ログインMalam ini Tala memasak sendiri untuk makan malam. Dia hanya meminta Bi Yuni menyiapkan bahan-bahannya agar sepulang dari Janitra, ia bisa langsung mengeksekusi semuanya di dapur. Seluruh menu yang ia buat adalah makanan favorit Geza—yang beberapa waktu lalu sempat pria itu kirimkan lewat surel.Tala menyebut ini sebagai bentuk balas budi untuk semua kebaikan Geza. Terlebih soal tindakan pria itu yang pulang dinas lebih awal lalu berakhir mengorbankan waktu istirahat demi membawa Tala ke rumah sakit di pagi buta.“Sansa udah tidur?” tanya Geza begitu Tala membukakan pintu. Hal yang baru pertama kali Tala lakukan dengan sukarela setelah hampir setahun berstatus istri. Ya…walaupun hanya istri kontrak.“Udah tadi. Ayo makan dulu!” ajak Tala.Geza mengekori sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.Di meja makan, semur daging kentang, tempe cabe ijo, sambal, dan beberapa lauk sederhana sudah tertata rapi. Geza menatapnya sekilas, lalu mengangkat alis.“Tumben masakin buat saya. Dalam
“Kemarin adik ipar makan siang bareng sama seniornya. Akrab juga ya, atau emang udah terlalu akrab?”Kalimat nyeleneh itu sukses menghentikan langkah Geza di lobi Janitra.Sebagai GM perusahaan properti kelas kakap seperti Bhuwana, kehadiran Geza di Janitra sebenarnya adalah sebuah anomali. Karena itu ia selalu membungkus kedatangannya dengan alasan makan siang bersama istri. Setelahnya, ia kerap melipir ke ruangan Suwandi untuk diskusi.Namun di kalangan direksi dan pemangku kepentingan, semua sudah paham. Geza adalah penggerak di balik layar dan punya pengaruh banyak di Janitra. Label licik, manipulatif dan kurang ajar jelas sudah lama melekat padanya—dan Geza tak pernah merasa perlu membantah satu pun.“Ngajak makan siang? Kecolongan start lo, Tala udah makan.” Raga masih ingin bermain-main.Geza hanya menyeringai tipis. Ia malas meladeni kakak tirinya terlalu lama. Sejak kecil mereka tidak pernah akur, dan sepertinya itu tidak akan pernah berubah.“Thanks for the info.”“Congrats
Sejak perayaan ulang tahun di preschool, kado terus berdatangan dari kerabat terdekat, termasuk kiriman dari Dharma dan Ratna. Bahkan, mereka sempat datang langsung ke rumah dengan dalih menjenguk, namun berakhir dengan basa-basi yang dingin dan ancaman halus mengenai status nikah kontrak Tala.Yang tidak Tala duga, Adrian juga ikut memberikan kado. Ia memang selalu baik pada semua orang, tapi ada sesuatu yang membuat hati Tala sedikit hangat melihat caranya memperhatikan Sansa—padahal mereka baru bertemu satu kali.Sebagian kecil dari dirinya sempat merasa senang, bahkan bisa dibilang ‘geer’. Tapi ia buru-buru menepisnya. Ada tembok besar yang jelas berdiri di sana.“Tala.”Panggilan itu membuatnya tersentak dari lamunan. Ia baru sadar sejak tadi menatap bingkisan berwarna merah muda di atas meja.“Titip ya, Ta. Buat Sansa,” ujar Adrian sambil menyodorkan paper bag itu sedikit lebih dekat.“Oh iya, Thank you, Kak. Sampai repot-repot gini.”“Sama sekali gak repot, cuma aku gak tau pre
Geza adalah si manipulatif yang tak punya hati. Begitulah yang selalu ada di benak Tala. Namun interaksi dan perlakuannya pada Sansa selalu membuat Tala goyah, membuat Tala lupa kalau pria itu berbahaya.Dua hari lalu ia begitu bersemangat menyiapkan perayaan ulang tahun untuk Sansa, menyiapkan dekor yang begitu cantik dan semua perintilannya sesuai permintaan Sansa. Ia melakukannya sendiri.Sendiri.Hal yang tak mungkin dilakukan seorang Geza.Ulang tahun Sansa yang kedua jatuh tepat tujuh hari setelah meninggalnya Arka dan Jani. Tak ada perayaan apa pun. Saat itu semua orang masih sibuk berduka dan menghadapi trauma Sansa.Karena itu, tahun ini Geza ingin merayakannya dengan meriah. Selain untuk menyenangkan Sansa, perayaan besar juga bisa menjadi publikasi yang baik bagi keluarga mereka.Sangat manipulatif bukan? Selalu mengambil manfaat dari setiap hal.Sebaliknya, Tala lebih memilih acara yang sederhana dan privat. Baginya, yang terpenting adalah memastikan Sansa benar-benar meni
“Kenapa lagi kalian?” tanya Bastian jengah. Matanya bergantian menatap Geza dan Tala yang sejak tadi hanya saling diam.Di ruang privat restoran sushi itu, ia baru saja menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk menjelaskan proses banding Dharma. Sebagian besar istilah hukumnya hanya lewat begitu saja di kepala Tala.“Nggak apa-apa, Mas,” jawab Tala cepat sambil merapikan posisi duduknya. “Ayo dilanjut.”Bastian mengembuskan napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya lebih santai.“Ayah tersayang kalian tuh harus diwaspadai,” ujar Bastian. “Kayaknya dia nggak akan bergantung sama satu jalur. Kalau perlu dia bakal bangun opini, cari amunisi tambahan, lobi orang yang tepat, sampai mainin isu reputasi perusahaan dan keluarga buat menekan posisi kalian.”Tala tidak langsung bereaksi. Namun jemarinya yang memegang gelas sedikit mengencang. Ia hampir lupa bahwa Sansa masih belum sepenuhnya aman. Selama beberapa waktu terakhir semuanya terasa lebih tenang. Sampai-sampai ia mulai percaya kalau Dh
"Ta, gimana rasanya tidur seranjang sama Geza tiap hari? Bikin naluri biologis lo bergejolak nggak?"Pertanyaan paling absurd itu sebenarnya tidak memengaruhi Tala. Hanya saja, cukup mengganggu ketika Geza duduk anteng di sebelahnya—tidak menyebalkan, tidak cari perkara seperti malam ini.Tumben sekali ia tidak melanjutkan perdebatan yang belum usai saat jam makan siang tadi—soal kehadiran Adrian di site. Biasanya Geza akan menyimpan kekesalannya lalu membuka topik yang sama lagi sampai merasa puas. Padahal perdebatan mereka saat itu baru saja memanas sebelum terpotong oleh Sansa yang merengek minta disuapi es krim.“Gimana site udah kondusif?” pria itu buka suara.Tala yang sedang berusaha memfokuskan diri pada laporan progres proyek di laptopnya mengangkat wajah. Selain karena Geza sedang anteng malam ini, aroma sabun sehabis mandi yang masih menempel pada pria itu entah kenapa cukup mengganggu konsentrasinya.Ia pun bergeser sedikit. “Material udah aman.”“Saya tahu.”Tala langsun
Siang itu terasa sangat melelahkan bagi Tala. Setelah berjam-jam berkutat dengan setumpuk pekerjaan Janitra yang ia kerjakan secara remote dari rumah, ia merasa otaknya hampir berasap. Ditambah lagi, beberapa hari terakhir ia terus dihadapkan dengan banyak konfrontasi, dan yang paling alot jelas ad
Suasana kantor di lantai itu mendadak hening begitu Geza melangkah menuju ruang privat dengan aura dominan yang bagi Tala sangat menyebalkan. Para karyawan perempuan yang dilewatinya seketika membeku, mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik pria itu dengan tatapan nyaris memuja. Tala hanya menatap
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang kerja Geza adalah satu-satunya tempat yang masih bercahaya di rumah itu, menyisakan kesunyian yang mencekik. Geza duduk di balik meja mahoninya, jemarinya memutar pena dengan ritme yang monoton, sementara matanya tajam mencoret anggaran salah satu proyek Ja
Geza tidak langsung bergerak. Ia membiarkan jemarinya menangkup dagu Tala, menahan wajah itu agar tetap terkunci dalam pandangannya. Napas Geza yang hangat menyapu permukaan bibir Tala, meruntuhkan pertahanan wanita itu seketika.Mata Tala semakin terpejam rapat. Jantungnya berdegup liar, memukul ru







