INICIAR SESIÓN“Untuk Arunika — dari ibumu yang melahirkanmu.”Kalimat itu seakan membekukan waktu di hadapan Arunika. Di sekelilingnya, suara teriakan, langkah kaki yang berlarian, dan sisa gemuruh ledakan masih terdengar. Asap tebal memenuhi halaman kediaman Viktor. Namun bagi Arunika, semuanya perlahan memudar hingga lenyap. Yang tersisa hanyalah tulisan itu, dan satu kata yang kini menggema di kepalanya: Ibuku.Viktor segera mengambil amplop itu dari tanah. "Jangan dibuka di sini. Tempat ini belum aman."Arunika menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin tahu sekarang."Viktor menatap lekat ke dalam mata istrinya. Perlahan, ia menyerahkan amplop itu. "Baik."Dengan tangan gemetar, Arunika membuka lipatan kertas tua itu. Hanya selembar surat tertulis di sana. Tulisan tangannya halus, namun terlihat telah ditulis bertahun-tahun silam.“Arunika, jika surat ini sampai kepadamu, berarti mereka telah menemukanmu. Jangan pernah percaya siapa pun yang mengatakan bahwa kau dilahirkan untuk menjadi s
"Jangan pergi ke mana pun sendirian." Arunika menatapnya lekat beberapa detik. "Kau serius?" "Sangat." "Setelah semua yang terjadi malam ini, kau baru menyadari bahwa aku bukan perempuan yang suka dikurung?" "Aku tidak mengurungmu." "Kalau begitu jangan bicara seolah kau sedang melakukannya." Viktor menghela napas panjang. "Aru, dengarkan aku." "Aku mendengarkan." "Nama lengkapmu tercatat dalam daftar sasaran mereka." Arunika terdiam seketika. "Sejak kapan?" "Itu belum kami ketahui." "Siapa yang menempatkannya di sana?" "Itulah yang sedang kami cari." Arunika menatap keluar jendela yang gelap. "Kalau mereka sudah mengincarku sejak lama..." Ia perlahan menoleh ke arah Viktor, "...berarti kematian ayahku bukan kebetulan." Viktor tidak menjawab. Keheningannya sudah cukup menjadi jawaban. "Ayahku dibunuh karena aku?" "Belum tentu." "Tapi kau juga tidak bisa menyangkal kemungkinan itu." Rahang Viktor mengeras. "Tidak," akunya pelan. Arunika tertawa keci
"Bereskan semuanya." Suara Viktor terdengar dingin dan tegas melalui telepon. Dimas di seberang sana seketika terdiam. "Semuanya, Tuan?" "Ya." Viktor menatap lurus ke depan melalui kaca jendela mobil. Tatapannya gelap dan berat, sementara satu tangannya tetap erat menggenggam tangan Arunika di sampingnya. "Periksa seluruh jaringan lama. Bongkar setiap nama yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang." "Bagaimana dengan Phoenix?" "Jangan sentuh mereka dulu." Dimas tampak terkejut. "Tapi, Tuan—" "Aku bilang jangan." Viktor memutus sambungan tanpa menunggu jawaban. Ponselnya diletakkan perlahan ke samping. Arunika yang sejak tadi memperhatikannya dengan gelisah akhirnya bersuara. "Viktor... siapa yang kau hubungi?" Viktor menoleh perlahan. Jemarinya bergerak, mengusap lembut punggung tangan Arunika dengan ibu jarinya. "Aru..." "Jangan bilang semuanya baik-baik saja." Tatapan Arunika menajam. "Aku sudah cukup sering mendengar kalimat itu." Viktor menghela nap
"Jangan bergerak!"Viktor segera menarik Arunika ke belakang tubuhnya tepat saat suara tembakan kedua menghantam dinding.DOR!Serpihan kaca berjatuhan ke lantai. Yogo langsung mengangkat senjatanya dan bersiap."Semua merunduk!" perintahnya cepat.Arunika menahan napas. Tubuhnya terlindungi di balik punggung Viktor, namun matanya tetap lekat menatap Freya. Perempuan itu tidak lagi tersenyum. Wajahnya pucat pasi."Kau bilang itu bukan orangmu," ujar Viktor dingin."Aku tidak berbohong," jawab Freya pelan. Ia perlahan menurunkan pistolnya. "Kalau mereka ingin membunuhku, aku tidak akan menghalangi.""Dan kalau mereka mengincarku?" tanya Viktor tajam.Freya menatap Arunika."Mereka juga tidak datang untukmu."Arunika mengerutkan kening."Lalu untuk siapa?"Freya tidak menjawab. Suara langkah kaki berat terdengar semakin dekat di lorong. Satu, dua, tiga... dan semakin banyak. Yogo melirik Viktor dengan cemas."Tuan, kita harus keluar sekarang."Viktor mengangguk."Lewat jalur belakang."
Pintu ruangan terbuka keras."Nyonya!" seru Yogo sambil melangkah masuk.Namun langkahnya terhenti seketika.Di tengah ruangan, berdiri Freya. Wajahnya tenang, namun di tangannya pistol terarah tepat ke kepala Arunika. Tak ada bayang ketakutan hanya senyum tipis yang dingin dan tak terbaca.Dan yang membuat Yogo menahan napas… Arunika juga mengangkat senjata. Ujung pistolnya menunjuk tepat ke arah dada Freya.Dua perempuan. Dua senjata. Satu ruangan yang tiba-tiba terasa sempit dan berbahaya."Nyonya…" Yogo hendak maju."Mundur, Yogo," perintah Arunika tegas."Tapi—""Mundur."Yogo berhenti di tempat.Freya tersenyum makin lebar. "Menarik. Ternyata kau tidak selemah yang dikira, Arunika."Arunika tak berkedip sedikit pun. "Aku tidak pernah mengaku lemah. Viktor yang selalu berkeras ingin melindungiku — bukan aku."Freya tertawa pelan. "Benar. Dia selalu begitu. Selalu merasa harus menyelamatkan siapa pun yang dianggapnya butuh bantuan. Selama bertahun-tahun… aku menunggu dia menyadari
Pintu lift terbuka perlahan.Ting.Arunika melangkah keluar. Lorong lantai dua puluh satu begitu sunyi — tak ada suara langkah kaki lain, tak ada suara percakapan. Hanya bunyi langkah sepatunya yang bergema di atas lantai marmer dingin.Yogo berdiri beberapa meter di belakangnya, tetap waspada."Nyonya..." panggilnya pelan.Arunika menoleh sekilas. "Tunggu di sini saja.""Tapi—""Kalau aku membutuhkanmu, aku akan memanggil," tegasnya namun lembut.Yogo menghela napas, tahu kapan harus patuh. "Baik, Nyonya."Arunika melanjutkan langkahnya sendirian. Di ujung lorong berdiri sebuah pintu besar berwarna gelap — tak ada nomor kamar, hanya sebuah simbol kecil berbentuk burung phoenix yang terukir di tengahnya. Arunika berhenti di depannya, jari-jarinya perlahan menyentuh simbol itu."Jadi ini sarangnya..." gumamnya pelan.Belum sempat ia mengetuk, pintu terbuka sendiri. Seorang pria berdiri di baliknya usia sekitar lima puluh tahun, rambut beruban namun tatapannya tajam dan tenang, seolah t
Keheningan menekan setelah pintu tertutup. Arunika meringkuk di atas ranjang, jubah mandi tebal itu tak mampu menghalau dingin yang merayap dari dalam dirinya. Bukan lagi tentang pengkhianatan Reyhan, tapi tentang keruntuhan ilusi yang ia bangun sendiri. Selama ini aku salah. Pagi datang membawa
Arunika membuka pintu kamar mandi dengan tangan yang sedingin es. Tepat di detik terakhir, ia melangkah keluar. Tubuhnya kaku, lingerie hitam tipis itu mengekspos hampir seluruh kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan cara yang membuatnya merasa telanjang bulat di bawah lampu villa yang terang
“Tidak…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Namun ruangan itu terlalu sunyi. Bahkan bisikan sekecil itu sampai ke telinga Bisma. Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum getir yang penuh kendali, seolah ia sudah tahu akhir dari perlawanan ini jauh sebelum dimulai. Di ma
Jawaban itu jatuh seperti vonis mati. Ruangan luas di villa itu mendadak terasa menyempit, oksigen seolah tersedot keluar meninggalkan Arunika yang sesak dalam kehampaan. Ia menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. Bukan hanya karena makna kotor di baliknya, tapi karena Bisma mengatakannya denga







