Share

82| Kartu Nama

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2026-01-01 00:01:26

Udara ruang operasi selalu terasa berbeda, lebih dingin, lebih sunyi, seolah dunia di luar berhenti begitu pintu otomatis tertutup rapat. Suhu rendah itu merambat menembus lapisan pakaian medis, membuat kulit Raya terasa kaku, seakan pori-porinya ikut menutup rapat. Lampu operasi menyala terang tepat di atas meja, cahayanya putih dan tajam, memantul di permukaan logam alat-alat bedah.

Raya sudah berada di sana hampir dua jam.

Jam dinding berbunyi pelan setiap menit, suaranya nyaris tak terdengar di balik dengungan alat medis. Seorang pasien paruh baya terbaring tak bergerak di bawah bius lokal—Pak Tani. Wajahnya tampak pucat, rahangnya sedikit menegang setiap kali sensasi nyeri sisa menyeruak meski obat penahan rasa sakit bekerja.

Raya berdiri dengan postur tegak namun bahunya tegang. Sarung tangan lateks membungkus tangannya dengan erat, sementara masker dan pelindung wajah menutupi sebagian besar ekspresinya. Hanya sepasang matanya yang terlihat—fokus, tenang, dan penuh konsentrasi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   98| Rutinitas Baru

    Motor Aksara melaju stabil di tengah arus kendaraan pagi. Suara mesin bercampur dengan hiruk pikuk kota yang baru benar-benar bangun, sementara Raya duduk di belakang, kedua tangannya berpegangan ringan pada jaket Aksara. Tidak terlalu erat, tidak juga terlalu jauh, jarak aman yang terasa semakin ganjil bagi Raya sejak pagi itu.Angin menerpa sisi wajahnya. Rambutnya terselip rapi di balik helm, tapi pikirannya justru kusut.Ada satu kalimat yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya. Satu pengakuan yang seharusnya ia ucapkan tentang Jagara.Tentang lelaki yang beberapa jam lalu berdiri berhadapan dengan Aksara. Lelaki yang kerah kemejanya sempat ditarik, yang dengan dingin diperingatkan untuk tidak menyentuhnya lagi. Lelaki yang oleh Aksara dianggap ancaman, padahal justru orang yang paling dekat dengan Raya.Bahkan lebih dari kekasih.Raya menelan ludah. Tangannya sedikit mengencang di jaket Aksara, lalu kembali mengendur. Ia membuka mulut, tapi suaranya tertahan. Seolah ada tembo

  • Sehangat Dekapan Mantan   97| Sarapan Orang Ketiga

    Pagi datang perlahan, tanpa tergesa, seperti memberi kesempatan pada Raya untuk mengumpulkan dirinya sendiri. Cahaya matahari menembus sela tirai tipis, membiaskan warna pucat ke dinding apartemen Jagara. Raya keluar dari kamar mandi dengan langkah ringan. Ia sudah berganti pakaian kerja dengan kemeja krem berpotongan rapi yang dimasukkan ke dalam celana bahan gelap, rambutnya diikat rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan membingkai wajah. Penampilannya sederhana, profesional, dan terlalu menenangkan untuk pagi yang sebenarnya penuh potensi kekacauan.Begitu ia melangkah ke ruang utama, aroma masakan langsung menyambutnya.Raya melangkah pelan ke arah dapur. Dari kejauhan, ia melihat Jagara berdiri di sana, punggungnya menghadap, tubuhnya tegak dengan kemeja putih rapi dan celana bahan gelap. Tangannya sibuk menuangkan jus jeruk ke dalam gelas bening. Di atas meja dapur yang menyatu dengan meja makan, dua buah sandwich tersaji rapi di piring, masih mengepulkan uap tipis.Untu

  • Sehangat Dekapan Mantan   96| Gelora Asmara

    Raya mengerjap, berdiri di depan pintu apartemen Jagara yang keberadaannya tepat di seberang unit miliknya. Namun, ada yang berbeda. Unit milik lelaki itu terasa lebih besar, jauh lebih luas, dua kali lipat ukuran apartemen satu kamar tidur miliknya dengan dapur dan ruang tengah yang menyatu. Ia melangkah masuk, matanya berkeliling, mencatat perbedaan yang jelas."Kenapa unit kamu lebih besar?" tanya Raya, suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.Jagara masuk lebih dulu, gerakannya tenang dan terbiasa. Ia melepas sepatunya, berganti dengan sandal rumah berwarna abu-abu, sebelum dengan lembut menarik sandal lain berwarna merah muda dari rak dan meletakkannya di depan Raya. "Kamu tidak tahu kalau apartemen ini memiliki unit dengan ukuran berbeda?"Jelas, Raya menggeleng, "Aku pikir semua ukurannya sama kayak punya aku."Dengan gerakan yang penuh keterpaksaan namun lembut, Jagara menyentil dahi Raya gemas. "Saya yang akan menandatangi kontrak apapun untuk ke depannya," katanya, seolah itu

  • Sehangat Dekapan Mantan   95| Posisi Semula

    Raya berbaring telentang di ranjang apartemennya, tubuhnya setengah tenggelam di sprei berwarna abu pucat yang masih menyimpan aroma sabun. Ia mengenakan kaos putih oversize yang jatuh menutupi pangkal pahanya dan celana pendek tipis di baliknya, membuatnya tampak seolah tak mengenakan apa pun selain kaos itu. Rambutnya dibiarkan terurai setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang membasahi bantal. Dadanya naik turun perlahan, napas panjang ia embuskan berkali-kali, seperti mencoba mengusir sisa-sisa hari yang melelahkan.Sejak matahari terbenam beberapa jam lalu, Raya belum menyalakan satu pun lampu di apartemen.Ia membiarkan cahaya temaram dari balkon kecil menyusup masuk, memantul di lantai dan dinding, cukup untuk menerangi garis-garis samar ruangan. Kakinya menggantung di sisi ranjang, telapak kakinya berayun pelan, ritme kecil yang tak benar-benar ia sadari. Saat ia memejamkan mata, wajah Jagara kembali muncul, jelas dan tak terhindarkan. Nada suaranya di mobil,

  • Sehangat Dekapan Mantan   94| Terasa Lebih Jauh

    Raya membasuh wajahnya di depan cermin wastafel, air dingin mengalir melewati kulit pipinya yang masih terasa hangat. Kemerahan di sana perlahan memudar, meski perasaan di dadanya tidak ikut surut. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, mata yang sedikit berkaca, napas yang belum sepenuhnya stabil. Entah karena malu, atau kesal, atau mungkin perpaduan keduanya yang saling tumpang tindih tanpa mau dipisahkan.Bayangan Jagara berdiri di tengah aula, menyebut namanya dengan suara tenang tapi menusuk, terus berputar di kepalanya. Presentasi yang sudah ia persiapkan dengan matang, yang seharusnya berjalan rapi dan profesional, terasa ternodai oleh satu pertanyaan yang sama sekali tidak ada di slide. Raya memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum semuanya tumpah dalam bentuk emosi yang tidak seharusnya.Ia mengeringkan wajahnya dengan tisu, menepuk-nepuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruang kecil itu.Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti seperse

  • Sehangat Dekapan Mantan   93| Nama Yang Dipanggil

    Sebenarnya, Raya tak pernah merasa kemampuannya cukup untuk berdiri sebagai pembicara di depan banyak orang. Ia terbiasa berbicara dengan pasien, dengan suara pelan dan kalimat yang ditata hati-hati, bukan menghadapi ratusan pasang mata yang menunggu setiap kata. Namun janji tetaplah janji. Ketika ia sudah menyanggupi untuk membantu melancarkan seminar hari ini, Raya tahu ia harus melakukannya dengan sepenuh hati, terlepas dari rasa gugup yang berulang kali mengetuk dadanya.Sudah setengah jam berlalu sejak ia diantar Aksara ke area aula salah satu universitas negeri ternama itu. Bangunan tua dengan arsitektur klasik berdiri anggun, lorong-lorongnya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang membawa map dan buku. Raya kini berada di ruang tunggu pembicara, duduk di sofa panjang berwarna abu-abu, sebuah map cokelat terbuka di pangkuannya. Jemarinya membalik halaman demi halaman materi presentasi, meski sebagian besar isinya sudah ia hafal. Sesekali ia menghela napas, meneguk air minera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status