LOGIN“Terima kasih sudah mengantarkan kak Sandra pulang, om,” ucap Rara pada Jefri yang berdiri di depannya. Ia sekarang sedang berdiri di depan kamar Jefri. Tadi, Rara tidak sempat menyambut kedatangan Jefri karena tengah membersihkan piring-piring kotor para tamu seusai makan malam. Setelah urusannya selesai, barulah Rara mendatangi Jefri ke kamarnya. Jefri tersenyum dan mengangguk pelan. Ia menatap Rara yang terlihat resah. “Omong-omong, om,” Rara menelan ludah sejenak, “Apa kak Sandra mengungkit hal yang aku bilang di pesan tadi?”Sudah Jefri duga Rara akan mengungkit soal itu. Sebaiknya apa yang harus dia katakan, ya?“Iya, dia memang mengungkitnya,” balas Jefri ringan, “Dugaanmu benar. Kamu memang hebat,”Rara mendengus, “Bagaimana tidak benar kalau kak Sandra juga memperlihatkannya dengan jelas? Ini juga karena om yang tiba-tiba banyak melakukan hal aneh,”Jefri tertawa pelan. Ia mengangkat bahunya dengan santai. “A
“Apa?”Sandra tertegun. Ia menatap Jefri tak percaya yang masih santai mengemudikan mobil, seolah ia baru saja mengeluarkan ucapan ringan.“Tunggu, eh, saya tidak mengerti,” ucap Sandra lagi terbata. “Apa ucapan saya kurang jelas?” tanya Jefri masih dengan santai. “Bukan, bukan seperti itu,” sela Sandra, “Kenapa anda bertanya balik? Bukankah seharusnya anda menegaskan kalau kalian benar wali dan anak asuh?”Jefri menarik sudut bibirnya lebih lebar. Ia memutar sejenak setir mobil ketika berada di belokan sebelum menjawab pertanyaan Sandra, “Menurut anda karena apa?”Sandra bisa merasakan kepalanya bertambah pusing dari sebelumnya. Ucapan Jefri yang terbolak-balik ini benar-benar memutar isi pikirannya. Tapi, lebih dari itu, Sandra merasa kebingungan teramat sangat atas jawaban ambigu Jefri. Bukankah ucapan pria itu justru menunjukkan kalau dia dan Rara memang ada hubungan lain?Sandra menghela napas.
“Apa yang kalian lakukan?!” seru Sandra. Rara tersentak dan segera menoleh ke belakang. Matanya segera menangkap sosok Sandra di depan pintu. “Ka-kak Sandra, kau mengagetkanku,” ucap Rara terbata, “Apa maksud kakak barusan?” Sandra menelusuri wajah bingung Rara. Ia lalu mengalihkan pandangan ke Jefri. Alisnya mengerut saat melihat tisu di tangan pria itu. Tunggu, apa? Sandra menoleh kembali ke Rara. Ada bekas makanan di ujung bibirnya. Apa Jefri barusan ingin membersihkan bekas makanan itu …. Dan bukan mencium Rara? “Kak Sandra?” Sandra menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menghela napas panjang. Hal itu membuat Rara buru-buru mendekatinya. “Ada apa? Kenapa kakak tiba-tiba seperti ini?” tanya Rara panik, “Apa kakak kelelahan?” “Tidak, bukan seperti itu,” ucap Sandra sambil melepas tangannya dari muka. Ia menghela napas panjang. “Maaf, sepertinya aku berpikir hal yang aneh-aneh,” Rara seketika menegang. Ia menatap was-was Sandra yang tengah memijat-mijat pangkal hidung
“Pagi, kak Sandra!”Sandra menoleh ke pintu kantor. Ia langsung melihat Rara tengah berdiri di sana dengan cengiran lebar.“Ra,” panggil Sandra. Ia segera bangkit dan mendekati Rara.“Kamu sudah sehat? Kemarin tuan Jefri bilang kamu demam cukup parah,” ujar Sandra khawatir sambil memerhatikan Rara dari atas sampai bawah.“Sudah. Aku punya imun yang kuat jadi cepat sembuh,” kekeh Rara. Sandra mendengus, “Kalau memang begitu, harusnya sedari awal kamu tidak sakit,”Rara meringis. Ia tidak bisa membantahnya karena ucapan Sandra ada benarnya. “Sepertinya ini salahku juga karena mempekerjakanmu terlalu keras,” desah Sandra, “Sebaiknya kamu istirahat lagi–”“Aku benar tidak apa-apa,” sela Rara, “Lagipula sebentar lagi malam tahun baru dan motel akan penuh. Aku tidak bisa membiarkan kak Sandra sibuk sendiri di motel,”Sandra menghela napas. Ia memang tidak akan bisa menang dari Rara.“Baiklah kalau begitu. Tapi, kalau kamu kelelahan, segera istirahat!” titah Sandra serius.“Siap!”‘Apakah
“Ti-tidak usah!” seru Rara sambil bangkit berdiri. Tubuhnya sedikit oleng karena pusing akibat bangun mendadak, tapi buru-buru menstabilkan dirinya. “Aku sudah sehat, jadi om sebaiknya pulang saja!”Jefri menyeringai lebih lebar. Rara menelan ludah. Sepertinya, pria itu bisa membaca dirinya kalau ia tengah salah tingkah sekarang. Rara buru-buru mengalihkan pandangan. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh ya, aku belum bilang kak Sandra tadi pagi kalau aku sakit!” panik Rara. Ia kembali menurunkan badannya di kasur dan mencari ponselnya. “Jangan khawatir. Om sudah kabari padanya lewat pesan tadi pagi,” ucap Jefri yang menghentikan pergerakan Rara. Ia kembali menatap Jefri. “Nona Sandra sebenarnya ingin menjengukmu. Tapi, ia jadinya tidak sempat karena banyak urusan,” lanjut Jefri.Rara jadi merasa bersalah mendengar hal itu. Pokoknya setelah sembuh nanti, ia harus bekerja ekstra dua kali lipat dari biasanya!Ra
SRET“Lengan gaun anda terlalu turun, nona,” ucap Leo. Hani bisa merasakan tangan pria itu mulai menaikkan sedikit lengan gaunnya. Jantung Hani berdebar kencang. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium lagi bau musk pria itu, membuatnya sedikit mabuk. ‘Apa ia akan mendekat lagi?’ batin Hani dengan jantung yang semakin berdebar. Tapi, tidak sesuai dugaan Hani, Leo justru kembali mundur ke belakang. Hani membuka matanya perlahan saat tidak lagi mencium wangi tubuh Leo. Ia mengerjap-ngerjapkan mata melihat senyum puas di wajah Leo. “Sepertinya gaun ini paling cocok untuk acara nanti, nona,” ucap Leo, “Gaunnya juga tidak terlalu panjang, jadi tidak akan menyulitkan anda saat berdansa nanti,”“O-oh, benar,” jawab Hani kikuk, “Aku akan memakai ini saja kalau begitu,”Leo mengangguk. “Kalau begitu, saya akan melipat gaun anda,” ucapnya lalu berbalik badan. Ia kembali berjalan menuju sofa, tempat tumpukan gaun Hani berada.
Rara dan Septa ikut menolehkan kepala ketika mendengar suara riuh para tamu ke pintu aula hotel. Napas Rara tercekat ketika melihat Jefri melangkah masuk bersama Rachel dan Hani. Ketiganya berpegangan tangan dengan posisi Hani berada di tengah.Warna busana mereka adalah merah maroon. Je
Sama sekali tidak ada percakapan di antara Jefri dan Rara selama Rara mengantar Jefri ke kamarnya. Mereka hanya berdiri bersisian di lift dalam diam.Rara melirik ke Jefri yang wajahnya semakin memer
“Kenapa?” tanya Jefri dengan nada rendah. Tatapan mata pria itu berubah tajam, tapi ia masih menatap ke depan. Rara menelan ludah. Kalau boleh jujur, ia selalu ketakutan setiap Jefri bereaksi seperti ini. Ia merasa setiap omongannya akan salah jika berbicara dengan Jefri di mode ini.
“Pokoknya jangan salahkan aku kalau kakimu keinjek, ya!”“Aku tinggal injek kakimu balik,” balas Septa sambil tertawa. Rara mendengus dengan senyum geli di wajahnya. Ia memerhatikan tangannya yang berpegangan dengan tangan Septa. Ia tiba-tiba teringat dengan latihan d







