Share

Bab 56. Pernah Pacaran

Author: Sweety
last update publish date: 2026-08-21 09:00:40
"Kalau saya menolak?"

Nada suara Angkasa datar, rendah dan tenang sehingga membuat kalimat yang diucapkannnya tersebut terasa seperti keputusan sepihak yang sulit diganggu gugat.

Asha mengerutkan kening. "Gak bisa begitu dong, Kak. Aku aja menuruti semua aturan Kakak."

Angkasa tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke meja. Kemudian satu jarinya menunjuk piring-piring di hadapannya.

"Ini kamu yang melanggar," ucap pria itu penuh penekanan.

Asha yang mengikuti arah telunjuk Angkasa s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rahcelle Chuu
sm asha pnsrn hihihi
goodnovel comment avatar
Rini Angriani
wkwkwkw mlh nnya si asha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 223. Mimpi Lagi?

    Cahaya terang yang menyelinap melalui celah tirai membuat kelopak mata Asha bergerak pelan. Gadis itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan ruangan yang didominasi warna-warna pastel lembut. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer. Tunggu! Bukankah semalam dia berada dalam kamar Angkasa dan mereka— Asha segera bangun hingga terduduk. Rasa perih di bagian bawahnya membuat gadis itu meringis pelan. "Awww…" Asha menurunkan pandangannya, mata cokelatnya kemudian teruju pada tubuhnya sendiri yang terbungkus lengkap oleh piama warna biru muda. Ia mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Potongan-potongan ingatan bermunculan begitu saja. Sekilas. Tidak utuh. Seolah seseorang sedang membalik halaman buku terlalu cepat untuk dibaca. "Bukannya tadi malam aku ada di kamar Kak Angkasa dan kami melakukan itu…" Asha menggigit bibirnya sembari menarik napas. "Atau aku… mimpi lagi?" lanjut Asha, menggu

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 222. Beneran Mau?

    Asha tidak pernah seyakin ini untuk melakukan sesuatu. Pertanyaan Angkasa diangguki tanpa keraguan lagi. Dan ya, ia memang menginginkan Ketua BEMnya yang kini resmi jadi kekasihnya.Sementara itu, Angkasa yang menyaksikan sorot mantap di mata Asha, segera menggendong gadisnya itu kamarnya yang ada di lantai dua mansion.Setelah mengunci pintu kamar, Angkasa membawa Asha masuk sambil manautkan bibir mereka dalam ciuman yang lambat dan pelan.Lampu utama kamar tidak menyala. Hanya cahaya bulan yang menembus jendela besar di sisi ruangan, berpadu dengan semburat lampu koridor yang menyelinap dari celah bawah pintu. Dalam pencahayaan redup itu, furnitur-furnitur mahal di kamar luas tersebut hanya tampak sebagai siluet samar.Angkasa akhirnya berhenti di depan kasur super king yang mendominasi ruangan. Lalu dengan hati-hati, ia menurunkan tubuhnya ke tepi kasur dan memangku Asha yang masih melumat bibirnya.Cukup lama saling berbagi saliva dan

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 221. Kesal dan Rindu

    "Kamu susah tidur lagi?" ujar pria itu dengan suara serak tipisnya.Napas hangat Angkasa yang menyapu kulit Asha, merajut arus hangat di sepanjang pembuluh nadi gadis itu. Pelupuk matanya bergetar samar, seolah berusaha mencerna kedekatan yang perlahan terkikis habis itu.Asha menelan ludah sekuat tenaga sebelum menjawab pertanyaan Angkasa dengan anggukan tipis.Gadis itu kemudian menyahut pelan sambil terus memandangi iris hitam Angkasa yang berkilat tajam. "M-maaf, Kak…"Asha menarik napas tipis sebelum melanjutkan ucapannya. "Maaf karena sudah menuduh kakak yang enggak-enggak," cicit Asha. Lantas ia menunduk, menghindari tatapan Angkasa. Rasa bersalah membelenggunya. Mungkin itu salah penyebab ia tak bisa tidur.Angkasa tidak segera menjawabnya, alih-alih pria itu melangkah maju membuat bulu mata Asha bergetar pasrah. Ia bahkan tidak menyadari dirinya bergerak mundur. Baru ketika punggungnya menyentuh meja dapur, gadis itu tersadar. Di

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 220. Tentang Angkasa

    'Astaga… jadi selama ini perempuan-perempuan yang jalan bareng Kak Angkasa itu—adik-adiknya?'Asha merasa wajahnya panas, segera ia meneguk air putih dan mengalihkan pandangan dari tatapan runcing Angkasa.Sungguh memalukan.Selama ini ia sempat berpikir macam-macam ketika melihat Angkasa bersama Sabrina dan Alena. Padahal mereka saudara kandung.'Mana aku pede banget lagi nuduh dia suka gonta-ganti perempuan,' racaunya dalam hati.Asha kemudian menundukkan kepala dan memilih fokus pada makanannya. Tidak berani menatap Angkasa lagi. Meski rasanya sulit untuk menelan saat ini.Tapi, kalau dipikir-pikir, salah Angkasa seharusnya. Pria itu yang menyembunyikan identitasnya, membuat Asha menebak-nebak.Setelah makan malam selesai, Asha dan Sabrina kembali ke kamar untuk melanjutkan tugas kuliah mereka.Namun di sela-sela pekerjaan itu, rasa penasaran Asha muncul."Sabby..." sahut Asha pelan, memainkan bolpoi

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 219. Debat Bagian II

    Angkasa menghela napas frustrasi lalu maju, kembali meraih pundak Asha yang bergetar. Namun kali ini ia tidak mencengkeramnya, Angkasa hanya meletakkan tangannya di sana dan mengusap lembut di pundak gadis itu. "Della yang masih gak terima putus dari aku dan terus mendekati aku," ucap Angkasa. Suaranya melunak dan lebih rendah. "Dia memang suka tiba-tiba rangkul lengan aku, tapi aku selalu menghindar dan aku sudah berapa kali mengingatkan dia untuk menjauh." Asha mengulum bibirnya mendengarkan penjelasan Angkasa. Pria itu melanjutkan, "di locker room dia juga yang seenaknya peluk aku, tapi aku bersumpah aku langsung mendorong dia, Angkasha." Angkasa menarik napas berat sebelum bicara lagi. "Soal wallpaper itu, aku belum sempat ubah karena aku sibuk dan banyak hal penting lain yang harus diurus. Wallpaper itu juga dipasang sama Della, bukan aku." Asha menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangan sebentar ke arah jendela. Namun segera Angkasa meraih wajahnya membuat gadi

  • Senior Galak, Jangan Dekat - Dekat!   Bab 218. Debat Bagian I

    Asha melangkah masuk ke kamar. Refleks, pandangannya jatuh ke sisi kanan ruangan. Angkasa ada di sana.Pria itu duduk di depan PCnya dengan layar yang dipenuhi gambar teknis dan model bangunan tiga dimensi. Beberapa denah serta sketsa struktur terbuka di monitor lain di sampingnya.Jemari Angkasa bergerak di atas mouse. Ia begitu fokus dan terlihat dingin, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting selain desain arsitektur di hadapannya.Asha segera mengalihkan pandangan. Kalau Angkasa memang mengabaikannya, ia juga bisa harusnya lanjut melakukan hal yang sama.Gadis itu duduk di tepi kasur lalu meraih ponselnya dan membuka pesan dari Sabrina.[30 menit lagi aku ke halte bus di depan kampus, kita ketemu di sana saja]Asha mengetik cepat, membalas pesan Sabrina.[Oke Sabby]Asha mulai merapikan barang-barangnya. Sesuai instruksi Sabrina, ia tidak perlu membawa baju ganti untuk menginap. Sabrina bersikeras bahwa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status