LOGINDi ruangan Divisi Desain, suasana kembali produktif. Lembaran-lembaran kertas sketsa dan dokumen analisis material perhiasan tampak tersebar rapi di atas meja kerja Hazel. Gadis itu mencondongkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama setiap patah kata yang keluar dari bibir Senja. Fokusnya tak teralihkan sedikit pun; ia benar-benar tidak ingin melewatkan satu jengkal pun ilmu, trik, ataupun penjelasan teknis yang disampaikan oleh kepala divisinya itu.Melihat sepasang mata Hazel yang berbinar penuh determinasi, Senja perlahan menghentikan penjelasannya. Sebuah tawa kecil yang renyah lolos dari bibirnya, membuat atmosfer di antara mereka terasa semakin hangat."Kamu ini bersemangat sekali, ya," ujar Senja sembari merapikan beberapa draf proyek. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Hazel penuh rasa penasaran. "Tapi, Hazel... kalau boleh jujur, sebenarnya aku agak penasaran. Kenapa kamu justru memilih untuk bergabung di Divisi Desain sebagai karyawan magang? Padahal dengan st
Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan rekan-rekan barunya. "Aku benar-benar tidak apa-apa, Bu Senja. Tolong jangan khawatir."Begitu pintu kaca benar-benar tertutup rapat dan langkah kaki John serta rombongannya menghilang di ujung koridor, ketegangan di dalam ruangan Divisi Desain pecah seketika. Nana, Miya, dan Layla langsung menghampiri meja Hazel dengan wajah bersungut-sungut, tidak bisa lagi membendung uneg-uneg yang sejak tadi menyumbat dada mereka."Gila! Aku benar-benar tidak menyangka bakal melihat drama murahan seperti itu langsung di depan mataku!" Nana menghentakkan kakinya kesal. "Bagaimana bisa dia memutarbalikkan fakta dengan begitu mulus? Benar-benar bermuka dua!""Iya, konyol sekali! Dia yang memprovokasi, tapi begitu pria itu datang, dia langsung berakting seolah-olah dia korban yang teraniaya," sahut Miya sembari melipat tangan di dada, mendengus sinis. "Lalu dengan gampangnya dia memfitnah kita semua tidak mau menolong
Langkah kaki yang berat dan tergesa memecah ketegangan di ambang pintu. John melangkah masuk dengan wajah yang sudah memerah padam. Rupanya, salah seorang karyawan dari divisi lain terlanjur melaporkan keributan di Divisi Desain ini langsung kepadanya. John mengedarkan pandangan galak, menatap ketiga anak muda di depannya dengan napas memburu. "Apa-apaan ini?! Belum ada satu jam kalian menginjakkan kaki di kantor ini, sudah membuat keributan yang memalukan!" bentaknya berang.Hazel memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berdiri mematung dengan posisi tegak, menolak untuk mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri. Percuma.Apapun kalimat yang keluar dari bibirnya pasti hanya akan dianggap sebagai angin lalu oleh papanya. John tidak akan pernah memercayainya dan pasti jauh lebih memihak Luna. "Seperti biasa, pasti aku yang jadi kambing hitamnya lagi," batinnya pasrah. Ditambah lagi keberadaan Axel di sana yang sudah siap pasang badan untuk membela adik tirinya, memb
Luna beranjak dari tempatnya. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berketuk pelan di atas lantai, sengaja dibuat lambat saat ia berjalan menghampiri meja kerja Hazel.Hazel menghentikan gerakan jemarinya di atas permukaan meja. Ia berusaha keras untuk tetap tenang dan mengatur napasnya, namun seluruh indranya mendadak siaga, waspada penuh dengan apa pun tingkah gila yang akan diperbuat oleh Luna.Setelah jarak di antara mereka terkikis habis, Luna membungkuk sedikit. Dengan senyum manis yang dipaksakan menghias wajahnya agar terlihat biasa saja dari kejauhan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hazel."Harusnya kamu mati bersama mamamu yang jalang itu!" bisik Luna, suaranya begitu rendah, penuh dengan racun dan kedengkian yang pekat. "Kalian berdua sama-sama jalang yang tidak tahu diri!"Plak!Suara hantaman keras berkumandang kuat, memotong keheningan ruangan Divisi Desain.Dada Hazel naik-turun memburu, napasnya tersedat oleh amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Se
Arlo terdiam beberapa detik. Alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan rasa penasaran Hazel, pria itu hanya mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. Ia mengetuk kemudi mobilnya pelan. "Pertanyaanmu terlalu berat untuk dijawab malam-malam begini, Hazel. Lebih baik kamu masuk dan istirahat," sahut Arlo enggan, memilih untuk langsung berpamitan pulang. "Selamat malam."Hazel menghela napas, sadar bahwa pria di sampingnya ini tidak akan membuka mulut. "Ya sudah. Selamat malam," balas Hazel.Mobil Arlo perlahan bergerak menjauh, membelah kegelapan jalanan. Hazel masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap sisa lampu belakang mobil yang kian meredup. Ia bergumam lirih pada diri sendiri, menebak-nebak motif di balik semua kebaikan pria itu. "Apakah seorang Arlo benar-benar tulus membantuku? Atau jangan-jangan... memang ada udang di balik batu?"Namun, Hazel segera menggelengkan kepala, bersikap masa bodoh untuk saat ini. Yang terpenting tujuannya tercapai. Ia pun membalikkan badan dan
Namun, atmosfer hangat itu seketika membeku menjadi sedingin es saat kerumunan kecil di hadapan mereka perlahan terbelah. Langkah kaki yang terburu-buru mendekat, diiringi helaan napas yang memburu. Ternyata, sosok yang melangkah menghampiri mereka adalah Axel.Pria itu mendadak menghentikan langkahnya, terpaku di tempat dengan sepasang mata yang membelalak sempurna. Sorot matanya terkunci rapat pada Hazel, menelusuri gaun malam off-shoulder merah-hitam yang membalut tubuhnya dengan begitu megah, riasan wajahnya yang berkelas, hingga aura mahal yang menguar dari diri tunangannya itu. Axel benar-benar melamun di tempat, terpanah sekaligus linglung melihat penampilan Hazel malam ini yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya.Butuh waktu beberapa detik bagi Axel untuk menguasai keterkejutannya sebelum ia akhirnya bersuara, kedengarannya sangat menuntut. "Hazel? Apa... apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana bisa kamu berada di acara seperti ini?!"Hazel tidak gentar. Ia justru meny
Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,







