Home / Romansa / Sekarang, Giliranku! / masuk perusahaan

Share

masuk perusahaan

Author: Perfect Wife
last update publish date: 2026-07-12 23:40:01

Arlo terdiam beberapa detik. Alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan rasa penasaran Hazel, pria itu hanya mengulas senyum tipis yang sulit diartikan. Ia mengetuk kemudi mobilnya pelan.

"Pertanyaanmu terlalu berat untuk dijawab malam-malam begini, Hazel. Lebih baik kamu masuk dan istirahat," sahut Arlo enggan, memilih untuk langsung berpamitan pulang. "Selamat malam."

Hazel menghela napas, sadar bahwa pria di sampingnya ini tidak akan membuka mulut. "Ya sudah. Selamat malam," balas Hazel.

M
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sekarang, Giliranku!    Bagaimana Nanti

    Hazel tidak peduli lagi. Tanpa menghiraukan ucapan dari Axel, ia membalikkan badan dengan gerakan tegas. Jemarinya mencengkeram erat lengan kemeja Arlo dan Yaya secara bersamaan."Ayo masuk. Abaikan saja dia," ucap Hazel dengan nada dingin yang menyiratkan keputusannya tak bisa diganggu gugat.Hazel mengajak Arlo dan Yaya untuk mengabaikan Axel begitu saja. Mereka melangkah cepat melintasi pelataran, mendorong pintu kaca butik, lalu segera mengunci pintu butik itu dari dalam. Suara kait kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, menegaskan sebuah batas tegas yang kini membentang di antara Hazel dan pria dari masa lalunya itu.Sementara itu, di dalam sedan silver yang terparkir tak jauh di bawah kerindangan pohon akasia, Luna yang sedari tadi memperhatikan seluruh adegan dramatis itu dari jauh mengulas senyum miring. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia menyaksikan bagaimana Hazel menyeret kedua orang itu masuk dan membiarkan Axel berdiri mematung sendir

  • Sekarang, Giliranku!    batalin!

    Pria itu berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan, kemeja yang tak lagi rapi, dan raut wajah penuh frustrasi yang membakar.Begitu melihat pergerakan dari dalam mobil hitam itu, Axel langsung melangkah lebar menghampiri. Belum sempat kaki Hazel menapak sempurna di atas paving, Axel sudah melayangkan cecaran pertanyannya tanpa memedulikan presensi Arlo maupun Yaya yang baru keluar dari pintu belakang."Hazel! Jelaskan padaku sekarang!" tuntut Axel, suarasa meninggi dengan napas yang memburu. "Apa maksud dari perkataanmu di pelataran restoran tadi?! Siapa orang lain yang kamu maksud?! Kenapa kamu terus-terusan menyudutkanku seolah-olah aku ini penjahatnya?!"Hazel berdiri tegang di samping pintu mobil. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun panas di dadanya jauh lebih membakar. Hazel merasa sangat muak. Rasa lelah yang menumpuk dari urusan magang di kantor, pesanan ratusan gaun di butik, hingga drama picisan berdarah yang dibuat Axel dan Luna rasanya sudah mengura

  • Sekarang, Giliranku!    Kebenaran Waktu Itu

    "Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Dari tadi aku lihat kamu seperti memikirkan sesuatu yang sangat berat." Hazel bisa merasakan ada beban pikiran yang mendadak menggelayuti pria di samping kemudinya itu.Arlo menoleh sekilas ke arah Hazel saat mobil mereka berhenti di bawah pendar merah lampu lalu lintas. Jemarinya mencengkeram lingkar kemudi sedikit lebih erat, sebelum akhirnya ia menyuarakan pertanyaan yang mengusik benaknya sejak di pelataran parkir tadi."Kenapa... kamu tadi berpihak padaku, Hazel?" tanya Arlo lirih, matanya menatap lurus menembus kaca depan yang dibasahi sisa embun malam. "Di depan Axel, di depan banyak orang... kamu lebih memilih membelaku dan menepis dia."Hazel mengembuskan napas panjang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Sebuah senyuman tipis yang hambar terukir di bibirnya."Tentu saja karena aku sudah tahu sejak awal," jawab Hazel dengan tenang, suarasa terdengar begitu masuk akal. "Aku tahu betul kalau dalang di balik semua keributan membabi

  • Sekarang, Giliranku!    Dia Lagi

    Melihat perhatian seluruh pengunjung dan staf restoran kini tertuju penuh ke mejanya, wajah Hazel memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang ditahannya setengah mati. "Ikut aku!" perintah Hazel. Tanpa membuang waktu, Hazel langsung menyambar pergelangan tangan Arlo dan lengan jas Axel sekaligus, lalu menarik kedua pria bertubuh tegap itu keluar secara paksa dari area restoran. Yaya mengikuti dari belakang dengan langkah terburu-buru dan napas memburu, panik setengah mati melihat situasi yang makin lepas kendali.Setelah melangkah cukup jauh dari area pintu masuk restoran berhenti di sudut pelataran parkir yang agak remang dan sepi, Hazel melepaskan cengkeramannya dengan sentakan keras. Ia memutar tubuhnya, menatap Axel dengan sorot mata yang sarat akan kilatan amarah. "Apa-apaan kamu, Axel?!" bentak Hazel, suarasa bergetar menahan luapan emosi. "Kenapa kamu tiba-tiba membabi buta mengamuk seperti orang kesetanan di tempat umum?! Apa kamu tidak malu, ha?!"Axel,

  • Sekarang, Giliranku!    Ribut di Resto

    Hazel menggelengkan kepalanya pelan, menepis lembut usikan tentang Arlo yang sempat mengacak-acak fokusnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menatap layar monitor yang menampilkan spesifikasi proyek perhiasan dari Bound & SE. Bagi Hazel, tidak ada waktu untuk terjebak dalam teka-teki perasaan pria mana pun. Saat ini, pembuktian diri adalah satu-satunya prioritas utama."Miya, Nana, Layla... bisakah kalian mendekat sebentar?" panggil Hazel dengan nada tenang namun tegas.Seketika, ketiga rekan kerjanya menggeser kursi masing-masing dan berkumpul mengelilingi meja Hazel. Selama beberapa jam berikutnya, Hazel mengesampingkan seluruh pemikiran pribadi dan mulai membahas detail proyeknya bersama rekan tim kerjanya. Mereka berdiskusi secara intens, menukar ide mengenai pilihan material emas putih hingga teknik pemotongan berlian yang presisi. Ruangan Divisi Desain seketika dipenuhi aura profesionalisme yang hangat dan padu.Waktu berjalan cepat hingga jam kerja be

  • Sekarang, Giliranku!    Proyek Pertama

    Seminggu telah berlalu sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di Divisi Desain. Dalam kurun waktu yang terbilang singkat itu, Hazel membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak pemilik perusahaan yang menumpang nama. Berkat ketekunan, kejelian, dan bimbingan telaten dari Senja, Hazel dirasa sudah mampu menguasai beberapa hal penting mengenai seluk-beluk perancangan perhiasan eksklusif perusahaan.Melihat perkembangan pesat itu, Senja merasa Hazel sudah sangat siap untuk menerima sebuah proyek mandiri guna mengembangkan kemampuannya lebih jauh. Senja berani mengambil langkah ini tentu bukan tanpa dasar. Ia telah menyerahkan laporan evaluasi komprehensif mengenai hasil magang Hazel selama seminggu ini langsung kepada John. Membaca laporan yang memuaskan tersebut, John pun mengakui bahwa Hazel memang memiliki bakat alami yang luar biasa—sebuah keahlian yang diwariskan langsung dari mendiang ibunya.Pagi itu, di dalam ruangan Divisi Desain yang hangat oleh paparan sinar matahari, Senja

  • Sekarang, Giliranku!    5. Familiar

    Entah kenapa Hazel merasa jika senyuman Arlo begitu familiar, seperti ia pernah melihatnya sebelumnya. Hanya saja Hazel tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Denyut di pelipis Hazel kian mengencang. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha keras menggali tumpukan memori di kepalanya, mencari tahu di ma

  • Sekarang, Giliranku!    4. Salah Sangka

    Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku

  • Sekarang, Giliranku!    3. Drama Picisan

    "Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,

  • Sekarang, Giliranku!    1. Pengkhianatan

    Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status