Home / Rumah Tangga / Sehangat Dekapan Mantan / 03| Sebuah Pengakuan Malam

Share

03| Sebuah Pengakuan Malam

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2025-12-10 09:54:33

"Bli, Arak Attacknya satu lagi, ya."

Itu adalah gelas ketiga Raya malam ini. Ditemani suasana malam Bali yang menyejukkan, ia duduk di atas beanbag besar yang mengarah langsung ke arah pantai. 

Suara musik house yang diputar dengan volume rendah dari speaker tersembunyi, bersyukur karena di lantai dasar hotel yang ia tempati, terdapat sebuah beach club eksklusif yang bisa dikunjungi khusus untuk tamu hotel yang menginap.

Jadi, setelah setengah hari sia-sia mencoba berselancar dan berniat pergi berbelanja baju baru, Raya memutuskan untuk memulai malam dengan cara yang lebih efektif: meminum minuman beralkohol keras dan melupakan semuanya terlebih dahulu.

Salah satu alasan mengapa ia menyukai Bali adalah karena di sini, tak akan ada yang menatapnya aneh. 

Semuanya tampak asing dalam kesendirian masing-masing. Seorang wanita yang mabuk seorang diri dengan tatapan kosong yang mengarah ke lautan lepas hanyalah pemandangan biasa. Begitu sempurna untuk pelariannya.

Dengan pandangan yang sudah mulai kabur dan berputar, Raya menopang dagunya dengan tangan yang lemas, melamun dengan mata yang terpejam. 

Ia mencoba menikmati musik pelan yang terdengar mengalun bersama desiran angin malam, mencoba menenggelamkan semua kebisingan di kepalanya.

Dan saat ia merasakan kehadiran seseorang yang mendekat, Raya kembali membuka matanya, berharap bahwa itu adalah pesanan gelas ketiganya. Harapan itu seketika pupus. Bukan waiter yang datang, melainkan sosok tampan lainnya.

"Hm?" Raya bergeming, menyipitkan matanya yang sulit fokus, menatap sosok itu. 

Sosok yang semakin malam terlihat semakin tampan di balik celana pendek linen dan kemeja lengan pendek berwarna hitam yang sedikit terbuka di bagian dada. "Kamu lagi?"

Hembusan napas panjang yang terdengar seperti campuran antara kesal dan khawatir terdengar dari Jagara. Sebelum sosok itu mendaratkan dirinya di beanbag di sebelahnya, lebih tepatnya. 

Matanya menatap ke arah depan, ke lautan gelap yang hanya diterangi cahaya bulan, sebelum kembali beralih ke arah Raya yang masih memandangnya dengan tatapan kosong.

"Wah, sekarang tuh orang bisa dateng cuman karna kita pikirin, ya?" Raya meracau, kadar alkohol dalam darahnya sudah mulai melebihi kapasitasnya. 

Ia tertawa. Tertawa geli yang terdengar aneh dan tidak wajar, diakhiri dengan tetesan air mata yang tak terelakkan jatuh membasahi pipinya. 

Ia menyandarkan punggungnya ke beanbag dan memejamkan mata, membiarkan angin malam kembali membelai lembut kulitnya.

Sementara Jagara, yang masih belum mengatakan apapun, hanya terdiam di sisinya. 

Kedua tangannya bertumpu di atas pahanya, seakan sedang menimbang beratnya situasi aneh ini. Ia tahu, ada yang tidak beres. Sikap Raya yang terlalu berlebihan, mata yang sembab, dan cara bicaranya yang tidak karuan—semua itu adalah tanda-tanda bahaya.

Sampai ketika seorang waiter mendekat dengan nampan di tangannya, berniat meletakkan pesanan Raya, Jagara baru secepat kilat meraih gelas dengan berisi cairan bening yang terlihat memabukkan itu. 

Membuat Raya yang sudah antusias meraihnya hanya bisa mematung dengan wajah memelas saat Jagara tanpa ampun menenggak habis isi di dalamnya dalam sekali teguk.

"Gara... minuman aku!" gerutu Raya, suaranya seperti anak kecil yang mainannya diambil.

Jagara mengusap mulutnya dengan punggung tangan kasar, sedikit meringis karena rasa alkohol yang kuat. 

Ia meletakkan gelas kosong itu ke atas meja kecil di sebelahnya dengan sedikit hentakan. Kemudian, pandangannya menatap sepenuhnya ke arah Raya, sorot matanya kini berubah menjadi lebih tajam, lebih serius.

"Saya tahu ada yang gak beres dari awal kita ketemu di lobi hotel," katanya, suaranya rendah namun penuh dengan ancaman. 

Jagara menelan ludah, urat-urat di lehernya yang terlihat tegang menandakan pertarungan batin yang hebat. Ia seakan menahan amarah yang ingin meluap. 

"Kasih tau saya, kamu kesini sama siapa?"

Sebelum menjawab, Raya kembali cengengesan di tempatnya. Tangannya kembali ia pakai untuk menopang dagunya, menatap Jagara dengan senyuman masam. "Kenapa?”

"Menurut kamu?" Jagara bertanya balik, nada suaranya naik setengah oktaf, penuh dengan sarkasme.

Dan saat pertanyaan itu terdengar, Raya justru berdecih, "Kenapa harus sok khawatirin aku disaat kamu sebentar lagi nikah?"

Jedutan kecil terlihat di rahang Jagara. Ia menunduk, menahan amarahnya yang entah mengapa ingin kembali meluap karena kalimat Raya yang menyakitkan itu. Sebelum kembali menatap Raya lekat, matanya menyala-nyala. 

"Mana ponsel kamu? Saya akan hubungi suami kamu dan minta dia untuk kesini jemput kamu."

Sontak, Raya menggeleng. Gelengan yang begitu kuat dengan bibir manyunnya.

"Aku lagi proses cerai, Gara."

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Raya yang mabuk. Terasa begitu jujur, dan hancur. "Jadi kayaknya aku gak bisa dateng ke nikahan kamu, karna aku gak punya siapa-siapa untuk diajak."

Jagara mematung. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Matanya tak lepas dari wajah Raya yang pucat dan basah. Di dalam dadanya, ada ledakan yang tidak bersuara. Perasaan yang campur aduk antara sakit, marah, dan sebuah perasaan asing yang mirip dengan… lega? 

Tidak, bukan lega.

Ini lebih mirip dengan sebuah kebenaran yang pahit yang akhirnya terkuak. 

Keputusannya yang ia anggap sebagai pengkhianatan tujuh tahun lalu, ternyata tidak membawanya pada bahagia. Ia meninggalkannya demi seorang pria yang 'sempurna', tapi pria itu justru yang menghancurkannya. 

Rasa sakit itu kembali, menusuk-nusuk dengan lebih kejam.

"Jadi kamu ninggalin saya," Jagara mulai berbicara lagi, suaranya terdengar sangat tertekan, "hanya untuk berakhir seperti ini?"

Raya tak menjawab. Mata wanita itu kini terpejam sepenuhnya di atas topangan dagunya, seolah kekuatannya benar-benar habis. 

Ia membiarkan Jagara kepanasan sendirian dengan pertanyaannya yang menggantung di udara.

"Raya, jawab saya." Kali ini, Jagara mencengkram kedua lengan Raya dengan kuat, berusaha menyadarkan wanita di hadapannya dan membuat mata Raya menatapnya dengan lesu. "Kamu meninggalkan saya, memilih dia, hanya untuk mabuk seperti ini di pantai sendirian?"

Dan ya, Raya hanya menatapnya kosong. Sebelum dengan senyuman manisnya yang tiba-tiba muncul di wajah pucatnya, tangan Raya diulurkan dengan pelan. 

Mengusap wajah Jagara yang begitu dekat dengannya, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulitnya yang hangat. Hingga tanpa sadar, tetesan air mata Raya kembali tumpah.

"Kapan kamu berubah jadi setampan ini, hm?" bisiknya lirih.

Dan kemudian, sepenuhnya, seolah semua kekuatan yang tersisa telah sirna, tubuh Raya lunglai. Ia jatuh ke dalam dekapan Jagara, pingsan.

Jagara terdiam di posisinya, menahan tubuh Raya yang lemas di dalam pelukannya. Napasnya terengah-engah. Ia bisa mencium bau rambut Raya yang tercampur dengan aroma alkohol dari napasnya. 

Ia bisa merasakan berat tubuhnya, tubuh yang pernah sangat ia kenal. Dan di tengah suara ombak dan musik yang mengalun, Jagara hanya bisa terdiam dengan rahang yang mengeras, dilanda badai emosi yang tak bisa ia kendalikan.



Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   109| Tidak Mau Ambil Resiko

    Taksi biru itu berhenti tepat di depan lobi utama Kinara Motors. Mesin masih menyala, jarum jam di dashboard berdetak pelan seiring Raya yang belum juga membuka pintu. Ia duduk diam di kursi belakang, punggungnya bersandar, pandangannya kosong menembus kaca depan yang memantulkan gedung tinggi berlapis kaca itu.Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling bertaut erat. Ia menghela napas panjang—menahannya sejenak di dada—lalu mengembuskannya perlahan, seolah berusaha menurunkan gemuruh yang masih tersisa sejak pertemuannya dengan Ratna pagi tadi. Ada rasa berat yang belum sepenuhnya luruh, menggantung di antara tulang rusuknya.Setelah merasa cukup stabil, Raya akhirnya turun. Dua plastik bening berisi makanan ia tenteng dengan hati-hati, langkahnya pelan namun pasti memasuki lobi Kinara Motors yang selalu tampak hidup. Kilau marmer, derap langkah para karyawan, dan suara samar percakapan bisnis menjadi latar yang kontras dengan isi kepalanya yang riuh.Belum sempat Raya membuka

  • Sehangat Dekapan Mantan   108| Dua Pilihan

    Suasana coffee shop yang berada di lantai utama lobi rumah sakit pagi itu cukup ramai. Aroma kopi bercampur dengan wangi disinfektan yang samar. Para pengunjung berlalu-lalang, beberapa mengenakan jas dokter, sebagian lain keluarga pasien dengan wajah lelah yang tak sempat disembunyikan.Raya memilih posisi duduk yang agak menjauh dari pusat keramaian. Meja kecil di sudut dekat jendela kaca besar, cukup tersembunyi untuk percakapan yang tak ingin didengar orang lain. Raya menegakkan posisi duduknya. Punggungnya lurus, bahunya sedikit tegang. Kedua tangannya tertata rapi di atas paha, jemarinya saling bertaut untuk menahan getaran halus yang tak bisa sepenuhnya ia kendalikan. Jas dokternya rapi, nametag masih tergantung di saku dada, seolah ia sedang bersiap menghadapi pasien—bukan ibu dari lelaki yang paling ia cintai.Di hadapannya, duduk berseberangan, Ratna sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya. Sikapnya tenang, terlatih, nyaris terlalu terkendali. Tak ada sisa amarah meledak-leda

  • Sehangat Dekapan Mantan   107| Tamu Tak Diundang

    Raya duduk di kursi penumpang mobil hitam Jagara, tubuhnya masih terasa dingin meski mesin mobil telah lama menyala. Mereka belum bergerak. Masih di depan rumah besar itu, rumah yang barusan mengukir luka baru di dada Raya.Jagara berdiri di luar sesaat, lalu kembali masuk. Tangannya sigap menarik tisu dari dashboard, mengusap wajah Raya dengan gerakan yang terlalu hati-hati, seolah takut sentuhan kecil saja bisa membuat wanita itu runtuh. Air masih menetes dari ujung rambut Raya, membasahi jas yang kini menutupi bahunya.“Kamu tidak apa-apa?” Entah sudah pertanyaan keberapa.Raya sendiri sudah berhenti menghitung. Yang ia tahu, sorot mata Jagara penuh kecemasan, rasa panik yang ditahan, amarah yang dikurung rapat-rapat agar tak meledak. Ibu jari lelaki itu mengusap pipi Raya berulang, seakan memastikan bahwa wanita di hadapannya benar-benar nyata, tidak hancur.Sesak di dadanya terasa menyakitkan. Namun Raya tetap memaksakan senyum kecil. Ia menatap wajah Jagara, wajah yang selalu be

  • Sehangat Dekapan Mantan   106| Makan Malam

    Sejak pagi buta, Raya sudah terjaga.Matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar, sementara tubuhnya terasa berat seolah belum benar-benar kembali dari mimpi yang tak selesai. Detak jantungnya berpacu, cepat dan tak beraturan, seiring ingatan yang berulang-ulang menyeretnya pada sebuah notifikasi yang kemarin siang sempat ia lihat sekilas di ponsel Jagara.Satu nama yang membuat dadanya langsung sesak.Mama.Pesan itu singkat, rapi, dan terasa dingin meski ditulis dengan kata-kata yang tampak biasa.Haruskah Mama tahu kabar perpisahan kamu dan Kirani dari media? Makan malam di rumah malam ini. Ada yang ingin Mama tanyakan.Raya ingat betul bagaimana jarinya sempat gemetar saat membaca baris demi baris itu dari balik bahu Jagara. Tidak ada nada marah yang kentara, justru itulah yang membuatnya semakin menyesakkan. Pesan yang terdengar seperti undangan, tapi terasa lebih mirip panggilan sidang.Sore itu juga, Jagara tak butuh waktu lama untuk memutuskan. Ia menatap layar ponselnya

  • Sehangat Dekapan Mantan   105| Pesan Masuk

    Lift bergerak turun dengan dengung halus, membawa Raya dan Jagara menuju parkiran basement. Di dalam ruang sempit berlapis kaca itu, tangan mereka saling bertaut. Raya tersenyum kecil, matanya memantul pada bayangan mereka berdua. Ia sudah berganti pakaian kerja, setelan rapi yang membuatnya tampak segar meski jadwal padat menanti. Untungnya hari ini ia mendapat shift siang. Hal itu yang membuat Jagara bersikeras mengantarnya lebih awal, dengan alasan yang terdengar santai namun tak bisa dibantah: sekalian ia ingin langsung ke kantor.Pintu lift terbuka perlahan. Jagara menarik tangan Raya dengan lembut, menuntunnya keluar menuju area parkiran bertanda VIP. Deretan mobil mewah berjajar rapi, sebagian besar asing di mata Raya. Yang dikenalnya hanya mobil hijau tua Jagara dan sebuah sedan hitam yang terparkir tak jauh. Raya sudah melangkah ke arah mobil hijau itu ketika sebuah kilatan lampu menarik perhatiannya. Sebuah Jeep Wrangler hitam, gagah, berdiri di ujung parkiran.Jagara meli

  • Sehangat Dekapan Mantan   104| Gagalnya Rencana

    Sebenarnya, begitu banyak permasalahan yang ada di kepala Raya saat ini. Ia ingin menceritakan desas-desus yang mulai beredar di rumah sakit, tentang bagaimana beberapa kolega menatapnya dengan pandangan aneh, tentang seorang pasien yang bahkan bertanya apakah ia benar seorang selingkuhan. Ia ingin meluapkannya semua, membagi beban itu pada Jagara. Tapi kemudian, ia ingat perjuangan yang sejauh ini sudah lelaki itu berikan untuk melindunginya, ancaman Ardava, konfrontasi dengan Kirani, bahkan pembatalan pertunangan yang pasti mengguncang dunianya. Mengingat semua itu, Raya memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Ia yakin, permasalahan yang kini sedang dihadapi lelaki itu jauh lebih besar dan berat.Tapi lihat bagaimana Jagara sekarang memperlakukannya. Dengan gerakan lembut yang hampir tidak percaya, lelaki itu meletakkan sepasang sandal rumah berwarna pink muda di hadapan Raya, sebuah kontras yang mencolok dengan pria berwibawa sepertinya.Mereka baru saja tiba di apartemen utama Ja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status