LOGINKeheningan samar menyelimuti lorong lantai lima saat langkah-langkah kaki anggota divisi desain bergema di atas lantai marmer berkilau. Hazel berjalan tenang di samping Bu Senja, diapit oleh Miya, Nana, dan Layla yang masih saling berbisik heran. Ketidakpastian mengenai agenda rapat mendadak ini membuat atmosfer di sekitar mereka terasa sedikit tegang dan penuh tanda tanya.Begitu pintu ganda ruang rapat utama terdorong terbuka, aroma kayu jati bercampur harum pendingin udara langsung menyapa. Di ujung meja rapat elips yang panjang, berdiri sosok John yang tampak mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan potongan sempurna. Meski sisa-sisa wajah pucat bekas masa kritisnya masih terlihat tipis, sorot mata pria paruh baya itu kini memancarkan ketegasan yang jernih, kepemimpinan yang utuh, serta sebuah binar haru yang tak tertutupi saat matanya menangkap kehadiran Hazel.Di samping John, berdiri seorang pria tua berambut perak dengan kacamata berbingkai emas yang memegang sebuah koper k
Beberapa hari berlalu membawa angin perubahan yang menyejukkan. Waktu yang berjalan lambat laun membalut luka-luka lama dengan ketenangan yang dinanti. John yang sempat terbaring tak berdaya di rumah sakit kini telah pulih sepenuhnya, baik secara fisik maupun batin, dan resmi kembali memegang kendali di perusahaan. Begitu pula dengan Hazel. Setelah melewati badai fitnah yang begitu dahsyat, fisik dan jiwanya telah pulih. Hari ini, dengan langkah tegap dan senyuman lembut yang tulus, Hazel akhirnya kembali menginjakkan kaki di gedung kantor tempat ia berkarya.Rambut ash brown panjang milik Hazel terurai alami menyentuh pinggangnya, bergerak gemulai seiring langkah kakinya yang penuh keyakinan. Riasan wajahnya tampak dewy berkilau khas dirinya, memancarkan aura kesegaran dan kedamaian murni tanpa ada lagi jejak kepedihan yang dulu membelenggu.Saat Hazel melangkah memasuki ruangan divisi desain, suasana kantor yang tadinya bising oleh ketikan kibor dan diskusi pekerjaan mendadak henin
Suara derap langkah kaki Julia yang ritmis di atas lantai kayu perlahan menjauh ke arah lorong depan. Di meja makan, Arlo menyusupkan jemarinya kembali ke sela-sela jemari Hazel, membelai punggung tangannya dengan ibu jari untuk menenangkan kekhawatiran yang sempat terbit di mata bening gadis itu. Suasana malam yang sempat tegang perlahan melunak oleh kehangatan lampu gantung yang membiaskan warna keemasan.Tak lama kemudian, gema suara samar-samar terdengar dari balik lorong utama, disusul oleh suara derap langkah beberapa pasang sepatu yang mendekat.Rupanya yang datang adalah Yaya dan Damian. Dua sosok yang sama sekali tidak asing bagi Arlo dan Hazel itu melangkah masuk dengan senyuman lebar. Maksud utama kedatangan mereka malam-malam begini tak lain adalah untuk bertemu dengan Hazel, memastikan kondisi sahabat mereka setelah serangkaian peristiwa besar yang menguras emosi."Ayo, masuk, masuk! Kebetulan sekali Mama baru saja menyiapkan makan malam. Kalian datang di waktu yang sang
Sinar rembulan malam merayap lembut menembus kaca mobil SUV hitam milik Arlo yang membelah jalanan kota yang kian lengang. Usai dari rumah sakit, menyelesaikan babak kelam bersama sang papa dan mengantongi restu yang tulus, Hazel dan Arlo akhirnya kembali ke kediaman Arlo. Suasana di dalam mobil begitu tenang, diliputi rasa lega yang tak terlukiskan. Genggaman tangan Arlo di jemari Hazel tak pernah lepas seolah menjadi pengingat konstan bahwa segala badai telah benar-benar berlalu.Setibanya di sana, mobil Arlo melaju perlahan memasuki halaman rumah berarsitektur megah namun hangat itu. Saat pintu utama terbuka, mereka berdua disambut dengan hangat oleh Julia, mama Arlo.Wanita paruh baya yang selalu memancarkan keanggunan dan kelembutan itu berdiri di lorong depan dengan senyuman terkembang lebar. Matanya berbinar penuh rasa syukur melihat Hazel kembali berjalan bersisian dengan putranya, dengan raut wajah yang tak lagi dibayangi ketakutan atau kedukaan."Kalian sudah pulang?" sapa
Kehangatan dari telapak tangan Arlo yang mengusap pipinya perlahan meresap, menembus kebekuan yang sempat menguasai tubuh Hazel. Manik mata ash brown milik Hazel menatap lurus ke dalam manik pekat Arlo yang dipenuhi rasa protektif dan kelembutan murni. Di dalam pendar mata pria itu, Hazel menemukan pijakan yang sangat kokoh. Ia tahu, apa pun yang akan terjadi di balik pintu kayu bernomor 302 itu, ia tidak lagi berdiri sendirian.Hazel menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk mengusir sisa-sisa gemetar di tangannya. Senyuman tipis namun sangat mantap terukir di bibirnya."Tidak apa-apa, Arlo," bisik Hazel dengan suara yang kini terdengar jernih dan berani. "Aku baik-baik saja. Aku harus masuk sekarang."Arlo menatap Hazel beberapa saat, memastikan tak ada lagi keraguan yang tersisa di mata wanita tercintanya. Setelah yakin, Arlo mengangguk pelan. Ia menyusupkan jemarinya kembali ke dalam genggaman tangan Hazel, memberikan remasan lembut sebagai bentuk dukungan mutlak yang
Dada Hazel berdegup kencang secara tak beraturan. Jari-jemarinya yang memegang ponsel mendadak dingin dan gemetar halus saat matanya membaca nama instansi yang tertera di layar—Rumah Sakit Medika Utama. Itu adalah rumah sakit tempat John, papanya, dirawat intensif setelah terkena serangan jantung mendadak beberapa hari lalu pasca-kehancuran skandal keluarga mereka.Raut cemas yang terpancar jelas di wajah Hazel tak luput dari pengamatan Arlo. Pria itu menurunkan kecepatan mobilnya, menyusuri tepi jalan yang agak lengang sembari melirik Hazel penuh perhatian."Siapa yang telepon, Sayang?" tanya Arlo lembut, nada suaranya mengalun bagaikan penenang di tengah badai kepanikan yang mendadak melingkupi Hazel."P-pihak rumah sakit, Arlo..." suara Hazel tercekat di tenggorokan, terendat oleh keraguan yang membuncah. "Rumah sakit tempat Papa dirawat."Arlo mengangguk paham. Ia menjangkau jemari Hazel yang teraba dingin dan mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. "Angkat saja dulu, Sayang. Sia
Sumpah matinya untuk tidak lagi menjadi wanita tertindas bergaung kuat di kepalanya. Hazel mengangkat telapak tangannya tinggi-high di udara, berniat melayangkan tamparan kedua yang jauh lebih keras ke pipi Mona.Namun, pergelangan tangan Hazel mendadak tertahan di udara. Sebuah cengkeraman yang ku
"Kau tidak bisa mencampakkanku begitu saja, Arlo! Hubungan kita tidak bisa berakhir hanya karena keegoisanmu!" seorang wanita dengan gaun desainer mencolok berteriak, matanya sembap oleh air mata amarah. Pria yang dipanggil Arlo itu berdiri tegak, memunggungi Hazel. Postur tubuhnya tinggi tegap,
Otak Hazel berputar mundur, mengingat setiap detail dengan akurasi yang menakutkan. Ini adalah malam perayaan ulang tahun pernikahan papa dan mama tirinya yang ke-10, sekaligus malam di mana Hazel yang sudah bertunangan dengan Axel membahas mengenai pernikahan mereka. Tepat empat tahun yang lalu,
Lampu kristal di langit-langit restoran mewah itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kontras di lantai marmer. Hazel mencengkeram tepi meja, jemarinya gemetar hebat menahan rasa sakit yang mendadak menjalar hebat dari dadanya. Napasnya terengah, terasa berat dan beracun. Di depan







