Inicio / Rumah Tangga / Sentuhan Panas Ayah Tiri / Kenangan yang Menyesakkan

Compartir

Kenangan yang Menyesakkan

Autor: Marssky
last update Fecha de publicación: 2025-09-26 09:29:41

Pagi itu, Raisa bangun lebih pagi. Sebelum beranjak dari kasur, ia menoleh ke samping lebih dulu. Raisa melihat Gendis masih tertidur pulas.

Matanya kemudian menangkap jam yang masih menunjukkan pukul empat pagi. Masih terlalu dini untuk bangun.

Akan tetapi, kalau Raisa sudah bangun, ia tidak bisa tidur lagi. Raisa perlahan turun dari kasur, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum Gendis bangun dan menyuruhnya buru-buru.

Raisa mencuci muka di depan wastafel. Ia kemudian menatap pantulan dirinya. Kantong matanya terlihat menghitam, efek dari ia yang selalu begadang demi mencari sesuap nasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama tinggal dengan nenek dan kakeknya dulu.

Sekarang, ia sudah bisa tidur lebih awal. Namun, rasanya sangat hampa. Ia merindukan kedua orang tua yang merawatnya dari kecil.

Rasanya sesak setiap kali mengingat penderitaan hidupnya dulu. Sepiring nasi harus dibagi tiga dengan nenek dan kakeknya karena mereka tidak punya cukup uang untuk membeli beras. Bahkan, lauknya pun seadanya, hanya dengan garam dan cabai yang ditumbuk.

Sementara itu, orang yang membuatnya menderita hidup enak di kota, menikmati semua fasilitas yang seharusnya menjadi miliknya.

Mengingatnya membuat rasa benci dalam diri Raisa semakin berkobar. Ia tidak akan pernah memaafkan ibunya, sekalipun wanita itu meminta maaf padanya.

Raisa yang tadinya menangis tiba-tiba berkobar, pancaran matanya penuh kebencian. Kedua tangannya meremas pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ayah, Kakek, Nenek, yang tenang di sana, ya. Di sini, aku akan berjuang demi mengembalikan hakku agar kalian bisa tenang melihatku dari atas sana," gumam Raisa dengan air mata yang tiba-tiba kembali meluncur di kedua pipinya.

Tok! Tok!

"Sa, kamu di dalam?" Di luar, Gendis mengetuk pintu kamar mandi berulang kali.

Raisa buru-buru menghapus air matanya, lalu berdeham pelan dan berusaha untuk tetap tenang. Gendis tidak boleh tahu kalau dia habis menangis. Anak itu bisa bertanya banyak hal padanya nanti.

"Iya, aku baru mau mandi."

"Kamu bisa keluar dulu tidak? Aku sudah kebelet ini, perutku sakit," ucap Gendis dari luar sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit karena ingin buang air besar.

Mendengar itu, Raisa buru-buru membuka pintu. "Ya sudah, masuk. Jangan lama-lama, ya. Kita harus cepat-cepat keluar untuk bersih-bersih."

Gendis yang sedang bersandar di tembok dengan lutut tertekuk hanya mengangguk. Ia dengan cepat masuk ke kamar mandi karena hajatnya sudah di ujung tanduk.

Raisa duduk di ranjang sembari menunggu Gendis selesai buang air besar. Raisa membuka ponselnya, mencari informasi tentang perusahaan ayahnya.

Saat membuka sebuah halaman, Raisa melihat profil jajaran direksi dan staf yang bekerja di perusahaan itu. Yang menjadi CEO-nya sekarang adalah ayah tirinya, suami ibunya.

Raisa mengepalkan tangannya erat, meremat ponsel dalam genggamannya.

Raisa harus masuk ke sana, bagaimanapun caranya. Ia harus merebut kembali hak milik ayahnya yang dikuasai oleh wanita ular dan suaminya itu.

Cklek!

Mendengar pintu kamar mandi dibuka, Raisa dengan cepat menaruh ponselnya kembali ke atas kasur, lalu melihat Gendis yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengusap perutnya.

Anak itu tampak lesu, wajahnya terlihat sangat pucat, dan tubuhnya lemas. Raisa beranjak menghampirinya.

"Kamu kenapa? Perutmu masih sakit, ya?" tanya Raisa sambil menuntun Gendis untuk duduk di ranjang.

Gendis mengangguk pelan. "I-iya, aku tiba-tiba diare, jadi lemas sekali," ucap Gendis lesu.

Raisa menghela napas pelan. Ia kasihan melihat Gendis seperti ini, apalagi ini adalah hari pertama mereka bekerja lagi. Namun, kalau dipaksa bekerja, ia takut anak itu malah kolaps.

"Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar nanti aku yang bilang ke Ibu kalau kamu belum bisa kerja hari ini karena sakit," ucap Raisa karena ia tahu Gendis butuh banyak istirahat.

Wajah Gendis berubah melas. "Maaf, ya, Sa. Gara-gara aku sakit, kamu jadi harus kerja sendiri," ucap Gendis tak enak hati.

Raisa tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, lagian ada Bi Murni, kok. Jadi aku tidak sendirian," ucap Raisa mengusap pelan punggung Gendis. "Mending kamu istirahat sekarang, jangan lupa minum banyak air putih juga biar cepat pulih. Nanti aku minta obat diare ke Bi Murni, siapa tahu dia punya."

Gendis mengangguk, kemudian merebahkan dirinya ke kasur. Sementara itu, Raisa dengan telaten menyelimutinya. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

Selesai bersiap-siap, Raisa langsung keluar dari kamarnya, membiarkan Gendis istirahat seorang diri.

Raisa berjalan menuju area dapur. Ia mendapati Bi Murni sudah ada di sana, sedang berkutat dengan berbagai peralatan masaknya.

"Selamat pagi, Bi," sapa Raisa sambil berjalan ke arah pojok dapur untuk mengambil sapu dan pengki.

"Pagi, Raisa. Bagaimana tidurnya? Nyenyak, kan?" tanya Bi Murni balik sambil sibuk memotong-motong roti yang akan dijadikan sandwich untuk sarapan majikannya.

"Nyenyak, Bi. Oh iya, Ibu belum bangun, ya?" tanya Raisa sedikit berbasa-basi.

"Belum, Nak. Ibu kan biasanya bangun agak siang, sekitar jam sembilan. Jadi, sebelum dia bangun, semuanya harus sudah bersih."

Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku bersih-bersih dulu, ya, Bi," ucapnya seraya berjalan meninggalkan area dapur dengan membawa sapu dan pengki di tangannya.

"Tunggu!"

Raisa menghentikan langkahnya mendengar Bi Murni memanggil. "Iya, ada apa, Bi?" tanyanya berbalik.

"Gendis mana? Kenapa tidak bareng kamu?" tanya Bi Murni yang baru sadar kalau sejak tadi Gendis tak ada di antara mereka.

Raisa menepuk dahinya pelan. Ia hampir lupa meminta obat untuk Gendis pada Bi Murni. Untung saja Bi Murni bertanya padanya.

"Dia lagi sakit, Bi. Lagi diare, jadi saya suruh istirahat dulu. Biar saya saja yang kerjakan semuanya sampai dia pulih. Oh iya, Bibi ada obat diare?"

"Ada di kamar, nanti biar Bibi yang kasih ke Gendis. Sekarang kamu lanjut kerja saja."

Raisa mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya. Namun, ia kembali berhenti saat Bi Murni kembali bicara.

"Oh iya, kalau ruang tamu sama teras sudah bersih, kamu masuk ke ruang kerja Bapak, ya. Bersih-bersih di sana juga. Biasanya saya yang bersih-bersih, tapi karena sudah ada kamu, jadi tugas itu saya alihkan ke kamu."

Raisa tersenyum tipis. "Baik, Bi!" serunya dengan semangat.

***

Ruang tamu dan teras telah ia bersihkan. Kini, Raisa berjalan ke arah ruang kerja ayah tirinya.

Raisa sudah berdiri di depan ruangan itu. Ia agak waswas untuk membukanya, takut tiba-tiba ada orang di dalam.

Raisa mengumpulkan keberaniannya. Ia membuka pintu ruangan itu dengan pelan. Ia sedikit mengintip ke dalam sebelum benar-benar masuk.

Tidak ada orang di dalam. Namun, hal pertama yang Raisa lihat adalah ruangan itu terlihat berantakan. Ada banyak sisa makanan dan minuman beralkohol di sana. Sepertinya ruangan itu dijadikan tempat minum-minum oleh ayah tirinya.

Dulunya, ruangan itu adalah ruang kerja ayahnya. Selama ayahnya masih ada, ia sering masuk ke sana untuk menemani ayahnya bekerja atau sekadar membaca buku.

Tak ada yang berbeda dari ruangan itu. Semua propertinya masih sama. Ada dua lemari yang berisi buku-buku milik ayahnya. Raisa bersyukur, setidaknya ia masih bisa melihat beberapa peninggalan ayahnya di rumah itu.

Raisa melangkah masuk lebih dalam. Pengki dan sapu yang dibawanya ia taruh di lantai, kemudian ia membereskan meja yang berantakan, lalu mulai menyapu seluruh ruang kerja.

Setelah selesai, Raisa beristirahat sejenak di dalam ruangan itu. Matanya kembali menelisik deretan rak buku. Ia kemudian berdiri hendak mengambil salah satu buku dari lemari itu.

Raisa ingin menggapainya, tetapi letak bukunya terlalu tinggi. Ia kemudian mengambil kursi kayu yang tersedia di sana, lalu berdiri di atasnya untuk mengambil buku itu.

Namun, sialnya, saat hendak turun, tiba-tiba kursi kayu itu berderit keras. Raisa oleng ke belakang.

Bugh!

Raisa terjatuh. Namun, anehnya ia merasa tak sakit sama sekali. Punggungnya baik-baik saja. Mata yang tadinya tertutup karena takut, perlahan terbuka.

Raisa membelalakkan matanya. Ia memberontak ingin turun karena sadar kalau ia berada dalam gendongan ayah tirinya.

Pria itu menurunkannya. Raisa menunduk dengan rambut tergerai menutupi wajahnya. Raisa merasa kalau saat ini ia ditatap intens oleh pria itu yang membuatnya sedikit takut, apalagi mengingat kejadian kelam di mana pria itu membantu ibunya untuk membuangnya.

Raisa berharap semoga pria itu tak mengenalinya, sama seperti ibunya. Ia tak ingin rencananya gagal.

"Siapa kamu? Kenapa kamu tiba-tiba ada di ruangan saya?" Suara itu terdengar tegas dan dingin.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Lama Tidak Bertemu

    Pagi harinya, Alan dan Raisa baru saja selesai sarapan ketika ponsel Alan di atas meja makan bergetar. Layarnya menampilkan nama Rain. Alan langsung mengangkatnya, sementara Raisa memperhatikan perubahan raut wajah Alan yang mendadak serius mendengarkan penjelasan di seberang telepon."Ada bukti baru yang ketemu di lokasi kebakaran kantor Papa," ujar Alan setelah mematikan ponselnya. Ia menatap Raisa dengan pandangan serba salah. "Rain minta aku ke sana sekarang buat ngecek langsung. Katanya ini penting banget sebelum kita bawa berkasnya ke LPSK nanti."Walaupun perasaan cemas langsung merayap karena harus ditinggal sendirian, Raisa mencoba menahan diri. Ia tahu bukti itu sangat krusial untuk kasus mereka."Nggak apa-apa, Mas. Pergi aja," ucap Raisa, berusaha meyakinkan Alan. "Aku aman di sini. Lagian apartemen ini kan penjagaannya ketat."Alan mengangguk, lalu menepuk pelan bahu Raisa untuk menenangkannya. "Aku usahain gak lama. Inget, kunci pintunya dan jangan sembarangan buka kalau

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   LPSK

    Alan menatap Raisa dengan binar kelegaan yang tak bisa disembunyikan. Keberanian yang terpancar dari mata wanita itu seolah memberi suntikan energi baru bagi Alan yang baru saja kehilangan ibunya. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Raisa dan meremasnya lembut, menyalurkan seluruh dukungan yang ia punya."Terima kasih, Sa. Kita hadapi ini sama-sama. Aku gak akan biarkan kamu sendirian di depan mereka nanti," ucap Alan mantap.Di seberang meja pembatas, Gendis kembali menangis, namun kali ini air matanya adalah air mata haru dan syukur. "Terima kasih, Raisa... Terima kasih banyak. Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu pakai apa lagi setelah semua yang udah aku lakuin.""Kamu cukup bertahan di sini beberapa hari lagi, Gendis. Jaga diri kamu baik-baik sampai Pak Yudha datang bawa berkas penangguhan," balas Raisa dengan senyum tipis, mencoba menguatkan sahabatnya.Pertemuan emosional itu terpaksa berakhir ketika seorang petugas sipir mengetuk pintu, menandakan bahwa waktu kun

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Melawan Rasa Takut

    Alan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa waktu yang mendesak, ia langsung menghubungi Pak Yudha kembali agar mendesak kepala sipir untuk memberikan dispensasi. Berkat koneksi kuat Pak Yudha, surat izin darurat akhirnya turun.Petugas loket pun terpaksa mengizinkan Raisa dan Alan masuk ke ruang kunjungan khusus, memotong proses pemeriksaan sepihak yang sedang dilakukan oleh tim hukum bentukan ibu Raisa.Pintu besi ruang kunjungan terbuka dengan bunyi gemerincing yang berat. Di dalam ruangan bernuansa dingin itu, duduk Gendis di balik meja pembatas. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, tubuh Gendis langsung menegang. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa sahabat yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu kini berdiri tegak di depannya."Raisa...?" bisik Gendis dengan suara bergetar.Air mata Raisa langsung tumpah. Ia melangkah cepat dan langsung duduk di kursi hadapan Gendis. "Gendis... ini aku."Begitu menyadari bahwa ini bukan mimpi, tangis Gendis langsung pecah.

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Firasat Buruk

    Alan mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak menyengat seluruh tubuhnya. Firasat buruknya terbukti. Ibu kandung dan ayah tiri Raisa benar-benar tidak membuang waktu. Baru saja ia menguburkan ibunya, kini mereka sudah bergerak lagi di belakang layar untuk membungkam Gendis."Nggak bisa dibiarin, Pak," desis Alan dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu ruang kerja, memastikan Raisa di luar tidak mendengar percakapan ini. "Gendis itu satu-satunya harapan kita buat bongkar kelicikan mereka dan bebasin Papa. Kita gak boleh kalah cepat.""Saya tahu, Alan. Makanya sekarang saya sedang meluncur ke kejaksaan untuk menahan berkas permohonan mereka," sahut Pak Yudha dari seberang telepon. "Tapi kamu dan Raisa harus segera ke rutan sekarang juga. Gunakan sisa waktu kunjungan reguler siang ini sebelum jam tutup. Surat izin darurat dari saya akan menyusul lewat kurir digital langsung ke kepala sipir yang saya

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Rutan

    Mendengar kata 'rutan', Raisa tertegun. Matanya membelalak, dan untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Kenyataan bahwa sahabat yang paling setia menemaninya kini harus mendekam di balik jeruji besi membuat dadanya terasa sesak karena dirundung rasa bersalah."Rutan...?" bisik Raisa, suaranya mendadak bergetar. "Jadi dia benar-benar ditahan?”Alan mengangguk pelan saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menginjak pedal gas, membawa mobil melaju perlahan. "Iya, Sa. Waktu semuanya kacau, Gendis juga ikut ditangkap bersamaan dengan ibu dan ayah tirimu karena keterlibatannya waktu itu. Dia divonis satu tahun. Berarti masih ada sekitar tujuh bulan lagi."Raisa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Amarah dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam dadanya. Meskipun ia tahu Gendis ditahan karena sempat membantu ibunya menculik dirinya akibat mendapat ancaman, Raisa sama sekali tidak membenci sahabatnya itu. Ia tahu betul Gendis terpaksa melakukan itu, dan pada akhirnya

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tak Lagi Aman

    Di dalam mobil hitam legam itu, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat tegang. Sorot mata ibu kandung Raisa menghunus tajam ke arah kaca mobil Alan.Kenyataan bahwa putri kandung yang dikiranya sudah tewas kini berada tepat di depan matanya—dan kembali bersama Alan—membuat dadanya naik turun menahan geram.Ayah tiri Raisa menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil, mengetukkan jarinya di setir dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Otak liciknya langsung berputar cepat.Siasat mereka kemarin baru saja sukses besar, bahkan sampai menumbangkan ibu Alan. Namun, kemunculan Raisa yang tiba-tiba ini adalah sebuah variabel tak terduga yang bisa mengancam posisi mereka saat ini."Tenang," ucap pria itu dingin, senyum sinisnya kembali terkembang. "Dia memang masih hidup, tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Alan cuma pemuda yang sedang hancur karena kematian ibunya. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan kita yang sekarang."Ibu Raisa menoleh, menatap

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status