Teilen

Bab 2

Anonim
Setelah video selesai diputar, aku masih menatap kosong pada layar.

Setelah kembali ke akal sehatku, aku memutar ulang bagian terakhir video itu berkali-kali.

Aku berkali-kali memastikan kata "oke" yang diucapkan Ryan itu.

Aku seperti orang yang putus asa, tetap memegang harapan kecil yang sebenarnya tidak realistis, karena tidak punya pilihan lain.

Setelah mendengar kata "oke" itu untuk ke-13 kalinya, setetes air mataku pun jatuh menimpa layar.

Aku buru-buru menyeka wajahku. Baru pada saat itulah aku mendapati bahwa air mata sudah mengalir di pipiku tanpa kusadari.

Apakah aku sakit hati?

Sepertinya tidak.

Apakah aku sedih?

Hanya sedikit saja.

Lalu, mengapa aku menangis?

Aku pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahku. Saat menengadah, aku melihat pantulan diriku di cermin dan tiba-tiba merasa asing.

Apakah ini diriku?

Wanita di dalam cermin itu rambutnya acak-acakan, kulitnya pucat, matanya merah juga bengkak.

Padahal, pagi tadi aku sama sekali tidak terlihat seperti ini.

Ternyata, memang ada orang yang karena mencintai seseorang, bisa berubah sampai tidak mengenali dirinya sendiri.

Aku sudah mencintai Ryan selama bertahun-tahun. Aku mengira pernikahan kami yang akan datang merupakan akhir yang membahagiakan.

Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang disebut akhir yang bahagia ini sebenarnya sudah lama membusuk dan menghitam.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Kemudian, aku mengambil ponselku untuk membuat unggahan di media sosial.

[Pernikahan butuh dua orang dan sekarang kurang satu orang. Ada yang mau menjadi mempelai prianya?]

Setelah mengunggahnya di media sosial, teman-temanku langsung membanjiri kolom komentar dengan pesan-pesan yang menggoda.

Semua teman-teman dekatku tahu bahwa aku begitu mencintai Ryan dengan sepenuh hati, sampai tidak bisa tergoyahkan lagi.

Tidak ada yang menganggap serius unggahan itu.

Melihat kolom komentar yang dipenuhi dengan ucapan selamat, aku pun menertawakan diriku sendiri.

Namun, tepat di saat itu, ada panggilan telepon masuk.

Nama yang terpampang di layar membuat mataku agak terbelalak.

Niko Pramudya.

Aku dan Niko tumbuh bersama sejak kecil, yang sering disebut orang sebagai kekasih masa kecil.

Akan tetapi, hubungan kami tidak dekat. Kami malah sering berkelahi dan bertengkar sejak kecil.

Waktu kecil, Niko selalu suka merangkul bahuku dan dengan seenaknya berteriak-teriak bahwa dia akan melindungiku.

Dari SD hingga SMA…

Niko selalu mengatakan kepada orang lain bahwa aku ini adalah pengikutnya.

Baru setelah masuk universitas kami berpisah, pergi ke kota yang berbeda untuk kuliah.

Sejak saat itu, pada dasarnya kami benar-benar putus kontak.

Jika dipikir-pikir, harusnya akulah yang sengaja mengabaikan persahabatan masa kecil ini demi mengejar Ryan.

Mengapa Niko tiba-tiba meneleponku?

Aku merasa ragu untuk sesaat, tetapi pada akhirnya tetap mengangkatnya.

"Wah Vania, kenapa lama sekali baru kamu angkat telepon kakakmu ini?"

Mendengar nada menggoda yang familier di ujung telepon, kesedihan di hatiku sepertinya sedikit mereda.

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingat untuk meneleponku?"

Niko terdiam sejenak. Jarang sekali dia seperti ini. Kemudian, Niko kembali angkat bicara dengan nada yang dalam dan sungguh-sungguh.

"Itu, apa yang kamu tulis di media sosial itu serius?"

Tanpa menyadari keanehannya, aku pun menjawab dengan santai, "Kenapa, mau daftar?"

"Hem."

"Nggak boleh, ya?"

Kali ini, giliranku yang terdiam.

Setelah memikirkannya masak-masak, jika aku benar-benar ingin mengganti pasangan nikahku, Niko memang orang yang paling cocok.

Entah itu dari latar belakang keluarga, maupun dasar hubungan emosional kami.

Setelah merasa ragu untuk sesaat, aku pun berkata, "Tentu saja boleh. Tapi, aku mau tahu alasannya."

"Alasannya? Tentu saja karena aku menyukaimu."

Suara Niko kembali santai dan blak-blakan seperti biasa.

"Kakakmu ini sudah lama menyukaimu, sampai bermimpi ingin menikahimu dan membawamu pulang. Karena kamu sudah menawarkan diri, tentu saja aku harus memanfaatkan kesempatan ini."

Aku tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.

"Kakak, ini pernikahan. Bukan masalah sepele."

"Aku tahu."

Niko tersenyum licik.

"Jadi, aku bukan cuma mau kamu menikah denganku. Aku juga ingin kamu mencintaiku, melebihi cintamu pada Ryan."

Mencintainya melebihi cintaku pada Ryan?

Aku tidak tahu, apakah aku bisa melakukannya atau tidak?

Namun, semua itu sudah tidak penting lagi.

"Boleh saja."

Aku setuju.

"Setelah aku menyelesaikan semua urusanku, aku akan kembali menghubungimu."

Niko tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia adalah orang yang cerdas. Niko tahu, mana yang harus ditanyakan dan mana yang sebaiknya tidak ditanyakan.

Setelah menutup telepon, aku menghapus unggahan di media sosialku itu. Kemudian, aku menyematkan kontak Niko di bagian atas kontak WhatsApp-ku dan mengubah nama kontaknya menjadi Sayangku.

Lantaran Ryan memilih untuk memiliki anak dengan wanita lain, aku akan mencari pria lain untuk menjadi suamiku.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 10

    Namun, Ryan malah melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang.Tanpa diduga, Ryan mendorong Anna. Mengabaikan jeritan kesakitan Anna, Ryan melompat dari panggung dan mengejarku."Vania, jangan pergi!"Aku mengerutkan kening. Bukan hanya tidak menghentikan langkahku, aku malah mempercepat langkahku dan masuk ke mobil.Mobil mulai melaju. Dari kaca spion, aku melihat Ryan berlari tergopoh-gopoh mendekat dengan keadaan yang sangat menyedihkan.Matanya memerah dan dia berteriak dengan suara yang pilu juga menyayat hati, "Vania, jangan pergi! Aku tahu, aku salah!"Niko melihat kaca spion. Dia menggelengkan kepala sambil berdecak. "Ckckck, kasihan banget. Kamu nggak mau menghiburnya?"Aku menatapnya sinis, lalu bersiap membuka pintu mobil."Kalau begitu, aku benaran pergi ya?"Niko buru-buru menyingkirkan ekspresi jahilnya, menginjak pedal gas dan melaju kencang.Setelah kembali ke rumah, aku mendengar dari teman bahwa Anna mengalami keguguran.Dorongan Ryan itu sudah menggugurkan bayi di

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 9

    Menjelang hari pernikahan, aku menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.Begitu aku mengangkatnya, terdengar suara Ryan yang menahan amarah."Vania, kamu di mana?!""Apa maksudmu dengan putus?"Aku melihat waktu. Ternyata sudah lebih dari setengah bulan berlalu. Baru sekarang dia terpikir untuk menghubungiku?Atau mungkin, dia baru menyadari bahwa aku tidak sedang bercanda?Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku langsung menutup teleponnya dan memblokir nomornya.Pernikahanku dan Niko berjalan dengan lancar.Di upacara pernikahan, saat memasangkan cincin di jariku, Niko menangis seperti anak kecil.Niko mengatakan bahwa dia sudah mencintaiku selama bertahun-tahun.Niko juga mengatakan bahwa dia sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.Air mata Niko bagaikan cambuk yang menghantam hatiku.Aku melangkah pelan ke depan, berjinjit dan menciumnya."Niko, tolong bimbing aku untuk sisa hidupku nanti.""Hem, aku juga memohon bimbinganmu."…Setelah upacara pernikahan selesai, aku mengam

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 8

    Aku tidak tahu apa yang akan dipikirkan Ryan setelah melihat pesan itu.Setelah mengirimkannya, aku langsung memblokir dan menghapusnya, lalu naik pesawat untuk pulang ke rumah.Begitu keluar dari bandara, aku langsung melihat Niko yang tengah menunggu di pinggir jalan.Niko hampir sama sekali tidak berubah. Dia mengenakan jaket hitam. Garis wajahnya yang tegas tertutup kacamata hitam, sehingga menunjukkan kepribadiannya yang kuat.Setiap wanita yang lewat, pasti tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meliriknya.Niko memang begitu menawan.Begitu melihatku, dia langsung melambaikan tangan dengan antusias dan bergegas menghampiriku.Sebelum aku bisa berkata-kata, Niko langsung merentangkan tangannya dan memelukku erat-erat. "Vania!"Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku pun buru-buru menepuk bahunya.Niko langsung melepaskan pelukannya dan aku menatapnya dengan kesal."Tolonglah, apa kamu nggak tahu kalau pria dan wanita nggak boleh saling bersentuhan?""Cih, kamu kan bukan

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 7

    Aku mengobrol dengan Niko di balkon selama sekitar setengah jam, sebelum kembali ke kamar.Anna masih belum pergi. Dia malah duduk di sofa dan sedang membicarakan sesuatu dengan Ryan.Ketika melihatku, senyum di wajah Ryan menghilang, digantikan oleh sikapnya yang dingin."Kamu nggak berniat menjelaskan apa pun padaku?"Aku menatap Ryan sambil mengerutkan kening."Menjelaskan apa?""Kenapa kamu menyimpan kontak pria itu dengan nama seperti itu?"Nada bicara Ryan menuntut penjelasan dan rasa tidak puas yang begitu kuat.Aku melirik Ryan dengan agak terkejut.Dari posisi apa dia merasa berhak menanyaiku seperti itu?Bukankah punya anak dengan orang lain merupakan masalah yang lebih serius dibanding mengubah nama kontak orang?Namun, aku tidak berniat berdebat dengannya. Oleh karena itu, aku hanya menjawab sekenanya, "Cuma lelucon."Raut wajah Ryan masih terlihat muram. Kemudian, dia memberi perintah, "Cepat ganti! Apa yang akan dipikirkan orang kalau melihatnya?"Aku menganggukkan kepala

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 6

    Wajah Ryan langsung berubah. Dia merebut ponsel itu dan melihatnya sekilas. Wajahnya langsung menjadi pucat."Vania, siapa ini?"Aku tidak menjelaskan. Sebaliknya, aku memperhatikan ekspresi Ryan itu dengan sedikit terkejut.Apakah Ryan marah? Apa dia cemburu?Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti itu di wajah Ryan.Aku selalu berpikir bahwa Ryan bisa bersikap dingin terhadap segala sesuatu, bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dipedulikan Ryan.Akan tetapi, sekarang sepertinya tidak demikian.Namun, mengapa?Bukankah dia tidak peduli?Di masa lalu, saat aku masih bersamanya, aku pernah menerima pernyataan cinta dari seorang kakak kelas.Ryan menangkap basah kejadian itu.Namun, bukan hanya tidak marah, Ryan justru sangat tenang dan tetap sedingin biasanya.Pada saat itu, samar-samar aku mulai menyadari bahwa sebenarnya Ryan tidak begitu peduli padaku.Atau mungkin, wataknya memang acuh tak acuh seperti itu.Ryan tidak akan cemburu. Dia juga ti

  • Selingkuh Berkedok Berbakti   Bab 5

    Bu Ajeng terlihat muram. Meskipun dia memihak putrinya, hal semacam ini bagaimanapun sama sekali tidaklah pantas.Namun, sebelum Bu Ajeng bisa kembali berkata-kata, Ryan sudah terlebih dahulu mengambil keputusan."Kamu pulang sendiri naik taksi."Anna melirikku tanpa kentara. Senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya, sebelum dia menaikkan kaca jendela.Menyaksikan mobil itu pergi, aku sama sekali tidak terkejut.Ryan memang seperti itu. Demi menjaga perasaan Anna, dia akan membuatku terus-menerus mengalah.Seakan mengejekku, air hujan pun mulai turun dari langit.Tak lama kemudian, air hujan sudah menggenang di tanah.Aku membungkuk dan meraup air itu dengan tanganku.Rasanya sangat dingin.Namun, dinginnya masih tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.Saat aku sampai di rumah, Ryan sedang sibuk membereskan pakaiannya.Melihatku masuk, Ryan berkata tanpa menoleh, "Belakangan ini, suasana hati Anna sedang buruk. Aku akan menemaninya untuk sementara waktu. Beberapa hari ke depan,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status