Inicio / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 105. Hujan Api di Langit Yanze

Compartir

105. Hujan Api di Langit Yanze

last update Fecha de publicación: 2026-07-18 06:36:39

Di tengah medan perang yang membeku oleh ketegangan, tangan Liying terangkat tinggi di udara, sebuah gestur tunggal yang akan mengubah arah sejarah kedua kekaisaran untuk selamanya. Angin malam yang berhembus kencang membuat jubah hitam kemerahannya berkibar liar, membingkai wajah sang Ratu yang kini tampak seperti dewi pembalasan tanpa belas kasih.

​Di atas tembok raksasa ibu kota Yanze, senyum sosiopat di wajah Putra Mahkota Bojing membeku seketika. Ia mengira telah memegang kartu truf yang a
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuh Aku, Renshu!   105. Hujan Api di Langit Yanze

    Di tengah medan perang yang membeku oleh ketegangan, tangan Liying terangkat tinggi di udara, sebuah gestur tunggal yang akan mengubah arah sejarah kedua kekaisaran untuk selamanya. Angin malam yang berhembus kencang membuat jubah hitam kemerahannya berkibar liar, membingkai wajah sang Ratu yang kini tampak seperti dewi pembalasan tanpa belas kasih.​Di atas tembok raksasa ibu kota Yanze, senyum sosiopat di wajah Putra Mahkota Bojing membeku seketika. Ia mengira telah memegang kartu truf yang akan membuat sang Ratu bertekuk lutut. Namun, Liying menolak negosiasi; ia menatap ibunya yang menangis di atas gerbang dengan dingin, menyadari bahwa Selir Lan selalu menjualnya demi keselamatan sendiri. ​"Dia gila... Pelacur kecil itu benar-benar sudah gila!" desis Bojing tak percaya, cengkeramannya pada rantai yang menahan Selir Lan mengendur sejenak.​Di bawah sana, mengabaikan ancaman Bojing, Liying mengangkat tangannya dan memberi sinyal mematikan kepada pasukan artileri Zixiao. ​BUM! B

  • Sentuh Aku, Renshu!   104. Rantai Trauma yang Terkoyak

    Angin musim gugur yang membawa hawa kematian berhembus membelah medan perang. Barisan raksasa pasukan Zixiao akhirnya tiba di depan gerbang ibu kota Yanze. Namun, derap langkah seratus ribu prajurit itu mendadak terhenti, seolah menghantam sebuah dinding kasatmata. Di garis depan, Chu Renshu duduk tegak di atas kuda perangnya. Mata sang Kaisar Zixiao menatap tajam ke atas tembok raksasa ibu kota, melihat tubuh ibu mertuanya digantung dengan rantai besi sebagai perisai daging. ​Mendengar ancaman sadis Bojing yang menggema dari atas gerbang, urat-urat di leher dan punggung tangan Renshu menonjol ekstrem. Hawa membunuh yang tak terbendung meledak dari tubuhnya. Namun, di balik amarah murni itu, terdapat ketakutan yang jauh lebih besar. Renshu tidak takut pada puluhan ribu pasukan Yanze; ia takut pada hancurnya jiwa wanita yang paling ia cintai.​Didorong oleh insting untuk melindungi Liying dari rasa sakit dan trauma, Renshu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap untuk mengh

  • Sentuh Aku, Renshu!   103. Perisai Daging di Atas Gerbang

    Pagi pertama kekuasaan Bojing diawali dengan bau darah dan keputusasaan. Laporan dari perbatasan mengonfirmasi mimpi terburuk para jenderal Yanze: Pasukan Zixiao tidak bisa dihentikan. Mereka meratakan setiap pos pertahanan seperti badai yang menghapus jejak debu. Bojing menyadari bahwa pasukan Zixiao terlalu kuat, dan konfrontasi fisik secara langsung melawan monster seperti Chu Renshu adalah sebuah bunuh diri. ​"Jika pedang tidak bisa menembus zirah mereka, maka kita akan menghancurkan kewarasan ratu mereka," gumam Bojing, duduk di atas takhta emas yang masih menyisakan noda darah ayahnya. Sebuah rencana yang sangat keji dan sakit jiwa terbentuk di otaknya.​Bojing bangkit dari takhtanya dan melangkah keluar, diikuti oleh regu Pengawal Bayangan yang kini tunduk mutlak padanya. Ia berjalan menuju Istana Kaca Kusam, paviliun yang selama ini menjadi saksi bisu penindasan terhadap Liying dan tempat tinggal ibunya. ​Selir Lan, wanita yang sangat gila harta dan selama ini menutup mata

  • Sentuh Aku, Renshu!   102. Takhta Berdarah Sang Anak Durhaka

    ​Ibu kota Kekaisaran Yanze selalu diterangi oleh ribuan lampion merah setiap malamnya, sebuah tradisi yang dirancang untuk memamerkan kemakmuran sekaligus menyembunyikan sisi gelap di balik tembok istana yang dingin. Namun, malam ini, cahaya merah dari lampion-lampion itu tidak terasa seperti perayaan, melainkan menyerupai genangan darah yang menggenangi udara. ​Di dalam Istana Teratai Merah, kediaman yang paling dihindari oleh para dayang karena teror yang bersembunyi di balik kemegahannya, suasana terasa luar biasa mencekam. Putra Mahkota Bojing duduk merosot di atas kursinya. Matanya yang merah dan dipenuhi urat menatap sebuah kotak kayu eboni yang tergeletak terbuka di atas meja di hadapannya. ​Kotak itu baru saja diantarkan oleh seekor kuda yang kelelahan setengah mati dari perbatasan utara. Di dalamnya, tergeletak dua buah daun telinga manusia yang telah pucat kehabisan darah, ditemani oleh secarik kertas kulit yang memuat pesan singkat namun merobek seluruh ego sang sosiopa

  • Sentuh Aku, Renshu!   101. Pesan Kematian untuk Teratai Merah

    ​Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Benteng Baja Utara, kebanggaan militer Yanze, jatuh tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Zixiao. Asap hitam dari panji naga merah Yanze yang dibakar mengepul ke angkasa, segera digantikan oleh kibaran angkuh panji Naga Langit yang ditancapkan di puncak menara tertinggi.​Liying keluar dari kereta baja komandonya, melangkah ke atas tanah yang bersimbah campuran darah hitam dan merah. Sang Ratu menolak menggunakan tandu atau digendong. Sepatu bot kulitnya menginjak genangan darah tanpa keraguan sedikit pun. Wajahnya sedingin pusaran es abadi, matanya menatap benteng yang telah ditaklukkannya dengan kalkulasi yang kejam.​"Shao," panggil Liying, suaranya jernih dan tajam menembus kesibukan prajurit Zixiao yang sedang membersihkan medan perang.​Sang mata-mata yang kini merangkap sebagai komandan intelijen segera berlari mendekat dan berlutut satu kaki. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Ratu."​"Kumpulkan seratus perwira ber

  • Sentuh Aku, Renshu!   100. Reuni Berdarah Sang Prajurit Tembaga

    Gerbang baja raksasa itu berderit mengerikan, terdorong paksa ke dalam hingga akhirnya ambruk menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan bumi.​Jalan menuju perut Benteng Baja Utara kini terbuka lebar. Renshu melangkah masuk melangkahi puing-puing gerbang, diikuti oleh gelombang pasang tentara Zixiao. Saat obor-obor dinyalakan, pemandangan di dalam benteng membuat prajurit Zixiao yang paling tangguh sekalipun menahan napas ngeri.​Tidak ada pertempuran. Tidak ada perlawanan. Di halaman benteng, di atas menara pengawas, hingga di dalam barak-barak, lima belas ribu prajurit Yanze bergelimpangan bagaikan boneka rusak. Wajah mereka kaku, bibir mereka membiru, dan darah hitam pekat menggenang dari hidung dan mulut mereka. Racun modifikasi Meilin telah membunuh mereka dalam kesunyian yang mencekik.​Renshu berjalan lurus tanpa memedulikan lautan mayat di sekitarnya. Tujuannya hanya satu: aula komando utama.​Di dalam ruangan yang hangat oleh perapian itu, Komandan Jenderal Yanze ter

  • Sentuh Aku, Renshu!   25. Pergumulan Terpanas di Taman Bambu

    Mendengar tuntutan berani yang meluncur dari bibir merah Liying, sisa-sisa kewarasan Chu Renshu hancur lebur berkeping-keping.​Permintaan itu ibarat melepaskan gembok baja terakhir dari kandang seekor binatang buas yang telah lama menahan rasa lapar. Rantai status, hukum istana, hingga batas kesop

  • Sentuh Aku, Renshu!   7. Monster di Bawah Tanah dan Sang Penawar

    ​Malam telah larut menyelimuti ibu kota Kekaisaran Yanze. Namun di dalam Paviliun Kaca Kusam yang mewah, keheningan justru terasa mencekik leher.​Yan Liying duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya, memeluk kedua lutut dengan tubuh yang bergetar tak terkendali. Sensasi dingin dari ujung jari Putra

  • Sentuh Aku, Renshu!   6. Cengkeraman sang ular berbisa

    Kehadiran Putra Mahkota Bojing seolah menyedot habis seluruh pasokan udara di dalam Paviliun Kaca Kusam. Aura dominasi yang memancar dari jubah bersulam naga emasnya begitu pekat dan mencekik, membuat para dayang yang berjaga di luar segera menunduk ketakutan hingga dahi mereka nyaris mencium dingin

  • Sentuh Aku, Renshu!   5. Jejak Dosa dan Sang Ular Emas

    Udara pagi di Paviliun Kaca Kusam mendadak terasa jauh lebih mencekik daripada badai petir semalam.Liying melangkah masuk dengan langkah kaku, menutup pintu ganda paviliun rapat-rapat di belakangnya. Di tengah ruangan, Selir Lan, ibunya sendiri, berdiri dengan mata menyalang. Tatapan wanita paruh b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status