ログインBeberapa jam kemudian, di ruang kerja Haris, suasana menjadi hening dan tegang saat Dimas melalui perantara resmi menyampaikan pesan singkat. Tak lama kemudian, seorang staf masuk membawa sebuah tablet khusus dan meletakkannya di atas meja. “Tuan Haris, sebentar lagi akan ada panggilan video dari Nona Arunika,” ucapnya sopan. Belum sempat Haris menjawab, Bisma yang duduk di sudut ruangan langsung berdiri dengan cepat, napasnya terasa tertahan. Matanya tak lepas menatap layar yang masih gelap itu. Beberapa detik kemudian, gambar muncul perlahan. Di sana terlihat wajah Aru, duduk di ruangan yang terlihat hangat dan indah, dengan cahaya alami yang lembut menyinari wajahnya. Wajahnya terlihat sehat, tidak kurus, dan bahkan terlihat lebih cantik dari sebelumnya, namun ada kesedihan yang samar tergambar di matanya. “Arunika…” panggil Haris dengan suara bergetar, matanya langsung berkaca-kaca. “Ayah…” jawab Aru dengan suara lembut, senyum tipis terukir di bibirnya meski matanya sudah mu
Aru menatap lekat wajah Viktor, matanya memancarkan ketulusan yang mulai tumbuh semakin nyata. Jemarinya perlahan mengusap garis rahang pria itu dengan lembut. “Viktor… ternyata kau bukan orang jahat yang selama ini aku bayangkan,” ucapnya pelan, namun jelas terdengar, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri sekaligus Viktor. Viktor terdiam sesaat, lalu menatap balik dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega yang samar terlihat di matanya. “Arunika… apakah sampai sekarang kau masih menganggapku begitu?” Aru tersenyum tipis, senyum yang tulus dan ringan, lalu menggeleng perlahan. “Tidak lagi… setidaknya tidak untuk saat ini.” Tanpa menunggu kata lain, Viktor mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aru dengan lembut, penuh rasa sayang yang perlahan terungkap. Ciuman itu tidak tergesa-gesa, hanya kehangatan yang mengalir di antara mereka berdua. Di sudut ruangan, para pelayan dan pengawal yang baru saja membawa minuman atau membereskan meja langsung menundukkan kepala dan membuang pan
“Arunika, coba pejamkan matamu sebentar,” bisik Viktor lembut di tengah keheningan malam yang hangat.Aru menurut, matanya tertutup rapat. Ia merasakan jari-jari Viktor bergerak perlahan di belakang lehernya, lalu terasa sentuhan dingin namun halus menyentuh kulitnya, sebuah kalung berlian yang bentuknya sederhana namun memancarkan kilauan mewah yang lembut, tidak berlebihan namun terasa sangat berharga.“Boleh buka matanya sekarang,” ucap Viktor pelan.Aru membuka matanya, menatap ke cermin kecil di sisi tempat tidur. Kalung itu terlihat sangat pas di lehernya, membuatnya tampak lebih anggun tanpa mengurangi kealamiannya. Ia menoleh ke arah Viktor dengan tatapan lembut.“Viktor… ini terlalu indah,” bisiknya, suaranya terasa hangat.Tanpa menjawab banyak kata, Viktor menarik tubuhnya mendekat dan mencium bibirnya dengan lembut namun penuh rasa. Ciuman itu perlahan semakin dalam, membakar suasana di antara mereka. Rasa canggung yang tersisa sudah lama hilang, digantikan oleh keinginan
Setelah rapat selesai dan sebagian besar peserta mulai meninggalkan ruangan, Bisma segera melangkah mendekati Dimas yang sedang membereskan berkas di meja. Suaranya terdengar tenang namun menyembunyikan ketegangan yang membara di dadanya.“Dimas… bisa kita bicara sebentar?” panggilnya.Dimas mengangkat wajah, menatap Bisma dengan ekspresi waspada namun tetap sopan. “Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?”Bisma mendekat lebih dekat, suaranya dibuat lebih rendah agar hanya terdengar oleh mereka berdua. “Di mana Viktor?”Dimas sedikit mengerutkan kening, berpura-pura tidak mengerti sepenuhnya. “Tuan Viktor yang Anda maksud? Ada keperluan apa mencari beliau?”“Dia membawa wanitaku pergi,” jawab Bisma tegas, matanya menatap tajam ke mata asisten itu. “Dia membawa Arunika.”Wajah Dimas berubah sedikit, namun ia berusaha tetap tenang. “Wanita Anda?”Belum sempat Dimas menjawab lebih lanjut, suara berat Rendra terdengar dari arah pintu yang baru saja ia buka setelah menerima panggilan tele
Suara ketukan lembut terdengar di pintu kamar, diikuti suara pelayan yang sopan:“Tuan, makanan sarapan sudah siap di ruang makan.”Viktor mengangkat kepalanya sedikit, lalu menjawab dengan tenang: “Baiklah, terima kasih. Kami akan segera turun.”Langkah kaki pelayan perlahan menjauh. Aru yang masih berbaring di sampingnya segera bergerak membuka selimut, wajahnya sedikit memerah seolah baru teringat akan momen tadi. Ia bergegas bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya dengan cepat.“Tunggu aku di bawah, ya?” ucapnya sambil menoleh sebentar, matanya tersenyum tipis. “Sepuluh menit saja, aku pasti sudah siap.”Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat menuju kamar mandi, menutup pintunya dengan lembut. Suara air mengalir terdengar samar dari balik pintu, sementara Viktor masih duduk di tempat tidur, tersenyum sendiri melihat perubahan sikap wanita itu. Selama ini ia hanya melihat ketakutan atau keterpaksaan, namun pagi ini ada cahaya yang berbeda di mata Aru, sesuatu yang membuat
Viktor kembali menggendong tubuh Aru dengan hati-hati, melangkah perlahan agar tidak menimbulkan rasa sakit pada kaki wanita itu. Di punggungnya, Aru memeluk leher pria itu dengan lembut, wajahnya terasa hangat di samping telinga Viktor.“Viktor… aku berat ya?” tanyanya pelan, suara itu terdengar lembut dan penuh keraguan. “Kau menggendongku seperti ini cukup jauh…”Viktor tersenyum tipis, napasnya tetap teratur meski sudah berjalan cukup lama. “Tidak, tidak berat. Sebentar lagi Tedy akan datang dengan mobil, kita sudah tidak jauh dari jalan utama. Masih bisa tahan sebentar?”Aru mengangguk perlahan, menempelkan wajahnya sedikit lebih dekat di punggung Viktor. “Bisa…”Benar saja, tidak lama kemudian mereka melihat mobil yang dikemudikan Tedy berhenti di pinggir jalan. Viktor menurunkan Aru dengan hati-hati, lalu membukakan pintu dan memastikan wanita itu duduk dengan nyaman sebelum duduk di sampingnya.Perjalanan pulang berjalan tenang. Suara mesin mobil yang halus dan goyangan lembut
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga







