Home / Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 3. Kau Hanya Budakku!

Share

3. Kau Hanya Budakku!

last update Last Updated: 2025-08-27 15:36:52

Kedua bola mata Anne membesar. Detik jantungnya serasa ingin berhenti saat itu juga.

Nama itu … Elle Valerie.

Bagaimana pria ini bisa menyebut nama saudara kembarnya?

"Bagaimana kau bisa mengenal Elle?" tanya Anne lirih.

"Punya hak apa kau bertanya padaku, hah? Kau tidak diperbolehkan untuk bertanya tanpa seizin dariku. Sekarang kau jawab saja pertanyaanku!" sentak Leon kasar.

Anne menatap Leon dengan mata melebar, berusaha memastikan ia tidak salah dengar. Bibirnya sempat bergetar, sebelum akhirnya ia memaksakan kata-kata untuk keluar.

“Elle … dia kakakku."

Leon tidak menunjukkan reaksi apa pun. Tidak ada keterkejutan, tidak ada perubahan pada wajah dinginnya. Hanya tatapan tajam yang tetap menusuk ke arah Anne, seolah ia sudah tahu jawaban itu sejak awal.

Sebelah sudut bibir Leon terangkat naik. Dengan kasar, ia menghempaskan cengkeramannya dari kedua pipi Anne hingga membuat wajah gadis itu memerah.

"Oh, ternyata dia kakakmu ya? Atau saudara kembarmu?" tanya Leon lagi, kali ini matanya semakin menatap sinis pada Anne.

"Iya. Dia kakakku, saudara kembarku." Anne mengangguk pelan.

Namun, mendengar itu, Leon masih tetap bersikap biasa saja. Dia tak terkejut, tak marah, dan tak menunjukkan reaksi apapun. Ia hanya berbalik badan membelakangi Anne, kemudian melangkah ke dekat jendela.

Sejenak, Leon menatap ke luar sana. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

Anne masih mematung dengan sejuta pertanyaan dalam pikirannya. Sikap ketidakpedulian Leon itu justru membuatnya semakin gelisah. Pikirannya berkecamuk.

Kalau begitu, apa sebenarnya hubungan Elle dengan pria ini? Kenapa Leon Dominic, si penguasa pasar gelap itu bisa mengenal Elle?

Anne menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan gejolak kegelisahan dalam dirinya. Namun langkah Leon kembali terdengar mendekat dengan perlahan. Suara sepatunya beradu dengan lantai marmer. Setiap ketukan seperti tanda bahaya yang memukul-mukul gendang telinga Anne.

Langkah itu semakin dekat.

Hingga akhirnya tubuh tegap Leon itu berdiri tepat di hadapannya. Anne masih berlutut, membuat Leon menjulang tinggi di depan matanya. Bayangan tubuhnya menelan Anne sepenuhnya, menghadirkan aura yang begitu menekan.

Anne berusaha bernapas stabil, tapi tatapan tajam Leon membuat dadanya terasa kian sesak.

“Jadi kau mengakuinya.” Suara Leon terdengar rendah, dingin, dan seakan penuh intimidasi.

Anne mendongak sedikit, mencoba membaca ekspresi pria itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubunganmu dengan Elle?” tanyanya sekali lagi dengan suara bergetar, meski ia berusaha tetap terdengar tenang.

Leon membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan, membuat Anne terperangkap tanpa ruang untuk mundur. Tatapannya menajam, bibirnya melengkung tipis.

“Hubungan kami?” Ia terkekeh dingin.

"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas .…” ucapan Leon terhenti. Jemarinya terulur menyentuh dagu Anne, mengangkat wajahnya paksa agar tetap menatap mata hazelnya yang menyala.

“Kau di sini sebagai pengganti saudaramu.”

"A ... Apa?" Tubuh Anne seolah membeku.

“Kau akan menjadi penebus dosa Elle padaku, dengan tubuhmu sendiri.”

Ucapan itu menghantam Anne lebih keras dari cambuk. Ada perih yang tak bisa ia jelaskan. Bukan hanya karena dirinya dianggap barang, melainkan karena nama Elle kembali menyeretnya ke dalam jurang yang ingin ia lupakan.

Namun, sebelum sempat ia bereaksi, Leon semakin mendekat. Nafas hangatnya menyapu wajah Anne, jemarinya kini bergerak dari dagu dan turun ke leher, lalu berhenti di bahunya. Sentuhan itu ringan, tapi cukup untuk membuat tubuh Anne menegang.

“Aku akan pastikan kau tidak pernah melupakannya, Anne Valerie," bisik Leon pelan.

Pria itu pun bangkit dan berdiri dengan tangan terlipat di dada.

"Sekarang bangun!" perintahnya.

Lagi lagi Anne tak punya pilihan selain hanya menurut pada Leon. Gadis itu perlahan bangkit, berdiri di atas kaki jenjang yang menopang tubuh lemahnya.

Leon berjalan mengitari tubuh Anne, seraya menatap tubuh indah itu dari atas sampai bawah. Tak ada satu inci pun yang luput dari pandangan mata tajamnya. Hingga kini ia berdiri tepat di belakang gadis itu.

Hap!

“Akh!” Anne meringis pelan, ketika Leon menarik tali gaunnya dengan kasar, hingga kini bagian bahunya nampak terbuka.

“Jangan merintih kalau aku tidak memintamu! Aku sudah bilang, kalau sekarang aku yang mengatur hidupmu!” bisik Leon tepat di dekat telinga Anne, sembari ia mencengkram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat.

“Argghh, sakit!” Anne mendesis, merasakan cengkeraman kuat Leon bahkan kuku pria itu menusuk kulitnya.

Namun, Leon sama sekali tak peduli pada rintihan Anne. Wajahnya mendekat ke cuping telinga, kemudian turun ke leher Anne yang mulus. Jemari Leon pun menyusuri bahu Anne yang terbuka, lalu turun ke lengan.

“Apa … apa yang Tuan lakukan?” Suara Anne bergetar, tapi Leon malah semakin buas.

“Diam!” bentak Leon, yang kini kembali menjamah tubuh Anne.

Tangannya kini mulai melepaskan tali gaun yang melekat di tubuh gadis itu. Anne menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan degup kencang di dada. Bulu kuduknya meremang saat ia merasakan sentuhan jari hangat Leon menyusuri lehernya dan semakin turun ke dadanya.

“Ahh, Tuan Leon!” desis Anne tertahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   152. Restu dari Roberto

    Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   151. Sosok di Mansion Dominic

    “Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   150. Kembali Bersamamu

    Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   149. Jika Bukan Denganku, Bukan dengan yang Lain

    Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   148. Kembali Padanya

    Sosok yang berdiri dalam bayang-bayang itu akhirnya melangkah mundur perlahan. Lampu-lampu Heidelberg masih berkilau indah, tapi bagi Damara, pemandangan itu terasa seperti ejekan. Ia sangat muak melihatnya.Dada pria itu naik turun menahan amarah yang membakar. Tangannya mengepal semakin kuat saat melihat Leon memeluk Anne dengan erat. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat ini wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dan ingin ia lindungi, justru sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Leon, rival abadinya itu.“Jadi pada akhirnya, kau tetap memilih dia, Anne,” gumam Damara dengan suara rendah dan dingin.Matanya memerah, bukan hanya karena luka, tapi karena ego yang terinjak. Ia bukan pria yang terbiasa kalah. Terlebih kalah dari Leon, musuh yang selama ini selalu berusaha keras ia kalahkan dengan cara halus.“Aku sudah memberimu ruang,” lanjutnya lirih, senyum tipis berbahaya terukir di bibirnya.“Dan aku juga sudah membiarkanmu untuk mengambil keputusanmu sendiri

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   147. Satu Kesempatan Lagi

    “Lepaskan aku, Leon! Aku bukan milikmu.” Anne berontak dan berusaha berpaling untuk pergi dari Leon, tetapi pria itu dengan cepat menahan tangan Anne dan menariknya ke dalam pelukannya.“Tidak, Sayang. Sampai kapan pun, kau adalah milikku. Kau masih istriku, selamanya." Leon mendekap tubuh Anne semakin erat.Kedua tangannya melingkar di pinggang Anne, dagunya ia letakkan di puncak kepala Anne, dan sesekali Leon mengecup kepala wanita yang sangat dicintainya itu.Anne berontak, tapi ia tak bisa lepas. Ia tak punya pilihan lain, selain hanya diam beberapa saat dan merasakan pelukan Leon yang sebenarnya selama ini sangat dia rindukan.Malam di Heidelberg itu terasa begitu sunyi, seolah dunia sengaja menahan napas hanya untuk mereka berdua. Angin dingin menyapu pelan, membawa aroma sungai dan semerbak dedaunan. Cahaya kota tua berkilau di kejauhan, sementara Anne dan Leon terdiam dengan posisi saling berpelukan.“Leon, lepaskan aku! Jangan seperti ini!" Anne berusaha mendorong dada Leon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status