LOGINSelenia menatap wajah Raven. Tak lagi meronta, tubuhnya ia pasrahkan. Cahaya di mata birunya memudar.
"Luke, B-Biarkan dia melakukan apa yang dia mau.... P-Pergilah, selamatkan.... Dirimu"
Lucas menggeleng lemah, matanya melebar dalam kepanikan.
"Tidak... Tidak, Len! Jangan bicara seperti itu!"
Tangannya berusaha meraih Selenia, tapi ia bahkan tak bisa mengangkat tubuhnya sendiri. Luka di lengannya masih mengeluarkan darah, membuatnya semakin lemah.
Selenia tersenyum tipis. Senyuman penuh kesedihan.
"Kau harus hidup... Aku tidak bisa membiarkanmu mati di sini, Lucas..."
Raven menatapnya dengan ekspresi datar, tapi ada sesuatu yang berkedip di matanya, sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
"Menyerah begitu saja?" bisik Raven, mempererat cengkeramannya di leher Selenia.
"Ini bukan
Selenia tak mematung disana. Seperti telah diatur untuk menghindari bahaya, tubuhnya segera bereaksi. Wanita itu lari, lari dari sana dengan membawa Pookie di gendongannya. Meski tertatih, Selenia tetap melangkah di sepanjang lorong mansion demi menyelamatkan dirinya.Demi menyelamatkan anaknya.Carmilla terkekeh pelan, melihat mangsanya berusaha melarikan diri. "Oh, lucunya. Kau pikir bisa lari dariku?" Dalam sekejap, sosoknya lenyap dari tempatnya berdiri, hanya menyisakan bayangan tipis di ambang pintu. Selenia berlari secepat yang ia bisa, meskipun perutnya yang semakin besar membuatnya sulit bergerak dengan leluasa. Nafasnya memburu, dan jantungnya berdetak begitu kencang. Pookie meringkuk dalam pelukannya, sesekali mengeluarkan suara lirih ketakutan. Langkah kakinya bergema di sepanjang lorong panjang mansion yang kini terasa seperti labirin tak berujung. Namun, ia tahu harus ke mana ia harus mencari tempat yang aman, atau lebih baik lagi, mencari sesuatu untuk mempertahanka
Selenia terduduk di ranjang, masih sibuk menyulam sesuatu. Pookie baru saja ia tenangkan, hewan kecil itu masih merasakan ancaman sejak kedatangan Carmilla tadi. Sama seperti sang pemilik, Selenia. Wanita itu belum mau tidur, padahal sudah larut malam. Ia masih takut, khawatir wanita vampir itu akan datang kembali, mengancam keselamatan anak dalam kandungannya.Selenia masih sedikit paranoid, namun sudah lebih tenang.Raven duduk di ujung ranjang, diam-diam memperhatikan Selenia. Pookie sudah meringkuk di kakinya, ekornya masih sesekali berkedut, seakan belum sepenuhnya percaya bahwa bahaya telah berlalu. Mata biru Selenia terpaku pada sulamannya, tapi Raven tahu pikirannya tak ada di sana. Jemari wanita itu gemetar, meskipun ia mencoba menyulam dengan tenang. "Kau belum tidur." Suara Raven rendah, hampir seperti gumaman. Selenia tak menoleh."Aku tak bisa." Hening. Raven menghela napas, lalu beringsut lebih dekat. Tanpa peringatan, ia mengambil sulaman dari tangan Selenia dan me
"Lepaskan tangan kotormu dari wanita dan anakku, sebelum aku mencabikmu hidup-hidup."Carmilla terbahak, rasa sakit seolah tak berpengaruh padanya.Ia terobsesi pada pria ini, vampir dengan kekuasaan terbesar diantara kaum mereka."Wanitamu? Sekarang kau jadi lembek ya, Raven Drachov" Carmilla dengan mudah menepis tangan Raven dari lehernya."Hei, jangan terlalu serakah. Kau punya segalanya, dan kini masih menginginkan wanita ini?"Carmilla berbisik dengan seringai mengerikan."Titisan Librae, kan? Santapan yang sempurna"Wanita itu berdiri di belakan Selenia dalam sekejap, bak kabut hitam yang tak terdeteksi. Mencengkeram rambut putih wanita itu."Kau berhutang budi pada kami, para Damonise. Kau bisa membayarnya dengan dia" Kekeh Carmilla.Cengkraman Carmilla di rambut Selenia membuat wanita itu mengerang pelan. Kelemahannya makin terasa akibat kehilangan darah, tubuhnya nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri. Namun di hadapannya, Raven berdiri diam, wajahnya gelap, bahunya menega
Pookie menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hari-hari Selenia. Anjing kecil itu selalu mengikuti ke mana pun ia pergi, seperti bayangan yang setia. Setiap pagi, Selenia akan duduk di taman mansion, membiarkan Pookie berlarian di rerumputan yang mulai menghijau, sementara ia menikmati sinar matahari yang mulai hangat. Namun, tetap saja ada satu hal yang mengganggunya. Raven. Pria itu semakin sering berada di mansion. Entah itu kebetulan atau karena suatu alasan lain, Raven lebih sering pulang lebih awal, lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerja yang tidak jauh dari kamar Selenia. Dan yang lebih aneh lagi, ia juga lebih sering… mengawasi. Selenia menyadari itu setiap kali ia berjalan melewati ruang kerja Raven, selalu merasa ada tatapan dari dalam ruangan itu. Atau saat ia sedang mengelus perutnya, merasakan gerakan kecil dari dalam, tiba-tiba Raven akan muncul di ambang pintu dengan alasan-alasan konyol seperti: "Aku hanya ingin mengambil minum." Padahal dapur ada di a
Bosan.Selenia sangat bosan.Wanita bersurai putih itu menatap keluar jendela, musim dingin telah berakhir. Kini, musim semi siap menyapanya. Namun hanya kejenuhan yang Selenia dapatkan.Mansion itu terlalu luas untuk seorang wanita hamil duduk seorang diri, menatap jendela. Raven belum pulang selama beberapa hari, mungkin sibuk dengan pekerjaannya di dunia gelap, kekuasaannya. Selenia ingin sesuatu, yang dapat menghiburnya. Dan saat itulah ia terpikir sebuah ide.Anak anjing.Selenia ingin memeliharanya. Ya! Memelihara seekor hewan menggemaskan pasti dapat meredakan rasa bosannya.Selenia menunggu di ruang tengah dengan dagu bertumpu pada tangannya. Malam semakin larut, tapi ia tahu seseorang akan segera pulang. Ia bisa merasakan aura dingin itu bahkan sebelum langkah berat terdengar di depan pintu. Benar saja, tak lama kemudian pintu utama terbuka. Sosok Raven Drachov masuk dengan tenang, jasnya sedikit berantakan, dasi sudah dilepas, dan ekspresinya menunjukkan kelelahan. Namun,
Salju yang tersisa menutupi tanah seperti selimut tipis, mencair perlahan di bawah sinar matahari yang mulai menghangat. Udara masih menggigit, tetapi angin yang berhembus tak lagi sekejam sebelumnya. Musim dingin akan segera berakhir, digantikan oleh awal musim semi yang baru. Di taman belakang mansion, dua sosok terlihat di antara pohon-pohon yang daunnya belum kembali. Selenia duduk di bangku kayu dengan kedua tangan bertumpu pada perutnya yang semakin besar. Usia kandungannya kini dapat terlihat dari ukuran perutnya, dan gerakan sang bayi mulai terasa. Gaun hangat membalut tubuhnya, dan mantel bulu menyelimuti bahunya. Napasnya membentuk uap tipis di udara saat ia menghela napas panjang. Raven berdiri tak jauh darinya, bersandar pada pohon dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia mengenakan mantel gelap dengan syal tersampir longgar di lehernya. Kedua tangannya tersimpan di saku celana, tetapi sesekali pandangannya melirik ke arah wanita yang sedang membelai perutnya itu. "Aku in