Share

Mulai Tercium

Penulis: Marssky
last update Tanggal publikasi: 2025-10-28 19:21:49

Percakapan Bima dan Raisa berhenti sampai di situ saat Alan menyuruh mereka melanjutkan sarapan. Alan sarapan dalam diam, sementara Raisa dan Bima tampak asyik mengobrol di tengah santap mereka.

Alan merasa sedikit terusik. Hatinya mulai terasa panas. Ia kemudian berdeham sangat keras. “Khmm! Saya sudah selesai. Apa kamu juga sudah selesai, Raisa?”

Raisa mengangguk. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya, piringnya sudah kosong. “Sudah, Mas,” jawabnya.

“Kalau begitu saya antar kamu sekarang, ya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tremor

    “Mas Alan!” panggil Raisa saat sampai di rumah sakit.Langkahnya terhenti ketika melihat Alan sedang memeluk seorang wanita. Raisa mengenali wanita itu—dialah yang malam itu bersama Alan saat mereka pertama kali bertemu di warung. Ada hubungan apa di antara mereka?Dada Raisa tiba-tiba terasa sesak. Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Ini bukan waktunya untuk cemburu. Lagi pula, ia juga tidak punya hak untuk merasa seperti itu. Hubungannya dengan Alan tidak lebih dari sekadar teman, dan Alan hanya membantunya menyelesaikan masalahnya.“Loh, kenapa bengong?” tanya Rain yang baru saja datang menyusul Raisa. Saat melihat ke arah yang sama dengan Raisa, ia langsung mengerti situasinya. “Ayo samperin saja. Dia butuh kamu sekarang.”Raisa mendongak menatap Rain. “Sepertinya dia nggak butuh aku, Mas. Sudah ada yang menemani dan menguatkan dia sekarang,” ucapnya dengan nada sedih.Rain menghela napas kasar. Ia kemudian menghampiri Alan dan menepuk bahu pria itu. “Lan, gue bawain baju ganti

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Orang Aneh

    “Itu siapa, ya?” gumam Rain pelan saat keluar dari lift.Dari kejauhan ia melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu apartemen Alan. Di sampingnya ada sebuah koper besar. Wanita itu mengenakan masker hitam dan tampak terus menatap ke arah pintu, seolah sedang menunggu seseorang.Kening Rain langsung berkerut.“Jangan-jangan maling lagi,” gumamnya curiga.Ia pun mempercepat langkah, lalu berhenti tepat di depan wanita itu.“Hei! Kamu mau maling, ya?” tuduh Rain tanpa basa-basi.Wanita itu tersentak kaget. Ia buru-buru menggeleng sambil sedikit mundur.“Ti-tidak! Aku nggak ada niat begitu,” katanya gugup. Ia lalu membuka maskernya. “Aku cuma mau ketemu Mas Alan. Dia ada, kan?”Begitu wajah wanita itu terlihat jelas, mata Rain langsung membelalak.Ia menatapnya lama seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Kamu…?” Rain bergumam pelan.Beberapa detik kemudian ia bahkan menggosok-gosok matanya, memastikan penglihatannya tidak salah.“Kamu beneran masih hidup?” katanya akh

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Melihatmu Didiri Orang Lain

    Perkataan dokter itu seperti petir yang menyambar di telinga Alan.Alan terpaku di tempatnya. Wajahnya memucat, sementara matanya menatap kosong ke arah dokter di hadapannya. Seolah otaknya menolak menerima apa yang baru saja ia dengar.“Apa…?” suaranya lirih dan hampir tak terdengar. “Tidak mungkin…”Dokter hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan.“Tadi sempat terjadi serangan jantung kedua. Kondisinya sudah sangat kritis saat dibawa ke sini,” jelasnya perlahan. “Kami sudah melakukan semua yang kami bisa.”Alan menggeleng pelan. Dadanya terasa sesak, napasnya berat.“Tidak… ibu saya baik-baik saja sebelum ini,” gumamnya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Tadi malam dia masih bisa menghubungi saya…”Tangannya gemetar.Rain yang sejak tadi berdiri di sampingnya menatap Alan dengan penuh rasa iba. Ia tahu kabar ini akan menghancurkan sahabatnya.“Lan…” Rain mencoba menyentuh bahunya.Namun Alan langsung melepaskan diri dan mendorong pintu ruang perawatan itu.

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Kehilangan

    Raisa akhirnya memutuskan untuk menyusul Alan ke Jakarta.Saat ini ia berada di dalam kamarnya, menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Koper besar di samping tempat tidur sudah penuh dengan pakaian dan beberapa barang penting lainnya. Rencananya, ia akan menetap cukup lama di Jakarta karena kedua orang tuanya juga berencana pindah ke sana.Untuk sementara, toko kue miliknya yang ada di kota ini ia serahkan kepada Sarah untuk dikelola. Raisa tetap akan memantaunya dari jauh. Sambil itu, ia ingin membantu Alan menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya—membebaskan ayah Alan dan memastikan ibu kandungnya bersama ayah tirinya mendapatkan hukuman yang setimpal.Raisa sudah bertekad. Kali ini ia tidak akan lari dari masalahnya.Tok… tok…“Sudah siap belum, Nak?” suara Arum terdengar dari balik pintu kamar.“Iya, Bu… sebentar,” jawab Raisa.Ia menarik pegangan koper, lalu membuka pintu dan keluar dari kamar. Arum sudah berdiri di sana menunggunya.“Sudah, Bu. Ayah di mana? Apa dia

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Pulang Tanpa Raisa

    “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hidayat saat melihat ekspresi Alan yang mendadak pucat setelah menerima telepon.Alan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. “Maaf, Om… Tante… saya harus pulang ke Jakarta sekarang. Tolong sampaikan salam saya untuk Raisa kalau dia sudah bangun,” ucapnya dengan suara tertahan.Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan, “Bilang ke dia, kalau dia tidak mau pulang, tidak apa-apa. Saya tidak keberatan. Saya akan mencoba menyelesaikan masalah saya sendiri. Kalau begitu, saya pamit.”Tanpa menunggu jawaban, Alan berbalik dan melangkah cepat meninggalkan rumah itu.***Di kamar, Raisa baru saja terbangun. Ia melenguh pelan sambil mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari sela tirai. “Aku di mana?” gumamnya lirih, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.Beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa itu adalah kamarnya sendiri.Tiba-tiba matanya membelalak saat ingat

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tragedi

    Semua orang terdiam kaget mendengar ucapan Alan.“Maksudnya, Mas? Aku harus ikut sama kamu? Tapi—” ucapan Raisa terhenti. Ia langsung menoleh ke arah orang tuanya dengan wajah bingung.“Tidak!” potong Arum dengan suara keras. “Nesya tidak akan pergi dari sini. Dia sudah kami anggap anak sendiri. Mana mungkin kami membiarkan kamu membawanya pergi, sedangkan kami saja tidak benar-benar tahu kamu siapa,” lanjutnya tegas.Hidayat ikut menatap Alan dengan serius. Sementara Raisa hanya bisa duduk diam, merasa suasana kembali tegang.Alan menghela napas kasar, lalu menatap mereka satu per satu. “Saya tahu ini berat buat kalian. Tapi sekarang keadaannya cukup genting. Raisa harus ikut saya, karena—”Kalimatnya terhenti.Alan tampak ragu. Ia sempat melirik ke arah Raisa. Ia sebenarnya tidak yakin harus menyampaikan semuanya di depan Raisa atau tidak. Ia takut kalau kabar itu justru membuat trauma Raisa muncul lagi dan membuatnya semakin menolak pergi.Tapi di sisi lain, kalau ia tidak jujur, b

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Sabotase

    Raisa terbangun di sofa. Lehernya terasa kaku dan seluruh badannya pegal. Lampu ruang utama masih menyala terang. Ia melihat ke arah pintu. Rantai pengaman masih terpasang.Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Ia bangkit, melipat selimutnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Saat ia membasuh waj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tak Disukai

    Tepat jam tujuh, Raisa sudah bangun. Jantungnya berdebar-debar memikirkan hari pertamanya bekerja di kantor. Ia berjalan ke kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin. Bekas memar kecil di pipinya sudah sedikit memudar, tapi ia masih bisa melihatnya jika diperhatikan dari dekat. Bekas itu i

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Ketakutan Raisa

    Raisa kembali ke mejanya. Ia menatap layar komputernya. Ratusan folder dengan nama-nama aneh berjejer di sana. Ia tidak tahu harus mulai mencari dari mana. Rasa frustrasi dan tidak berdaya mulai terasa. Ia sengaja diasingkan dan dipersulit.Ia mencoba lagi. Ia berdiri dan berjalan ke meja Santi unt

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Fajar yang Kembali Murka

    Raisa kembali ke mejanya dan duduk. Ia tidak berani menyentuh apa pun, hanya menatap lurus ke layar komputernya. Di seberang ruangan, Santi tidak lagi hanya melirik. Ia kini menatap Raisa dengan tatapan tajam dan tidak suka. Raisa bisa mendengar Santi berbisik pada karyawan di sebelahnya. Waktu ber

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status