Share

19| Love Hangeover

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2025-12-14 16:04:52

"Buka celana kamu."

Suara Raya, serak dan penuh penekanan, menembus keheningan malam di area parkir belakang gedung. Mata Jagara yang semula menatap lampu depan mobil yang sudah mati, sontak membulat.

Permintaan itu terasa seperti sambaran petir di tengah udara dingin yang basah oleh sisa-sisa hujan sore tadi. Denyut nadi di lehernya berdebu kencang. Ia tak tahu harus merespon apa—menolak, menertawakan, atau menurut.

Kepalanya refleks berputar, memindai lingkungan sekitar. Sebuah lampu penerangan jalan di ujung halaman memberikan cahaya redup yang cukup untuk membuat siluet pohon-pohon akasia terlihat menyeramkan. Tidak ada orang. Tidak ada suara kecuali desir angin sepoi-sepoi dan dengung nyalinya sendiri di telinga. Mereka benar-benar sendirian.

"Raya..kita di.." sergah Jagara, suaranya tercekat. Logikanya berteriak, ini gila. Tapi tubuhnya, ah, tubuhnya adalah pengkhianat yang punya pikiran lain.

"Tempat parkir?" Raya memotong kalimatnya dengan sebuah desahan yang terdengar lebih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   90| Belum Mengenal Jagara

    Malam sudah benar-benar turun ketika Jagara mengemudi sendirian meninggalkan klinik.Kota tampak tenang dari balik kaca mobil, lampu-lampu jalan memantul memanjang, berpendar lembut seolah tak tahu bahwa di dalam dada lelaki itu ada sesuatu yang sedang berpacu cepat. Kertas hasil lab masih berada di tangannya, terlipat rapi namun tak pernah benar-benar ia lepaskan sejak keluar dari ruang dokter. Setiap kali jemarinya menyentuh permukaan kertas itu, ada rasa nyata yang menegaskan bahwa semua ini bukan ilusi. Bukan lagi dugaan, bukan lagi ketakutan yang ia pendam sendirian selama dua bulan terakhir.Jantungnya berdegup tidak teratur, bukan karena kecemasan, melainkan karena antusiasme yang tertahan. Bayangan Raya muncul berulang kali di benaknya, begitu jelas hingga hampir terasa menyakitkan. Cara wanita itu menatapnya di hari terakhir mereka bertemu, tatapan yang tidak marah namun juga tidak berharap. Tatapan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menunggu penjelasan. Jagara menel

  • Sehangat Dekapan Mantan   89| The Truth Behind the Poison

    Ruang tunggu itu terasa lebih sempit dari ukurannya yang sebenarnya.Lampu putih di langit-langit memantul dingin di lantai keramik, membuat bayangan Jagara jatuh lurus dan kaku di bawah kursinya. Bau antiseptik mengisi udara, menusuk hidung, bercampur dengan aroma kopi dari dispenser sudut ruangan, aroma yang biasanya menenangkan, namun kali ini justru membuat dadanya terasa penuh.Jagara duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya terlipat di depan dada. Sikapnya terlihat tenang, nyaris dingin, namun hanya ia yang tahu betapa keras tubuhnya bekerja menahan diri. Jari-jarinya menekan lengan jasnya sendiri, bukan karena dingin, melainkan karena ia butuh sesuatu untuk digenggam agar pikirannya tidak lepas kendali.Di balik pintu kayu bercat pucat itu, dokter kepercayaannya, seorang pria paruh baya dengan suara tenang dan tatapan objektif—sedang membahas hasil uji laboratorium yang sudah Jagara tunggu selama dua bulan terakhir. Dua bulan penuh penyangkalan. Dua bulan hidup di antara “

  • Sehangat Dekapan Mantan   88| Perlakuan Sederhana

    Hari pertama Raya kembali bekerja berjalan lebih pelan dari biasanya dan untuk pertama kalinya, itu bukan hal yang membuatnya gelisah.Ia tiba di rumah sakit saat matahari belum sepenuhnya naik, mengenakan jas dokter yang masih terasa sedikit asing di bahunya setelah beberapa hari terbaring sebagai pasien. Langkahnya terukur, tidak tergesa, seolah tubuhnya sendiri masih memberi peringatan agar tidak memaksakan apa pun. Aroma antiseptik yang khas menyambutnya, membawa rasa familiar yang justru menenangkan.“Udah enakan, Dok?” sapa seorang perawat ketika Raya melewati nurse station.Raya berhenti sejenak, menoleh dengan senyum kecil yang jujur. “Lumayan,” jawabnya singkat, tidak berlebihan, tidak pula meremehkan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi hari ini, setidaknya, ia merasa cukup.Untungnya, jadwal hari ini bersahabat. Tidak ada operasi. Tidak ada tindakan berat yang menuntut stamina penuh. Hanya pemeriksaan rutin, visit pasien, membaca hasil lab, dan diskusi singkat den

  • Sehangat Dekapan Mantan   87| Anggota Geng Motor

    Motor Triumph Bonneville Speedmaster berwarna hitam itu melambat sebelum akhirnya berhenti tepat di depan bangunan apartemen sederhana tempat Raya tinggal. Mesin besar itu menggeram pelan sebelum benar-benar mati, menyisakan keheningan malam yang hanya diisi suara serangga dan dengung lampu jalan yang redup.Raya turun perlahan. Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, dan perjalanan singkat tadi—meski terasa aman—cukup menguras tenaganya. Ia meraih helm full face yang sejak tadi melindungi kepalanya, sedikit kesulitan membuka pengait di bawah dagu.Belum sempat ia benar-benar melepasnya, tangan Aksara sudah lebih dulu terulur.“Biar saya,” ucapnya ringan.Dengan gerakan hati-hati, Aksara membantu membuka pengunci helm, lalu mengangkatnya perlahan dari kepala Raya. Rambut wanita itu sedikit kusut, beberapa helai menempel di dahi dan pelipis akibat keringat. Tanpa sadar, Aksara merapikannya, jemarinya menyibak helaian rambut yang jatuh ke wajah Raya, gerakannya pelan, nyaris refleks.“Be

  • Sehangat Dekapan Mantan   86| Insatiable Habits

    Hari terakhir Raya dirawat berjalan tanpa drama berkepanjangan, setidaknya di permukaan.Tak ada kejadian mendadak, tak ada alarm yang berbunyi terlalu nyaring, tak ada langkah tergesa yang biasanya mengiringi hari-hari sibuknya sebagai dokter. Semua terasa… tenang. Terlalu tenang, sampai keheningan itu sendiri terasa melelahkan.Rutinitas rumah sakit berjalan seperti biasa. Perawat datang dan pergi, mencatat, mengecek tekanan darah, mengganti cairan infus dengan gerakan efisien yang nyaris otomatis. Seorang dokter jaga menyempatkan diri mampir, membuka berkasnya, lalu menatap Raya dengan ekspresi profesional.“Kondisinya sudah stabil,” ucapnya sambil menutup map. “Tapi jangan terlalu memaksa diri. Istirahat penuh dulu beberapa hari, hindari begadang, dan tolong… makan teratur.”Raya mengangguk. Ia mendengar semua itu, mencatatnya dengan kepala, meski tahu sebagian akan sulit ia patuhi. Ada resep yang diselipkan, jadwal kontrol ulang yang dituliskan singkat, dan pesan terakhir yang di

  • Sehangat Dekapan Mantan   85| Dua Sisi

    Sejujurnya, Raya tidak pernah benar-benar dirawat di rumah sakit sepanjang hidupnya. Tidak pernah lebih dari satu malam. Bahkan flu berat pun biasanya ia lewati dengan memaksa diri tetap bekerja, menelan obat seadanya, lalu tidur beberapa jam sebelum kembali ke ruang praktik. Jadi ketika hari pertamanya sebagai pasien benar-benar dimulai, tanpa jadwal operasi, tanpa dering telepon, tanpa otak yang dipaksa terus berpikir, yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring, menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu putih dan terlalu sunyi.Langit-langit itu tak berubah bentuk, tak memberi jawaban apa pun. Hanya lampu neon yang sesekali berdengung pelan, menemani pikirannya yang berputar tanpa arah.Dari arah samping, di balik tirai pembatas tempat tidurnya, suara-suara hangat menyusup masuk. Percakapan sepasang suami istri, terdengar pelan, akrab, diselingi tawa kecil. Bau jeruk segar tercium, kemungkinan baru saja dikupas. Ada nada perhatian dalam suara lelaki itu, ada tawa perempuan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status