بيت / Romansa / Sentuh Aku, Om Dokter! / 7. Masalah ekonomi

مشاركة

7. Masalah ekonomi

مؤلف: Rossy Dildara
last update تاريخ النشر: 2025-11-22 08:03:36

"Assalamualaikum. Cantiknya Ayah habis dari mana?"

Suara Ayah terdengar jelas saat dia baru saja turun dari mobil, wajahnya memandangku dengan tatapan yang penuh perhatian. Aku segera berlari mendekat, mencium punggung tangannya dengan gerakan cepat, seolah ingin menyembunyikan rasa takut yang merayap dalam dada.

"Walaikum salam. Aku tadi habis—"

"Konsultasi sama aku, Lan," sela Om Bagas yang tiba-tiba ikut turun dari mobil dan langsung memeluk tubuh Ayah dengan hangat. Seperti biasa, setiap ka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya bikin emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
mungkin karena sayang
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   201. Siapa sangka

    Hati Laura bagai teriris melihat sang cucu, Kai, yang terus menangis tanpa henti. Tangisan itu tak kunjung reda meski sudah dibawa ke dokter dan diberi obat penenang. Merasa tak tega lagi dan mendesak, akhirnya dia memutuskan untuk membawa cucunya langsung ke kantor polisi, satu-satunya tempat di mana ayah dan kakek anak itu berada."Mohon maaf Ibu, Nona. Ini masih terlalu pagi untuk menjenguk tahanan. Kalian bisa kembali lagi nanti pukul 10 pagi," ucap salah satu petugas polisi dengan tegas melarang mereka masuk. Matanya melirik jam dinding di ruangan itu yang masih menunjukkan angka 02.00 dini hari."Maafkan kami, Pak. Tapi ini benar-benar darurat. Anakku menangis terus semalaman, dia nggak bisa tidur, nggak mau makan, karena kangen berat sama Ayah dan Opanya. Tolong izinkan kami sebentar saja, biarkan Kai digendong mereka sebentar saja supaya dia tenang," pinta Qiara dengan nada memelas, air matanya hampir menetes melihat kondisi anaknya yang semakin lemas."Maaf sekali, Nona. Saya

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   200. Menangis terus menerus

    Mobil akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah yang begitu familiar bagi mereka berdua. Suasana halaman rumah terasa tenang dan teduh, seolah menyambut kedatangan mereka kembali."Kamu mau mampir dulu, Mai??" tanya Qiara lembut begitu dia turun dari mobil."Enggak, Mi. Aku mau langsung pulang saja," jawab Maira sambil merapikan sedikit rambutnya. "Nanti titip salam buat Oma Laura saja, ya??" pintanya dengan nada akrab yang biasa mereka gunakan."Oke." Qiara menganggukkan kepalanya pelan tanda mengerti, senyum tipis terukir di bibirnya.Dia pun tak memaksa, hanya berdiri mematung sejenak di sana, membiarkan Maira membelok mobilnya lalu meninggalkan pekarangan rumah. Hanya setelah mobil Maira benar-benar hilang dari pandangan, barulah Qiara menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah.****"Oooeee... Oooeee ....."Tangisan keras Kai memecah keheningan malam. Tidak seperti biasanya, bayi mungil itu menangis terus-menerus dan tak kunjung bisa tidur nyenyak sejak tadi.

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   199. Jadi curiga

    "Itu Om paham," sahut Qiara pelan, wajahnya semakin memerah dan menunduk karena rasa malunya sudah memuncak."Tapi jujur dulu, air apa ini? Om jadi curiga nih," tanya Bagas masih tampak ragu, matanya menyipit menatap botol plastik itu dengan penuh tanda tanya."Air biasa kok, Om. Air putih murni. Aku ambil dari rumah, memang sengaja bawa buat Om satu dan buat Ayah satu," jawab Qiara berusaha terdengar meyakinkan agar suaminya tidak semakin curiga.Dia sengaja berbohong dan tidak berani bilang kalau ini air do'a dari seorang Ustad, karena Maira sudah pesan dari awal. Katanya, kalau jujur takutnya Bagas malah menolak dan menganggapnya takhayul."Di sini 'kan ada air galon. Ngapain repot-repot bawa dari jauh. Yang Om butuhin cuma kamu, Sayang. Nggak ada yang lain," ucap Bagas manja."Ya tapi air di sini kan rasanya beda, Om. Mangkanya aku sengaja bawa air dari rumah," jawab Qiara beralasan."Ya sudah, Om akan meminumnya sampai habis. Tapi ada syaratnya lho.""Ih nggak deh, aku nggak mau

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   198. Kangen setengah mati

    "Pak Bagas, ada yang datang menjenguk Anda." Suara tegap petugas polisi itu seketika membuyarkan lamunan panjangnya. Bagas tersentak kaget, tubuhnya menegang seketika. Sejak pagi dia memang hanya duduk diam mematung di sudut sel yang pengap dan panas itu. Pikirannya melayang jauh, terus menerus membayangkan wajah istrinya tercinta, Qiara, yang kini entah di mana dan bagaimana keadaannya. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga dadanya. "Pasti kesayanganku, Qiara? Qiara yang datang 'kan, Pak?" Nada suaranya berubah drastis, tiba-tiba penuh semangat dan berbinar. Matanya yang tadinya lesu kini terlihat hidup kembali. Tanpa menunggu jawaban pasti, kakinya sudah melangkah cepat mendekati pintu jeruji besi itu. "Betul, Pak." Petugas itu mengangguk mantap, lalu segera membuka gembok besar yang mengunci ruangan itu. Namun, baru saja Bagas hendak melangkah keluar dengan antusias, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dikunci dengan borgol besi yang dingin dan keras. "Lho, k

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   197. Tekanan mental

    "Tapi kenapa harus aku?? Aku 'kan nggak kenapa-kenapa, Mai.""Lho, bukannya katanya kamu terkena ilmu hitam?" Ustad Yunus bertanya dengan raut wajah yang tampak heran."Ilmu hitam??" Qiara semakin bingung dan kali ini dia terlihat sangat terkejut serta tak percaya. "Ustad kata siapa?? Aku nggak terkena ilmu hitam sama sekali kok.""Kata Maira.""Aku akhir-akhir ini sering mimpi buruk tentang Mami," sahut Maira cepat. Sebenarnya dia tak berani jujur jika ini semua ada kaitannya dengan Bagas, karena dia tahu itu sama saja dia mencari masalah besar. Bisa-bisa berbahaya nantinya bagi dirinya. "Jadi ya karena aku khawatir... Nggak ada salahnya dong kalau aku bawa Mami ke sini. Lagian diruqyah itu 'kan bagus dan membawa berkah, Mi.""Mimpi buruk gimana?""Banyak lah, Mi. Dari mulai mimpi Mami sakit, Mami jatuh. Intinya mimpi buruk."Qiara diam sejenak, tampak sedang berpikir, lalu akhirnya dia mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Tapi prosesnya kira-kira berapa lama Ustad??""Sebentar

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   196. Diruqyah

    Sebelumnya, tepat setelah menerima telepon dari Laura yang memberitahu bahwa Dylan dan Bagas di tahan polisi lalu Qiara dan Kai akan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, sebuah rencana yang sudah lama dia susun bersama kakak seniornya tiba-tiba terlintas jelas di benak Maira. Sepertinya hari ini adalah waktu yang paling tepat. Apalagi saat ini Bagas tidak ada di sisi Qiara, tidak ada yang akan menghalangi atau mencurigai gerak-geriknya. Maira pun segera mengetik balasan untuk Davin: [Jadi, Kak. Ini aku baru bujukin Mamiku supaya mau ikut bersamaku. Nanti semisal aku sudah otewe berangkat, aku akan kabari Kakak.] Setelah mengirim pesan itu, dia menyimpan kembali ponselnya dengan wajah yang kembali tenang dan tersenyum manis. "Ya sudah, Mai. Aku mau mandi terus izin dulu ke Bunda, ya?" pamit Qiara lalu menggendong Kai. "Biar aku saja yang minta izin ke Oma. Mami langsung mandi saja nggak apa-apa," jawab Maira cepat, berusaha memudahkan segalanya. "Ya sudah." Qiara menganggu

  • Sentuh Aku, Om Dokter!   101. Kangen sama kamu

    (POV Qiara)“Lho, Om Bagas mana, Ayah?” tanyaku heran saat mengantar Maira sampai keluar rumah.Langkah kakiku terhenti sejenak ketika melihat Ayah duduk sendirian di teras. Padahal tadi Bunda sempat bilang kalau Ayah bersama Om Bagas di luar. Sekilas aku menoleh ke sekeliling, berharap sosok pria

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   102. Kemiripan di antara kami

    “Jangan pake syarat-syarat segala deh, Ayank."“Nanti kamu pakai lingerie yang aku kasih waktu itu, ya, Sayang. Aku mau lihat kamu pakai lingerie saat kita bercinta.”Mataku seketika membulat. Benar dugaanku. Pria dengan otak mesum seperti dia pasti ada-ada saja kelakuannya. Aku

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   91. Kita coba saja

    "Itu namanya insting.” Dia menunjuk dahinya dengan jari telunjuk, tersenyum bangga pada dirinya sendiri. “Insting seorang pacar. Wajarlah aku tau, kan kita juga sehati. Iya, kan?”Aku mendengus pelan dalam hati. Sehati apanya sih?Aku bertanya dengan serius, tapi jawabannya justru dibungkus oleh ca

    last updateآخر تحديث : 2026-03-28
  • Sentuh Aku, Om Dokter!   93. Lebih baik mati

    "Pi, Papi sudah pulang?" Maira yang sejak tadi duduk di kursi teras dengan perasaan tak menentu langsung berdiri begitu melihat Bagas memasuki halaman rumah. Pria itu baru saja pulang sehabis nge-gym. Tubuhnya tampak segar, kaus hitam yang melekat di badannya mempertegas postur tegap yang masih ter

    last updateآخر تحديث : 2026-03-28
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status