LOGIN
"Kamu... sangat cantik," bisik Arka di telinga Nia, membuatnya menggelinjang. Arka mulai menciumi leher Nia yang jenjang. Bibirnya menelusuri setiap inci kulit lembut itu, merasakan denyut nadi Nia yang semakin kencang.
Nia mendesah lebih keras kali ini. "Arka...hhmmhh…. kita tidak seharusnya..."
"Tapi kita menginginkannya," balas Arka, terus menelusuri lehernya.
Tangannya mulai meraba punggung Nia, kemudian bergerak ke depan. Jari-jarinya mulai mendekati dada Nia yang ranum, membayangkan bagaimana rasanya menyentuh bagian yang selama ini hanya bisa dia pandangi dari jauh.
Nia mendesah lagi, tapi kali ini ada nada panik dalam suaranya. "Aaaahhhh…..Tunggu..."
*
TING TONG. TING TONG.
Suara bel pintu yang nyaring dan berulang memecah konsentrasi Arka. Kepalanya yang sedang pusing menatap layar laptop, dipenuhi baris-baris kode HTML yang tak kunjung membentuk website yang sempurna, terangkat dengan geram.
"Siapa ini?" gumamnya kesal, suaranya parau. Jam di sudut layar menunjukkan pukul 09.10 pagi. Bukan waktu yang biasa untuk tamu.
TING TONG.
Bel itu berbunyi untuk ketiga kalinya, lebih panjang dan lebih nekat, seolah menantangnya untuk tidak membukakan pintu.
Dengan mengeluh, Arka mendorong tubuhnya dari kursi. Dia mengenakan kaos oblong lusuh dan celana training yang sudah pudar, seragamnya selama berbulan-bulan bekerja dari rumah. Ruang kerjanya yang sebenarnya adalah sudut ruang tamu berantakan dengan tumpukan kertas dan cangkir kopi yang sudah kering.
Dia membuka pintu dengan gerakan kasar, siap melontarkan kata-kata tak ramah. Namun, semua kata itu tertahan di kerongkongannya.
Berdiri di balik pintu adalah seorang perempuan muda.
"Selamat pagi, Pak," ucap perempuan itu dengan suara merdu namun penuh hormat, disertai sedikit anggukan kepala.
Arka hanya bisa menatap. Perempuan itu mengenakan seragam sederhana: kemeja putih lengan pendek dan rok hitam polos hingga sedikit di atas lutut. Di tangannya, ada sebuah tas kain sederhana dan sebuah map biru. Rambutnya yang coklat bergelombang diikat rapi ke belakang, menampilkan wajahnya yang oval dengan mata besar berwarna coklat tua. Kulitnya yang eksotis tampak halus dan sehat, diterpa sinar matahari pagi.
Tapi yang membuat Arka terpana bukanlah kerapiannya. Itu adalah keseluruhan fisiknya. Lehernya yang jenjang menjulur dari kerah baju yang rapi. Kemeja putihnya, meski sederhana, tidak bisa menyembunyikan bentuk payudaranya yang bulat dan ranum. Pinggangnya ramping, kontras dengan pinggulnya yang berlekuk seksi, dibalut rok hitam yang pas di badan. Tubuhnya adalah perpaduan sempurna antara keanggunan dan daya tarik fisik yang primitif.
Arka sadar dirinya terdiam terlalu lama. "I-ya. Selamat pagi," balasnya akhirnya, berusaha mengembalikan suaranya yang tiba-tiba serak.
"Maaf mengganggu, Pak. Saya Nia. Dari Yayasan Pekerja ART Tunas Mandiri," ujar perempuan itu, memperkenalkan diri dengan sopan. Matanya yang jernih menatap Arka, tidak berkedip, seakan menilai pria di hadapannya. "Saya dijadwalkan untuk bertemu Ibu Clara dan Bapak hari ini."
Nia. Namanya sederhana, tapi terasa anehnya di telinga Arka. Lalu, seperti tersambar petir, ingatannya kembali. Percakapan singkat dengan Clara seminggu lalu.
"Aku sudah hubungi yayasan ART. Mereka akan kirim calon pembantu minggu depan. Kamu yang terima saja, ya? Aku sibuk."
Cara Clara berbicara, tanpa meminta pendapatnya, masih terngiang menyakitkan. Tapi di depan matanya sekarang adalah jawaban dari "ya"-nya yang setengah hati itu.
"Oh," ucap Arka, setelah mengingat ucapan Clara. Ia mencoba terdengar normal. "Nia. Iya, Ibu Clara bilang. Tapi... dia sudah berangkat kerja."
Ekspresi Nia sedikit berubah, tapi hanya sedetik. "Saya mengerti. Biasanya, wawancara dilakukan bersama calon majikan. Tapi mungkin Ibu sangat sibuk."
Arka merasa sedikit tersindir, entah mengapa. "Dia manager. Waktunya sangat terbatas," jawabnya, dan dia bisa mendengar nada defensif dalam suaranya sendiri.
"Tentu saja, Pak. Saya paham," jawab Nia dengan cepat, seolah menangkap kekakuan itu. "Kalau begitu, mungkin saya bisa kembali lain waktu?"
Arka melihatnya akan pergi, dan sebuah pikiran aneh melintas. Clara akan marah jika urusan pembantu ini molor lagi. Dan... dia tidak ingin perempuan ini pergi. Belum.
"Tidak perlu," ujarnya, mungkin terlalu cepat. Dia membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk. Kita... kita bisa bicara sebentar."
Nia tampak ragu sejenak, matanya mengamati Arka dan ruangan di belakangnya. "Baiklah, Pak. Terima kasih."
Dia melangkah masuk, sepatu flat-nya nyaris tidak bersuara di lantai marmer yang dingin. Aroma sabun mandi yang sederhana dan segar terbawa bersamanya, menciptakan kontras yang mencolok dengan aroma kopi dan kesendirian yang biasa menyelimuti rumah itu.
Arka menutup pintu, tiba-tiba sangat sadar akan kekacauan ruang tamunya. Dia buru-buru merapikan beberapa kertas dan mengambil cangkir kopi dari meja sofa.
"Maaf, keadaan agak... berantakan," ucapnya, merasa perlu berkomentar.
"Tidak apa-apa, Pak. Rumah besar seperti ini memang butuh perhatian ekstra," balas Nia dengan diplomatis. Dia tetap berdiri tegak, tasnya masih erat dipegang.
"Silakan duduk," kata Arka, menunjuk ke sofa.
"Terima kasih, Pak." Nia duduk di tepi sofa, punggungnya lurus, sikapnya sempurna. Dia meletakkan tasnya di lantai dan map biru di pangkuannya. "Ini surat perkenalan dan rekomendasi dari yayasan."
Arka mengambil map itu. Tangannya hampir bersentuhan dengan jari Nia, dan sebuah sensasi listrik singkat menyengatnya. Dia membuka map itu dengan cepat, pura-pura membaca dokumen di dalamnya. Sebenarnya, matanya hanya melayang di atas tulisan, tidak menangkap satu kata pun. Pikirannya dipenuhi oleh siluet tubuh perempuan di depannya.
"Dari dokumen ini, kelihatannya... baik," ujarnya, menutup map itu. Dia duduk di kursi di seberang Nia, merasa perlu menjaga jarak. "Jadi, kamu... Nia. Umur 23 tahun?"
"Betul, Pak. Saya lulusan SMA, dan sudah mengikuti pelatihan dari yayasan."
"Kenapa memilih bekerja sebagai ART?" tanya Arka, mencoba terdengar seperti seorang majikan yang melakukan wawancara.
Nia menundukkan pandangannya sebentar. "Saya harus menghidupi diri sendiri, Pak. Dan ibu saya. Ini adalah pekerjaan yang halal dan terhormat."
Arka mengangguk, tiba-tiba merasa seperti pria brengsek yang menanyai hidupnya. "Tentu. Tentu saja." Ia berdehem. "Ibu Clara yang akan menentukan tugas-tugasmu nanti. Tapi umumnya, semua pekerjaan rumah tangga: membersihkan, mencuci, menyetrika, memasak."
"Saya siap, Pak. Saya cepat belajar."
"Kamu akan tinggal di sini. Ada kamar pembantu di belakang, dekat dapur."
"Saya mengerti."
Diam yang canggung pun jatuh. Arka tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa memandangi Nia, mencatat setiap detail. Cara cahaya dari jendela menyentuh pipinya yang halus. Cara bibirnya yang alami terbentuk sempurna. Cara rok hitam itu menekankan pahanya yang ramping.
Nia tampak sadar akan pandangan Arka. Dia sedikit gelisah, merapikan ujung roknya. “Lalu bagaimana, Pak?”
Arka tersentak. Dia berdiri, tiba-tiba merasa ruangan ini terlalu sempit. "Maukah kamu... melihat kamarmu dulu? Sebelum memutuskan."
Itu adalah tawaran aneh. Dia sudah seperti mencoba menjual kamar itu, bukan mewawancarai calon pembantu.
"Tentu, Pak. Terima kasih," jawab Nia, tetap sopan.
Arka memandunya melewati koridor menuju kamar di belakang rumah. Dia membuka pintu kamar kecil itu. Kamarnya bersih, ada tempat tidur tunggal, lemari, dan sebuah jendela kecil.
"Ini kamar mandi dalam," ujarnya, menunjuk ke sebuah pintu.
Nia melangkah masuk, matanya menyapu ruangan. "Bagus sekali, Pak. Lebih dari cukup untuk saya." Dia berbalik dan tersenyum pada Arka untuk pertama kalinya.
Senyuman itu seperti sinar matahari di tengah awan. Itu mengubah seluruh wajahnya, membuatnya semakin memesona. Arka merasa dadanya sesak.
"Baik. Kalau... kalau kamu setuju, kamu bisa kembali lagi nanti sore,” ucap Arka, tergagap.
Tiga tahun kemudian.Denting gelas kristal yang saling beradu dan alunan lembut simfoni orkestra klasik memenuhi Grand Ballroom hotel paling eksklusif di jantung ibu kota. Malam ini, langit Jakarta seolah tunduk pada gemerlap gala dinner amal tahunan yang diselenggarakan oleh Barata Group.Di bawah kepemimpinan absolut Arka Adhiguna, Barata Group tidak hanya bangkit dari jurang kehancuran, tetapi telah menjelma menjadi raksasa konglomerasi nomor satu di Asia. Tidak ada lagi intrik berdarah, tidak ada lagi bayang-bayang pengkhianatan. Dinasti Barata kini berdiri tegak di atas fondasi yang bersih dan kokoh.Arka berdiri di dekat panggung utama, mengenakan setelan tuxedo hitam yang memancarkan karisma sang penguasa. Namun, pandangan mata hitam legamnya sama sekali tidak tertuju pada jajaran menteri, duta besar, atau para miliarder yang hadir malam itu.Seluruh atensi Arka hanya tertuju pada dua sosok yang baru saja melangkah memasuki ballroom."Papa!"Seorang gadis kecil berusia lima tah
"Mas... apa tidak berlebihan kita datang ke sana dengan iring-iringan seperti ini? Warga desa pasti akan sangat terkejut melihat kita."Pertanyaan Nia yang diucapkan dengan nada ragu memecah keheningan di dalam kabin Range Rover hitam berlapis baja tersebut. Wanita itu duduk dengan canggung di atas jok kulit mewah, menatap deretan mobil SUV pengawal yang melaju di depan dan di belakang mereka melalui kaca jendela.Arka, yang duduk di sampingnya, menoleh dan tersenyum lembut. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam erat jemari istrinya."Tidak ada yang berlebihan untuk memastikan keselamatan Ratu Adhiguna," jawab Arka tenang. "Lagipula, kita tidak datang untuk pamer, Sayang. Kita tidak lagi lari bersembunyi. Kita kembali untuk berpamitan dengan pantas kepada mereka yang sudah memanusiakan kita di saat dunia membuang kita."Nia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu lebar suaminya saat mobil perlahan memasuki jalanan tanah berbatu yang sangat familier.Udara sejuk khas peg
Asap tipis mengepul dari cangkir kopi espresso di atas meja kerja berbahan kayu eboni hitam. Arka Adhiguna duduk bersandar di kursi kebesarannya, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca kantor CEO di lantai teratas Menara Barata. Hanya dalam waktu tiga hari, ia telah menyapu bersih seluruh kroni pamannya dari perusahaan, mengukuhkan kekuasaannya tanpa ada satu pun yang berani membantah.Namun, kepuasan sejati sang Mastermind baru datang ketika pintu ganda ruangannya terbuka, menampilkan sosok Victor yang baru saja kembali dari perjalanan rahasianya.Mantan paramiliter itu melangkah tegap melintasi karpet tebal, lalu meletakkan sebuah tablet berspesifikasi militer di atas meja Arka."Tugas selesai, Bos. Paket sudah dikirim ke alamat yang Anda minta," lapor Victor dengan nada datar yang menjadi ciri khasnya.Arka meletakkan pulpennya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menarik tablet tersebut dan menekan tombol play pada sebuah rekaman video yang baru s
Pantulan wajah di dinding cermin lift eksekutif itu terasa familier, sekaligus asing.Arka menatap lurus ke arah bayangannya sendiri saat kotak baja berkecepatan tinggi itu melesat naik menuju lantai teratas Menara Barata. Tidak ada lagi rambut gondrong yang berantakan, tidak ada lagi kumis dan brewok lebat yang menutupi rahangnya. Wajahnya telah dicukur bersih, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan tajam. Tubuhnya yang tegap kini dibalut setelan jas bespoke tiga potong berwarna navy blue yang dipotong dengan presisi tingkat dewa, memancarkan aura dominasi mutlak yang tak terbantahkan.Kuli kasar bernama Rudi telah mati dan dikubur dalam-dalam. Arka Adhiguna, sang Mastermind, telah kembali."Bos," panggil Anton yang berdiri di belakangnya, mengenakan setelan jas formal yang rapi, lengkap dengan koper logam di tangannya. "Keadaan di ruang rapat utama sangat kacau. RUPSLB sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Sesuai prediksi, dewan direksi panik luar biasa setelah berita
"Waktumu sudah habis, Om Arya. Jadi, apa keputusanmu?"Suara dingin Arka memecah keheningan bunker yang terasa mencekik. Lima menit telah berlalu, terasa bagaikan berabad-abad bagi keempat tawanan yang duduk terikat di hadapannya.Arya Barata mengangkat wajahnya yang berkerut. Matanya memerah, memancarkan campuran antara keputusasaan dan sisa-sisa kesombongan seorang tiran tua yang menolak ditaklukkan. Ia meludah ke lantai, tepat di dekat sepatu pantofel Arka."Aku lebih baik membusuk di ruangan ini daripada menyerahkan jerih payahku padamu, keparat!" raung Arya dengan napas memburu. "Potong saja tanganku! Cungkil mataku! Lakukan sesukamu! Tapi aku tidak akan pernah memberikan tanda tangan itu!"Di sebelahnya, Clara menyeringai getir, mencoba mempertahankan egonya meski tubuhnya gemetar hebat. "Dengar itu, Arka? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami. Bunuh saja kami sekarang."Arka tidak membalas umpatan itu. Ia hanya menatap pamannya dengan raut wajah kebosanan yang mematikan,
Lantai beton safe house itu terasa dingin menembus sol sepatu pantofel hitam yang kini dikenakan Arka. Suara derap langkahnya bergema di sepanjang lorong sempit yang hanya diterangi lampu neon temaram. Tidak ada lagi langkah kaki yang menyeret atau bahu yang membungkuk rendah. Arka melangkah dengan punggung tegak dan dagu terangkat, memancarkan aura otoritas yang sempat terkubur selama setahun terakhir.Di ujung lorong, Victor dan Anton sudah menunggu di depan sebuah pintu besi berat. Victor berdiri tegak seperti pilar baja, sementara Anton tampak sibuk dengan tablet di tangannya, jemarinya menari lincah di atas layar."Semua sudah siap, Bos," lapor Anton tanpa mengalihkan pandangan. "Berita sudah meledak di semua media nasional. Pihak bursa saham sedang membekukan perdagangan Barata Group karena ketidakpastian manajemen. Narasi tentang pelarian mereka ke luar negeri sudah menjadi konsumsi publik."Arka mengangguk singkat. "Bagus. Buka pintunya."Victor memutar tuas besi dan mendorong
Suasana pagi di kediaman Adhiguna berubah drastis dalam hitungan jam.Ketenangan pasca-pernikahan yang syahdu kini berganti menjadi kesibukan taktis yang dingin. Di halaman depan, Rolls-Royce Phantom yang seharusnya membawa pengantin baru itu berbulan madu, kini diapit oleh dua SUV Land Cruiser hit
Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah tirai sutra di kamar utama lantai tiga. AC sentral mendengung halus, menjaga suhu ruangan tetap sejuk, kontras dengan hangatnya sinar pagi Jakarta.Arka mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya. Hal pertama yang dia r
Mobil sedan hitam itu meluncur perlahan memasuki gerbang rumah mewah berlantai tiga di kawasan elite Jakarta Selatan. Hari sudah beranjak senja, menyisakan semburat jingga yang perlahan ditelan kelabu malam.Arka menghela napas panjang saat mesin mobil dimatikan oleh Anton. Lelah di tubuhnya bukan
Melainkan seorang pria paruh baya berseragam dinas kejaksaan dengan bintang di pundaknya. Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), atasan langsung Harris. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.Di belakang Kajati, barulah Anton muncul, didampingi dua orang pria berjas rapi yang membawa tas







