Beranda / Zaman Kuno / Sentuh Aku, Renshu! / 14. Penolakan Sang Putri

Share

14. Penolakan Sang Putri

Penulis: Donat Mblondo
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 22:29:39

Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.

Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar meninggalkan jejak yang luar biasa menyiksa. Paha bagian dalam, pinggang bawah, dan betisnya berdenyut nyeri. Liying bahkan harus berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan diatur sedemikian rupa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuh Aku, Renshu!   19. Amarah Tak Bersuara di Taman Bambu

    Angin malam berembus kencang, menampar dedaunan bambu hingga menciptakan suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan menakutkan. Di tengah taman yang remang, udara terasa begitu pekat dan mencekik, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram leher siapa pun yang berani melangkah masuk.​Liying tiba di tempat latihan dengan setelan katun gelapnya. Belum sempat ia menstabilkan napasnya, sebuah pedang kayu melesat dari kegelapan, mengarah tepat ke wajahnya.​Dengan refleks yang baru terbangun selama beberapa hari terakhir, Liying menangkap pedang itu, meski telapak tangannya berdenyut nyeri akibat benturan yang keras.​Di depannya, Renshu melangkah keluar dari balik bayangan. Pria itu tidak mengenakan zirah, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Namun, tidak ada sapaan 'Tuan Putri'. Tidak ada tatapan penuh damba atau kelembutan seperti malam-malam sebelumnya. Mata elang sang prajurit benar-benar gelap, kosong, dan memancarkan hawa membunuh murni yang membuat da

  • Sentuh Aku, Renshu!   18. Kunjungan Musuh dalam Selimut

    Matahari menjelang siang bersinar terik, memantulkan cahaya keemasan di atap Paviliun Kaca Kusam. Di beranda yang menghadap ke taman teratai, teh melati kualitas terbaik telah diseduh, mengepulkan aroma wangi yang seharusnya menenangkan.​Namun bagi Yan Liying, aroma itu tidak mampu menutupi bau kebusukan dari pria yang kini duduk di seberang mejanya.​Feng Yuchen, Tuan Muda dari keluarga Menteri Keuangan, tersenyum dengan kelembutan yang sangat memuakkan. Pria itu mengenakan jubah sutra biru muda bersulam benang perak, tampak sangat elegan dan berwibawa layaknya cendekiawan kelas atas. Jika saja Liying tidak mendengar informasi dari Xiaoxiao tempo hari, ia mungkin masih akan tertipu oleh pesona palsu ini.​"Tuan Putri, kudengar akhir-akhir ini Anda jarang keluar dari paviliun. Apakah kesehatan Anda memburuk?" tanya Yuchen, nadanya dipenuhi kekhawatiran yang terdengar begitu nyata.​Liying menundukkan pandangannya, memainkan cangkir tehnya dengan anggun. Ia memasang raut wajah malu-ma

  • Sentuh Aku, Renshu!   17. Predator yang Terpancing

    ​Pertanyaan provokatif Liying menggantung di udara malam, beradu dengan gemerisik halus daun-daun bambu yang tertiup angin. Sepasang mata jernih sang Putri mengunci tatapan Renshu, memancarkan tantangan yang begitu berani, seolah ia sengaja mengulurkan lehernya ke rahang seekor binatang buas hanya untuk melihat apakah binatang itu berani menggigitnya.​Renshu tidak langsung menjawab. Namun, keheningan pria itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan kasarnya saat latihan.​Cengkeraman tangan Renshu di sisi pinggang Liying mendadak mengeras. Telapak tangan yang dipenuhi kapalan keras itu menekan sutra tipis kemeja Liying hingga gadis itu bisa merasakan panas tubuh Renshu menembus langsung ke kulitnya. Napas sang prajurit terdengar semakin pendek dan berat, memburu di balik ceruk leher Liying yang terekspos.​Melihat reaksi Renshu yang begitu tersiksa, Liying justru merasa seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru. Rasa takutnya pada dunia luar, pada kelicikan Yuchen, bahkan pada bayang

  • Sentuh Aku, Renshu!   16. Ujian Kewarasan di Atas Batu

    Renshu tidak membiarkan Liying duduk terlalu lama di atas rumput yang lembap dan berbalut tanah kotor. Dengan satu gerakan mulus dan tanpa peringatan, pria bertubuh besar itu merengkuh pinggang serta lipatan lutut sang Putri. Ia mengangkat tubuh mungil Liying dengan sangat mudah, seolah sedang mengangkat sehelai bulu angsa, lalu mendudukkannya di atas sebuah batu pualam datar yang berada di sudut taman bambu.​Batu itu permukaannya sangat dingin karena embun malam, namun hawa panas yang memancar dari tubuh dua insan di atasnya seolah mampu melelehkan es di puncak gunung sekalipun.​Tanpa banyak bicara, Renshu melangkah maju. Ia menekuk satu kakinya, berlutut tepat di antara kedua paha Liying yang dibiarkan sedikit terbuka di pinggir batu. Posisi ini secara fisik menempatkan Renshu di bawah, bersimpuh di kaki majikannya. Namun aura dominasi yang menguar dari sang prajurit dipadu dengan intimnya kedekatan tubuh mereka menjadikan Renshu sebagai predator, sekaligus pihak yang paling tersi

  • Sentuh Aku, Renshu!   15. Meminta Pertanggungjawaban

    Malam ini, angin bertiup lebih tenang di taman bambu. Cahaya bulan purnama menyusup melalui celah-celah dedaunan, menyoroti sosok Renshu yang berdiri kokoh dengan kemeja tanpa lengan dan ranting bambu di tangannya.​Liying melangkah memasuki area latihan dengan napas yang sudah diatur sedemikian rupa. Di balik celana latihannya, lebam-lebam sisa semalam masih berdenyut, namun di tangannya yang berbalut perban tipis, ia menggenggam erat cepuk porselen berisi salep racikan Meilin.​"Fokus, Liying. Jangan biarkan matamu tertipu oleh gerakan lenganku, tapi perhatikan arah bahuku," instruksi Renshu tajam, sepenuhnya kembali ke mode instruktur tanpa ampun.​"Baik," jawab Liying patuh, memasang kuda-kudanya.​"Menghindar!"​Renshu melesat maju. Ranting bambunya berdesing membelah udara, mengincar pinggang kiri sang Putri.​Sesuai rencana, Liying membaca gerakan itu dengan sempurna. Namun, alih-alih menghindar sepenuhnya, gadis itu dengan sengaja melambatkan tarikan kakinya sepersekian detik.

  • Sentuh Aku, Renshu!   14. Penolakan Sang Putri

    Matahari siang menyengat atap Paviliun Kaca Kusam, namun di dalam kamar tidurnya, Liying merasa sekujur tubuhnya seperti baru saja digilas roda kereta kuda.Setiap kali ia menggeser posisinya di atas kursi rias, ringisan tertahan lolos dari bibirnya. Sabetan ranting bambu Renshu semalam benar-benar meninggalkan jejak yang luar biasa menyiksa. Paha bagian dalam, pinggang bawah, dan betisnya berdenyut nyeri. Liying bahkan harus berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan diatur sedemikian rupa agar Dayang Chun tidak curiga."Tuan Putri, Nona Meilin dari Paviliun Pengobatan meminta izin menghadap. Beliau membawa ramuan tonik pesanan Anda," lapor Dayang Chun dari balik tirai.Mendengar nama itu, wajah pucat Liying sedikit tercerahkan. "Suruh dia masuk. Dan Chun, tinggalkan kami berdua. Aku butuh Nona Meilin untuk memeriksa urat nadiku secara tertutup.""Baik, Tuan Putri."Begitu pintu kayu berukir itu ditutup dari luar, Meilin yang mengenakan pakaian abu-abu khas asisten tabib istana se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status