantalan bagi sisi kepala yang menghadap Tala. Tangan lainnya mendarat di pipi sang istri, mengusa
Tala menatap kembali pria yang kini tertidur pulas di lehernya dengan ekspresi tak percaya. “Mas Geza?” Tak ada jawaban. Ia menggeser wajah sedikit, mencoba melihat ekspresi suaminya. Geza benar-benar sudah terlelap. Napasnya teratur, satu lengannya masih melingkari pinggang Tala. Tala mendecih pelan. “Yang mulai siapa, yang ditinggal siapa.” gerutunya. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi lengan Geza justru mengerat secara refleks. Wajah pria itu kembali merapat ke lehernya. “Ta...” gumamnya nyaris tak terdengar. Tala terdiam. “Jangan pergi.” Dua kata itu keluar begitu pelan hingga Tala hampir mengira dirinya salah dengar. Kekesalan yang tadi memenuhi kepalanya perlahan surut. Ia menatap wajah Geza yang terlelap, lalu menghela napas panjang. Ia usap rambut Geza perlahan, lalu mengecup pelipisnya. “Iya, aku di sini.” Setelah memastikan pria itu kembali terlelap, Tala berusaha mengatur posisi Geza agar lebih nyaman. Barulah ia menyelinap turun dari kasur dan masuk ke kamar ma
Pengaruh alkohol mulai terasa. Geza semakin limbung dan kesadarannya perlahan mengabur, meski ia masih bisa merespons Tala. Pada akhirnya, Tala memutuskan membawa suaminya pulang ke apartemen. Tala sendiri hanya minum dua gelas wine, jadi ia masih cukup mampu mengendalikan diri. Meski harus meminta bantuan security, ia akhirnya berhasil membawa Geza naik ke unit mereka. Begitu didudukkan di sofa, Geza kembali meracau. “Kamu ngajak saya bercinta di sini?” Tala menghela napas, antara geli dan kewalahan. “Udah, ya. Stop. Kamu mabuk. Mending istirahat.” Namun, alih-alih menurut, Geza justru menarik tangan Tala hingga perempuan itu terduduk di sisinya. Jemarinya kemudian bergerak menyusuri wajah Tala, dari sudut matanya, turun ke hidung, hingga berhenti di bibirnya. “Kamu cantik banget, Ta. Selalu cantik dari dulu sampai sekarang. Sampai tua nanti pun, kamu akan tetap cantik.” rentetan pujian Geza yang sedang mabuk itu ternyata masih cukup sukses membuat Tala merona. Jempol Geza mengu
Tala kembali mematut dirinya di depan cermin. Gaun hitam panjang dengan potongan mengikuti lekuk tubuhnya jatuh hingga mata kaki, dengan slit yang membelah salah satu sisinya. Ia memasangkannya dengan heels hitam sederhana dan anting kecil yang berkilau samar.Rambutnya dibiarkan tergerai di satu sisi bahu ditambah polesan lipstik merah gelap di bibirnya. Tala sedikit lebih berani dari biasanya. Pas untuk malam anniversary mereka.Geza mengajaknya dinner di Étoile—tempat yang dulu pernah ia rancang untuk makan malam sekaligus menyatakan perasaannya kepada Tala. Sayangnya, rencana itu gagal total karena fakta pemecatan itu terlanjur terbongkar.Sedikit miris kalau mengingatnya sekarang.Geza masih dalam perjalanan dan seharusnya sebentar lagi sampai. Namun, lima belas menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, pria itu belum juga muncul dan pesan Tala pun belum dibalas.Tentu saja Tala mulai resah.Sejak memergoki Geza dan Kinan di gelato beberapa hari lalu, sedikit banyak ia memang sang
Jika dihitung-hitung kejadian penjambretan itu sudah terlewat beberapa waktu lamanya, namun Geza masih cukup posesif dan ditambah lagi beberapa hari ini ia selalu terlihat gusar. Kegusaran yang sama lagi-lagi kembali Tala dapati pagi ini, dari wajah pria yang kini tengah mengantarnya ke Janitra setelah sebelumnya mengantar Sansa. “Mas Geza, are you okay?” tanya Tala. “Yeah, of course.” “Kamu bisa cerita kalau lagi pusing,” ujar Tala lembut. “All good. Biasalah, urusan perusahaan Nadira,” Geza melirik sekilas lalu kembali fokus pada hiruk pikuk kemacetan karena lampu merah. “Dan Meridian?” tebak Tala. Geza menoleh. Ada jeda singkat sebelum ia bertanya, “You know?” “Aku tahu dari Pak Suwandi.” Geza hanya mengangguk. Kali ini ia tak mengatakan apa-apa. Tangannya justru terulur meraih jemari Tala, menggenggamnya erat, sementara tangan satunya tetap mengetuk-ngetuk setir sambil menunggu lampu merah berganti. “Mas, nanti malam kamu pulang larut?” “Belum tahu. Harusnya sih nggak.
Dalam konsorsium ini, Geza memang harus sering bekerja sama dengan Kinan. Tala paham itu. Ia juga tahu bagaimana Geza biasanya begitu menjaga batasan—setidaknya, itulah yang selama ini sering Tala lihat. Namun belakangan, Geza seperti mulai pasrah saja ketika Kinan mengikutinya ke mana-mana atau mengajaknya pergi. Sejak kapan tepatnya? Mungkin sejak ulang tahun Sansa. Sehari setelah perayaan itu, Kinan datang ke rumah membawa kado besar untuk Sansa, berupa replika rumah barbie. Geza yang biasanya cukup menjaga jarak justru terlihat biasa saja dan seolah menerima kehadiran Kinan di sana. Memang, basa-basi mereka tetap dilakukan di depan Tala. Namun, tetap saja Tala merasa tidak nyaman. Apalagi, selalu ada saja obrolan yang menyerempet masa lalu—tentang bagaimana dulu mereka begitu solid dan saling memahami. Sungguh, Tala sudah membuang jauh-jauh pikiran negatif dan rasa cemburunya untuk menghadapi meeting pagi tadi. Tapi melihat Geza dan Kinan makan siang bersama, ditambah satu ti
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







