Share

Selingkuh Berkedok Berbakti
Selingkuh Berkedok Berbakti
Author: Anonim

Bab 1

Author: Anonim
Aku dan Ryan Baskara sudah bersama selama lima tahun.

Sebelum kami mulai berpacaran, Ryan mengatakan bahwa dia benci kontak fisik dengan lawan jenis.

"Maaf, kalau kamu nggak bisa menerimanya, kita bisa putus."

Aku hanya berpikir bahwa orang hebat pasti punya keanehan. Itu sebabnya, aku mengerti keengganan Ryan untuk disentuh.

Kami mempertahankan hubungan cinta tanpa sentuhan fisik selama lima tahun penuh.

Hingga suatu larut malam, datanglah kabar buruk itu.

Mentor Ryan dalam keadaan kritis.

Begitu menerima telepon, Ryan langsung mengenakan pakaiannya dan buru-buru ke rumah sakit.

Ryan baru pulang ke rumah keesokan paginya, dalam keadaan kelelahan.

Saat sarapan, Ryan tiba-tiba angkat bicara.

"Aku ingin punya anak dengan Anna."

Aku mendongak kaget. Untuk sesaat, aku mengira aku sudah salah dengar.

"Kamu bilang apa?"

Raut wajah Ryan tetap tenang. "Kayaknya penyakit mentorku sudah makin parah. Keinginan terbesar mentorku adalah agar putrinya menemukan orang yang pantas dinikahinya."

"Mentorku sudah banyak membantuku selama bertahun-tahun. Aku harus membantunya."

Aku merasa agak bingung. "Tapi, dia bisa cari orang lain. Anna bisa cari pacar, atau…"

Ryan memijat keningnya dan langsung memotong kata-kataku, "Masalah perasaan, apa bisa seenak hati begitu?"

"Lagian, ini cuma soal punya anak saja, seperti meminjamkan sperma padanya. Bukan berarti aku akan menikah dengannya."

Nada bicara Ryan begitu tenang, seakan sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja.

Aku langsung membanting sendokku ke meja dan menatap tajam pada Ryan.

"Ryan, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"

"Sebulan lagi kita akan menikah dan sekarang kamu bilang ingin punya anak dengan wanita lain?"

Ryan sedikit mengerutkan kening dan rasa tidak sabar melintas di matanya.

"Anna itu anak mentorku. Dia udah kayak adik kandungku sendiri. Mana bisa dianggap orang lain?!"

"Memangnya ada adik yang minta bantuan kakaknya buat menghamili dirinya?!"

Aku tidak mengerti, juga tidak punya cara untuk memahaminya.

Ryan sepertinya tidak menyangka aku akan marah sebesar ini. Dia tertegun untuk sesaat, sebelum dengan cepat kembali ke sikapnya yang tenang dan acuh tak acuh seperti biasa.

"Vania, jangan bersikap nggak masuk akal, aku…"

Sebelum Ryan selesai bicara, ponselnya berdering. Ryan mengangkatnya. Entah apa yang dikatakan orang di ujung telepon, raut wajah Ryan tampak sedikit berubah.

"Oke, aku segera ke sana."

Ryan bahkan tidak melirikku. Dia buru-buru berdiri dan melangkah pergi.

Sarapan yang sudah kusiapkan dengan cermat itu, pada akhirnya, yang dimakan Ryan hanyalah sesendok bubur saja.

Mendengar suara pintu tertutup, aku merasa semua tenagaku terkuras dan terduduk lemas di atas kursi.

Sejak kapan semuanya mulai berubah menjadi seperti ini?

Aku tidak bisa menahan diri untuk mengingat kembali masa-masa saat aku mengenal Ryan.

Saat di kampus, Ryan terkenal sebagai pria super dingin. Dia bagaikan bunga tinggi di tebing yang tidak bisa disentuh.

Siapa pun yang mencoba mendekatinya, pasti akan sakit hati oleh sikap dinginnya.

Bahkan, sempat beredar rumor bahwa Ryan tidak menyukai wanita.

Namun, aku tidak percaya pada omong kosong itu.

Aku memilih menghadapi kesulitan dan mengejarnya tanpa henti.

Kami menghadapi lika liku selama tiga tahun dan pada akhirnya, aku berhasil menaklukkan hatinya.

Meski kami sudah bersama selama bertahun-tahun, Ryan tetap saja bersikap dingin. Akan tetapi, aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Lagi pula, sedingin apa pun, dia tetaplah pacarku.

Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka Ryan akan mengambil keputusan seperti ini saat tanggal pernikahan kami sudah dekat.

Dia sendiri yang bersumpah untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis.

Sekarang, Ryan sendiri juga yang mengatakan bahwa dia hanya meminjamkan spermanya kepada orang lain.

Aku duduk di sofa dan menunggu hingga larut malam.

Akan tetapi, yang datang bukanlah Ryan, melainkan video yang dikirim oleh Anna.

Dalam video tersebut, Ryan berada di samping ranjang rumah sakit. Mentornya tampak memegang tangannya dan suaranya terdengar lemah.

"Ryan, aku tahu kondisiku. Aku cuma berharap Anna bisa menemukan pasangan yang tepat dan jalani hidup dengan tenang dan stabil."

Mata Ryan sedikit memerah. Dia menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.

Kemudian, terdengar suara Anna yang sedih dan memelas. "Kak Ryan, demi memenuhi keinginan terakhir ayahku, malam ini, aku akan menunggumu di kamar."

Tanganku tiba-tiba saja terkepal.

Di akhir video, aku mendengar Ryan menjawab dengan suara pelan, "Oke."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 10

    Namun, Ryan malah melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.Tanpa diduga, Ryan mendorong Anna. Mengabaikan jeritan kesakitan Anna, Ryan melompat dari panggung dan mengejarku."Vania, jangan pergi!"Aku mengerutkan kening. Bukan hanya tidak menghentikan langkahku, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke mobil.Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku melihat Ryan berlari tergopoh-gopoh mendekat dengan keadaan yang sangat menyedihkan.Matanya memerah dan dia berteriak dengan suara yang pilu juga menyayat hati, "Vania, jangan pergi! Aku tahu, aku salah!"Niko melihat kaca spion. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck, kasihan banget. Kamu nggak mau menghiburnya?"Aku menatapnya sinis, lalu bersiap membuka pintu mobil."Kalau begitu, aku benaran pergi ya?"Niko buru-buru menyingkirkan ekspresi jahilnya, menginjak pedal gas dan melaju kencang.Setelah kembali ke rumah, aku mendengar dari teman bahwa Anna mengalami keguguran.Dorongan Ryan itu sudah menggugurkan bayi di

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 9

    Menjelang hari pernikahan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.Begitu aku mengangkatnya, terdengar suara Ryan yang menahan amarah."Vania, kamu di mana?!""Apa maksudmu dengan putus?"Aku melihat waktu. Ternyata sudah lebih dari setengah bulan berlalu. Baru sekarang dia terpikir untuk menghubungiku?Atau mungkin, dia baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda?Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku langsung menutup teleponnya dan memblokir nomornya.Pernikahanku dan Niko berjalan dengan lancar.Di upacara pernikahan, saat memasangkan cincin di jariku, Niko menangis seperti anak kecil.Niko mengatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.Niko juga mengatakan bahwa dia sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.Air mata Niko bagaikan cambuk yang menghantam hatiku.Aku melangkah pelan ke depan, berjinjit dan menciumnya."Niko, tolong bimbing aku untuk sisa hidupku nanti.""Hem, aku juga memohon bimbinganmu."…Setelah upacara pernikahan selesai, aku mengam

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 8

    Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan Ryan setelah melihat pesan itu.Setelah mengirimkannya, aku langsung memblokir dan menghapusnya, lalu naik pesawat untuk pulang ke rumah.Begitu keluar dari bandara, aku langsung melihat Niko yang tengah menunggu di pinggir jalan.Niko hampir sama sekali tidak berubah. Dia mengenakan jaket hitam. Garis wajahnya yang tegas tertutup kacamata hitam, sehingga menunjukkan kepribadiannya yang kuat.Setiap wanita yang lewat, pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meliriknya.Niko memang begitu menawan.Begitu melihatku, dia langsung melambaikan tangan dengan antusias dan bergegas menghampiriku.Sebelum aku bisa berkata-kata, Niko langsung merentangkan tangannya dan memelukku erat-erat. "Vania!"Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku pun buru-buru menepuk bahunya.Niko langsung melepaskan pelukannya dan aku menatapnya dengan kesal."Tolonglah, apa kamu nggak tahu kalau pria dan wanita nggak boleh saling bersentuhan?""Cih, kamu kan bukan

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 7

    Aku mengobrol dengan Niko di balkon selama sekitar setengah jam, sebelum kembali ke kamar.Anna masih belum pergi. Dia malah duduk di sofa dan sedang membicarakan sesuatu dengan Ryan.Ketika melihatku, senyum di wajah Ryan menghilang, digantikan oleh sikapnya yang dingin."Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun padaku?"Aku menatap Ryan sambil mengerutkan kening."Menjelaskan apa?""Kenapa kamu menyimpan kontak pria itu dengan nama seperti itu?"Nada bicara Ryan menuntut penjelasan dan rasa tidak puas yang begitu kuat.Aku melirik Ryan dengan agak terkejut.Dari posisi apa dia merasa berhak menanyaiku seperti itu?Bukankah punya anak dengan orang lain merupakan masalah yang lebih serius dibanding mengubah nama kontak orang?Namun, aku tidak berniat berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku hanya menjawab sekenanya, "Cuma lelucon."Raut wajah Ryan masih terlihat muram. Kemudian, dia memberi perintah, "Cepat ganti! Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihatnya?"Aku menganggukkan kepala

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 6

    Wajah Ryan langsung berubah. Dia merebut ponsel itu dan melihatnya sekilas. Wajahnya langsung menjadi pucat."Vania, siapa ini?"Aku tidak menjelaskan. Sebaliknya, aku memperhatikan ekspresi Ryan itu dengan sedikit terkejut.Apakah Ryan marah? Apa dia cemburu?Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu di wajah Ryan.Aku selalu berpikir bahwa Ryan bisa bersikap dingin terhadap segala sesuatu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dipedulikan Ryan.Akan tetapi, sekarang sepertinya tidak demikian.Namun, mengapa?Bukankah dia tidak peduli?Di masa lalu, saat aku masih bersamanya, aku pernah menerima pernyataan cinta dari seorang kakak kelas.Ryan menangkap basah kejadian itu.Namun, bukan hanya tidak marah, Ryan justru sangat tenang dan tetap sedingin biasanya.Pada saat itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa sebenarnya Ryan tidak begitu peduli padaku.Atau mungkin, wataknya memang acuh tak acuh seperti itu.Ryan tidak akan cemburu. Dia juga ti

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 5

    Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan."Kamu pulang sendiri naik taksi."Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.Rasanya sangat dingin.Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status